
Suasana menegang, tidak ada yang menyangka Aileen dengan berani mengusir Putra Mahkota.
“Apa maksudmu, Aileen! Berani sekali kau menghina Putra Mahkota!” tegas Tuan Ryder.
“Menurutmu, Tuan? Apa aku harus membawa masalah ini ke sidang istana?”
Putra Mahkota sejak tadi hanya diam, seakan tak memiliki suara. Melihat sosok Aileen yang berbeda di depannya, membuat Putra Mahkota menyadari bahwa tindakannya memang salah.
Melihat kedua orang yang merusak pintu kamarnya hanya diam saja, tak berniat pergi dari sana. Aileen dengan langkah tegas kini sudah berdiri di hadapan mereka. Tatapannya menjelaskan bahwa ia begitu tidak menyukai mereka.
“Apa anda tidak pernah mengikuti kelas anda, Putra Mahkota?” ucap Aileen tepat di hadapan Putra Mahkota.
“Apa aku benar-benar perlu mengusirmu secara tidak hormat dan membawa masalah ini ke sidang istana?” lanjutnya.
Putra Mahkota mengepalkan tangannya kencang, berusaha menahan amarah dan rasa malunya.
“Aku rasa kau sudah melewati batasmu, Lady Aileen. Aku bisa menghukummu karena sudah menghina anggota keluarga kerajaan.” Putra Mahkota kini balik menatap Aileen tajam, tak terima jika dirinya dipermalukan walaupun itu memang salahnya.
“Benarkah? Baiklah, maaf sudah menghinamu. Sekarang bisakah kau pergi? Aku tidak ingin benar-benar membawa masalah ini ke istana. Bukahkah itu akan menggoyahkan posisimu?” ujar Aileen dingin, ia benar-benar muak dengan pemuda di hadapannya ini.
“Ka-kau!” Putra Mahkota pergi begitu saja karena merasa tidak bisa menang dari Aileen, walaupun kedudukannya lebih tinggi. Itu tetap tidak menutup fakta bahwa ia mendapatkan posisinya karena dukungan Tuan Ryder.
Tuan Ryder mengikuti langkah Putra Mahkota dengan perasaan yang tak karuan, mungkin saja ini bisa menjadi akhir dari tujuannya.
Suasana kembali hening saat keduanya pergi dengan para pengawal mereka, kini hanya tinggal Aileen dan Via, sang pelayan yang setia berdiri di depan pintu.
“Pergilah beristirahat, tidak perlu memanggil orang untuk memperbaikinya. Aku bisa melakukan hal ini sendiri.” Aileen masuk ke kamarnya setelah menggerakkan tangannya di udara kosong sejenak, dalam sekejap pintu yang rusak kembali seperti semula.
Sementara Aileen kembali melanjutkan meditasinya, suasana di halaman mansion tampak keruh. Aura yang dipancarkan oleh Putra Mahkota begitu membara, ia bahkan tak menahan tekanannya sedikit pun. Membuat beberapa prajurit yang ada di sana merasa begitu pans hingga kulit mereka memerah.
“Maafkan Aileen, Yang Mulia. Mungkin ada sesuatu yang membuatnya dalam keadaan buruk,” ucap Tuan Ryder memohon maaf, ia takut Putra Mahkota melaporkan hal ini pada Kaisar.
“Tidak ada yang harus dimaafkan, Tuan Ryder. Aku harus mendengarkan saat pelayan itu melarang. Sebaiknya aku kembali sekarang,” sahut Putra Mahkota berusaha terlihat murah hati, meskipun ia ingin menghancurkan kediaman ini karena marah.
Tidak ada yang bisa ia lakukan, dirinya baru angkat sebagai Putra Mahkota beberapa pekan lalu. Posisinya tidak memberinya pilihan untuk membuat masalah saat ini.
Putra Mahkota pun memasuki kereta kudanya, meninggalkan kediaman Ryder dengan perasaan terhina.
Tuan Ryder membungkukkan tubuhnya hingga kereta milik Putra Mahkota tidak terlihat lagi.
__ADS_1
Segera setelah itu, ia kembali masuk ke dalam mansion dengan niat memberi pelajaran pada Aileen.
Dengan penuh amarah, Tuan Ryder berjalan menuju kamar Aileen. Mungkin ia tidak mengingat kejadian beberapa menit yang lalu?
“Aileen! Buka pintunya! Aku akan memberimu pelajaran, berani sekali kau melakukan itu pada Putra Mahkota,” pekiknya dengan nada kencang saat berada di depan pintu kamar Aileen yang sudah diperbaiki.
“Aileen!”
Berulang kali nama Aileen di ucapkan. Namun, tidak ada jawaban darinya.
Tanpa basa-basi, Tuan Ryder menggunakan kekuatannya untuk menghancurkan pintu kamar Aileen seperti sebelumnya. Tapi sepertinya tidak ada yang berubah atau rusak.
Pintu yang sebelumnya dapat dihancurkan dengan mudah, kini menjadi sangat kokoh.
Akhirnya, setelah menyadari perbuatannya sia-sia dan membuang tenaga. Tuan Ryder pergi dari sana dengan amarah yang tidak bisa ia salurkan pada Aileen.
“Harusnya aku tidak menyetujui persyaratan darinya dulu!” gumamnya kesal.
‘Manusia menjijikkan,’ batin Aileen yang mendengar semua ucapan Tuan Ryder.
.
Wajah dengan riasan yang pas untuknya, menambah kesan misterius.
“Anda sangat cantik, Nona. Benar-benar luar biasa.” Via menatap hasil karyanya dengan mata yang berbinar.
Nonanya terlihat sangat berbeda jika dibandingkan dengan hari-hari biasa, karena ia selalu menolak untuk didandani.
“Ayo, kita turun. Sudah waktunya,” ucap Aileen tanpa ekspresi yang berarti di wajahnya.
Ia pun berjalan menuju tempat pesta kedewasaannya berlangsung. Ya, hari ini ia berusia tepat 17 tahun. Dimana semua gadis bangsawan akan merayakannya dengan megah dan mengenalkan diri mereka pada kalangan sosial.
Biasanya akan banyak undangan pesta dari keluarga bangsawan lain, setelah pesta kedewasaan. Bahkan tak jarang akan banyak lamaran pernikahan datang setiap waktunya.
Aileen memasuki ruangan diiringi dengan pemberitahuan kehadirannya. Sontak seluruh perhatian teralihkan padanya.
Suasana yang sebelumnya ramai, mendadak hening. Tak ada yang bisa mengalihkan pandangan mereka dari pesona Aileen malam ini. Beberapa orang bahkan tak sadar sudah membuka mulutnya terlalu lebar.
__ADS_1
Bisik-bisik mulai terdengar tentang pemilik pesta malam ini, para putri bangsawan yang berkumpul terpana dengan keindahan gaun yang dikenakan oleh Aileen. Gaun tersebut adalah model yang tidak pernah mereka lihat, benar-benar indah.
Beberapa lainnya mengagumi kecantikan yang dimiliki oleh putri keluarga Ryder itu. Bibir merah alaminya benar-benar menjadi perhatian, begitu kontra dengan kulit putih merona dan rambut hitam pekat miliknya.
para pria bahkan mulai menyusun rencana mereka untuk mengirim lamaran pernikahan secepatnya.
Aileen melangkah menghampiri Tuan Ryder yang sudah tiba terlebih dahulu. Langkahnya seakan menjadi magnet tersendiri bagi siapa pun yang melihatnya.
“Selamat malam, Tuan Ryder,” sapa Aileen dengan salam hormat khas bangsawan.
“Ayo naik ke panggung, aku akan memulai pestanya.” Tuan Ryder melangkah menuju panggung kecil yang disiapkan. Aileen mengikutinya dalam diam.
Namun, langkah keduanya terhenti saat mendengar kedatangan Putra Mahkota. Tuan Ryder pikir tidak akan ada perwakilan istana yang datang, tapi sepertinya dugaannya salah.
Semua orang memberi hormat pada Putra Mahkota. Mereka tak percaya, Putra Mahkota akan mendatangi pesta kedewasaan seorang gadis. Karena selama ini anggota kerajaan hanya akan mengirimkan hadiah atau seorang utusan untuk mewakili mereka.
Berbagai dugaan pun muncul dan meramaikan suasana dengan gosip para bangsawan.
“Salam dari kami, Yang Mulia Putra Mahkota,” sapa Tuan Ryder dengan hormat diikuti Aileen di belakangnya.
“Saya pikir, anda tidak akan datang malam ini, Yang Mulia,” ucap Tuan Ryder menyampaikan isi pikirannya.
“Bagaimana aku bisa tidak menghadiri pesta Aileen, tuan?” sahut Putra Mahkota dengan senyuman di wajahnya.
“Ini hadiah dariku,” Putra Mahkota menyodorkan sebuah kotak berukuran tidak terlalu besar kepada Aileen.
Aileen menatap malas pada Putra Mahkota, kejadian beberapa tahun lalu masih menjengkelkan baginya. Tapi demi tujuannya, Aileen masih harus melanjutkan semua rencananya dengan rapi.
“Terima kasih, Yang Mulia. Seharusnya anda tidak perlu repot,” ujar Aileen berusaha bersikap manis.
“Ini bukan apa-apa, semoga kau menyukainya.”
“Baiklah, sepertinya kita harus segera memulai pestanya. Mari, Yang Mulia.” Tuan Ryder mempersilakan Putra Mahkota untuk naik ke panggung bersama dengannya dan Aileen.
Suara musik yang mengalun lembut perlahan menghilang, digantikan dengan keheningan saat ketiga orang tersebut sudah berada di atas panggung yang sudah dihias dengan sedemikian rupa.
“Selamat malam semuanya, terima kasih karena sudah bersedia meluangkan waktu berharga kalian kemari. Hari ini aku akan memperkenalkan putri satu-satunya keluarga Ryder,” ucap Tuan Ryder dengan suara lantang yang disambut tepuk tangan meriah para tamu.
“Aileen Nazareth Ryder.” Dengan langkah anggun, Aileen maju dan menundukkan kepalanya sedikit untuk memberi hormat.
__ADS_1
Suasana semakin meriah setelah Aileen memberikan sedikit ucapan terima kasihnya. Kini giliran Putra Mahkota yang memberikan pidatonya sebagai tamu kehormatan. Namun, suasana mendadak sunyi saat Putra Mahkota mengungkapkan sesuatu yang mengejutkan.