REINKARNASI PENGUASA KEGELAPAN

REINKARNASI PENGUASA KEGELAPAN
William Dementian Ryder


__ADS_3

Aileen tampak terpaku menatap pemuda berusia 15 tahun yang duduk berhadapan dengan Tuan Ryder, ia pikir pemuda itu akan kembali saat usianya 17 tahun. Ternyata perkiraannya salah, William kembali lebih cepat dari yang direncanakan.


“Salam Tuan Felix Vanzo Ryder dan salam Tuan William Dementian Ryder. Saya Aileen datang kemari karena memenuhi panggilan Tuan Felix,” ucap Aileen menjelaskan kedatangannya barang kali mereka lupa sudah memanggilnya.


“Duduklah, Aileen.” Tuan Felix membuka suara dan memintanya duduk.


Aileen pun mengikuti ucapan Tuan Felix dengan patuh. Ia mendudukkan dirinya di seberang William dan di samping kanan tuan Felix.


Suasana menjadi hening karena tak ada yang membuka suara sedikit pun.


“Bagaimana dengan kelas bangsawanmu, Aileen?” tanya Tuan Felix memecah keheningan.


“Semuanya berjalan lancar seperti biasa, Tuan,” jawab Aileen dengan anggun. Ia sendiri tak ingin bersikap informal pada semua orang yang ada di sana.


“Aku dengar Miss. Laura terus memujimu dalam pelajarannya, sepertinya ia sangat menyukaimu,” sahut William menarik perhatian Aileen.


“Sepertinya begitu,” balas Aileen dengan santai.


“Bisakah tuan menyampaikan secara langsung mengapa anda memanggil saya kemari?” ucap Aileen tak ingin berbasa-basi dengan manusia yang tak ia sukai.


“Kau terlalu terburu-buru, Ai. Bukankah seharusnya kita mengobrol lebih lama lagi sebagai keluarga?” balas William.


“Mungkin anda lupa, tidak ada satu pun di antara kalian yang menganggap saya sebagai keluarga,” ucap Aileen dengan senyuman di wajahnya.


Suasana menjadi canggung setelah Aileen mengucapkan kata sindiran itu.


“Ehem! Baiklah, Aileen. Aku akan memberitahumu sesuatu …,” ucap Tuan Felix kembali mengalihkan perhatian Aileen kepadanya.


Aileen sendiri menunggu tanpa ingin bertanya lebih lanjut.


“Kaisar mengirimkan lamaran untukmu dan aku tidak bisa menolaknya begitu juga dirimu. Karena jika menolak hal itu, sama saja dengan menghina keluarga kekaisaran,” jelas Tuan Felix dengan ucapan yang tidak ingin di bantah.

__ADS_1


“Bukankah umurku baru 10 tahun? Masih butuh 6 tahun lagi untuk debut kedewasaanku, Tuan.” Aileen menatap Tuan Felix dengan pandangan yang berubah dingin, harusnya ia mengikuti kata hatinya saja agar tak datang kemari. Benar-benar hal yang buruk baginya.


“Ini hanyalah lamaran agar aku tak menerima pinangan dari siapa pun sembari menunggu usiamu dan pangeran pertama mencapai usia dewasa,” jelas Tuan Felix dengan binar bahagia yang tak bisa ia sembunyikan dari mata elang milik Aileen.


‘Pria ini benar-benar memuakkan, lihatlah binar keserakahan di matanya itu. Menjijikkan,’ batian Aileen tak sanggup menahan hinaannya.


“Baiklah, aku akan menerimanya, tapi dengan tiga syarat.” Aileen tak ingin diperalat begitu saja, ia bukanlah manusia bodoh seperti orang di hadapannya ini.


“Baiklah, apapun syaratmu akan ku penuhi asalkan kau menerima lamaran itu dan menikah dengan Pangeran Mahkota.”


Aileen mengangguk dengan syarat dari Tuan Felix, ia menarik nafas pelan dan mulai menyampaikan syarat darinya.


“Pertama, aku ingin uang bulananku di tambah sesuai dengan kebutuhanku setiap bulan. Karena 50 keping emas yang kau berikan itu bahkan tidak cukup untuk membeli sebuah gaun yang pantas,” ucap Aileen menyampaikan syarat pertamanya.


“50 keping emas? Aku selalu memberimu jatah 1.000 keping emas setiap bulannya, Aileen.” Tuan Felix tampak tak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Aileen.


“Benar, aku bahkan menerima laporan keuanganmu yang berlebihan setiap bulannya. Bagaimana mungkin kau mengatakan hanya mendapat 50 keping emas?” sahut William, tampak ia juga sama herannya dengan Tuan Felix.


Keduanya terdiam mendengar ucapan Aileen, tanpa sadar mereka memperhatikan penampilan Aileen yang jauh dari kata mewah. Walaupun gaun yang ia kenakan tampak bagus, tapi tidak bisa membuang fakta bahwa itu hanyalah sebuah gaun murah yang bisa di temukan di pasar rakyat menengah ke bawah.


“William, pergi dan seret kepala keuangan kemari. Aku harus memberinya pelajaran berharga karena sudah berani menilap di kediamanku,” ucap Tuan Felix memberi perintah pada William.


Dengan segera William bangkit dari duduknya dan pergi menuruti perintah sang ayah.


Tuan Felix sendiri tak habis pikir, bagaimana bisa putri yang tak ingin ia temui ternyata hidup seburuk itu? 50 keping emas bahkan tak cukup untuk membeli sebuah syal kualitas terbaik.


Ia merasa geram dengan kepala keuangan keluarganya, bagaimana jika keluarganya menjadi bahan ejekan publik karena Aileen yang tidak berpakaian selayaknya bangsawan?


“Wah, aku pikir selama ini anda memang memberiku jatah sekecil itu,” ucap Aileen memecah keheningan semenjak William keluar ruangan.


“Baiklah, aku akan memintanya mengembalikan uang yang seharusnya milikmu selama ini. Katakan syarat kedua,” ucap Tuan Felix seraya menatap Aileen.

__ADS_1


“Kedua, jangan pernah mengatur atau memaksaku melakukan sesuatu yang tidak aku inginkan dan aku bisa melakukan apa saja yang aku inginkan di mansion ini,” ujar Aileen dengan wajah serius.


Tuan Felix tampak mencerna ucapan Aileen sejenak, sebelum akhirnya ia menganggukkan kepalanya setuju.


“Jangan lupa untuk membuat surat perjanjian yang sah di mata hukum, aku tidak ingin sesuatu yang merugikan untukku,” lanjut Aileen.


“Baiklah, aku akan meminta Vincent membuat surat perjanjiannya besok. Lalu apa syarat ketiga?”


“Ketiga, aku ingin ….”


Tuan Felix tampak keberatan dengan hal terakhir yang di minta oleh Aileen, tapi setelah berpikir beberapa menit dengan segala perhitungan ia pun setuju.


“Baiklah, aku akan kembali sekarang. Tuan bisa menyuruh Vincent mengantarkan surat perjanjiannya dan juga seluruh uangku selama ini,” ucap Aileen seraya bangun dari duduknya.


Ia membungkuk hormat pada Tuan Felix dan pergi keluar ruangan dengan senyuman puas di wajahnya yang terlihat menyeramkan bagi Via yang sudah menunggunya sejak tadi.


“Mengapa anda tersenyum seperti itu, Nona?” tanya Via ngeri melihat ekspresi menyeramkan itu.


“Kita akan merayakan kemenangan, Via. Ayo kembali ke kamar dan berpesta!” ucap Aileen dengan binar bahagia di wajahnya.


Berbagai rencana mulai terancang di otaknya, sepertinya takdir benar-benar memintanya untuk membalaskan dendam. Lihatlah jalan yang terbuka untuk memudahkannya membalas dendam.


Walaupun bingung dengan tingkah sang nona, Via tetap mengikuti langkah Aileen dengan setia. Setidaknya sang nona bisa tersenyum bahagia setelah sekian lama.


Sementara di sebuah ruangan, seorang pria paruh baya kini sudah terbaring tak berdaya karena William memukulinya tanpa ampun.


“Berani sekali kau melakukan hal menjijikkan seperti itu di kediamanku!” ucap William dingin, kemarahan tampak jelas di matanya.


“Am-puni aku, Tuan William,” lirihnya memohon pengampunan.


“Prajurit! Cepat bawa dia, ayahku sudah menunggu,” ucap William mengabaikan permohonan sang pria yang bekerja sebagai kepala keuangan di kediaman Ryder.

__ADS_1


__ADS_2