
Suasana yang sebelumnya meriah penuh, mendadak hening setelah mendengar apa yang disampaikan Pangeran Mahkota Antares Le Zaranor.
Siapa yang menyangka ternyata pemuda yang diincar di seluruh kerajaan ternyata sudah memiliki tunangan sejak ia kecil? Suara bisik-bisik mulai terdengar membicarakan tentang Aileen dan Putra Mahkota yang terlihat sangat cocok.
“Pantas saja selama ini kaisar selalu menolak lamaran yang diajukan untuk Putra Mahkota.”
“Lady Aileen terlihat sangat serasi dengan Putra Mahkota, ia benar-benar seperti dewi.”
“Tidak heran Kaisar rela menolak seluruh lamaran, kecantikan Lady Aileen benar-benar bisa menghancurkan sebuah kerajaan.
Masih banyak lagi bisik-bisik para bangsawan yang membuat Aileen ingin sekali memotong lidah mereka agar tidak lagi berisik.
[Para bangsawan ini benar-benar tukang gosip! Walaupun tidak ada bedanya dengan bangsawan di kaumku dulu.] batinnya kesal.
Wajah datarnya mendengar berbagai ucapan yang terdengar, jelas menunjukkan bahwa dirinya benar-benar tidak menyukai hal yang sedang terjadi. Berbeda dengan Tuan Felix dan juga Putra Mahkota Antares yang tampak sangat menikmati pujian yang diberikan para penjilat itu.
“Apa Yang Mulia akan segera menikah dengan Lady Aileen?” tanya seorang pria yang sepertinya tidak menyukai berita besar yang baru ia dengar.
Aileen memperhatikan sosok itu dengan seksama, ia jelas menyadari jejak kemarahan pada wajah pria tua itu.
“Aku tidak akan menikah dalam usia muda dan tidak akan ada yang boleh memaksaku,” sahut Aileen dengan wajah datar.
Mengalihkan perhatian para tamu kepadanya.
“Bukankah Putra Mahkota harus segera menikah agar bisa naik tahta?” bisik-bisik mulai terdengar lagi.
Putra Mahkota sepertinya tidak menyukai ucapan Aileen.
“Tentu kami akan segera menikah, Lady Aileen masih terlalu muda untuk memikirkan hal itu,” selanya dengan tegas, agar tidak ada berita buruk yang beredar.
Aileen berusaha sekuat mungkin agar tidak menebas kepala pemuda yang menyela ucapannya.
[Tenang Aileen, kau harus bersabar,] batinnya berusaha bersabar.
“Aku rasa sekarang aku sudah cukup dewasa untuk menentukan pilihanku sendiri,” ucap Aileen santai, seraya melepaskan diri dari Putra Mahkota.
“Silahkan nikmati pesatnya,” lanjutnya dengan suara lantang.
Musik yang sebelumnya berhenti, kembali terdengar mengisi suasana pesta.
__ADS_1
“Salam saya, Lady Aileen,” sapa seorang gadis seumuran dengan Aileen.
“Siapa?” ucap Aileen memberikan tatapan menilai pada sosok yang berdiri di hadapannya sekarang.
“Saya Sofianne Jen Vernando, putri dari Lucius Jen Vernando. Semoga kita bisa berteman,” jelas gadis bernama Sofia dengan senyuman yang tak lepas dari wajahnya.
“Lady Sofia, senang berkenalan denganmu.” Aileen membalas ucapan Sofia dengan wajah datar, siapa yang akan setuju ia merasa senang dengan wajah seperti itu?
“Apa Lady Aileen ingin aku perkenalkan dengan ayahku?” ajak Sofia dengan riang. Aileen menatap aneh gadis dihadapannnya itu.
[Apa dia tidak lelah tersenyum terus?] benaknya bingung.
[Tapi aku harus waspada, bisa saja ia mendekatiku karena niat jahat] lanjutnya.
“Tentu saja,” sahut Aileen akhirnya menyetujui ajakan Sofia.
“Ayo.”
Aileen hanya mengikuti langkah Sofia dari belakang tanpa ada niat mengakrabkan diri, berbeda dengan Sofia yang sejak tadi menyampaikan berbagai hal tentang dirinya. Membuat Aileen merasa mulutnya mungkin akan lelah jika banyak bicara seperti Sofia.
“Ayah!” panggilnya pada pria yang terlihat masih begitu muda yang tentu saja ayahnya.
“Sofianne jangan mengeraskan suaramu seperti itu,” tegurnnya pada yang putri.
“Aku membawa Lady Aileen, ayah harus berkenalan dengannya. Karena sekarang ia adalah temanku,” jelas Sofia seraya membawa Aileen berdiri disebelahnya.
Aileen yang sejak tadi memperhatikan interaksi ayah dan anak itu merasa ada yang aneh, bagaimana bisa pria semuda ini mempunyai seorang putri yang berumur tidak berbeda jauh darinya.
“Salam saya, Lady Aileen. Perkenalkan saya Lucius Jen Vernando, anda bisa memanggil saya Tuan Lucius,” sapa Tuan Lucius dengan sopan karena tingkat kebangsawannya jelas berada dibawah keluarga Ryder.
Aileen membungkukkan sedikit tubuhnya memberi salam tanpa membuka suara. Ia rasa tidak perlu repot memperkenalkan diri, karena semua orang di pesta pasti sudah mengenalnya, kan?
“Apa kalian ayah dan anak?” tanya Aileen dengan suara datarnya.
“Tentu saja, Ayahku adalah seorang penyihir putih jadi ia tidak akan menua untuk waktu yang lama. Aku pun begitu,” sahut Sofia dengan bangga akan asal-usulnya.
Sementara Aileen merasa jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Tak menyangka ia akan bertemu dengan klan penyihir putih secepat ini. Namun, ia tentu tidak menampakkan keterkejutannya.
“Sepertinya ini adalah kehormatan bagi keluarga Ryder, karena kedatangan klan penyihir yang termasyhur,” ucap Aileen dengan kalimat yang menyanjung.
__ADS_1
“Anda terlalu berlebihan, Lady. Klan penyihir putih tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan keluarga Ryder,” sahut Tuan Lucius.
Ketiganya berbincang sedikit dan berakhir saat Aileen memisahkan diri dari ayah dan anak itu.
[Benar-benar menguras tenaga]
Di sudut ruangan Aileen merasa ada yang memperhatikannya. Namun, ia tidak ingin membuka kedoknya. Biarkan saja, nanti juga ia akan menghabisi semua orang yang ada di sini.
Tak terasa pesta berlalu dengan sangat lambat, malam ini sudah semakin larut. Satu per satu para tamu mulai meninggalkan kediaman Ryder dengan kereta kuda kebanggaan mereka.”
“Aku rasa, lebih baik aku meningkatkan kekuatanku dari pada harus mengikuti pesta yang melelahkan seperti ini,” gumam Aileen.
“Sekarang aku justru harus menghadapi pria tak tau malu ini,” lirihnya seraya mengalihkan perhatiannya pada Putra Mahkota dan Tuan Felix yang berjalan ke arahnya.
“Ikut aku,” ucap Tuan Felix begitu ia melewati Aileen.
Dengan rasa malas yang luar biasa, Aileen pun mengikuti langkah kedua pria beda usia itu. Ia tau apa yang akan mereka bicarakan dengannya, tapi tidak bisakah mereka melakukannya esok hari? Benar-benar pengganggu.
Saat-saat seperti ini, kadang Aileen mengharapkan kehadiran William. Karena bisanya William akan menghalangi dirinya bertemu dengan Putra Mahkota, entah apa maksudnya. Namun, Aileen tentu berterima kasih untuk hal itu.
Sayangnya, saat ini William sedang tidak ada di kediaman Ryder. Karena harus menjalankan tugasnya sebagai Jendral muda di kekaisaran, membuat ia jarang berada di rumah.
[Jika Pria batu tu ada di sini, setidaknya aku bisa beristirahat lebih awal] gumamnya memikirkan kehadiran William.
“Apa kalian tidak bisa membicarakannya esok hari? Aku sudah lelah,” ucap Aileen akhirnya buka suara.
Langkah Tuan Felix dan Putra Mahkota serentak berhenti saat mendengar ucapan Aileen.
“Jika bisa sekarang, mengapa harus membuang waktu?” sahut Tuan Felix.
“Sayangnya, aku lebih ingin membuang waktuku untuk istirahat dari pada berbicara dengan kalian,” balas Aileen dengan tatapan tajam.
Putra Mahkota Antares tampak menghela nafas menyadari bahwa gadis di hadapannya sepertinya benar-benar lelah.
“Baiklah, kita bicara besok saja,” ucapnya memecah perseteruan antara ayah dan anak itu.
“Tapi ….”
“Aku juga lelah, sebaiknya siapkan kamar untukku karena aku akan menginap,” potong Putra Mahkota.
__ADS_1
Aileen yang mendengar ucapan Putra Mahkota segera pergi dari sana sebelum ada hal lain yang akan menahannnya.
“Pria tua memang menyebalkan,” gumamnya.