Remembrance

Remembrance
Chapter 1 : Melihatnya


__ADS_3

Atlia terus melangkah maju, matanya tetap terfokus ke depan. Langkah kakinya akhirnya terhenti ketika mereka berdua bertemu. Mata mereka saling terkunci dalam pandangan. Atlia merasa tidak ada ketertarikan khusus pada pria yang berdiri di hadapannya, tapi ada keheranan yang tumbuh dalam dirinya—perasaan aneh bahwa dia mampu melihat pria itu. Di sisi lain, Rion merasa bingung karena dia tidak dapat mendengar suara pikiran Atlia, sesuatu yang biasanya bisa dia lakukan. Dalam kerumitan pikiran keduanya, penulis merekam momen ini dengan penuh perhatian.


'Ada apa ini? Apa ada yang salah dengan telingaku?' batinnya dengan wajah penuh keheranan. Atlia mempertanyakan dirinya sendiri, merasa bingung atas perubahan yang terjadi.


Talia berjongkok meraih tali sepatunya yang lepas. Sementara itu, Orion hanya tertawa kecil atas pemikirannya sendiri. Namun, siapa sangka ada yang bisa melihatnya dengan wujud yang tak kasat mata? Dengan langkah ringan, Orion meninggalkan Atlia di tempat tersebut, wajahnya mencerminkan raut sinis yang tersirat.


Saat Atlia hendak berdiri, matanya tertuju pada sebuah dompet yang tergeletak di atas tanah. Tanpa ragu, ia mengambil dompet tersebut, mencoba membukanya untuk mencari tahu pemiliknya agar bisa mengembalikannya.


"Orion Neonatha," ucapnya pelan sambil matanya tetap tertuju pada data diri yang tertera di KTP. Dengan hati-hati, Atlia menyimpan dompet tersebut ke dalam tasnya, merasa kewajiban untuk mengembalikannya.


Orion Neonatha, mahasiswa semester 5 di Fakultas Ekonomi, telah menjadi sosok yang tak asing bagi semua orang. Ia adalah seorang senior yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memikat. Namun, di balik pamornya yang meluas, tersembunyi rahasia besar yang tidak diketahui oleh siapa pun—dia telah hidup selama lima abad. Di dalam dirinya, ia telah menyaksikan aliran peristiwa dari masa lalu hingga saat ini. Kemampuannya Untuk merasakan pikiran orang dan menggunakan kekuatannya untuk berbagai tujuan membuatnya semakin istimewa.


Orion berjalan menuju fakultasnya, wajah santai dia melewati dosen yang sedang menjelaskan di depan. dia duduk di sebelah sahabat akrabnya yang sudah berteman cukup lama. Dia menjentikan jarinya. Hitungan detik keberadaannya terlihat oleh orang lain.


“Kamu!” Arvino menahan amarahnya. ’Kalau ketahuan gimana? Berhenti untuk menggunakan kekuatanmu.’ Dia berbicara dalam hati, wajahnya menunjukkan amarah.


“maaf.” Kata Orion.


Orion melanjutkan perkataannya “Aku tidak akan melakukannya lagi” tangannya membentuk huruf v di depan Arvino.


‘Telingaku sudah penuh dengan bualan mu Orion.’ Arvino berbicara dalam Hati, tetapi matanya fokus melihat ke depan mendengarkan semua penjelasan dosen. Walaupun dia berbicara dalam hati, Orion tetap bisa mendengarnya. Itu salah satu kekuatannya yang orang lain tidak tau.


***


Chapter 1 : Melihatnya


Dia memandang dompet tersebut. Atlia duduk di kantin yang tidak jauh dari Fakultanya. Dia bingung harus mengembalikan dompetnya. dia menghelak napas dengan panjang. Menenggelamkan wajahnya di atas meja.


Seseorang mendekat menghampiri Atlia. dia duduk di sebelahnya, “Sekarang apalagi?.” Dia bertanya langsung ke padanya.


Zyla memandang dia yang masih Menenggelamkan wajah di atas meja.


“Zyla....” Dia memandang sedih kearah Sahabatnya. Mengeluarkan dompet dan meletakan di atas meja. “Kamu yang mengembalikannya. Kumohon”


Meletakan kedua tangannya ke tangan Zyla. menggoyangkan tangannya sambil berekspresi memohon.


“Kamu belum bisa menghadapi laki-laki?.” Dia bertanya ke arah Atlia. sahabatnya ini dia tidak bisa berinteraksi dengan laki-laki. Setiap laki-laki yang mendekatinya dia akan menghindarinya. Seperti kucing yang dipaksa masuk kedalam air dia akan mencoba memberontak.


“Ya, aku juga tidak tau mengapa, makanya dari itu bantu aku untuk mengembalikan dompet ini kepada Orion” dia mendorong dompet yang di letakan di meja dengan kedua tangannya. “Kumohon Zyla”


“Apa? Orion?” Zyla memandang Talia dengan tatapan aneh. Seseorang yang tidak tau nama Orion Cuma orang yang ada di depan Zyla saat ini. “Atlia kau benar tidak tau Orion?” dia bertanya kearah Atlia. siapa sih orang yang tidak tau Orion yang cukup terkenal akan kepintaran dan juga kegantengannya.


“Untuk apa tau juga tidak penting juga” dia menjawab dengan singkat.


“Baiklah aku yang akan mengembalikan dompetnya”

__ADS_1


Atlia tersenyum.


“Aku akan mentraktir mu makan--“ belum meneruskan kalimatnya Zyla menyela perkataan Atlia “Sepuasnya.” Dia kegirangan sambil membuka menu makan yang ada di atas meja.


“Siapa yang bilang sepuanya? Bisa bangkrut kalau kamu makan semua menu yang ada di sini.” Atlia tersenyum kecil melihat kelakuan sahabatnya.


“Pesan dua menu saja, Zyla!” Dia menekan nama Zyla di nada suaranya.


“Baiklah Atlia.”


Mereka berdua memesan makanan. Sambil menunggu makanannya jadi, Zyla mulai menceritakan semua kelucuan yang ada di kelasnya tadi pagi. Membuat Atlia tertawa mendengar semua cerita konyolnya. dia cukup bergaul dengan Zyla seorang. Dia sahabatnya dari sma. Yang sudah dia anggap sebagai keluarganya sendiri. bukan rahasia lagi buat teman sekelasnya. Atlia hanya bisa bergaul dengan perempuan tetapi tidak bisa bergaul dengan laki-laki. Entah apa yang memicu dia tidak suka berdekatan dengan laki-laki.


Membawa dua tiga mangkuk dan juga dua air minum yang diletakan di atas meja, “makasih bu.” Talia berbicara sambil tersenyum kearah ibunya.


“sama-sama neng.” Ibu tersebut berjalan meninggalkan meja mereka.


“Wah kayannya enak.” Atlia mencium aroma makanan tersebut.


“Hem... enak-enak” Zyla mengunyah sambil terus makan makanannya. Mereka berdua fokus dengan makan. tetapi waktu terus berputar, Atlia memandang jam tangannya yang menunjukkan pukul tiga sore. Atlia sudah menghabiskan makannya.


Dia memandang Zyla. “Malam ini kosongkan? Aku main ke kosan ya, Menghilangkan penat.”


“Malam ini, Engga bisa”


“maaf.” Dia memandang Atlia. “Janji minggu depan aku luangkan waktu buat kamu seorang.”


“Baiklah.” Dia tersenyum menutupi rasa sedihnya, dengan berat hati Atlia merelakan. “Kalau gitu gue duluan Zyla.” Talia berdiri dan melambaikan tangannya kearah Zyla.


“Hati-hati di jalan Atlia.” Dia tersenyum sambil Berjalan meninggalkan kantin.


Dia berjalan sambil menendang sebuah batu kecil. Atlia menunggu bus dateng di halte depan kampusnya. Dengan rasa bosan dia mengeluarkan headset menyambungkan ke ponselnya dan memasangkan ke telinga. Mengayunkan kakinya mendengar lagu yang dia dengar.


Butuh waktu 20 menit untuk menunggu bus dateng, Bus datang, Atlia berjalan masuk ke dalam busnya.


***


Suasana rumah yang megah. Seorang pria tinggal bertiga di sana. Status mereka yang abadi membuat mereka bersama. Di dunia ini banyak orang yang tidak tau, kalau di sekitar kita banyak orang yang abadi tidak bisa mati dan mempunyai kekuatan.


“Orion sudah berapa kali aku bilang untuk tidak memakai kekuatanmu di kampus.” Dia berteriak kearah Orion yang sedang bermain games di ruang tengah. Dia tidak menanggapi perkataan Gavri. dia terus bermain games.


Dia menjentikan jarinya. Dengan cepat Orion menepis serangan Gavri. Dengan gesit dia menjentikan jarinya lagi Yang membuat satu set PS Orion ancur tersambar petir.


“Berhenti untuk membuat petir bodohmu itu, Gavri!” mukanya penuh dengan amarah.


“Dan kau coba untuk mendengarkan ku bukannya main Games bodoh mu itu.” Dia menaikan satu oktaf sambil memandang penuh dengan amarah di kedua mata mereka. Orion menjentikan jarinya Dengan hitungan detik api menyambar ke arah Gavri. dia tersenyum jahat sambil melihat kearah asap yang ada di depan.

__ADS_1


“Gavri sudah pergi. Jangan terus memandang kursi yang terbakar karena apimu.” Arvino berdiri di pintu masuk ruang tengah. Sambil menjentikan jari membersikan semua kekacauan yang dilakukan oleh mereka berdua.


Dengan muka kesal dia melihat kearah Arvino, “kalau di kembali kabarin aku secepatnya!, aku akan membuat dia menyesal telah merusak Psku.” Hitungan detik dia menghilang meninggalkan ruangan. Arvino hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan sahabatnya tersebut yang tidak bisa akur. Padahal mereka sudah hidup bersama lima ratus tahun lamanya.


Dia berjalan tidak tau arah sambil melihat langit yang sudah gelap. Malam ini tidak ada bintang yang bersinar terang. Orion membuat badannya tidak terlihat lagi. dia memandang jam tangannya yang menunjukkan pukul sebelas malam. Dia berjalan pelan sambil mendengar lagu dari headset yang tersambung ke hpnya.


“Baru tau kalau di daerah sini ada jembatan.” Dia memegang pembatasan jembata. Sekilas dia memandang kearah wanita yang sedang duduk di pembatas jembatan.


‘Paling mau bunuh diri.’ Dia berbicara dalam hati. Dia penasaran dia melepaskan headset sebelah kanan untuk bisa mendengar isi pikiran wanita tersebut. Orion tidak bisa mendengar pikirannya.


‘Ini juga terjadi tadi pagi, ini aneh.’ Dia berjalan mendekat untuk bisa jelas mendengar isi pikiran dia. Orion sudah tepat di belakangnya dan wanita tersebut masih tenang duduk di sana


Atlia mulai berdiri untuk bisa turun dari pembatas jembatan, ‘Ini aneh aku tidak bisa mendengarnya’ Orion berbicara yang masih memandang punggung Talia.


Dia berbalik badan sungguh kaget saat dia melihat Orion. Mata mereka bertemu dia kaget melihat sosok laki-laki ada di depannya. Tanpa sadar kakinya mundur dan tidak ada topangan badannya dia terjatuh kedalam sungai.


“Tadi dia melihatku? Aku masih pake wujud tidak terlihat, Sial!” Dia lompat untuk bisa menolong wanita tersebut. Orion berenang sambil melihat wanita tersebut. Dia jatuh pelan menuju dasar. Dia menggapai pinggangnya dan mulai berenang keatas sungai.


Orion menepi di pinggir sungai sambil melihat wanita yang tidak sadarkan diri. Tangannya mendekati bagian hidung untuk memastikan kalau dia masih bernapas.


“Dia yang memutuskan untuk bunuh diri mengapa aku harus menolongnya.” Dia memandang wanita tersebut tanpa ada rasa peduli. Orion berdiri meninggalkan wanita tersebut di tepi sungai.


Saat dia mau berjalan, tangannya di tarik mendekat kearahnya kembali. Tanpa sadar dia memegang tangan Atlia.


“Ada apa ini?” dia memandang Atlia.


 “Sial!” kata tersebut yang keluar dari mulut Orion. Dia berusaha untuk bisa menyelamatkan Atlia. dia masih bernapas, Orion melakukan pertolongan pertama. Memberi napas buatan ke Atlia.


Air keluar dari mulut Atlia. Dia terbatuk batuk masih posisi tertidur di tanah, “Aku masih hidup.” Dia terduduk sambil menangis mengingat tadi hampir mati tenggelam.


Atlia belum sadar kalau Orion masih ada di sampingnya.


“Kamu yang memutuskan untuk bunuh diri, mengapa kamu menangis?” Dia berbicara dengan pelan tetapi Atlia mendegarnya. dia berhenti menangis, memandang Orion dengan tatapan kaget. Atlia bergeser untuk bisa menghindar kontak mata dengan Orion.


Rasa sedih hilang seketika saat dia melihat Orion. Bukan rasa takut yang dia rasakan saat ini melainkan bersalah yang sangat besar. Terhadap orang yang ada di depannya saat ini.


Apa karena dia baru jatuh dari sungai jadi memasang ekspresi seperti ini.


Aneh itu yang dipikirkan Orion saat ini, “Apa ada yang sakit? Mau aku antar kerumah sakit?” dia mengurukan tangganya untuk bisa membantunya dan mencoba mendekat kearahnya.


“Jangan mendekat....” Tangannya terangkat untuk mencoba buat dia tidak mendekat. “Aku sudah tidak apa-apa. Tidak perlu untuk kerumah sakit,” dengan cepat dia berdiri.


“Terima kasih sudah menolongku.” Dia berjalan meninggalkan Orion yang masih mematung di sana.


“Wah.. tadi apa? penolakan?.” Dia memandang punggung Atlia yang makin menjauh darinya. Baru kali ini ada wanita yang secara langsung menolak bantuan dia.

__ADS_1


__ADS_2