
Melihat jam yang menunjukkan pukul 6 pagi. Bagaikan mimpi yang panjang. Dia berpikiran kalau kejadian kemarin hanya mimpi. Dia duduk di atas kasur sambil melihat di sekeliling kamarnya. Tidak berubah semuanya dan juga tidak ada orang di kamarnya. Kalau itu mimpi mengapa semua kejadian tersebut terasa nyata baginya.
“Itu hanya mimpi.” Dia tenang, Atlia berjalan menuju kamar mandinya.
Dia menyalakan keran air untuk mengisi bak mandinya. Saat dia mau melepas bajunya. dia melihat kecowa yang berjalan kearahnya. Tania paling benci dengan kecowa. Apalagi kecowanya udah berubah jadi mode terbang. Dia berlari keluar dari kamar mandi tetapi dia terpleset. Dia berteriak kencang mencoba menggapai sesuatu agar dia tidak jatuh.
Tangan menahan punggung Atlia yang mau jatuh. Posisinya berdiri sambil menahan berat badan Atlia. Mata mereka berdua bertemu. Orion hanya memandang dengan tatapan dingin. Berbeda dengan Atlia membuat respons yang sebaliknya. Benci, takut bercampur aduk menjadi satu . Atlia berdiri memandang Orion dengan wajah takutnya.
“Mengapa bisa masuk?” Dia berbicara sambil menunjuk kearahnya.
“Kau yang memanggilku,” Orion memandang balik kearah Atlia.
“Berarti kemarin bukan mimpi?” Dia berbicara pelan tetapi Orion mendengarnya. Dia berjalan mendekat ke Atlia.
“Bukan!” Tegasnya. Dia terus mendekat. Atlia ingin mundur untuk menghindar Orion. Kaki ini tidak bisa bergerak.
“Jangan mendekat!” Dia berusaha berteriak ke Orion.
Mereka berdua saling memandang. Orion berfokus ke satu titik bibirnya. “Perjanjian harus di batalkan sekarang, aku tidak akan memenuhi dua janjimu,” dia memegang dagu Atlia.
Mata Atlia terbuka lebar saat dia memegang dagunya. “Kalau berani aku akan menendangmu sampai ke langit,” dia berusaha melindungi dirinya sendiri.
“Kalau bisa, lakukan,” dia berbicara dengan sinis. Atlia berusaha menggerakan badannya. Semua itu sia-sia dia tidak bisa menggerakannya.
Badannya masih tidak bisa bergerak. Dagunya masih di pegang Orion. Dengan cepat dia mendekat dan mencium Atlia . Atlia kaget setengah mati. Cium pertamannya... Matanya terbuka lebar tidak percaya yang dia rasakan saat ini.
Bibirnya masih menempel dengan Orion. dia berusaha memberontak. Itu semua hanya sia-sia dia tidak bisa bergerak sama sekali. Orion melepaskan ciuman tersebut. dia melihat gelang yang ada di tangannya.
“Apa kau gila!!” Atlia berteriak kearahnya. “Ciuman pertamaku hilang.” Dia sedih dengan apa yang terjadi.
__ADS_1
Gelangnya tidak merespon kalau kontrak tersebut hilang. “Apa yang terjadi? mengapa tidak hilang kontraknya” dia heran setengah mati. Kontrak itu akan batal apabila ada persetujuan dari Atlia.
“Apa yang kau perbuat... mengapa kontraknya tidak hilang” dia memandang marah kearah Atlia yang masih mematung tidak bisa bergerak sama sekali.
“Mana aku tau...” dia memandang Orion dengan tatapan benci. “Kau sendiri yang berpendapat kalau ciuman yang membuat kontrak itu ada” dia berbicara kepada Orion.
Orion memandang Atlia dengan wajah marah. Kontraknya tidak bisa di batalkan. Atlia masih mematung di hadapan Orion.
“Sekarang aku harus bagaimana? Ciuman pertamaku sudah hilang” dia bergumam sambil berusaha bergerak.
Orion menjentikan jarinya. Atlia yang berusaha untuk bisa bergerak. dia mengguncang badannya dengan cepat dan dia pun terjatuh ke lantai. dia merintih kesakitan saat pantatnya mencium lantai.
“YAH... “ dia memandang Orion dengan tatapan membunuh. Rasanya dia ingin mengeluarkan semua kata-kata yang sudah dari tadi dia pendam. dia mengurungkannya, itu hanya membuatnya capai dan juga semakin emosi.
Dia berdiri berjalan melewati Orion yang masih berada di depannya. dia berjalan tanpa mempedulikan Orion yang ada di sana.
Orion menghilang dari rumah Atlia. Dari situ Atlia mulai merasa tenang tidak adanya Orion.
Tapi pemikiran Orion salah ada sesuatu yang dia tidak tau. Apa sebenarnya dari kontrak tersebut?
Sebenarnya hari yang di tunggu-tunggu oleh Orion hari di mana dia akan terlepas dari masa abdinya. Adanya Atlia membuat dia ingin cepat lepas dari keabadiannya. Cukup dia hidup bertahun-tahun lamannya. Dia hanya ingin menjadi tua dan meninggal dengan orang yang dia cintai.
Dia ingin segera menyusul Lia yang sudah mati lima ratus tahun yang lalu
***
“Kamu mengapa?” Arvino melihat Orion yang setiap harinya penuh dengan amarah.
“Gelangku udah aktif” dia memperlihatkan gelangnya yang ada tepat di tangan kanannya. Arvino hanya memandang dengan wajah yang biasa. dia tidak bisa melihat gelang tersebut. Hanya bisa dilihat oleh Orion saja.
__ADS_1
“Aku harus bisa mendapatkannya” dia memandang gelang tersebut. “Agar aku bisa bertemu dengan Lia lagi”
“Jangan berharap lebih. Lia sudah mati...” Gavri berjalan melewati Orion yang duduk di sofa. “Lia mengorbankan hidupnya hanya untuk kamu, hiduplah sewajarnya sebagai Rubah” Gavri duduk tepat di hadapanya.
Tangan Orion mengepal saat Gavri duduk di depannya. Seperti minyak dan air mereka berdua tidak dapat di satukan. Pasti ada masalah setiap harinya yang membuat seisi rumah berantakan karena mereka.
“Cukup kalian berdua... bisa tidak sehari saja kalian tidak ribut dan membuat masalah” dia memandang mereka berdua yang mulai menatap satu sama lain.
Meredakan emosi mereka berdua. Gavri menarik napas dalam-dalam. dia masih duduk berhadapan Orion yang sedang memandangnya.
“Apa masalahmu sekarang?” Gavri bertanya dengannya. Arvino sedang duduk di sebelah Orion, dia tidak tau sama sekali dengan urusan Orion.
“Kontraknya sudah aktif dan tidak bisa dibatalkan” kata Orion dengan putus asa memandang gelang yang ada di tangannya.
“Apa kau tidak melupakan sesuatu yang penting? Cara membatalkann kontraknya. Seperti menciumnya kembali” kata Arvino.
“Engga, ciuman tidak berlaku. Aku sudah mencobanya hasilnya kontrak tersebut masih ada”
“Apa kau bodoh” Gavri memandang Orion dengan tatapan kesal. “Hanya ciuman dari orang yang tulus dan suka pada kamu yang dapat membatalkan kontrak tersebut. Hidup abdi yang selama ini kau jalani akan dihapus dan dapat hidup sebagai manusia” dia berbicara panjang lebar kearah Orion.
“Tapi belum tentu itu bakal bisa membatalkanya,” Kata Arvino.
“Metode ini belum tentu bisa behasil, aku juga belum tau kenapa Lia memasangkan ini padaku.” Dia memandang gelang yang di tangannya.
“Coba saja dulu.” Kata Gavri
“Caranya?” Orion bertanya kearah sahabatnya. Arvino dan Gavri hanya bisa menggelengkan kepala.
Manusia abdi hanya sebutan bagi mereka, sebenarnya mereka itu seekor rubah.
__ADS_1
Beda hal dengan Orion. Dia setengah rubah. Beda dengan Arvino dan Gavri yang seekor rubah asli.
Manusia abdi yang ada di hadapan mereka berdua hanyalah manusia yang hidup lama, tetapi dia sudah lupa bagaimana mencintai dan dicintai. Yang selama ini yang hanya Orion fikirkan hanyalah Lia.