Remembrance

Remembrance
Chapter 2 : Kontrak Ikatan antara Mereka Berdua (1)


__ADS_3

Dia bangun pagi seperti biasa. Membuka jendela cahaya matahari masuk kedalam kamarnya. Atlia merenggangkan tangannya ke atas menikmati semua yang telah dia rasakan pagi hari ini. Untung dia tidak terkena demam. Saat kejadian tadi malam yang membuat dia jatuh ke sungai. Wajahnya tidak seperti biasanya. memikirkan laki-laki yang telah menolongnya. Yang bikin aneh Atlia tidak pernah sekalipun memikirkan seorang laki-laki. Mau dia sudah menolongnya Atlia akan cepat lupa dengan wajahnya. dia tidak akan memikirkan laki-laki tersebut.


Hari minggu yang menenangkan. Atlia merebahkan badannya di atas kasur menghirup harum kasurnya. Merindukan kasurnya, bantal dan guling yang setiap hari dia disibukan dengan kegiatan kampus.


Dia meraih ponselnya yang diletakan di atas meja. “masih jam tujuh pagi, enaknya sarapan apa ya” dia bergumam sambil berjalan menuju dapur.


Dia memutar lagu yang sering dia dengar. Sambil bergumam dia mempersiapkan bahan-bahan yang akan di masak. dia mengambil semua bahan dari kulkas. Badannya bergoyang mengikuti irama musik yang dia dengar. dia mengambil pisau, memotong wortel yang sudah di bersihkan.


Atlia masih asyik mendengarkan lagunya. Ada sesuatu yang lewat di kakinya. dia melihat kebawah untuk memastikan kalau itu bukan lah tikus. Atlia sangat benci dengan tikus. tetapi tidak ada apa-apa. dia melanjutkan untuk memasak. Sungguh kanget dia melihat tikus tersebut sudah ada di tepat di atas meja masaknya.


“Ahhh....” Dia berteriak dengan keras. tikus tersebut bersuara ‘Cit.. Cit..,’ mengendus- endus daerah tempat masak. Atlia mundur sambil memegang pisau kedepan tepat kearah tikus tersebut.


Kali ini bukan tikus melainkan seorang Pria yang sedang memandangnya. Atlia masih menodongkan pisaunya di depan Pria tersebut. Raut muka Orion tidak bersahabat. mengapa bisa dia ketarik kearahnya.


“Mengapa kau ada di sini?” dia memandang Orion. “Datang dari mana?” pisaunya masih di arahkan ke Orion.


“Kau memanggilku.” Dia menyender di meja masak sambil melipat tangan di dada.


“Memanggil?” Dia berpikir kapan dia memanggil orang tersebut, datang dari mana pria ini. “Aku tidak memanggil kamu,” dia menaikan satu oktaf suaranya.


“Letakan dulu pisaunya. Kau bisa membunuh orang memegang pisau dengan cara begitu.” Atlia malah tambah waspada. Dia malah memperkuat pegangan tangannya yang sedang memegang pisau.


“Kau jangan bercanda! semua pintu rumahku, di kunci tidak ada pintu yang tidak aku kunci.”


“Ahh... karena itu dia bisa memangilnya, Ciuman itu.” Dia bergumam sambil melihat Atlia.


“Kamu ngomong apa? Ciuman? Kapan aku menciummu?” kewaspadaan Atlia bertamba. Dia memandang Orion dengan tatapan membunuh.


 “Itu hanya sebuah napas buatan.” Orion berjalan mendekat Atlia.


“Mau ngapain?” dia menodongkan pisaunya ke Orion. “Kalau kau mendekat aku akan membunuhmu,” Orion tertawa sinis.


“Kalau bisa lakukan,” Orion melangkah mendekat. dia menjentikan jarinya, dengan sekejap mata pisau tersebut menghilang dari tangan Atlia.


Atlia semakin takut, badannya tepat bersandar di meja. Dia memandang Orion sambil menggapai benda yang ada di dekatnya. Tangannya yang ingin mengambil garpuh. Dengan hitungan detik semua benda yang ada di meja berjatuhan di lantai.


Engga ada yang benda yang bisa dia gapai. Dia jongkok matanya tertutup, tangan menutup telinga kedua telinganya. Melihat tingkah Atlia dia mundur dan bersandar di meja masak sambil melipat tangannya di dada.


“Ini hanya ilusi.” Dia bergumam masih di posisi yang sama. Orion yang melihatnya hanya tertawa sinis.


“Kontar ini aktif karena ciuman...” dia melihat gelang yang ada di tanganya. Hanya dia yang bisa melihat gelang tersebut. “mengapa aku tidak menyadarinya, napas buatan sama dengan ciuman juga?,” tatapannya matanya berubah. Dia menjentikan jarinya.

__ADS_1


“Dari awal harusnya aku tidak menolongmu,” Orion berkata sambi melihat kearah Atlia yang masih takut terhadapnya.


Angin bertiup dengan kencang. Suara burung terdengar lebih jelas dari sebelumnya. Tania memberanikan diri untuk membuka mata. Tanah kering dan bebatuan besar yang terlihat saat ini. Dia sekarang ada di tepi jurang. Kalau dia melangkah kebelakang saja Atlia akan jatuh.


“Ini di mana?,” dia berbicara sambil melihat Orion yang berdiri didepannya.


“Kau tidak perlu tau ini di mana. Kau hanya perlu mengembalikan kontrak dan aku akan mengembalikan kau ke rumahmu.” Dia masih dengan posisi yang sama.


“Kontrak?” dia mengerutkan keningnya. “Tadi kau bilang kita ciuman dan sekarang kontrak ? apa maksud semua ini?” kali ini dia sedang dia ambang kematian.


“Kalau kau bisa mengembaliakan ini--” dia menghilang dan muncul tepat di hadapan Atlia. Tangannya menyentuh bibirnya. “Aku akan mengangap kalau semua ini tidak pernah terjadi.”


“Apa kau gila?” dia menepis tangannya yang menyentuh bibirnya. “Aku tidak akan mengembalikan kontraknya, kalau kau mencari cara lain untuk membatalkan kontraknya. Aku akan mensetujuinya. Selain harus menciummu”


“Tidak ada cara lain, cuma ada cara ini.” Dia mendekat untuk mencium Tania. Tania mendorong Orion tetapi dia terdorong ke belakang membuat dia jatuh.


Dia berteriak, tangan mencoba menggapai sesuatu. tetapi dia terjatuh di jurang yang dalam. Atlia berpikir kalau dia akan mati di sini. Merasa mati dua kali. Tenggelam dan juga jatuh dari jurang.


“Kalau dia meninggal kontrak tersebut akan menghilang dan itu akan membantuku.” Dia memandang Atlia yang makin jatuh kebawah. Saat dia mau pergi, badanya bergerak sendiri.


Menghilang dan menggapai Atlia dalam gendongannya. Kakinya mendarat di atas tanah dengan posisi tangannya masih menggedong Atlia.


Atlia yang masih memejamkan matanya. Merasa ada yang aneh. Apa dia sudah mati ? tetapi tidak ada rasa sakit di sekujur tubuhnya. dia memberanikan diri untuk membuka matanya. Tatapan itu yang dia lihat saat membuka mata. Dengan cepat dia turun dari gendongan Orion.


“Kalau kau mendekat aku akan melempar batu ini.” Dia mundur sambil memegang batu tersebut dengan erat. Dengan cepat dia berlari kearah hutan.


“Bodoh!“ Dia memandang Atlia yang berlari kearah hutan. “Mengembalikan kontrak saja susah.”


“Dia akan bertahan dari binatang buas yang ada di sana berapa lama,” Atlia mulai menghilang dari pandangannya.


Semakin dia terancam bahaya Orion akan muncul di hadapan Atlia. Orion tidak mengikutinya dia menghilang kembali kerumah.


Dia melihat ke belakang Orion tidak mengikutinya. dia mulai tenang tetapi dia takut sendiri. walau pun ini masih siang hari tetapi ini di hutan. Dia tidak tau ini ada di mana. Disekelilingnya di penuhi dengan pohon yang tinggi. Suara burung terdengar dengan jelas. dia melihat kesekeliling dan mengecek semua bagian yang dapat dia singgahi.


Suara perutnya terdengar dengan keras. dia membutukan makanan untuk mengisi perutnya yang kosong. Dari pagi dia belum sarapan.


“Mengapa aku harus sesial ini!!” Dia berteriak dengan kencang. Semua burung kaget dan terbang jauh ke langit. Daun berjatuhan di tanah saat burung tersebut terbang.


“Aku berharap ini hanya mimpi,” dia berteriak lagi. tetapi ini tidak bisa mengubah keadaanya. Bunyi perutnya semakin keras. “Harusnya aku tadi makan dahulu, lapar...,” dia duduk di bawah pohon.


“Kau harus bertanggung jawab....,” dia berteriak sambil menunjuk kearah langit “Aku tidak tau namamu tetapi aku tidak akan membatalkan kontraknya. Aku akan membuat kau menderita telah menggangu hidupku yang tenang.”

__ADS_1


Atlia berdiri mencari sesuatu yang bisa dia makan. Tidak ada buah yang bisa dia makan semuanya masih mentah. dia menggali tanah untuk mengambil ubi jalar yang ada di hutan. dia menggambil semua ubi yang ada.


Dia butuh api dan juga air. dia menutup matanya untuk bisa mendengar suara yang ada di sekitarnya. dia mencoba memfokuskan indra pendengaranya untuk bisa mendengar suara mata air. tetapi tidak semudah itu.


“Aku butuh air--,” dia terduduk di atas tanah sambil memegang ubi yang ada di tangannya. “Aku juga butuh api....”


Sudah satu jam dia mencoba membuat api. tetapi tidak bisa dan tidak semudah itu bisa membuat api. apalagi dia Cuma mengandalkan gesekan batu dengan batu.


“Gimana caranya untuk memanggil dia?” dia mencoba berpikir. Dia terpanggil saat Atlia dalam bahaya.


“Ah... ada ular,” dia berteriak sambil memukul pohon dengan batu yang ada di tangannya. Atlia melihat kekanan dan kekiri. Tidak ada, dia tidak muncul.


“Apa kurang meyakinkan?”


Dia menendang batu yang ada di depannya dengan kencang. Keseimbangan tubuhnya tidak stabil dia jatuh kebelakang. Tangan seseorang memegang punggungnya. Mata mereka bertemu memandang satu sama lain.


Atlia melihat matanya penuh dengan kesedihan, amarah dan juga kekecewaan yang cukup mendalam. Dia yang tidak bisa berintraksi dengan pria mana pun. Entah mengapa dia merasa sudah sangat lama dia mengenalnya.


“Aku hanya butuh ini untuk bisa membatalkannya,” Orion melihat bibir Atlia. Dengan cepat Atlia berdiri dan menutupi bibirnya. “Dan kau akan terlepas dari ku,”


“Baik kita batalkan kontrak ini” Orion mendekat kearah Atlia. “tetapi ada tiga saratnya” dia mencoba untuk bisa membuat perjanjian untuk menguntungkan dirinya sendiri.


“Tiga sarat doang?,” dia tersenyum “Gampang aku bisa mengabulkan semuanya,”.


“permohonan pertama aku ingin pulang,”.


Dia menjentikan jarinya mereka sudah di ada di rumah Tania.


“Akhirnya aku di rumah” dia memandang semua sudut rumahnya. dia berlari menuju dapur. Atlia ingin makan untungnya dia masih ada lauk yang tinggal di panaskan saja.


Dia menyusun semua makanan di atas meja makan. Orion sudah duduk di depan Atlia yang masih sibuk makan.


“Permohonan kedua ?” dia memandang Tania.


“Aku lagi coba berpikir dahulu untuk permohonan kedua,” dia berbicara masih dengan mulut penuh dengan makanan.


Dia duduk di depan Atlia. “Cepat buat permohonan kedua dan ketigamu” dia sambil memandang Atlia yang masih lahap makanannya.


Atlia malah mempercepat makannya, dengan cepat dia berlari kekamarnya “Tidak Hari ini” dia mengunci kamarnya dan merebahkan badannya di atas kasur.


Sebenarnya dia bisa masuk tanpa membuka pintu. Dia akan menepati janjinya besok. Orian menghilang dari rumah Atlia.

__ADS_1


 


 


__ADS_2