
Masuk ruangan semua orang memandangnya. Berbicara tentang pengakuan Orion di koridor kampus. dia menundukkan kepala berjalan menuju kursinya. Atlia duduk dengan tenang.
Dia menggambil buku catatan di dalam tas. Matanya bertemu dengannya yang sedang memandang tepat disebelah tempat duduknya.
Atlia berdiri dengan wajah kaget “Kamu ...” kursinya jatuh saat dia berdiri.
Semua orang memandang aneh Atlia yang memandang kursi kosong.
“Dia kenapa?” kata teman kelasnya yang duduk tepat di belakang Atlia.
“Mungkin dia udah gila...” kata Riska teman yang suka sekali bergosip. “Liat aja tiap hari dia aneh, sekarang dia terus memandang kursi itu”
“Riska mulutmu pedas banget.” Dia tertawa mendengar omongan Riska.
“Itu fakta, aku berbicara kenyataan.”
Atlia masih berdiri memandangnya “Mengapa kamu di sini? Ini bukan kelasmu kan?” dia berbicara normal tetapi semua memandang dengan tatapan aneh.
Atlia berbicara sendiri.
Orion masih duduk tenang di kursinya memandang Atlia yang masih berdiri.
“kemari.” Orion mengintruksikan dia untuk duduk lagi di sebelahnya. Memperlihatkan wajah yang tegas dan juga tenang.
“Tidak,” Dia menolak.
“Kalau kamu tidak duduk, kamu akan di anggap gila oleh teman sekelasmu.”
Atlia memperhatikan di sekeliling kelas semua orang memandang dengan tatapan aneh.
“Dia benar benar gila.”
“Dia berbicara sendiri.”
“kursi itu kosong tidak ada siapa-siapa dia berbicara dengan siapa?”
“Aku tidak percaya, tiap hari dia mulai aneh.”
Semua orang mulai membicarakan Atlia.
Orang lain tidak bisa melihatnya? Jelas-jelas Orion ada di depannya.
“Kemari,” tegasnya lagi. “Aku tidak akan mengulang untuk ketiga kalinya.”
Dia ragu-ragu untuk berjalan kearahnya.
tetapi dia duduk dengan tenang di kursinya lagi. Atlia memandang kosong ke depan. Mengabaikan orang yang di sebelahnya. tetapi pria yang di sebelahnya terus memandangnya.
Dosen masuk ruangan kelas menjadi tenang. Semua orang terus mendengarkan dosen yang sedang berbicara didepan.
“Rubah kecil.. siapa namamu?” Dia berbicara, matanya memandang Atlia yang masih mencatat semua yang dosen itu katakan.
Atlia masih diam.
“Namamu?”
Mengabaikan Orion yang ada di sampingnya.
Orion mencubit kedua pipinya dengan satu tangan. Bibirnya mengembung kedepan tepat memandang kearah Orion.
Atlia mengerutkan dahinya.
Tindakan membuat dia jantungan.
“Kamu mengabaikanku!.”
Dia memandang di sekitarnya. Semua orang memandangnya dia lagi.
Pria ini!!
Dia menepis tanganya. dia menulis tepat di belakang buku catatanya.
‘Bisa engga kamu diam! Jangan ganggu!’ Dia mengeserkan bukunya di sebelah. Mata cokelat Orion memandang tulisanya.
“Tidak bisa,” dengan tegas.
__ADS_1
Dilihat lebih lama dia semakin suka menggodannya. Suka menjahilinya sampai dia menangis dan memohon kepadanya. tetapi itu tidak akan terjadi kepadanya. Selalu bisa melaridiri. Rubah kecil ini terlalu tegas tidak dapat di ajak bercanda. tetapi dia masih ada sisi lucunya.
Rion sepenuhnya di abaikan oleh Atlia. Memandang dengan satu tangan menopang wajahnya. memperhatikan Atlia yang masih serius memandang dosen yang sedangan menjelaskan di depan.
Atlia merasa risih dengan pandangan Rion yang menatapnya. Dia mengambil buku meletakan tepat di samping wajahnya. Rion hanya tersenyum kecil memandang Atlia yang melakukan tindakan yang tidak terduga. Dia menarik bukunya yang di pegang oleh Atlia untuk menutup dari pandangan Rion.
“Aku masih bisa memandangmu dari jarah dekat.” Dia berbicara tepat di sebelah telinga Atlia.
Dia kaget, dengan pipinya berubah merah. Dengan cepat dia berdiri, Tanpa memperhatikan kakinya melangkah dia terjatuh ke samping tempat duduknya. Semua orang memandangnya dengan tatapan aneh.
“Ada yang tidak fokus di kelas saya.” Dosen itu memandang Atlia.
“Maaf pak saya hanya tersandung,” dia berdiri merapihkan pakaiannya. Sekilah dia memandang Rion dengan tatapan marah.
“Baik.. semua mulai fokus lagi minggu depan kita akan mengadakan Kuis. Materi kali ini akan ada dalam kuis.”
Dalam ruangan mulai hening. Semua orang mengeluh karena kuis.
Atlia duduk dengan tenang tetapi pikiranya tidak ada di tempat. Semuanya berantakan mengapa dia harus mengalami semua ini. Hari tenangnya sudah berakhir. Dia membenturkan kepalanya di atas meja.
Dia menari napasnya dalam-dalam membuangnya dengan penuh emosi.
***
Jam pelajaran berakhir semuanya keluar kelas. Atlia mengemas bukunya dengan sangat cepat.
“Pelan–pelan emang kamu mau ke mana?” Orion memandang Atlia yang masih memasukan bukunya ke tas.
‘Aku mau kabur dari kamu.’ Memakai tasnya di pundaknya berlari keluar kelas. Dengan cepat biar tidak di ikuti oleh Orion .
“Rubah kecil ini... ceritanya mau kabur,” dia menjetikan jarinya. Orion berdiri tepat di depan pintu.
Atlia yang berlari terkejut, dia belum sempat berhenti berlari dan Orion sudah ada di depanya. Badannya menabrak badan Orion dan kepalanya tepat di dadanya Orion .
“Aku menangkapmu Rubah kecil,” tangannya tepat di pinggang Atlia. Mengangkatnya dan mata mereka bertemu.
“Lepaskan” memberontak tetapi kekuatanya lebih besar darinya. Dia merasa sedih mengapa nasibnya semalang ini. Kehidupan sebelumnya aku dosa apa sampai harus bertemu dengannya.
“Tidak,” tegasnya. Penolakan yang di dapat dari Atlia membuat dia merasa terpuruk. Benar awalnya dia hanya ingin melepaskan ikatan dia dengannya.
“Rubah kecil jangan nakal.” Atlia masih berusaha untuk memberontak, melepaskan dari pelukan Orion .
Lalu lalang orang melewati koridor ruangan mereka. Menatap dengan tatapan aneh. Karena Orion yang tidak terlihat di pandang orang lain selain Atlia. tetapi Atlia tidak peduli dia masih berusaha membebaskan diri darinya jadi tidak melihat sekitarnya. Orion yang melihatnya.
Dia menjentikan jarinya dan berpindah ke Apartemen yang letaknya jauh dari kampus. Posisi mereka tidak beda jauh dengan waktu di kelas. Bedanya dengan posisi duduk. Orion yang sedang memangku Atlia di pahanya dan tanganya yang melingkar di pinggangnya.
“Rion...” Atlia mulai sebal dengan tindakan Orion . Sesenang itu dia berpindah ruang. Dia belum terbiasa dengan ini semua.
Dia masih mecoba melepaskan diri dari Orion.
“Rubah kecil jangan main-main” menahanya. Gerakan Atlia membuat Rion mengalami Reaksi aneh. Ini pertama kalinya. Dia sudah lama tidak berinteraksi dengan wanita atau pun manusia lainnya.
Orion memendamkan wajahnya di pudak Atlia. Dia mendengar erangan aneh. Hembusan napasnya Orion yang tepat di lehernya, membuat pipi Atlia memanas.
Dengan instingnya di berhenti memberontak. Membuat napas Orion mulai setabil lagi. Dengan bingung dia masih mematung di tempat. Dia merasakanya benda itu bereaksi. Karena jarak mereka sangat dekat dan bisa berasakan satu sama lain.
“Rion,” berbicara dengan nada pelan.
“Sebentar.. kalau kamu bergerak lagi benda itu akan bereaksi lagi,” Orion berbicara. Dia merasa sedang posisi ini. Atlia pun tidak memberontak lagi.
Satu menit berlalu posisi mereka masih sama. Atlia mulai tidak nyaman dengan posisi yang membuat dia ambigu.
Tiga menit
Lima menit
“Rion.. ini udah lima menit berlalu. Lepas!!” mencoba mendorongnya tetapi Rion menariknya kembali mengeratkan pelukannya.
Dia berbisik di telinganya “Aku menginginkan mu”
“menginginkan apa? Rion!!” Atlia mulai kesal denga Rion. Dia juga tidak kenal dengannya. Pertemuan kita juga karena kecelakaan.
Menemuinya dengan cara yang tidak biasa. Dia tiba-tiba muncul karenanya yang telah mengaktifkan kontraknya. Awalnya dia bilang ingin segera melepaskannya apapun caranya. tetapi dia berkata seperti itu buat apa? Dia menginginkanku? Dengan dasar apa?
“Aku tidak mengenalmu jadi lepaskan,” dia berbicara dengan dingin. Atlia berusaha lepas dari pelukanya, kali dia berhasil lepas dari pelukan Orion .
__ADS_1
Suara tegas dan dingin Atlia merespon gelang yang ada di tangan Rion. Berkedip berwarna merah. Tali-tali tipis tersambung ke gelang meremas jantungnya. Remasanya ini membuat bagian dada sangat sakit. Meletakan tanganya di dadanya.
“Jangan membuat wajah memelas aku tidak akan tertipu,” dia berbalik berjalan menuju pintu.
Sebelum Atlia membuka pintu Rion berbicara “Rubah kecil aku... “ dia berbicara dengan nada rendah. Memuntahkan setegung darah. Dia tidak bisa menahan rasa sakit.
Dia seharusnya bisa tahan sampai Atlia keluar dari apartemennya. mengapa dia harus berbicara. Kalau tidak berbicara Atlia tidak melihatnya dengan keadaan ini.
Atlia memegang mulutnya melihat Orion yang terjatuh di lantai dengan darah dimulutnya dan di lantai.
“Rion” dia berlari, tetapi kecepatan menghilang Rion lebih cepat.
“Rion...” dia berteriak mencari di sekitar tetapi dia sudah menghilang. “Cepat keluar, kamu sedang terluka. Jangan bersembunyi”
Entah mengapa dia merasa gelisah. Dia tidak bisa mengartikan kegelisahan ini, hati ini pernah mengalami kejadian ini. tetapi di mana?, Atlia tidak kenal dengan Orion sebelumnya.
“Rion....” Dia mengambil ponselnya tetapi dia tidak punya nomor teleponnya.
“Kamu bohong, kalau aku memangil namamu kamu bakalan datang,” perasaan aneh ini di sebut apa?.
Dia terduduk dilantai sambil terus memangil namanya. tetapi Orion tidak muncul.
***
Di tempat lain Rion muncul dirumah besar tempat mereka berkumpul. Arvino yang sedang duduk di sofa kaget setangah mati, keadaan Orion yang jatuh di depan matanya. Orion yang sudah tidak sadarkan diri dengan darah di bibirnya.
“Rion..” berjalan memandang keadaan Orion saat ini. dia memindahkannya ke kasur dengan sekali jentikan jari.
Keadaanya saat ini sangat lemah.
Organ dalamnya cukup parah. Dia menyembuhkan lukanya dengan kekuatan penyembuhan.
“Kamu mengapa bisa terluka parah seperti ini?”
Perlahan lukanya mulai sembuh. Dia mendengar suara langkah kaki. Gavri membuka pintu dan mulai berjalan kearah kasur.
“Siapa yang melukainya seperti ini? Apa dari pihak Oliver?” Gavri bertanya... hanya yang bisa membuat dia seperti ini hanya dari anak pihak ketua.
Walau pun Gavri dan Orion sering bertengkar tidak sampai membuatnya sampai babak belur atau terluka kekuatan mereka sama . berbeda dengan Oliver, kekuatan Oliver di atas Orion. Bisa di bilang Oliver darah murni. Sedangan Orion ditransfer dari Lia karena Orion saat itu sudah dinyatakan mati. Di bangunkan dengan kekuatan Lia yang mentaruhkan nyawanya.
Bisa dibilang Oliver dan Orion musuh. Walaupun mereka bersaudara tetapi mereka berbeda kedua orang tau Oliver darah murni sedangkan Orion ayahnya darah murni sedangkan ibunya manusia. Jadi dia awalnya mengikuti gen ibunya sebagai manusia. Takdirnya berubah saat dia bertemu dengan Lia.
“Aku belum pasti apa yang terjadi. Jadi tunggu sampai Orion bangun,” kata Arvino.
Sudah setengah jam Orion masih belum bangun dari pingsanya. Jari tangannya mulai bergerak. Gerakan itu membuat mereka berdua mendekat ke arah kasur.
Tangannya mengulur mengisyaratkan untuk stop “ Aku sudah tidak apa-apa..” dia terbatuk pelan dan terus bicara “Ini hanya luka kecil”
“kamu bodoh atau tolol mengapa kamu bertemu dengan Oliver?” Gavri bertanya dengan rasa kesal.
“Oliver?” dia mulai bingung dengan pembicaraan Gavri “Siapa yang bertemu Oliver?” Orion bertanya balik kearah Gavri.
“Siapa lagi yang datang-datang dengan luka dalam yang cukup parah.”
“Sudah-sudah Orion butuh istirahat,” kata Arvino.
“Aku sudah sehat aku sudah bisa bergerak” saat hendak bergerak dia merasa nyeri di dadanya. Dia tidak sepenuhnya sembuh dari sebelumnya.
Biasanya Arvino bakal menyembukan dengan tuntas dan bakalan sembuh total tetapi kali ini apa??
“Penyembuhanmu setengah buat introspeksi diri sudah berapa kali kamu mengalami ini. Akhir-akhir ini kamu pulang dengan luka dalam,” Arvino menghelak napasnya. “Kalau bukan saran Gavri, aku bakal sembuhin total seperti biasa tetapi perkataan Gavri benar kamu introspeksi diri dahulu. sampai lukamu sembuh”
“Jangan begitu..”
“tunggu sampai sembuh. Kamu juga engga punya tenaga buat menggunakan kekuatanmu. Tunggu sampai sebulan pasti sudah sembuh”
“Viro...” mereka berdua menghilang.
“Gavri aku akan mengutukmu...” dia kesal dengannya.
Bagaimana ini dia tidak bisa bertemu dengan Rubah kecilnya. Dia ingin menemuinya. Dia ingat dengan raut muka yang khawatir. Selama ini kalau Atlia marah dan tidak mengakui dirinya gelang ini akan berwarna merah. Jantungnya selalu sakit dan dia masih bisa pergi sebelum Atlia melihat keadaanya sepeti ini. tetapi kali ini berbeda. Dia melihatnya.
“Bagaimana ini?”
Rasa bersalah melekat erat dihati Orion.
__ADS_1