Resimen Singa

Resimen Singa
Kabar Sedih Malam Hari


__ADS_3

 "Salih! Apa kabar baiknya?" tanya Galib. "Lalu,  apa kabar buruknya?" tanya Ayşe. Salih hanya termenung "Kabar baiknya kita berhasil keluar dari kapal itu dengan selamat. Tapi orang yang tadi berbicara dengan topi hitam sepertinya orang baik." "Apa maksudmu?" tanya Ayşe "Sabar dulu Ayşe!" kata Salih. "Saat seseorang mengatakan padanya tentang kabar buruk Yang akan ku sampaikan, ia terlihat marah. Namun atasannya datang dan membunuhnya setelah ia menyatakan kesetiaan pada bangsanya dibawah Allah." "semoga Husnul Khatimah!" kata Galib. "amin."


 "Salih! Apa kabar buruknya?" tanya Ayşe. "Desa Eşrus dibakar beserta penduduk dan sekolahnya." ujar Salih sambil menunduk. Mata Ayşe mulai tergenang air mata.  Wajah Ayşe pun pucat. "Berarti teman2 kita... " ujar Galib terbata2 dan mulai menunduk. "Iya! Sepertinya mereka tewas." ujar Salih. "Salih! Kau jangan bercanda, Salih! Tolong katakan bahwa itu tidaklah terjadi!" Ayşe mulai menangis tersedu. "Kumohon Salih! Kau jangan berbohong." kata Ayşe. "Vallahi billahi aku tidak berbohong! Saat aku di dalam ruangan berisi penuh kayu, ada suara orang kudengar di luar.  Selain itu, aku juga melihat melalui lubang sebesar paku." kata Salih "setelah orang bertopi hitam itu mati, aku juga mendengar komandan itu bertanya pada anak buahnya tentang apa yang di lakukan. Anak buah itu adalah orang yang memergoki kita saat kita mencoba lari. Ia berkata bahwa Desa Eşrus sudah dibakar. Kemudian para penduduk desa itu juga dibakar." mendengar ucapan itu air mata Ayşe langsung mengalir deras. Bahkan Ayşe jatuh tersungkur tak kuat menahan badan. "Kami turut berduka atas kehilangan mu,  Ayşe! Kami hanya kehilangan teman-teman kami pun sudah sangat sedih. Apalagi kau kehilangan keluarga yang tinggal di desa tersebut." kata Galib. 


 Ayşe masih menangis bahkan terisak. Sesekali Ayşe juga menyebut ayah dan ibunya. "Ayşe! Kita sama-sama kehilangan. Tapi jika kau merasa berat dengan kehilangan itu maka anggaplah kami sebagai gantinya. Jika kau kehilangan ayahmu maka anggaplah kami seperti ayahmu. Jika kau kehilangan saudara mu maka anggap saja kami ini saudara mu." Ayşe masih menangis dan merasa hancur sudah hidupnya mendengar kabar kematian ayahnya dengan cara yang kejam. Ayşe juga kehilangan seluruh keluarganya. Bahkan sampai malam pun Ayşe masih menangis. 


 Sementara itu, Salih dan Galib mulai bergantian mendayung dan bergantian salat. Setelah beberapa saat kemudian, Ayşe tertidur di bagian depan perahu. Galib dan Salih masih berbincang-bincang. "Aku hanya ingin ia tidak putus asa dan harapan untuk hidup." kata Salih. "Bagaimana ini bisa terjadi? Entahlah! Semoga Allah mengampuni warga Desa Eşrus dan membalas setiap perbuatan zalim." "Amin!"


 Setelah cukup lama mereka mendayung, mereka istirahat. Saat Salih sedang duduk bersandar, ia melihat hijab yang Ayşe pakai telah basah dengan air mata. Matanya masih terlihat berkunang-kunang.

__ADS_1


 Galib sudah terlelap tertidur dalam beberapa detik. Sementara itu, Salih masih mendayung perlahan dan sesekali berhenti. Kadangkala, ia melirik wajah Ayşe yang menurutnya cantik. Tiba-tiba, Salih mendengar suara seperti sesuatu menabrak perahu. 


 "Salih menuju sisi kanan perahu dan melihat botol kaca berisi sebuah kertas dan ditutup dengan penutup kayu. Tiba-tiba, "Salih! Apa itu?" Salih terkejut dan menoleh ke belakang. Rupanya Ayşe."Ayşe? Kenapa kau terbangun?" tanya Salih. "Aku ingin salat dulu. Boleh ku lihat apa isi botol itu?" "Salat saja dulu nanti kita lihat bersama." Kata Salih sambil tersenyum.


 "Salih! Pakailah!" Kata Ayşe sambil membawa sebuah karung bertali.. "Kenapa?" "Aku ingin berwudhu. Kalau kau mencoba mengintip akan kucekik lehermu." Kata Ayşe sambil tersenyum. "Baiklah!" Balas Salih sambil tersenyum.


 Saat Ayşe salat, Salih melihat ada sesuatu seperti gagang lemari di bawah kursi belakang. Saat ia menariknya, ternyata terbuka dan didalamnya terdapat sesuatu. Rupanya, isinya stok daging, barel berisi air tawar dan minyak. Selain itu terdapat beberapa jaring yang biasa dipakai nelayan. Selain itu pula terdapat beberapa lembar kain tebal cocok untuk selimut. 


 

__ADS_1


Salih menutup pintu lemari kecil dan duduk diatasnya. Setelah membacanya, Amata Ayşe kembali berkaca-kaca. Ayşe menutup matanya menahan tangis. Air matanya mengalir perlahan. Kemudian kembali terduduk kemudian bersandar di tepi perahu. Menangis. Salih dan Galib saling berpandangan. Salih mengambil kertas yang tadi dibaca Ayşe. Kemudian, membacanya bersama Galib. 


 Salih dan Galib memejamkan mata mereka. Galib pun mulai meneteskan air matanya setelah membacanya. Kertas itu adalah surat yang di tulis oleh Rauf, orang terpercaya mereka dan juga desa. Semua orang tahu bahwa ia adalah orang paling jujur dan tidak pernah berbohong walau hanya bercanda. Di bawahnya, terdapat stempel khas miliknya. 


 Yang menjadikan mereka semua menangis setelah membacanya adalah isi dari surat tersebut adalah;


 "Para warga Eşrus dikumpulkan untuk di bantai. Aku menyaksikannya sendiri dengan mata kepalaku. Aku pun tertangkap dan akan di bunuh pula setelah mengabarkan apa yang akan terjadi di seluruh desa sekitar. Aku berlari dari desa ke desa untuk menyuruh para warga segera meninggalkan desa mereka. Namun saat aku sampai di Eşrus aku di tangkap. Aku diam2 menulis surat ini di detik2 terakhir hidupku. Melihat api berkobaran di sekitar ku. Semua orang batuk-batuk diikuti rasa takut yang luar biasa. Di bakar hidup-hidup. Semua orang Eşrus tanpa terkecuali wanita dan anak bahkan madrasa dan para murid sertapara gurunya. Akan kumasukkan surat ini dalam botol lalu akan  kulemparkan semampu ku kelaut.semoga sampai ke laut. Kami akan dibakar di gudang ikan. Doakan terbaik bagi kami.


Rauf İbrahim."

__ADS_1


 Mereka tidak memikirkan dari mana surat itu berasal. Mereka yakin bahwa stempel itu khas milik Rauf. Setelah surat itu mereka baca, mereka tentu sangat sedih. Madrasa mereka, teman mereka semuanya di bakar. Malam itu, semua tertidur tanpa memedulikan arah perahu bergerak. Semuanya sedih dan takut.


Bersambung...


__ADS_2