Resimen Singa

Resimen Singa
Penyebab Peperangan


__ADS_3

 "Bisakah kalian menjaga rahasia?" Tanya Hatice. "Ya! Kami berjanji tidak akan membocorkan rahasia ini." Ucap Galib. "ya, kami janji." Ujar Salih dan Ayşe. "Sebuah kota terletak di seberang kota ini. Dibandingkan kota ini, di sana jauh lebih baik. Cahaya islam menerangi kota itu. Saat waktu salat tiba, suara adzan terdengar bersahut-sahutan. Negara tersebut dipimpin oleh seorang hakan şah. terpilih melalui persetujuan majlis para hoca dan para emir. Ayahku adalah salah satu diantara  para şah. Dia ditunjuk oleh hakan şah sebelumnya yakni pamannya sendiri, Celaleddin Şah. Lalu ayahku syahid dalam sebuah pertempuran besar. Ia mewasiatkan agar tahtanya di ambil oleh pamanku, Hikmet dan Hikmet Şah mengangkat kakakku sebagai emir kumandan. Dia sekarang sedang di istana mengurus urusan militer negara tersebut." Hatice menjelaskan. "Kalau ayahmu seorang şah yang dihormati, kenapa kau tinggal di sini?" Tanya Galib. Hatice diam sekejap lalu berkata "kurasa kalian berdua tidak perlu tahu. Bisakah hanya antara aku dan Ayşe yang mengetahuinya? Kumohon." Salih dan Galib mengangguk. "Baiklah! Kami akan keluar mencari pekerjaan. Ayşe, jangan khawatir! Kami akan membiayai mu." Ujar Galib. Salih dan Galib pun keluar.


 Kedua pemuda tersebut keluar ruangan dan memakai sepatu mereka. Lalu menuju pintu depan. Tiba-tiba seseorang memanggil mereka "hei, nak! Kalian hendak ke mana?" Ternyata orang tersebut adalah penjaga meja depan. "Kami hendak mencari pekerjaan. Ada apa?" Kata Salih. "Anda harus tulis keterangan kepergian anda di meja lalu kalian masing-masing akan diberikan ukiran batu agar aku bisa tahu bahwa kalian adalah penghuni tempat ini saat kembali nanti. Silahkan!" Ujar penjaga meja depan tersebut. Salih dan Galib mengambil pena dan menulis persyaratan tersebut. Sebuah dokumen yang berisi kolom kosong untuk nama, tujuan pergi dan lainnya. Setelah itu mereka masing-masing mengambil batu yang terukir sesuatu dan mereka masukkan ke kantong. Lalu mereka keluar.


 Sementara itu Hatice dan Ayşe masih mengobrol. Beberapa saat kemudian Şahin dan Silahdar  muncul membawa beberapa peti kayu lalu berpamit pada Hatice. "Kemana lagi kalian hendak menjual barang-barang ini?" Tanya Hatice. "Kami hanya mengantarkannya ke dermaga, abla. Seperti biasanya. Kami berangkat dulu ya, Salam Aleykum!" Ujar Şahin. "Aleykum Salam, hati-hati!" Kata Hatice. Kedua anak bersorban merah itupun pergi. 


 "Hatice, bagaimana kau bisa disini?" Tanya Ayşe. "Mohon rahasiakan ini antara kita berdua." Kata Hatice. "Baiklah, aku janji akan merahasiakan ini. Katakan!" Ujar Ayşe. "Semua berawal di tahun lalu, saat perayaan hari ulang tahun pamanku naik tahta. Banyak orang menyaksikan acara tersebut. Saat itu aku datang ke acara tersebut. Bukan bermaksud sombong tapi kenyataannya, banyak lelaki yang terpesona melihat wajahku." Ujar Hatice sambil menunduk malu. "Saat aku sedang  membaca buku di depan rumah ku, seorang pria datang membawa bunga mawar. Lantas berkata 'wajahmu sangat cantik. aku cinta pada mu. Maukah kau menikah dengan ku' itu adalah momen yang sangat memalukan dalam hidupku." Ujar Hatice. Ayşe tersenyum dan bertanya "Lalu, apa yang kau katakan padanya?" Hatice melanjutkan ceritanya "lalu aku berkata padanya 'maaf, aku harus mempertimbangkan banyak hal. Dan aku tidak memiliki perasaan apapun terhadapmu selain rasa menghargai. Lagipula kita belum pernah bertemu sebelumnya. maafkan aku.' lalu orang itu pergi dengan rasa kecewa. Beberapa hari kemudian, aku mendengar bahwa orang tersebut menggantung dirinya sendiri. Akupun kaget tentunya." Ayşe hanya diam saja. "Ada lagi kisah yang sangat membuatku sedih." Ujar Hatice


***


 


Setahun yang lalu...


 


Hatice berjalan menuju pasar untuk membeli bahan makanan. Tiba-tiba ia melihat tiga orang pengendara kuda memacu kudanya. Salah seorang diantaranya tidak sengaja hampir menabrak seorang kakek tua. Kemudian orang itu turun. "Maafkan aku, Efendi! Kami kurang berhati-hati. Maafkan aku!" Ujar orang tersebut. Lantas kakek tersebut berkata "Tidak, nak! Aku yang seharusnya lebih berhati-hati. Sebab aku tahu kau adalah kaptan dan kau pasti harus melaksanakan tugas mu dengan cepat. Lanjutkan tugasmu!" Ketiga pria tersebut pun pergi. Hatice melihatnya dari kejauhan. Hatice melihat saat orang tadi turun dan meminta maaf, orang itu membuka penutup wajahnya. 


 


Hatice kembali dari pasar menuju rumahnya yang tidak jauh dari istana. Malamnya, Hasan datang untuk menemui adiknya, Hatice. "Salam Aleykum!" "Aleykum salam! Abi? Kau sudah pulang?" Hatice terkejut senang melihat abinya pulang. "Mana Şahin dan Silahdar?" Tanya Hasan pada Hatice. "Mereka akan kembali besok. Mereka sedang menginap di dermaga. Dimana istrimu, Zeynep?" Ujar Hatice. "Dia di istana. Aku sudab pamit pada istriku untuk menjenguk mu." Jawab Hasan. "Abi! Silahkan dimakan! Aku tadi hendak mengantarkannya menuju istana." Kata Hatice. "Baiklah mari kita makan!" Ujar Hasan. Mereka pun makan bersama. Hasan melihat adiknya tersebut sedikit pucat mukanya. "Hatice! Apa kau baik-baik saja? Apa kau sakit?" Tanya Hasan. Hatice hanya tersenyum "Tidak, Abi!" "Lalu kenapa wajahmu sedikit pucat?" Hasan bertanya kembali. Hatice hanya menunduk. "Sepertinya kau tadi bertemu seorang pria yang tampan. Benarkah?" Tanya Hasan sambil tersenyum. Hatice hanya tersenyum malu. "Ya, Abi! Aku melihat seorang kaptan yang sangat tampan menunggang kuda di pasar tadi bersama dua pengawalnya. Namun aku tidak tahu apakah ia sudah menikah atau belum." Hasan mengernyitkan alis. "Setahuku hanya ada satu kaptan yang tadi menunggang kuda di pasar. Namanya Celal Kaptan. Apakah wajahnya tertutup oleh kain sorban biru?" Tanya Hasan. Hatice mengangguk "warna kudanya putih, Abi!" Hasan memanggut dagunya. "Ya benar dia adalah Celal. Maşallah! Adikku sepertinya sudah siap menikah." Hatice hanya diam malu. Mereka melanjutkan makan malam mereka.


 Setelah mereka selesai makan, Hasan mengajak adiknya ke istana dan masuk ke ruangannya. Saat Hatice masuk, ia melihat ada sebuah kursi dan meja lalu di depan meja terdapat dua kursi untuk tamu dan sebuah meja kecil untuk hidangan."tunggu disini, aku akan kembali." Katanya pada Hatice. Hatice hanya mengangguk lalu duduk di kursi tamu.

__ADS_1


 Sementara itu, Hasan Emir menuju sebuah ruangan tempat para kaptan belajar dan berdiskusi. Mereka mengerjakan beberapa lembar soal mengenai teori peperangan. Kemudian Hasan Emir masuk "Salam Aleykum para Kaptan!" Semua yang ada di dalam menoleh ke pintu lalu berdiri saat mengetahui bahwa yang datang adalah Emir Kumandan mereka. "Aleykum salam, Kumandan!" Jawab para kaptan. "Apa kalian sedang mengerjakan soal-soal teori militer?" "Benar, kumandan" jawab mereka serempak. "Duduklah, para Kaptan! Lanjutkan tugas kalian. Aku kemari untuk memanggil Celal Kaptan." Kata Hasan. Orang yang bernama Celal pun berdiri lalu berkata "Siap, Kumandan! Ada yang bisa saya bantu?" "Apa kau sedang sibuk, Celal?" Tanya Hasan. Lalu Celal membalas "tidak, Kumandan! Aku hanya sedang membaca buku yang bisa kubaca di lain waktu."  Hasan mengangguk lalu berkata "ikutlah dengan ku, Celal Kaptan!" Hasan dan Celal pun berjalan menyusuri lorong istana menuju ruangan Hasan Emir.


 


Hasan dan Celal berjalan pelan. Hasan tersenyum dan berkata "berjalanlah di samping ku, Celal. Aku ingin berbicara pada mu bukan sebagai atasanmu melainkan sebagai kawan." Celal pun tersenyum lalu berjalan disamping Hasan. "Celal, kudengar kau akan diangkat menjadi Albay. Apa itu benar?" Tanya Hasan. "Benar, Emir!" Jawab Celal. Hasan mengangguk. "Setiap kaptan yang baru lulus selalu mendapat hadiah dari keluarganya. Aku mendengar bahwa keluargamu yang tersisa sekarang hanya keponakan mu yang mesih kecil dan tinggal di Madrasa yang didirikan Yusuf Hoca." Ujar Hasan. "Benar, Emir! Lalu saat hari kelulusanku, kau datang memberiku hadiah pedang yang cukup nyaman kugunakan. Alhamdulillah pedang itu masih ada sampai saat ini." Ujar Celal. "Oleh karena itu, aku ingin memberimu hadiah atas prestasi anda menjadi Albay di usia muda." Kata Hasan. Celal berhenti berjalan sebab penasaran lalu bertanya "kalau boleh tahu, apa hadiah tersebut, Emir?" Hasan berhenti lalu bertanya "apa kau sudah menikah?" "Belum." Jawab Celal. "Apa kau sudah bertunangan?" Tanya Hasan kembali. "Belum juga, Emir!" "Oleh karena itu aku hendak menperkenalkan adikku pada mu. Kalau kau mau kau akan menikah dengan adikku." Kata Hasan. "Emir, bukankah sudah banyak yang melamar adikmu? Kukira adikmu sudah menikah." Kata Celal. "Lamarannya semua tertolak, Celal. Apa kau sudah pernah melihat wajahnya?" "Belum, Emir. Tapi kudengar adikmu sangar cantik. Ee... Sebenarnya kita hendak ke mana, Emir?" Tanya Celal. "Ke ruangan ku. Ikuti aku!" Kata Hasan. Mereka berdua berjalan menuju ruangan Hasan Emir.


 


Setelah melewati beberapa lorong mereka akhirnya sampai. Hasan membuka pintu ruangannya lalu masuk diikuti oleh Celal. Hatice yang duduk menoleh lalu kaget saat melihat Celal. Ternyata memang Celal orang yang dilihatnya di pasar. "Celal duduklah!" Kata Hasan. Celal pun duduk di kursi tamu berseberangan dengan Hatice. Mereka dibatasi oleh sebuah meja kecil. Hasan duduk di mejanya sementara Hatice menunduk malu. Begitu pula Celal yang menunduk malu. Bahkan Celal tidak tahu bahwa didepannya adalah Hatice. Hasan mulai berbicara "Baiklah! Hatice, apakah ini lelaki yang kau lihat saat di pasar?" "Benar, Abi." Jawab Hatice. "Celal, inilah adikku. Kalau kau mau akan ku beri waktu untuk saling berkenalan." Kata Hasan. Suasana sunyi sesaat. "Baiklah, akan kuberi kalian berdua waktu untuk saling berkenalan." Kata Hasan. Ia berdiri lalu meninggalkan ruangan.


 Hasan duduk di kursi luar yang tak jauh dari ruangannya. Lalu datang Selim Emir, emir bagian urusan luar negara. "Emir Kumandan, sedang apa kau malam-malam disini?" Tanyanya. "Mencari udara segar, Emir." Jawan Hasan. Selim Emir hanya tertawa "Baiklah, terserah kau. Aku permisi dulu." Ujar Selim Emir. "Silahkan!" Jawab Hasan Emir sambil tersenyum.


 Sementara itu di ruangan Hasan, suasana masih sunyi. Hatice dan Celal sama-sama menunduk malu. Hatice sesekali melirik Celal. "Tadi siang di pasar, aku melihatmu berkuda dan hampir menabrak kakek tua. Lalu kau turun dan meminta maaf padanya. Sepertinya kau adalah orang yang baik." Ujar Hatice pada Celal. "Kau juga sepertinya gadis yang baik, şah. Aku melihatmu membagikan roti kepada anak kecil saat berada di pinggir pasar." Ujar Celal. "Ah, tidak! Kau pasti salah orang. Itu mungkin orang lain yang kau lihat." Kata Hatice malu. "Tidak, şah. Sepatu 'boots' yang kau pakai sama persis seperti gadis yang ku lihat." Kata Celal tersenyum. "Kalau tidak salah kau hafal quran. Apa itu benar?" Tanya Hatice. "Tidak. Belum semuanya. Tinggal tujuh surat lagi." Jawab Celal. "Celal, sejujurnya aku mencintaimu sejak awal ku melihat ketampanan mu. Kau juga sepertinya seorang pria yang baik." Kata Hatice malu-malu. "Begitukah? Terima kasih, hatun." Kata Celal. Hatice mengangguk. 


 Hatice membuka cadar penutup wajahnya lalu membuka hijab atasnya dan menunjukan wajahnya. Celal melirik Hatice saat ia melihat wajahnya. Ia terdiam sesaat dan meneguk ludah. Tatapannya tertuju pada Hatice untuk beberapa saat. Kemudian ia berbicara pada Hasan Emir dengan bahasa arab "Emir ku, adikmu sangat cantik. Aku ingin melamar adikmu untuk menjadi tunanganku." Hasan tersenyum. "Aku menerima lamaran mu, Celal." Balas Hasan dengan bahasa arab. 


Hatice menangis senang. "Hatun, apa kau baik-baik saja?" Tanya Celal. "Celal Kaptan, sebenarnya Hatice memahami bahasa arab. Kuyakin ia senang setelah aku menerima lamaranmu." Kata Hasan. Celal kaget karena ia tidak menyangka bahwa Hatice bisa berbahasa arab. "Celal, lanjutkan tugasmu! Besok kembalilah kemari agar kalian bisa saling mengenal lebih dekat. Juga untuk membicarakan masalah mahar." Ujar Hasan pada Celal. "Baik, Emir Kumandan ku!" Balas Celal. Lalu Celal membungkuk dan kembali keruangan para kaptan.


 Celal membuka pintu. Kemudian ia mengucap salam lalu masuk ke ruangan para kaptan. Para kaptan menjawab salamnya. Salah seorang kaptan bertanya "Sepertinya kau gembira sekali. Ada apa Celal Kaptan? Apa yang kau bicarakan dengan Kumandan." Celal tersenyum dan duduk di tempatnya. "Aku akan menikah." Jawab Celal. Semua orang tersenyum dan memberinya ucapan selamat.


 Besoknya, Celal datang menuju ruangan Hasan Emir. Lalu, Hasan Emir memberinya alamat sebuah kedai. Hatice sudah menunggu disana. Celal memacu kudanya menuju kedai tersebut dengan gembira dan semangat.


 

__ADS_1


 Hatice dan dua pengawalnya sudah menunggu di kedai. Tiba-tiba, mereka mendengar suara tembakan dari dalam kedai. Hatice mengeluarkan pistolnya lalu hendak keluar untuk melihat apa yang terjadi. Pengawalnya mencegah "Jangan, Şah ku! Berbahaya." Ujarnya. Hatice pun berkata "Aku tahu. Mari kita lihat bersama." Hatice dan kedua pengawalnya pun pergi menuju lokasi. Ia melihat dari kejauhan terdapat kerumunan beberpa prajurit penjaga Kota. Saat Hatice dan pengawalnya tiba, salah satu pengawal Hatice bertanya kepada salah satu penjaga "Apa yang terjadi, kawan?" Semua prajurit yang mengerumuni terlihat sedih dan hanya diam.  Akhirnya, kedua pengawal Hatice tersebut menghampiri. Mereka juga terkejut saat mengetahui apa yang terjadi. Kemudian salah seorang pengawal Hatice kembali menghampiri Hatice yang hanya melihat dari kejauhan. "Şah ku, Celal Kaptan..."orang itu berkata terbata. Hatice mengernyitkan alis. "Celal Kaptan tewas ditembak." Lanjutnya. Hatice mulai meneteskan air mata lalu ia menghampiri jasad tunangannya tersebut. Kemudian menangis meratapinya. Banyak orang menghampiri dan bertanya-tanya. Kemudian, Seorang prajurit berkata. "Aku melihat orang ini sedang berkuda lalu orang itu menembaknya." sambil menunjuk jasad yang tidak jauh dari jasad Celal. "Kemudian saat aku hendak menembak orang itu, rekan ku, Osman menembaknya terlebih dahulu. Lalu, Osman menghampiri orang ini dan terkejut saat mengetahui bahwa orang ini adalah Celal Kaptan. Ia pun berlari memanggil tabib. Namun terlambat, Celal Kaptan sudah terlanjur tewas." Lanjut prajurit tersebut. Hatice mendengarkan sambil menangis.


 Hatice pun menghampiri jasad pembunuh Celal. Lalu ia terkejut bahwa orang tersebut adalah salah satu orang Rafney yang melamar Hatice namun di tolak. Hatice pun sedih dan kacau pikirannya saat mengetahui bahwa kabar tentang kematian Celal tersebar luas. Ia mengira bahwa Celal mati karena masalah cinta. Nyatanya, orang justru menganggap pembunuhan tersebut di karenakan Celal adalah seorang perwira yang masih sangat muda. Meskipun begitu, Hatice tetap khawatir bahwa hal ini akan menyebabkan peperangan.


 Saat Hatice kembali ke istana, mengatakan pada kakaknya, Hasan Emir bahwa pembunuh Celal adalah orang Rafney yang sebelumnya pernah melamar Hatice. Hasan pun hanya mengatakan "kami akan menyelidiki lebih lanjut kasus ini, Adikku!" Besoknya, para Emir dipanggil oleh Hikmet Şah untuk mengadakan rapat. 


 Saat rapat tengah berlangsung, terdengar ketukan pintu. "Masuk!" Kata Hikmet Şah. Lalu, datanglah petugas penerima tamu dan berkata "Hakan Şah ku, utusan Rafney datang dan hendak bertemu dengan anda. Dia bilang ada masalah penting, Hakan Şah ku " Hikmet şah terdiam sejenak. Lalu ia berkata "Selim Emir, silahkan urus masalah tersebut!" Selim Emir membungkuk hormat dan berkata "Baik, Hakan şah ku." Lalu Selim Emir keluar. Di luar, ia bertemu dengan seorang utusan Rafney. "Apa ada masalah?" Tanya Selim Emir padanya. "Iya, tentu Emir!" jawab utusan tersebut. "Mari keruanganku! Kita bicarakan masalah tersebut." Ajak Selim Emir. Namun orang itu menolak "Maaf, Emir! Aku harus membicarakan masalah ini pada Şah mu." Selim Emir berkata "Hakan Şah sedang sibuk dan tidak bisa diganggu. Aku sebagai Emir urusan luar negara berhak membicarakan masalah Rajamu. Mari keruanganku" utusan tersebut mengangguk lalu mengikuti Selim Emir menuju ruangannya.


 Selim Emir memasuki ruangannya lalu memersilahkan utusan tersebut untuk duduk. Kemudian Selim Emir berkata "aku akan  menyeduh teh terlebih dahulu." Utusan tersebut mengernyitkan alis "Maaf, Emir! Kita harus bicara segera." Selim Emir hanya tersenyum. "Aroma teh akan membuatku lebih tenang sehingga keputusan yang akan ku buat akan lebih tepat."ujar Selim Emir. Lalu ia membawa dua gelas berisi air teh. Satu ia letakkan di meja tamu dan satunya ia pegang. Lalu ia duduk di kursinya. "Baiklah, mari kita mulai. Katakan apa alasan mu datang kemari!" Ujar Selim Emir. "Roland Efendi, warga Rafney dibunuh oleh prajurit Luşkin di tanah Luşkin." Kata utusan tersebut. Selim Emir pun hanya tersenyum dan berkata "Efendi, prajurit kami menembak wargamu yang membunuh perwira kami. Jadi, apa itu salah?" Utusan tersebut menghela napas. "Raja kami menganggap ini hal yang serius. Prajuritmu bisa saja menyebabkan peperangan antara kita, Emir!" Kata utusan tersebut. "Minumlah teh itu! Itu akan membuat kita lebih tenang." Ujar Selim Emir. Utusan tersebut mengambil segelas teh yang ada di atas meja lalu meminumnya. "Jadi, apa yang ingin kau sampaikan?" Ujar Selim Emir. "Yang mulia Raja Raymond menuntut agar negara mu meminta maaf atas apa yang dilakukan prajuritmu dan menghukum prajuritmu itu." Ujar utusan tersebut. Selim Emir hanya mengernyitkan alis. "Jadi kau menganggap ini masalah serius? Ketahuilah, anda telah ikut campur masalah kecil Luşkin! Emir manapun bahkan Şahku tidak akan menerima tuntutan rajamu itu." Katanya. Utusan tersebut membalas "kalau begitu anda telah menyatakan perang terhadap kami." "Kami tidak takut! Kami masih berdiri kokoh setelah 15 pertempuran." Ujar Selim Emir. "Kalau begitu, ini akan menjadi pertempuran terakhirmu." Jawab utusan tersebut. Mereka akhirnya membuat dokumen surat pernyataan peperangan. "Perang dimulai esok pukul delapan tepat. Sepakat?" Tanya Selim Emir. Utusan tersebut mengangguk tanda sepakat. Setelah itu, mereka saling bertukar surat yang mereka tulis untuk ditandatangani.


 


 Selim Emir dan utusan itu saling menyetujui dua surat yang ditulis tersebut. Utusan tersebut mengulurkan tangan untuk bersalaman. Selim Emir hanya berdiri tegak dan melirik tangan utusan tersebut. "Baru saja kita menyatakan perang. Jangan ulurkan tangan mu dalam keadaan kosong! Sekarang kembalilah dan sampaikan surat ini pada rajamu!" Ujar Selim Emir. Utusan tersebut pun keluar. Selim Emir kembali ke ruang Şah beberapa saat kemudian.


***


 Hatice mulai meneteskan air matanya di depan Ayşe. "Peperangan itu memakan banyak korban, Ayşe. Bahkan para perwira pun banyak yang tewas. Akulah yang menyebabkan peperangan itu." Ujarnya pada Ayşe. Ayşe merasa iba. "Tenanglah, Hatice! Semua orang hanya tahu bahwa peperangan itu disebabkan kematian Celal Kaptan." Ujar Ayşe. "Lantas bagaimana tanggung jawabku di akhirat nanti?" Ayşe hanya terdiam setelah Hatice berkata demikian. "Hatice, kalau kau izinkan, bolehkah aku melihat wajahmu? Aku menjadi penasaran setelah mendengar kisahmu itu." Hatice mengangkat cadarnya perlahan. Ayşe melihatnya kagum. "Wah, sudah kuduga. Wajah mu cantik sekali. Aku jadi iri padamu, Hatice." Hatice tersenyum. Lalu berkata "tapi Ayşe, ini justru menjadi ujian bagiku." Hatice menutup cadarnya kembali. Ayşe hanya mengangguk. 


 Sementara itu, Salih dan Galib masih berkeliling kota. Mereka sangat kagum dengan besarnya kota tersebut. "Salih! Kurasa keahlian kita berbeda. Alangkah baiknya bila kita berpisah dan mencari pekerjaan kita sesuai dengan keahlian masing-masing." Ujar Galib. Salih hanya mengangguk. Mereka akhirnya bersalaman dan berpisah.


 Galib berjalan menyusuri pasar. Di pasar, banyak sekali orang berjualan mulai dari kain, makanan dan lainnya. Tiba-tiba, seseorang memanggil Galib. Galib menghampiri berharap ada pekerjaan untuknya. "Apa yang kau lakukan, nak?" Tanya orang tersebut. "Berjalan-jalan, Efendi. Sekalian mencari pekerjaan. Apa anda ada pekerjaan yang bisa kulakukan?" Galib bertanya kembali.  "Ada, nak. Itulah mengapa aku memanggilmu. Aku sedang mencari asisten untuk membantuku dalam penelitianku." Ujar orang tersebut. Galib tersenyum "kelihatannya menarik. Tentu aku bersedia menjadi asistenmu kalau kau mau." Ujarnya. "Dari penampilanmu, sepertinya kau orang islam."kata orang tersebut. Galib mengangguk "benar, Efendi. Alhamdu Lillah, saya terlahir dari keluarga muslim dan lingkungan muslim." Jawab Galib. "Alhamdulillah. Ngomong-ngomong, siapa namamu, nak?" Tanya orang tersebut. "Galib, Efendi ku. Anak dari Muhsin, Galib Mehmed." Jawab Galib. "Sekarang kau kembalilah ke tempat mu, Galib Efendi. Sehabis ashar kau ke pergi ke alamat ini." Orang tersebut memberi secarik kertas. Galib melihatnya sebentar lalu memasukkannya ke dalam kantungnya. "Kalau aku boleh tau siapa nama anda, Efendi?" Tanya Galib. "Namaku Ahmed Fendir. Panggil saja Fendir Efendi atau Fendir Bey." Ujar orang yang tersebut. "Baiklah Bey! Aku akan ke alamat ini setelah salat ashar." Ujar Galib. Mereka bersalaman kemudiam Galib berjalan menuju asramanya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2