
Salih berjalan di sebuah pasar yang cukup besar. Ia melihat beberapa kios yang menyediakan barang yang masing-masing berbeda. Tiba-tiba seseorang bersorban putih datang menghampiri. "Salam Alaykum!" Ujarnya. Salih membalas "Aleykum Salam!" Orang itu lalu bertanya "Apa kau seorang muslim?" Salih mengangguk "Alhamdulillah, ya!" Lalu orang itu kembali bertanya "sedang apa kau disini?" Salih menjawab "Mencari pekerjaan. Apa kau ada pekerjaan untukku?" Orang itu mengangguk "Aku membutuhkan seseorang untuk membantuku menjadi kurir. Apa kau bisa?" Salih tersenyum lalu berkata "ya saya bisa. Kakakku pernah mengajarkanku cara menunggang kereta kuda." Orang itu mengangguk "Baiklah, ikut aku!" Salih pun mengikuti orang tersebut. Mereka berjalan menyusuri keramaian pasar tersebut.
Mereka berdua berjalan menjauhi pasar. Sambil berjalan mereka juga berbincang. Orang itu berkata "Namaku Kangök Mevleddinoğlu.. Siapa namamu dan dari mana kau berasal? Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya." Salih tersenyum "Namaku Salih. Kau tidak perlu tau dari mana asalku. Aku hanya tersesat dan tidak mungkin kembali." Kangök mengangguk "pekerjaanku berpusat di perbatasan Ranfney. Di pegunungan dekat wilderness. kau tau wilderness kan?" Salih mengangguk dan berkata "Wilayah liar yang belum pernah dipijak selain pribuminya." Kangök mengangguk. "Aku memiliki sebuah gubuk untuk tempat singgah dan bekerja sendiri di saat tertentu. Dari gubukku ke perbatasan kau akan mengirimkan barang-barang dan bahan makanan ataupun surat. Dari perbatasan mungkin akan memintamu untuk membawa bahan mentah dan surat." Lanjut Kangök. Salih tersenyum dan berkata "pekerjaan yang mudah!" Kangök berhenti lalu menghadap Salih dan berkata "kalau kau membawa surat kau harus bisa sampai dalam 20 menit." Kangök lantas lanjut berjalan. "Berapa jarak dari gubuk ke perbatasan?" Tanya Salih. "5 mil" jawab Kangök. Salih terkejut "Cukup jauh. Tapi masih memungkinkan." Kangök tersenyum.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di sebuah gubuk kecil. "Inilah gubukku. Kecil tapi banyak fungsinya." Ujar Kangök. Mereka masuk ke dalam gubuk. Salih melihat sekitar dan pandangannya tertuju pada sebuah pedang jenis 'rapier'. "Bey, darimana kau dapat pedang tersebut? Bukankah itu pedang para perwira?" Kangök berkata "Kau tahu Luşkin?" Salih mengangguk. "Jenderal mereka memberi ku pedang tersebut." Ujar Kangök kembali. "Apa kau pernah menjadi perwira Luşkin?" Tanya Salih. "Duduklah!" Ujar Kangök. Mereka pun duduk. "Aku adalah mata-mata Luşkin. Dan rekan ku yang berada di perbatasan akan menjadi pengirim surat ke Luşkin. Dia harus menempuh jarak sejauh 70 mil. Dia tinggal dengan seorang ilmuwan yang bekerja untuk Şah Luşkin juga." Lanjut Kangök. "Jadi kau akan mengirim surat laporan ke perbatasan melaluiku lalu rekanmu itu akan melaporkan kembali ke Luşkin?" Kangök mengangguk. "Sejujurnya, aku ingin menjadi warga Luşkin. Seseorang warga Luşkin yang tinggal di penginapan menceritakan perbandingan antara Luşkin dan negeri ini." Ujar Salih. Kangök mengernyitkan alis "Hatice Hatun. Itukah namanya." Salih menjawab "Ya. Dia bilang dia adalah putri dari Eyüb Şah." Kangök tersenyum "Aku menjadi kaptan saat Eyüb Şah bertahta. Aku kemudian di perintahkan untuk menjadi mata-mata di Rafney setelah Hikmet Şah bertahta menggantikan Eyüb Şah, kakaknya." Salih menyimak dan mengangguk. "Saat aku hendak mengembalikan pedang tersebut, aku justru disuruh menyimpan dan menggunakannya oleh Hasan Kumandan." Lanjut Kangök. Lantas Salih bertanya "Apakah Hasan Kumandan kakak dari Hatice Hatun?" Kangök mengangguk "ya, benar!"
Sementara itu di dalam penginapan remaja, Ayşe dan Hatice masih mengobrol. Mereka saling berbincang sambil meminum teh. Hatice bercerita tentang sejarah Luşkin. Sedangkan Ayşe mendengarkan. "Dulu tanah Luşkin hanyalah tanah liar yang tidak berpenghuni. Kecuali jika kau masuk ke dalam hutan, maka kau akan bertemu pribuminya." Hatice menceritakan. Ayşe bertanya "apa maksudmu 'wilderness'?" Hatice mengangguk "tepat sekali! Leluhur ku sekaligus şah, Serdar Hasan menjadikan tanah tersebut subur, makmur dan berpenghuni. Hampur semua penduduknya muslim hanya beberapa saja yang bukan." Ayşe mengangguk lalu bertanya "lantas, kenapa dinamakan Luşkin?" "Luşkin adalah nama pedang jenis rapier milik Serdar Hasan. Semua orang mengangkatnya sebagai şah pertama dan menamai wilayah tersebut Luşkin." Jawab Hatice. "Apa pedang Luşkin masih ada sampai sekarang?" Tanya Ayşe. Hatice mengangguk "masih ada namun tidak lagi dipakai. Pedang Luşkin disimpan di istana sebagai koleksi bersejarah." Ayşe terlihat takjub. Hatice pun senang melihat Ayşe takjub. "Ayo kita salat, Ayşe! Sudah zuhr." Ujar Hatice. Ayşe pun mengangguk.
__ADS_1
***
Galib berjalan sambil memegang secarik kertas bertuliskan sebuah alamat. Ketika Ia sampai di depan pasar, Ia menghampiri seseorang "efendi, bisa kau tunjukan alamat ini?" Tanya Galib sambil memberikan kertas yang tadi Ia pegang kepada orang tersebut. "Diujung pasar terdapat gubuk kecil. Itulah alamat yang kau cari." Jawab orang tersebut. Galib mengangguk "terima kasih!" Lalu Galib melanjutkan perjalanannya menuju tempat yang di maksud. Sesampainya disana Ia berhenti di depan pintu. Mengetuk pintu "Salam Alaykum, bey!" Seseorang dari dalam membuka. "Alaykum Salam! Ada yang bisa saya bantu?" Ujar tuan rumah. "Ee... Apa ini alamat Fendir bey, Ahmed Fendir bey?" Tanya Galib. "Oh, ini memang alamat Fendir Bey. Tetapi, ia sedang tidak berada di dalam." Ujar tuan rumah. "Sebaiknya masuk lah kedalam dan tunggu Fendir Bey. Aku juga sedang menunggunya." Lanjut tuan rumah. Galib pun mengangguk dan dan masuk ke dalam gubuk tersebut.
Galib menutup pintu setelah ia masuk. Kemudian ia berbalik menghadap ke tuan rumah yang yang sedang duduk di kursi. Ia terkejut saat melihat orang yang duduk di samping tuan rumah. Orang tersebut menatap Galib tersenyum dan tertawa. Galib pun kemudian bertanya "Sedang apa kau di sini, Salih?" Lalu Galib dan Salih saling bersalaman dan berpelukan. "Aku bekerja sebagai kurir untuknya, Kangök efendi. Kau sendiri sedang apa di sini?" Ujar Salih. "Seseorang bernama Ahmed Fendir bey menawarkan pekerjaan padaku sebagai asisten untuk melakukan penelitian." Kata Galib. Tiba² Kangök bertanya "Apa kalian saling mengenal." Salih langsung menjawab "tentu efendi. Kami berasal dari tempat yang sama dan pertemanan kami bisa dibilang sangat dekat." Kangök pun mengangguk. Lalu, Kangök menyeduh air teh dan dan memersilakan kedua tamunya untuk minum bersama sambil mengobrol.
Di tengah-tengah mereka mengobrol, tiba-tiba terdengar ketukan pintu disertai ucapan salam. Tiga orang yang berada di dalam gubuk menjawab salam serentak. Kangök membuka pintu. "Fendir bey? silakan masuk!" Ujar Fendir bey. Galib pun berdiri dan menyambutnya "Selamat datang, bey!" Fendir bey mengangguk "Terima kasih!" Kangök pun menutup pintu dan memersilakan para tamunya yang sekarang berjumlah tiga untuk duduk. "Barang apa yang kau perlukan, Bey?" Tanya Kangök. Fendir bey lalu mengeluarkan kantong dan berkata "Dalam kantong ini terdapat sejumlah zek dan selembar kertas berisi daftar barang-barang yang kubutuhkan. Ngomong-ngomong, siapa anak itu?" Ujar Fendir bey sambil memberikan kantong tersebut kepada Kangök. Kangök pun menjawab "Ini adalah kurir kita sekarang, Salih efendi" Fendir bey pun mengangguk "Baiklah, maaf Kangök! Aku tidak bisa berlama-lama." lanjut Fendir bey. Kangök mengangguk. Fendir bey lalu berdiri dan pamit "Salam alaykum!" "Alaykum salam!" Jawab Kangök. Lalu Fendir menuju pintu dan berkata "Ayo Galib efendi! Ikut aku!" Galib pun berdiri dan mengangguk ke arah Salih dan Kangök untuk pamit. Kangök dan Salih membalas mengangguk. Fendir bey pun pergi disusul Galib.
__ADS_1
***
Di tengah ruangan penginapan suasana sedikit ramai karena banyak anak-anak sedang makan siang. "Kita makan apa sekarang, abla!" Tanya Ayşe pada Hatice. "Hanya roti tawar, wortel dan apel." Jawab Hatice. Ayşe tersenyum "Tidak masalah. Itu cukup bagiku." Hatice berkata "Tapi kalau kau mau ikan kau boleh menangkapnya sendiri di laut dan memasak sendiri di dapur." Ayşe terlihat heran "Bagaimana aku bisa ke laut?" Hatice pun menghela nafas sambil tersenyum di balik cadarnya "Perahu di dermaga dengan warna dua garis merah mendatar dan lingkaran dibawahnya adalah milik penginapan. Kau boleh memakainya asal kau membawa sepuluh ekor ikan minimal. Kalau kau membawa lebih, itu milikmu dan kau bisa menjualnya ataupun memakannya." Ayşe mengangguk dan berkata "Kalau begitu selepas makan mari kita ke sana!" Hatice menggeleng "Cuaca panas dan ombak siang di wilayah ini tidak mendukung." Ayşe terlihat kecewa "Kalau kau mau selepas asar kita bisa kesana." Ujar Hatice. Ayşe mengangguk "Baiklah!" dan melanjutkan makannya.
Sementara itu Fendir bey berjalan di jalanan yang sangat sepi diikuti asisten barunya, Galib. Galib bertanya "Apakah sehari-hari kota ini sepi seperti ini? Aku jarang melihat anak muda di sini." Fendir menjawab "Sekarang Rafney dan Luşkin sedang terjadi bertempur. Mungkin para pemuda ikut mendaftarkan diri sebagai relawan." Galib mengangguk. Lalu, Galib kembali bertanya "Bey, sekarang kemana kita akan pergi?" Tanya Galib. Fendir bey menjawab "Ke perbatasan Rafney dan wilderness" Galib mengangguk. "Galib efendi!" Panggil Fendir bey. "Ya, bey." "Lepas sorban mu sekarang! Muslim di Rafney sangat minoritas dan sangat di benci." Perintah Fendir bey. Galib pun melaksanakan apa yang diperintahkan. "Tidak seperti dulu, sekarang tidak ada satupun Masjid berdiri di Rafney. Semuanya di ganti fungsinya. Tidak jarang muslim di sini di tangkap tanpa alasan." Lanjut Fendir Bey. "Bey, kenapa muslim di Rafney tidak pindah saja ke Luşkin dari dulu? Bukankah muslim banyak terdapat di sana?" Tanya Galib. Fendir bey pun berhenti berjalan. Menatap Galib tajam. Galib pun menunduk.
Fendir bey pun menghela napas. "biar kuberi tahu anda, Galib Efendi. Perjalanan dari Rafney sangat berisiko. Kalau kau hendak melewati jalur perairan, maka kau tidak bisa melawati dermaga ataupun pelabuhan. Pelabuhan Rafney hanya untuk urusan militer. Sedangkan dari dermaga, tidak ada kapal yang bisa ke sana. Kapal dermaga yang ingin menuju Luşkin harus menyusuri pesisir Rafney. Penjaga akan melihat kapal dan langsung membuka tembakan meriam. Kalaupun kau bisa lolos dari tembakan meriam, kau tidak akan bisa mendarat di Luşkin karena pesisir Luşkin hanyalah batu karang yang berbahaya bagi kapal." ujar Fendir bey. Galib hanya menyimak dan mengangguk. "Ada satu sisi pantai Luşkin yang aman untuk pendaratan namun sekarang di blokade oleh kapal Rafney." lanjut Fendir bey. Galib mulai bertanya "apakah sekarang Luşkin dan Rafney masih berperang?" Fendir bey menggeleng. "Sekarang tidak, namun mereka membangun perkemahan di sekitar pantai sehingga tidak ada kapal yang bisa merapat ke Luşkin." Galib kembali mengangguk. "Bagaimana dengan melintasi wilderness?" tanya Galib. Fendir bey tersenyum. "setelah sampai, kau akan tahu nanti."
__ADS_1
Akan dilanjutkan...