
"Salih! Galib! Bangun! Salat fajr!" Kata Ayşe membangunkan. "Kau sudah salat?" Tanya Galib. Ayşe mengangguk. Salih bangun setelah itu. Kemudian salat bersama Galib di depan.
Ayşe membuka barel daging dan mengambil beberapa daging. Lantas Ayşe menyalakan api untuk membakarnya. Ayşe mengambil pistolnya kemudian menembak kumpulan kayu yang sudah di lumuri minyak sehingga api menyala.
Salih dan Galib selesai salat. Berdzikir dan berdoa sebentar lalu berpaling menghadap Ayşe. "Lihatlah! Pagi-pagi sudah ada yang melayani kita sarapan." Kata Galib. Kemudian Ayşe membalas "Ini untukku. Kalau kalian mau makan bakar saja daging kalian sendiri!" Kemudian Galib sedikit kecewa. Salih tertawa.
Ketiga remaja tersebut makan dengan tenang. Sesekali mereka bercerita satu sama lain. "Hubungan aku dan ibuku sebenarnya tidak terlalu baik." Ujar Salih. "Beberapa kali ibuku seakan-akan memaksaku untuk melaksanakan sesuatu dengan satu cara. Sehingga aku tidak jarang berdebat dengannya." Lanjut Salih. "Begitu pula dengan ku." Kata Ayşe. "Ibuku terlalu berhati-hati sehingga aku tidak bisa menjelajahi sesuatu secara bebas." Salih dan Galib hanya diam dan mendengarkan
"Salih, lambat sekali kau makan? Aku sudah selesai dan kau setengah potong pun belum habis." Kata Galib. "Tidak, kau yang terlalu rakus." Balas Salih. Galib tertawa "ini namanya menikmati." Salih membalas "bagaimanapun juga. Caraku menikmati makanan, ya seperti ini." Ayşe dan Galib tertawa. Mereka sudah selesai makan. Mereka membuang bekas tulang tulang ke laut.
Galib dan Salih mendayung perahu. Mereka kembali berbincang. "Ayşe, siapa orang yang paling kau benci di Eşrus?" Tanya Salih. "Tentunya setiap orang dari geng Haşmet. Dia selalu duduk-duduk di pinggir jalan utama dan mengganggu. Setiap ada gadis lewat sendirian selalu digoda dan dirayu." Kata Ayşe "aku sudah pernah mengalaminya." Kemudian Salih berkata "kemudian Saka datang membelamu. Kemudian kau lari dan Saka tewas dikeroyok." Ayşe terkejut "bagaimana kau bisa tahu, Salih?" "Aku melihatnya sendiri. Saat aku hendak menghindari jalan utama, aku melihat dari kejauhan. Setelah mereka meninggalkan Saka terluka, aku datang." "Saka bukanlah orang yang baik. Dia terlalu berlebihan dalam mencintaimu Ayşe. Bahkan saat kau salah dan mengakuinya, ia tetap membela perbuatan salahmu." Kata Galib. Ayşe hanya diam. "Benar Galib! Tapi ia bertobat saat aku menghampirinya. Karena itulah hanya aku dan keluarga Saka yang menguburkan dan salat untuknya." Kata Salih. Mereka diam sebentar lalu mengganti topik pembicaraan. "Kau beruntung sekali Ayşe bisa mendapat ilmu melalui madrasa. Di lain tempat, aku pernah membaca informasi bahwa pendidikan hanya untuk laki-laki" kata Galib. "Benar! Aku tahu itu!" Tiba-tiba Salih berkata "hey!hey! Lihatlah ke kanan! Ada cahaya menyorot." Galib langsung berteriak dan memanggil. "Bodoh! Itu menara suar. Kita yang seharusnya ke sana." Kata Salih. Semua mendayung menuju cahaya suar tersebut. Rupanya, cahaya tersebut berasal dari sebuah dermaga kecil dan sepi.
Mereka merapat ke dermaga. Mereka tidak tahu dimana mereka berada saat itu. Lantas seseorang datang menghampiri "selamat datang di Rafney! Siapa pemimpin kalian?" Tanya orang tersebut. Galib dan Ayşe menunjuk Salih. Salih kesal dan melototi Galib. Galib hanya tersenyum. "Biaya sewa perahu 1 zek setiap harinya." Kata orang tersebut. "Kami tidak punya uang. Kami terdampar." Kata Salih. "Kalian bisa jual perahu kalian. Tempat ini tertutup. Tiada yang pernah ke sini orang dari luar kecuali menetap sampai mati." "Jadi kami benar-benar tidak bisa kembali?" Tanya Galib. Orang itu mengangguk. Semua terlihat kecewa dan khawatir.
__ADS_1
"Bagaimana keputusan mu? Akankah kau jual perahumu itu?" Tanya orang itu. "Kalau kujual perahuku, bagaimana aku membawa barang-barang yang ada di dalam?" Tanya Salih. Lantas orang itu berkata "akan ada orang yang membantumu." "Baiklah kami jual perahu kami." "Bedasarkan data yang kami punya, perahu tersebut harganya 40 zek. 5 zek akan dipotong untuk biaya bongkar muat. Silahkan kalian ke sana dan melapor dari mana kalian berasal." Salih melihat tempat yang dimaksud. Sebuah bangunan. Mereka berjalan menuju bangunan tersebut dan menghampiri seseorang yang duduk di sebuah kursi beserta mejanya.
Orang itu bertanya "darimana kalian?"
"Kami dari Yartı." Kata Salih. Galib dan Ayşe tahu bahwa Salih sedang mengarang. Mereka juga tahu bahwa mereka berada di negara yang menghancurkan Eşrus. Orang itu mengernyitkan alis "tidak pernah dengar." Katanya. "Kami memang dari tempat yang jauh." Kata Galib. "Umur berapa kalian?" "Lima belas!" Jawab Salih dan Galib. "Baiklah kalian akan kami antarkan ke penginapan. Setiap dari kalian dapat satu jatah kasur. Disana menjadi tempat tinggal kalian. Dan kalian akan memulai hidup baru disini." Kata orang tersebut.
Ketiga remaja tersebut dibawa ke kereta kuda terbuka. Barang-barang dibawa. Kuda mulai berjalan. Jalanan sepi dan sunyi. Perjalanan mereka bertiga ditemani seorang kusir dan seorang bertubuh tinggi. Ia mengatakan aturan-aturan yang berlaku. Mereka mendengarkan. "Senjata dan rum diperbolehkan secara bebas." Kata orang bertubuh tinggi tersebut.
Setelah beberapa menit, mereka sampai di sebuah gedung. Tinggi dan besar. "Di sinilah tempat kalian beristirahat, makan dan lainnya. Kalau ingin bekerja silahkan cari pekerjaan di luar. Satu malam pertama kami akan menanggung biaya penginapan dan ini surat keterangannya. Berikan pada penjaga di meja depan. Selebihnya kalian bayar sendiri 15 zek perminggunya. Kecuali jika kalian ingin keluar. Selamat tinggal." Kata orang tersebut lalu pergi meninggalkan ketiga remaja tersebut.
Saat mereka masuk seseorang sedang duduk di meja kerjanya. "Siapa Kalian?" Tanya orang tersebut. Mereka hanya diam untuk beberapa saat. Lalu Salih memberikan surat keterangan yang tadi di berikan pria bertubuh tinggi. "Silakan masuk." Ujar penjaga meja depan tadi setelah membaca surat tersebut.
Mereka melepas sepatu mereka lalu masuk dan membuka pintu ruangan. Ruangan di dalam sangat luas. Di tengahnya terdapat meja dan kursi. Dipinggir dan tepi ruangan terdapat tiga tingkat kasur yang bentuknya seperti lemari. Penghuninya beberapa anak kecil dan sedikit remaja. Seorang gadis bercadar menyapa mereka "salam aleykum! Selamat datang! Senang bertemu kalian!" Ujar Gadis tersebut. "Aleykum salam! Terima kasih telah menyambut kami." Ujar Galib membalasnya. "Barisan ini dari atas, tengah maupun bawahnya belum ada yang pakai. Kalian disini saja. Letakkan saja barang-barang kalian di sini. Kasur hanya digunakan untuk tidur. Kalau sedang tidak tidur, dibawah saja." Ujar Gadis tersebut.
__ADS_1
Ketiga remaja tersebit meletakkan barang mereka. Lalu duduk dikursi tengah. "Apa ini tempat makan?" Tanya Salih. "Iya, ini tempat kami makan dan mengobrol. Kalau aku boleh tahu, siapa nama kalian?" Ujar gadis tersebut. "Namaku Mehmed." Ujar Galib. "Namaku juga Mehmed." Ujar Salih "Apa kalian bersaudara?" Tanya gadis tersebut. "Tidak. Namaku Galib mehmed. Sedangkan ia Mehmed Salih." Jawab Galib. "Pertemanan Kami seperti bersaudara. Namun secara nasab, kami bukan kakak beradik." Ujar Salih. Gadis itu mengangguk. "Dan mohon jangan membahas asal tempat kami yang sudah hancur dan membawa kenangan dan kesedihan." Tambah Salih. Gadis itu mengangguk.
"Kalau namamu siapa?" Tanya gadis tersebut pada Ayşe. "Namaku Ayşe." Kata Ayşe. "Namanya Ayşe Nuriyüzumde." Ujar Salih sambil tersenyum. Galib juga tersenyum. "Wah! Namamu indah sekali. Sangat sesuai dengan wajahmu yang cantik." Ujar gadis tersebut. "Ah, tidak! Wajah mu juga cantik." Balas Ayşe dengan wajah sedikit memerah karena malu. "Bagaimana kau bisa mengatakan bahwa aku cantik sedangkan kau belum melihat wajahku." Tanya gadis tersebut. "Aku bisa menilai kecantikan mu dari matamu." Balas Ayşe. Mereka berdua tertawa. Salih dan Galib hanya saling berpandangan dengan muka datar.
"Ngomong-ngomong, namamu siapa?" Tanya Ayşe. "Namaku Hatice Eyüboğlu." Jawab gadis tersebut. "Berapa umur mu?" Tanya Ayşe. "Delapan belas." Jawab Hatice. "Wah! Kau lebih tua dari kami tiga tahun. Kami bertiga sama-sama berumur lima belas." Kata Ayşe. Hatice mengangguk.
"Hatice, apa kau memiliki saudara?" Tanya Galib. "Dua orang adik dan seorang kakak. Nah! Adik-adikku datang!" Ujar Hatice. Datanglah dua orang anak dengan lilitan kain sorban merah di kepalanya. "Salam Alaykum! Abla, siapa mereka?" Ujar salah seorang diantara mereka. "Alaykum salam! Namaku Salih, ini kawanku Galib. Dan..." Ujar Salih terputus. "Namaku Ayşe." Ujar Ayşe memotong.
Kedua anak tersebut duduk. "Namaku Şahin dan ini adikku, Silahdar." Ujar anak yang bernama Şahin. "Umur kami 13 tahun. Aku dan dia bedanya hanya 2hari." Ujar Silahdar.
Salih dan Galib saling berpandangan. Ayşe mengernyitkan alis. "Maksud kalian?" Tanya Galib. "Biar kuceritakan. Şahin! Silahdar! Kalian kemas dulu barang-barang dangangan kalian!" Perintah Hatice. Kedua anak itu pun pergi. Lantas Hatice melanjutkan "Saudara kandungku yang sesungguhnya adalah Silahdar. Şahin adalah saudara tiriku. Awalnya ayahku menikahi ibu pertama kami, ibunya Şahin. Lalu sahabatnya yang syahid dalam sebuah pertempuran mengirim surat kepadanya untuk menikahi tunangannya dan itu adalah ibuku. Jadi kami memiliki dua ibu."
"Apa hubungan mereka baik?" Tanya Ayşe. "Ya, mereka bersahabat selayaknya ayah kami dan sahabatnya yang syahid tersebut. Ibu tiriku melahirkan kakakku 4 tahun sebelum aku lahir. Lantas kedua ibuku sama-sama hamil dan ibu tiriku melahirkan Şahin dua hari sebelum Silahdar lahir." Kata Hatice. Ketiga pendengarnya mengangguk. "Dimana abi (kakak laki²) mu sekarang?" Tanya Salih.
__ADS_1
Bersambung...