Return Love

Return Love
Ilmuwan Muda


__ADS_3

"*Muridku, lihat!"


Terdengar suara riang dan bersemangat dari prof Arnold siang itu. Wajahnya tampak sangat berseri. Benda yang ia ciptakan berhasil. Tangannya tak henti henti mengelus benda tersebut.


"Ada apa prof?"


seorang pemuda keluar dengan membawa cangkir berisi kopi panas dan langsung mendekati prof Arnold. Pemuda bertubuh tinggi, berkulit putih dan berkaca mata itu tampak sangat berkharisma.


"Lihatlah, aku berhasil membuatnya setelah sekian lama aku mencoba!"


Teriakan riang itu terdengar lagi dari prof Arnold serupa anak kecil yang mendapatkan permen. Pemuda berkaca mata tersenyum tipis.


"Tapi prof, apakah tidak kita periksa terlebih dahulu benda itu benar benar berhasil atau tidak? bagaimana kalau ternyata sistem gagal dan membahayakan pemakainya?"


prof Arnold tersenyum sambil menggeleng yakin.


"Tidak muridku, aku yakin ini pasti berhasil"


prof Arnold segera memakai benda berbentuk helm itu ke kepalanya. Setelah itu ia menggeser geser layar tab di tangannya. Sepertinya tab itu adalah pengendali benda tersebut.


"Nah, sudah ku katakan ini pasti bekerja dengan baik"


Ucap prof Arnold lagi dengan percaya diri. Pemuda berkaca mata kembali tersenyum tipis sambil menyeruput kopi panasnya.


"Tidak!!!Lepaskan!!!"


Suara erangan terdengar laksana singa yang terluka ditengah hutan. Pemuda berkaca mata terkejut.


Praaangggg!!!


Cangkir kopi jatuh kelantai dan pecah.


Pemuda itu langsung menghampiri prof Arnold. Raut wajahnya menggambarkan panik, terkejut, dan bingung melihat prof Arnold yang mengalami kejang secara tiba tiba.


"Prof! Ada apa ini!"


Karna paniknya bahkan pemuda berkaca mata tak tau apa yang harus ia lakukan.


"Muridku! Tolong!"


Prof Arnold meronta sambil melepaskan helm itu dengan kesusahan. Barulah pemuda berkaca mata mengerti. Cekatan ia melepas helm tersebut dari kepala prof. Namun ini tidaklah mudah. Helm tersebut terlalu sempit di kepala prof.


"Tolong!! Akkhh!!"


Helm tersebut berhasil tercabut. Tubuh prof Arnold segera jatuh ke lantai.


"Prof!!"


Pemuda berkaca mata teriak panik dan segera mengangkat tubuh prof dan merangkulnya.


"Kau ingin membawaku kemana, muridku?"


Tanya prof Arnold lemas.


"Kita harus segera ke rumah sakit prof!!"


"Tidak perlu"


Ucapan prof membuat pemuda terdiam dan memandang wajah prof.


"Tidak ada gunanya. Tidurkan saya"


"Tapi prof"


"Apakah kau ingin menentang perintah gurumu?"

__ADS_1


Pemuda berkaca mata terdiam. Terpaksa ia menidurkan prof dan meraih kepala prof kedalam pangkuannya. Prof Arnold segera menggenggam tangan pemuda sambil tersenyum.


"Aku sudah merasakan kehadirannya." Ucap prof Arnold yang membuat pemuda bingung.


"Maaf prof, maksud prof?"


"Apakah kau mau menolongku?"


Pemuda berkaca mata menarik nafas dan mengangguk pasti.


"Jadilah penerusku. Teruslah ciptakan penemuan hebat yang belum pernah ada. Percayalah, pasti kau akan berguna. Kau bisa berjanji untukku?"


Pemuda itu bingung apa maksud perkataan prof Arnold.


"Seseorang bertubuh putih dan bercahaya telah menjemputku. Aku harus pergi."


Ucap prof Arnold lagi dengan seulas senyum di wajahnya.


"Tapi prof"


pandangan pemuda berkaca mata mulai mengabur oleh kristal bening yang mulai meluncur. Ia sudah paham apa yang di katakan prof.


"Ingatlah pesanku."


Usai berkata begitu, prof Arnold menghembuskan nafasnya yang terakhir di pangkuan pemuda berkaca mata. Tangan prof jatuh. Seulas senyum ketenangan terlukis di wajahnya.


"Tidak prof! Tidaaaaaakkkk!!!!!"


Pemuda berkaca mata teriak. Namun tak ada gunanya. Prof Arnold telah pergi. Mau tidak mau pemuda tersebut harus bisa menerima.


"Aku berjanji prof. Aku berjanji."


Ucap pemuda tersebut kemudian sambil menyeka air matanya*."


"Frian, otak sama pikiran loe nggak pusing ya, tiap hari menemukan penelitian."



"Loe juga. Tulang tulang loe yang tak seberapa itu nggak remuk ya, tiap hari slalu ditunjang. Ditendang."


Ceplos Frian cuek sambil kembali melanjutkan penelitian tanpa melihat Brave. Disana Frian masih asyik dengan sesuatu yang ia buat, berusaha menemukan sesuatu yang belum ada dibumi ini. Terlebih lagi Frian telah berjanji pada prof Arnold.


Beberapa penelitian dan apa yang Frian temukan telah sukses ia ciptakan dan dipakai oleh orang orang. Semuanya benda benda canggih. Tapi meski begitu Frian belum juga puas. Ia harus bisa menemukan sesuatu yang lebih baru lagi, begitu prinsipnya.


Frian memang hebat, pintar, dan juga tampan. Ia tak begitu peduli pada lingkungan sekitarnya. Ia hanya fokus pada satu hal. Penelitian.


Brave juga begitu. Ia adalah pemuda yang tangguh. Brave sangat bercita-cita menjadi TNI. Telah lama Brave mengikuti sekolah kemiliteran. Walau Brave sangat sibuk dengan militernya, ia masih peduli dengan lingkungan sekitarnya.


Frian Akiyama.


Alvaro Brave.


Mereka telah lama bersahabat.


"Gue masih peduli sekitar. Lah loe, sampai tak ada waktu buat Bella. Jangankan Bella, bahkan untuk kepribadian loe sendiri."


Disana Frian masih sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan mungkin tak mendengar apa yang dikatakan Brave.


"Gue kasian sama loe... dan juga Bella."


"Brave, gue buat penelitian bukan untuk kesia-siaan. Ini untuk kebaikan generasi selanjutnya. Dan Bella, yang penting gue masih jaga hati buat dia."


"Tapi Fri, kasian dia. Berkali kali loe menolak permintaan Bella"


Frian tak lagi menjawab. Bahkan sibuk dengan sesuatu yang ia kerjakan. Brave hanya menghembuskan nafasnya. Brave paham betul dengan sikap sahabatnya itu, Frian si ilmuwan muda. Tapi tak seharusnya Frian seperti ini. Ntahlah. Terkadang Brave sendiri lelah mengingatkan Frian.

__ADS_1


Tak tau apa yang harus di kerjakan, Brave keluar ruangan sekedar menenangkan pikiran. Terkadang semua ini membuatnya lelah. Brave sendiri terkadang tak mengerti dengan suasana hatinya.


"Eh, Bella."


Brave terkejut melihat Bella yang tau tau sudah berdiri didepan pintu. Hampir saja mereka bertabrakan. Bella tersenyum.


"Dimana Frian?"


"Dia didalam."


Tanpa berkata apa-apa lagi Bella langsung masuk, bahkan sampai menabrak bahu Brave karna tergesanya.


"Frian...."


Bella menyapa ramah. Namun tak ada jawaban dari Frian. Bella menghembuskan nafas kesal. Telah berkali-kali Frian seperti ini. Bella sendiri sebenarnya lelah dengan sikap Frian yang slalu cuek padanya. Namun disisi lain Bella sangat menyayangi Frian. Alasan yang membuat Bella tak ingin putus dari Frian.


"Frian!"


Sentakan Bella kesal sambil menghentakkan kaki.


"Hmmmm..."


Barulah Frian menjawab setelah lama terdiam. Tangannya tak juga berhenti bekerja.


Bella mulai tidak nyaman dengan situasi ini. Bagaimana tidak? Sikap Frian yang dingin membuat hati Bella sakit. Frian justru masih sibuk dengan penelitiannya.


"Frian! Bisa nggak sih hargai Bella! Sekali aja!"


Bella mulai tak tahan. Air matanya mulai meluncur.


"Kenapa sih Bell... Bella tau sendiri kan kalau Frian itu sibuk?"


"Tapi apa salahnya kasih waktu sedikit aja buat Bella! Frian nggak sayang lagi kan sama Bella!"


Untuk kali ini Frian meletakkan apa yang ia kerjakan. Ia bangkit dan mendekati Bella.


"Bella, Frian sibuk. Bukan berarti Frian nggak sayang sama Bella. Frian masih sangat menyayangi Bella. Percayalah."


Ucap Frian sambil memegang kedua bahu Bella. Namun dengan kasar Bella melepas pegangan tangan Frian dari bahunya.


"Frian memang nggak pernah paham sama Bella! Frian jahat!"


Setelah berkata begitu Bella langsung berlari meninggalkan Frian. Frian hanya menarik nafas.


'Maafkan aku Bell...'


"Minggir!"


Ucap Bella kasar pada Brave yang sedang berdiri di pintu. Brave melihat kejadian itu seluruhnya. Brave minggir, memberi jalan buat Bella. Kasihan Bella. Bella segera masuk ke mobil. Mobil segera melesat kencang.


"Frian! Loe jahat banget ya!"


Kecam Brave sambil mendekati Frian. Frian kembali asyik dengan penelitiannya.


"Dia aja yang kekanak-kanakan. Nggak tau orang sedang sibuk."


Ucap Frian acuh tanpa melihat Brave.


Sebenarnya Frian sangat mencintai Bella. Namun waktu Frian tak ada buat Bella. Frian terlalu sibuk pada penelitian. Hal yang sering membuat Bella sedih.


"Fri, hati loe tu kemana sih? masa iya sampai nggak ada waktu buat Bella?"


Sejenak Frian berhenti dengan pekerjaannya. Matanya langsung tertancap pada mata Brave. Mempersilahkan Brave untuk membaca isi hatinya. Lama kedua pemuda itu bertatapan.


"Yang penting gue setia padanya"

__ADS_1


Kata Frian meyakinkan.


Keduanya masih bertatapan.


__ADS_2