
"Nyonya, kenapa udah pulang?"
Tanya Virgin begitu Bella masuk kerumah. Bella tak menjawab dan melewati Virgin begitu saja. Hal yang membuat Virgin heran. Apalagi setelah di lihatnya Bella tengah menangis. Pasti ada yang tak beres.
Bella masuk ke kamarnya dan langsung membantingkan tubuhnya ke tempat tidur. Wajahnya ia sembunyikan ke bantal dalam tangisan. Ia begitu kecewa pada Frian.
Setiap hari Frian sibuk, tapi haruskah sampai separah ini? sampai tak ada waktu buat Bella?
Bella terduduk, menutupi wajahnya dengan telapak tangan. Isakan sendu dalam tangisan.
Bella benar-benar tak mengerti kenapa Frian bisa setega ini. Kurang apalagi perhatian Bella selama ini?
tok tok tok...
Pintu kamar Bella diketuk. Namun justru isakan tangis Bella yang terdengar kian nyata.
"Nyonya... bolehkah Virgin masuk?"
Isakan tangis itu terdengar lagi.
"Ya Virgin"
Virgin membuka perlahan pintu kamar Bella dan masuk, menutup pintu tanpa suara. Perlahan Virgin duduk disisi Bella. Virgin masih diam, membiarkan Bella untuk tenang dan buka suara.
5 menit berlalu.
"Pahamkah kau yang kurasakan, Virgin?"
Suara tertahan keluar dari mulut Bella yang mungil. Virgin memandang Bella yang tengah memandangnya, mencoba membaca isi hati gadis itu. Virgin tau Bella tengah sedih, tapi sama sekali tak tau apa penyebabnya.
"Nyonya ada apa? Coba cerita".
Virgin kian mendekat, memberi ruang ketenangan buat Bella. Virgin benar-benar paham keadaan Bella. Pasti suasana hati Bella sedang tidak baik.
"Frian Gin...."
Virgin mengerutkan kening. Ada apa dengan pemuda yang telah menciptakannya dan Vudo? Apa alasan Frian membuat Bella menangis? Selama ini yang Virgin tau Frian sangat baik. Bagian kepura-puraankah? Membayangkan itu tiba-tiba amarah Virgin bangkit. Tapi Virgin tak boleh emosi begitu saja tanpa mendengar berita yang jelas.
"Tuan Frian kenapa...?"
***
Virgin menutup perlahan pintu kamar, segera berjalan mencari Marcel.
"Vudo, dimana tuan Marcel?"
"Ntah. Mungkin di dapur"
Ucap Vudo yang masih asyik mengelap meja. Virgin tau. Pasti Marcel tengah mencoba resep baru. Tuannya yang manis itu memang sangat suka memasak. Batin Virgin saat berjalan menuju dapur.
"Tuan"
Virgin memanggil perlahan saat Marcel tengah fokus menghias makanan diatas piring. Sepertinya ia telah selesai memasak.
"Hmmmm....?"
Marcel masih teliti dengan pekerjaannya. Virgin bingung sekarang. Kalau Marcel sudah asyik seperti ini, bagaimana cara ngomongnya? Padahal nyonya Bella kini tengah sedih.
"Nyonya Bella...."
"Hah?? Ada apa dengannya??"
Virgin terkejut dengan nada Marcel yang tiba-tiba meninggi. Spontan ia menarik wajahnya sembari mengedipkan mata. Marcel memandang wajah Virgin, menuntutnya untuk segera memberi penjelasan.
Virgin deg-degan. Ah. Tatapan tuannya itu memang bisa meluluh lantakkan pondasi yang jauh-jauh telah dibangun. Padahal seharusnya Virgin tak boleh berlebihan seperti ini. Posisi Marcel dengan Virgin sangatlah berbeda. Tak hanya posisi, status mereka juga sangat berbeda.
Marcel masih menunggu jawaban Virgin. Tatapannya yang khas dan teduh masih ia tancapkan kedalam bola mata Virgin yang bening. Marcel bisa melihat bayangan dirinya sendiri pada mata yang jernih itu.
"Kau masih mau membuat tuanmu menunggu?"
Teguran Marcel menyadarkan Virgin. Virgin baru saja mengembara jauh ke bintang bintang hanya dengan melihat tatapan teduh milik Marcel.
Virgin membetulkan posisinya.
"Nyonya Bella sedang sedih tuan, dia sedang dikamar."
Marcel tak bergerak ataupun berucap apa apa. Justru matanya semakin jauh masuk kedalam mata Virgin, membaca keseriusan robot cantik itu. Virgin kembali merasakan getaran hingga merasuk ke tubuhnya. Lidahnya kelu. Ia pasrah. Lututnya serasa lemas. Seharusnya ini tak boleh terjadi.
Marcel segera berlalu melewati Virgin. Sepertinya ia tidak mengerti apa yang dirasakan Virgin barusan. Ntahlah.
Virgin langsung jatuh dengan posisi berlutut. Ia benar-benar lemas. Mengapa ini bisa terjadi?
***
__ADS_1
"Bella kenapa?"
Tanya Marcel yang tau tau sudah duduk disisi Bella. Bella sendiri tak tau kapan Marcel masuk ke kamarnya.
Bella belum menjawab. Ia masih menumpahkan air matanya yang mulai habis ke bantal miliknya. Bella lelah.
Marcel perlahan mengelus rambut adiknya itu yang panjang. Bagaimanapun Marcel sangat menyayangi Bella. Bella satu-satunya. Ini semua karna Marcel berperan sebagai kakak, ibu, sekaligus ayah buat Bella.
"Kak...."
Panggil Bella di sela isakan tangisnya.
"Hmmmmm??"
"Kenapa sih nggak ada yang sayang sama Bella?"
Marcel menarik nafas. Bukan karna tidak tau jawaban atas pertanyaan adiknya. Melainkan karna Bella tidak juga mengerti, masih ada orang yang sangat menyayangi Bella, yaitu Marcel.
Mengapa kau tidak juga paham, adikku?
Jujur saja, didalam hati Marcel merasa sakit. Marcel telah mati matian menyayangi adiknya itu. Apapun Marcel lakukan untuk kebahagiaan Bella. Namun mengapa Bella tidak juga paham? Seharusnya, hari ini Marcel boleh marah. Bahkan Marcel boleh membentak Bella. Namun Marcel tak sejahat itu. Dalam hati ia telah berjanji akan terus membahagiakan Bella. Perbuatan ayah yang dulu telah meninggalkan keluarganya karna wanita lain, menciptakan rasa sakit mendalam dalam hatinya. Melihat Bella kecil menangis setiap malam, Mami yang putus asa, membuat semangatnya untuk terus membahagiakan Bella terwujud. Marcel terima apapun tantangannya demi menjaga Bella.
Lantas apalagi yang membuat Bella ragu?
Marcel mengepal tangannya dengan kuat, menahan gemuruh di hatinya.
"Haaaah...."
Erangan Bella kembali terdengar dari isakan tangisnya. Sekejap hati Marcel merasa disentuh dengan lembut dan merasuk kedalam jiwa. Marcel benar-benar tidak kuat mendengar dan melihat Bella menangis. Kepalan tangan Marcel seketika terlepas. Tidak. Bagaimanapun ia tak boleh menciptakan luka kedua untuk Bella.
"kak... Kenapa ya Frian nggak pernah ada waktu buat Bella? Frian slalu saja lebih mementingkan pribadinya untuk penelitian daripada Bella?"
Suara lemah itu terdengar lagi, lebih menciptakan rasa iba yang lain dihati Marcel.
Marcel kembali menarik nafas. Ia begitu menyayangi adiknya. Ia paham betul perasaan Bella.
"Bell, ayo kita pergi"
Ajak Marcel. Marcel harus membuat Bella mengembalikan senyum manisnya. Marcel rindu senyuman itu. Seulas senyum yang bisa membuatnya semangat. Pemandangan yang kini sangat jarang ditemui olehnya.
"Kemana kak?"
Marcel tersenyum, menghapus air mata Bella yang tersisa di pipinya.
"Bella jangan nangis lagi... Bella cantik kalau senyum..."
Marcel mengangguk lemah sambil tersenyum.
"Baiklah kak. Bella janji tidak akan menangis lagi. Bella akan tetap tersenyum untuk kakak"
Ucap Bella riang sambil menghapus pipinya kembali. Marcel tersenyum.
"Yaudah, yuk."
Ajak Marcel sambil turun dari tempat tidur Bella. Bella juga segera turun, berjalan mengikuti Marcel. Bella tidak tau mereka akan kemana.
***
Bella diajak Marcel berjalan-jalan.
Taman kota telah ramai oleh para pengunjung yang datang dari berbagai daerah.
Ini Marcel lakukan agar Bella tidak sedih lagi.
"Bella."
"Iya kak?"
Marcel mengeluarkan sebuah robot kecil berbentuk lebah yang bisa terbang. Robot selfie.
Robot lebah itu segera terbang membentuk siluet indah, memotret dari sisi mana saja.
Hingga pada akhirnya robot lebah itu hinggap di telapak tangan Marcel. Marcel tersenyum.
"Robot pintar."
Marcel segera memasukkan robot itu ke saku celananya. Robot pemberian Frian untuknya.
Marcel masih berdiri mematung, dengan posisi kedua tangan yang ia selipkan di saku celana, menikmati pemandangan ramainya taman kota.
Bibir yang membentuk senyuman teduh dan tenang.
Bella berdiri disamping Marcel, memandang wajah kharisma kakaknya itu. Selama ini kakaknya selalu menjaganya. Betapa Bella sangat menyayangi Marcel. Namun mengapa Marcel tak mengerti bahwa sesungguhnya ia sangat menyayanginya? Ah. Kakaknya ini. Bella yakin, siapapun wanita yang melihat tatapan teduh milik Marcel, pasti akan kesengsem.
"Kakak."
Panggil Bella di sela-sela suara keramaian taman kota.
__ADS_1
"Hmmmmm??"
Marcel perlahan memalingkan wajahnya agar bisa bertatapan dengan Bella.
"Mmmuuuaacchh.
Ahahahaha.... Ayo kak.. kejar Bella...."
Teriak Bella riang yang telah berlari menjauhi Marcel.
Sial. Marcel mengusap usap pipi kirinya bekas tempelan bibir Bella. Dasar. Adiknya itu memang menggemaskan. Awas saja.
Marcel bangkit berdiri dan berlari mengejar Bella. Sungguh tidak mudah. Gadis itu berlari dengan sangat lincah. Serupa belut, Bella slalu saja bisa menghindar ketika hampir ditangkap Marcel. Marcel kewalahan.
"Hahahaha... kakak kalah... ayo donk kak kejar Bella....."
Teriakan Bella membuat semangat Marcel berkobar. Marcel segera mengejar Bella kembali.
"Lihat saja Bella... kakak pasti akan mendapatkanmu....!!!"
Mereka terus berlari, tidak peduli ribuan mata yang menatap mereka. Mungkin saja mengira bahwa Bella dan Marcel adalah sepasang kekasih. Biar saja. Bella tidak peduli. Bella sangat menyayangi Marcel seperti Marcel menyayanginya.
"Kena....!!!"
Seruan kemenangan keluar dari mulut Marcel yang berhasil memeluk Bella. Bella tertawa riang.
Mereka terduduk dikursi taman. Nafas yang memburu keluar bersahutan sahutan.
"Bella suka nggak?"
"Sangat suka. Terimakasih kak!"
Bella kembali memeluk Marcel. Marcel membalasnya dengan rangkulan. Tidak peduli ini didepan umum.
Tidak peduli puluhan mata melihat mereka.
Bella sangat bersyukur memiliki kakak sebaik Marcel. Sejenak ia bisa melupakan kecuekan Frian padanya.
"Kak."
"Hmmmmm...?"
"Bella sayang sama kakak. Kakak jangan tinggalin Bella ya, Bella takut"
Marcel tersenyum.
"Kakak juga sayang sama Bella. Kakak janji nggak akan ninggalin Bella."
***
3 hari telah berlalu. Bella sekolah seperti biasa.
Bella dan Frian satu sekolah. Bella duduk dikelas 2 SMA dan Frian kelas 3 SMA.
Dengan lesu Bella memasuki lift untuk menuju lantai 3 gedung sekolahnya. Ia benar benar tak bergairah hari ini. Bella sendiri tidak tau sebabnya.
Sebenarnya Bella malas sekolah hari ini. Dari kemarin dia bete terus.
Lift berhenti. Bella berjalan dengan malas menuju kelasnya. Seharusnya Bella senang karna di terima di sekolah elite berstandar internasional seperti itu, yang kebanyakan muridnya adalah anak-anak orang kaya, terpandang, dan jenius. Bella patut mensyukuri itu.
Tapi justru Bella merasa biasa saja. Yang penting sekolah, begitu katanya.
Bella langsung duduk dikursinya sambil bertopang dagu. Sedangkan teman-temannya yang lain berbahagia hari ini.
"Eh Bell, kamu tau nggak, Frian udah menemukan penemuan baru lagi lho"
Kata Zidny dengan kagum.
"Iya Bell, Frian telah menemukan sepatu flash"
Tambah Nindi
"Benarkah? Kalau begitu, Bella beruntung ya dapat pacar seperti Frian"
"Iya tuh. Udah pintar... kreatif... jenius... ganteng... udah gitu, kesayangan para guru lagi"
Bella justru bertambah badmood mendengar teman-temannya yang mengagumi Frian.
"Benar tuh. Punya cowok sepopuler Frian... aku juga mau!"
Semprot Hani sambil cekikikan.
"Kalau mau, ambil aja!"
Bella berkata judes. Sebenarnya Bella tidak sampai hati mengucapkan itu.
Frian. Apa sih yang di banggain darinya? Pintar... kreatif... jenius... Apa gunanya itu semua kalau tidak peduli sekitar?
__ADS_1
***