
"Satu!"
Suara lantang bagaikan halilintar di sore bolong itu terdengar menggelegar, membuat para calon prajurit segera push up satu kali dengan bertumpu pada satu tangan. Keringat mereka bercucuran membasahi kening dan punggung. Namun itu sama sekali tidak mematahkan semangat mereka.
"Dua!!"
Bentakan itu terdengar lagi, kembali para calon prajurit push up ke dua kali. Hal itu terjadi hingga 200 kali.
"Sekarang, cepat merayap melewati ban ban bekas itu!!!"
Sungguh perintah militer yang tak bisa dibantah. Meski sekujur tubuh basah oleh keringat, badan yang terasa remuk, tetap saja mereka masih menuruti perintah itu yang seakan tanpa ampun. Jika tidak, maka harus siap bertempur dengan sakitnya tendangan sepatu tentara.
-
"Huh.... sangat melelahkan"
Keluh Jerry sambil mengusap peluh yang menetes di dahinya. Para calon tentara itu kini tengah beristirahat. Tidak banyak waktu yang diberikan untuk mereka. Disampingnya, Brave tertawa.
"Hahaha... sabar bung... sebentar lagi kita akan menyelesaikan latihan kemiliteran ini..."
Jawab Brave. Brave juga tak kalah lelahnya, sama seperti teman-temannya yang lain. Ah, para tentara senior itu lebih layak disebut algojo dibanding prajurit Indonesia.
"Kalau tidak karna ayahku, aku tidak mau mengikuti latihan militer ini"
Jerry tak habis pikir, mengapa ayahnya bersikeras untuk tetap menyuruh Jerry mengikuti sekolah militer. Sebenarnya keinginan Jerry sejak dulu ingin menjadi dokter hewan. Bukankah dokter hewan juga memiliki penghasilan yang lumayan? Namun tetap saja, rayuannya tak mampu menggeser keinginan ayahnya itu.
Mendengar keluhan Jerry, Brave tersenyum.
"Bung, kita latihan militer ini tuh harus ikhlas. Jangan terpaksa."
Brave meminum minumannya sejenak sebelum melanjutkan berbicara.
"Ingat bung! latihan kemiliteran ini sangat berguna bagi kita. Siapa lagi penerus prajurit negara kalau bukan generasi muda seperti kita? Kita harus menghargai semangat para pahlawan dahulu dengan cara mengikuti jejak mereka. Susah dahulu senang kemudian. Pegang tuh."
Jerry terdiam memikirkan ucapan Brave barusan. Ucapan itu ada benarnya juga. Lagian, keinginan orang tua pasti slalu terbaik untuk anaknya. Jerry percaya itu. Jerry tau, ayahnya menyuruhnya sekolah militer, karna ayahnya dulu tidak bisa mengikutinya.
"Baiklah, mulai sekarang aku akan semangat!"
"Nah... gitu donk..."
Ucap Brave sambil menepuk bahu Jerry berkali-kali. Persahabatan sejati memang tak harus didapat dari sesuatu yang menyenangkan. Bahkan dalam keadaan seperti ini, persahabatan yang tulus lebih tampak jelas.
"Waktu istirahat selesai!"
Kata tentara senior itu lantang. Padahal waktu istirahat yang diberikan, tidak sebanding dengan latihan yang dilakukan.
__ADS_1
Brave memandang Jerry sambil tersenyum.
"Kau siap??"
Jerry mengangguk, lalu bangkit berdiri di ikuti Brave. Mereka pun kembali mengikuti latihan selanjutnya.
***
Semilir angin bersiul diluar malam itu. Suasana bahagia tercipta dihati setiap insan yang melihat keagungan ciptaan tuhan malam itu.
Rose duduk bersandar sambil mengusap rambut Bella yang tidur di pangkuannya. Hal yang telah sangat lama tidak Rose rasakan, menikmati setiap helai halus rambut hitam itu yang kian hari memanjang. Tidak menyangka bahwa Bella telah sebesar ini. Senandung nyanyian kecil keluar dari wanita yang telah melahirkan Bella. Bella terpejam, begitu menikmati setiap sentuhan tangan lembut Rose. Rasa bahagia menyelimuti hati kecilnya. Dekat dengan ibu, benar-benar memberikan rasa aman dan nyaman.
"Mami."
"Hmmmm??"
"Mami sayang Bella nggak?"
Rose tersenyum kecil mendengar pertanyaan putrinya. Di dunia ini, ibu mana yang tidak sayang pada anaknya? Bahkan serigala yang kejam pun begitu melindungi anaknya.
"Mami tidak perlu menjawabnya. Bella tau pasti mami akan menjawab mami sayang Bella. Bukan begitu mi?"
Rose kembali tersenyum. Tak menyangka pemikiran Bella sudah sedewasa ini.
"Tapi mengapa mami jarang pulang? Mami tau betapa tersiksanya jika seorang anak yg sangat merindukan seorang ibu? Bella slalu merasa tidak memiliki orang tua lagi mi..."
Bella tertawa kecil.
"Mami tidak usah merasa bersalah... Bella udah besar... Bella nggak apa-apa... Mami jangan pergi ninggalin Bella lagi ya"
Bella mengatupkan bibirnya. Tersadar bahwa itu mustahil. Tidak mungkin Rose terus menemaninya. Masih ada bisnis permata yang harus di jalankan.
"Tak mengapa mi, Bella hanya bercanda"
Hanya itu yang bisa Bella katakan dengan perasaan yang tiba-tiba kalut.
Disana, Rose meredam air mata yang mencoba keluar.
***
"Belum selesai juga?"
Frian menoleh. Disana, Brave telah berbaring di sofa. Dasar Brave, suka sekali masuk tanpa permisi. Namun itu tak menjadi masalah buat Frian. Brave sahabat baik Frian. Jadi apapun yang Frian miliki, itu juga milik Brave.
Frian kembali asyik dengan pekerjaannya tanpa menjawab Brave.
__ADS_1
Brave duduk. Mengapa Frian tidak menjawabnya? Rasa sedikit kesal menggerogoti hati Brave begitu tau Frian tidak memperdulikannya. Mata Brave melirik jam dinding yang tergantung. Jam menunjukkan pukul 22:30 WIB. Telah larut malam. Tidakkah Frian memiliki lelah?
"Sepertinya loe belum merasakan tunjangan keras, Frian. Seperti yang gue alami saat latihan."
Brave bangkit berdiri mendekati Frian yang tidak berkutik. Tangannya menggenggam erat. Brave mendekati Frian dengan penuh nafsu.
Frian melirik ke belakang. Ketika satu kepalan tangan hendak mendarat ke pipinya, Frian langsung berbalik dan menangkap tangan itu. Tangan yang kekar dan keras.
"Apa yang loe inginkan?"
Tanya Frian dingin yang masih menahan kepalan tangan Brave. Disana, Brave tersenyum dengan beribu kelicikan.
"Sampai kapan loe tak memperdulikan gue? Sepertinya loe juga harus merasakan tendangan keras dari calon tentara"
Mereka bertatapan. Saling membisu. Di keheningan seperti ini, suara detak jarum jam terasa sangat keras.
"Tatapan loe...."
Frian menggantung ucapannya dengan senyuman sinis yang terselip. Itu berhasil membuat Brave terpancing dengan gigi yang gemeretak.
"Loe menghina gue?"
Tusukan tajam keluar dari mulut Brave. Tak kalah mengerikan. Justru disambut senyuman licik dari Frian.
"Tatapan loe membuat gue jatuh cinta, Brave."
Brave mendorong Frian secara spontan dengan berpura-pura jijik. Brave berlagak layaknya orang muntah.
Disana, Frian terpingkal sambil memegangi perutnya yang kini terasa geli dan sakit. Sangat lucu. Bahkan Frian sampai tergeletak dilantai.
"Loe!!!"
Kini Brave mendekati Frian yang masih terpingkal. Frian mencoba duduk.
"Stop! Stop! Tunggu!"
Frian mengangkat kedua tangannya dengan tawa yg belum terhenti.
"Apa lagi? Loe ingin mengucapkan kata-kata terakhir sebelum gue membunuh loe?"
Frian masih mengatur nafas dengan sisa tawa yang belum berhenti.
"Ya. Tentu ada."
"Katakan"
__ADS_1
"Tidak bisakah kita bercumbu untuk malam ini? Hanya kita berdua disini"
Brave langsung berlari ke kamar mandi, disusul ledakan tawa Frian yang makin mengeras. Dari arah kamar mandi, terdengar suara Brave yang tengah mengeluarkan isi perut dari mulutnya. Dan Frian kian terpingkal.