
Bruk!
Bella membantingkan tubuhnya ke tempat tidur sepulang sekolah itu. Sejak pulang sekolah ia tak menemukan Marcel dirumah. Ntah kemana kakaknya yang satu itu. Bella malas untuk bertanya pada Virgin.
Bella tertidur.
***
Marcel dan Vudo asyik melihat-lihat barang yang dipajang di mall. Hari ini Marcel sangat ingin membelikan sesuatu untuk Bella. Pasti adiknya itu suka. Namun apa yang harus ia beli?
"Vudo, ayo ke lantai 3"
Marcel dan Vudo segera naik ke lantai tiga menggunakan excalator.
Marcel telah sampai dilantai tiga.
Kini ia bingung sendiri.
Matanya terus mengedar sekeliling dan menangkap pemandangan salah satu tempat yang ramai oleh para gadis. Marcel segera menuju kesana, penasaran dengan apa yang terjadi.
Namun kini ia tersenyum.
***
Bella terbangun dari tidurnya. Tidur yang sama sekali tidak menenangkan. Namun ia belum beranjak.
Tok tok tok...
"Nyonya? Kau didalam?"
Suara Virgin terdengar dari luar pintu yang membuat mood Bella kian habis.
"Ada apa Virgin?"
Bella membuat suara yang diberat-beratkan, berharap Virgin segan dan pergi.
"Virgin membawa makanan buat Nyonya. Boleh Virgin masuk?"
Ingin rasanya Bella mengamuk. Atau membuka pintu dan langsung menyiram Virgin. Biarkan saja Virgin rusak sekalian. Asap keluar dari telinga Bella serupa kereta api. Dasar robot tidak peka.
Klik.
Pintu dibuka dari luar.
"Nyonya, ada apa?"
Tanya Virgin saat Bella tengah meremas bantal gemas. Seketika Bella salah tingkah.
"Ah, tidak..."
Bella tersenyum kikuk.
"Ini nyonya, Virgin bawakan makan siang untuk nyonya... nyonya makan dulu ya"
Mata Bella beralih ke piring yang dibawa Virgin. Sebuah roti selai coklat dan segelas susu. Makanan yang sebenarnya disukai Bella.
"Aku tidak mau makan"
Ucap Bella cuek sambil mengalih pandang keluar jendela, menatap keramaian kota metropolitan.
"Nyonya tidak boleh begitu... Nyonya harus makan. Kalau tidak, nyonya bisa sakit..."
Bella hanya diam.
"Virgin suapin ya..."
Ucap Virgin yang hendak menyuap Bella.
"Sudah ku katakan aku tidak mau makan!"
Sentakan Bella membuat Virgin terkejut. Virgin memandang wajah Bella seperti raut wajah anak kecil yang berharap. Virgin terlihat imut.
"Virgin.... kau slalu saja bisa membuatku luluh..."
Keluh Bella sambil mengusap kedua tangan ke wajahnya. Bisa-bisanya Virgin seperti itu disaat Bella membentaknya. Virgin tersenyum.
"Tapi nyonya yakin tidak mau makan?"
"Tidak Virgin... Bukankah sudah ku katakan tadi? Atau kau saja yang makan"
Virgin memajukan bibir. Robot seperti dirinya tidak mungkin makan.
"Baiklah nyonya. Kalau begitu, Virgin permisi"
Virgin bangkit dari tempat tidur Bella, berjalan perlahan hendak keluar. Namun saat tiba di ambang pintu, Virgin melihat Bella sekali lagi. Memastikan apa yang sebenarnya terjadi pada Bella hingga ia seperti ini.
Prangggg!!
"Tidak! Tuan, ampunkan saya. Saya tidak sengaja."
Virgin ketakutan ketika tak sengaja menabrak Marcel. Piring roti dan gelas susu yang ia bawa jatuh dan pecah. Susu berceceran kemana-mana. Kotor dan berantakan sekali.
"Tidak perlu takut dan merasa bersalah seperti itu, Virgin."
Ucap Marcel tenang pada Virgin yang kini setengah berdiri.
"Tapi tuan...."
"Sekarang cepat bereskan pecahan kaca ini. Ini kotor sekali."
"B, baik tuan."
Virgin membungkuk melewati Marcel. Mata teduh Marcel kini tertuju pada Bella, memandang adik satu-satunya itu. Apa lagi yang terjadi pada Bella.
Perlahan Marcel mendekat.
"Bella kenapa lagi?"
Mendengar suara kakaknya, Bella langsung turun dan berlari menghambur, memeluk kakaknya dengan kasih sayang.
"Kakak! Darimana aja sih? Bella bosan tau..."
"Virgin kan ada."
"Tapi Bella maunya sama kakak."
Marcel tak menjawab, hanya memandang kepala bagian atas Bella yg kini masih memeluknya.
"Kakak...?"
Bella mendongak menatap Marcel.
"Terjadi sesuatu?"
Tanya Marcel tenang tanpa raut wajah. Mata teduhnya belum terlepas dari Bella.
Bella melepas pelukannya dari Marcel. Ia menunduk sambil memajukan bibirnya yang mungil.
"Mami....."
Marcel belum angkat bicara, memberi kesempatan bagi Bella untuk memberi penjelasan.
"Sepertinya Bella merindukan mami..."
Marcel seketika mengalih pandang, menatap keramaian kota Jakarta dari jendela kamar Bella. Kota yang slalu sibuk.
"Kakak kenapa?"
"Tidak apa-apa Bella. Bella sudah makan?"
Bella menggeleng.
"Bella makan dulu ya"
Tanpa menunggu jawaban Bella, Marcel segera menuju dapur dan di ikuti Bella. Hari ini Marcel akan membuatkan makanan buat Bella. Bella terlihat sedikit bahagia sekarang, meski rindu itu masih bermain di hatinya.
***
"Nih, Bella makan dulu ya..."
Marcel menghidangkan spaghety untuk Bella yang telah stand by di meja makan. Matanya berbinar melihat mie spaghety yang sangat menggugah selera itu. Baunya sangat sedap. Pasti rasanya juga sedap.
"Kau tidak akan kenyang kalau hanya memandangnya saja, adikku."
__ADS_1
Goda Marcel yang mengulum senyum. Bella jadi malu di buatnya.
Bella segera mengambil garpu, bersiap untuk menyantap makan siang lezatnya itu. Ia mulai makan dengan lahap. Sedangkan Marcel makan dengan tenang.
-
"Ah... Bella kenyang"
Bella terpejam sambil mengelus perutnya yang sedikit mengembung, persis seperti ibu hamil. Marcel tersenyum.
"Bella."
"Iya kak?"
Marcel segera mengelap mulut Bella yang belepotan saus dan mayonice. Mata Bella membesar. Ia benar-benar malu.
"Bella ini bagaimana... sudah besar masih saja belepotan kalau makan."
Goda Marcel yang baru saja selesai membersihkan mulut Bella. Bella tersipu malu. Marcel kembali tersenyum.
"Kakak punya sesuatu untuk Bella."
"Benarkah? apa itu kak?"
Marcel tersenyum menggoda seperti menyembunyikan sesuatu.
"Aaaaa kakak. Apa sih kak?"
"Jadi Bella benar-benar ingin tau ya?"
"Iya, dengan sifat Bella yang kepoan ini"
Bella terkikik yang membuat Marcel kian tersenyum.
"Kalau Bella ingin mengetahuinya, kakak beri Bella 1 syarat."
"Apa kak?"
Marcel tak menjawab, hanya menunjuk salah satu pipinya dengan senyuman. Bella paham maksud isyarat kakaknya.
"Jadi kakak ingin Bella mencium kakak terlebih dulu?"
Marcel mengangguk.
"Kalau begitu Bella tidak mau."
Ucap Bella santai sembari berdiri, membawa piring kotor sisa mereka makan ke tempat wastafel. Marcel tak bergerak sama sekali. Sedih dengan kelakuan adiknya itu. Mengapa Bella seperti ini?
"Mmmuuuaacchh"
Marcel tersentak. Bibir mungil Bella mendarat di pipi kanannya. Bella mencium Marcel dari belakang. Segera saja Marcel menoleh. Namun disana Bella telah berdiri dengan wajah yang ia setel seimut mungkin.
"Karna Bella ingin tau"
Ucap Bella menggemaskan sambil memutar badan kekiri dan kekanan.
-
"Wah, cantik sekali kak!"
Suara riang itu keluar dari mulut Bella. Sebuah kalung berliontin telah tergantung di lehernya. Jadi ini yang akan diberikan Marcel padanya. Bella sangat menyukai kalung itu.
Bella memandang Marcel. Rasa sayangnya yang dalam kepada seorang kakak yang begitu perhatian padanya.
Langsung saja Bella memeluk kakaknya itu.
"Bella sayang sama kakak. Kakak jangan pergi ya"
Bahkan rembulan pun iri melihat keharmonisan mereka
***
Wanita itu bernama Rosemary.
Malam itu Rose tengah menatap indahnya kota Beijing, China. Gedung disana-sini. Tampak jauh lebih indah ketika menatapnya dimalam hari. Lampu lampu kota indah menghiasi malam. Lampu lampu kendaraan dimana-mana. Air mancur tinggi menyembur di alun alun kota, dihiasi ribuan lampu yang berkelip manja.
Angin malam yang merdu terdengar, berhembus perlahan membelai kulit lembut serta rambut akan melambai. Jam menunjukkan pukul 10 malam di China.
Rose masih asyik menatap. Ia masih berdiri di tempatnya. Bulan purnama tergantung di langit membawa salam sejuta bahagia. Bulan itu tak sendiri, tapi ia punya banyak teman berupa bintang bintang. Bulan seakan tersenyum menyapa Rose. Damai sekali. Rose membalas senyuman bulan.
Rose teringat pada Marcel dan Bella, permata kecilnya yang kini telah tumbuh menjadi remaja yang sedang mencari jati diri masing-masing.
Bella Falisha, putrinya yang cantik.
Ah. sedang apa mereka disana? Apa malam ini mereka telah lelap dalam mimpi indah? Apa kabar mereka disana?
Betapa rindunya Rose pada mereka. Rose berniat akan pulang ke Indonesia, menemui putra putrinya yang sangat ia cintai, berkumpul dengan mereka untuk sejenak melepas rindu. Setelah itu Rose akan kembali lagi ke China untuk kembali melanjutkan bisnis permatanya.
"Marcel, Bella, mami akan pulang..."
Rose berkata sendiri. Ia besok akan pulang ke Indonesia. Rindu telah sedemikian dahsyat menderu dihati Rose. Rose kembali menatap bulan yang sedang purnama.
"Akankah putriku juga memandang bulan yang indah malam ini?"
Rose berkata dalam hati, berharap ada orang yang menjawabnya. Tapi suara hatinya, cukup Rose sendiri yang dengar.
Rose mengambil handphone nya. Semula Rose ingin menelvon Bella atau Marcel. Tapi terbayang olehnya, Bella telah tertidur lelap. Begitu juga Marcel. Rose memasukkan handphone nya kembali ke saku celana jeansnya.
Rose mengurung niatnya itu.
Angin terus berhembus tanpa lelah, seakan angin itu tidak tau kalau hari telah larut malam.
Rose kembali menatap bulan, lalu tersenyum. Wajah putra putrinya terbayang.
"Selamat malam permata kecil mami..."
Rose kembali masuk ke apartemennya, menutup jendela dan tidur. Telah terbayang besok ia akan berjumpa dengan anak-anaknya.
Lampu lampu masih tersebar disana sini, angin malam masih berhembus, dan purnama masih bergantung di langit sana.
Sangat indah....
***
"Sangat indah..."
Bella berdecak kagum lirih. Ia mengagumi sebuah pemandangan kota Jakarta malam itu dari jendela kamarnya. Ia termenung.
Pemandangan seindah ini... adakah orang lain yang melihat selain dirinya? Apakah cuma dirinya yang menikmati indahnya malam ini?
Tiba-tiba malam semakin terang yang membuat Bella secara spontan melihat keatas. Bulan purnama kini gagah menampakkan diri setelah baru saja tertutup awan. Angin sepoi sepoi berhembus lembut, begitu nyaman saat menyentuh kulit.
Bella masih memandang keatas, melihat bulan purnama yang sedemikian cantik itu.
"Mami juga melihat bulan malam ini tidak ya?"
Batin Bella. Ia terdiam. Hati bergalau penuh keresahan. Ia sangat merindukan mami. Hati remajanya menjerit ingin kembali berkumpul dengan mami.
Bella meraih handphone nya, berharap ada telvon dari Rose disana. Nihil. Bella tak menemukan apa apa.
Bella sangat berharap mami pulang. Tapi, ah, rasa-rasanya mustahil kalau mengingat bisnis permata mami.
Biarlah mami tenang disana.
Biarlah hanya Bella yang merasakan kerinduan disini.
Biarlah setiap malam Bella tidur tanpa belaian mami.
Biarlah...
"Bella...."
Suara lembut Marcel membuyarkan lamunan Bella malam itu. Bella segera menghapus pipinya yang basah oleh air mata.
"Bella menangis...?"
Marcel segera mendekati Bella. Bella hanya diam.
"Bella menangis?"
Tanya Marcel sekali lagi. Bella menggeleng.
"Bagaimana kakak percaya kalau kakak sudah terlanjur melihat Bella menangis?"
__ADS_1
Bella terdiam sejenak. Tidak mungkin Bella menyembunyikan perasaannya. Marcel kakak Bella.
"Bella rindu sama mami..."
Marcel terdiam. Ia begitu kasihan pada Bella. Tapi apa yang harus ia lakukan sekarang? hari telah larut. Tidak mungkin mereka menghubungi mami sekarang.
"Ya sudah, Bella tidur dulu. Besok kita hubungi mami. Bagaimana?"
"Iya kak..."
Bella segera berjalan ke tempat tidurnya diikuti Marcel. Segera saja Bella membaringkan tubuhnya ke tempat tidur.
"Tidur yang nyenyak adikku..."
Ucap Marcel sambil mencium kening adiknya itu.
Marcel berjalan menuju pintu, melihat Bella untuk sekali lagi. Bella tersenyum. Marcel membalas senyuman itu, lalu mematikan lampu kamar Bella dan menutup pintunya.
Bella membetulkan posisi tubuhnya agar nyaman dan mulai tertidur.
Mimpi mimpi indah mulai datang...
***
"Mieske, saya akan mengambil cuti selama 3 hari."
Ucap Rose sambil mengemasi beberapa pakaian kedalam koper. Disana, Mieske masih asyik dengan majalah mode yang ia pegang.
"Kau akan kemana, Rose?"
"Saya akan pulang ke Indonesia."
Mieske tertawa, menciptakan sedikit kekesalan dihati Rose. Rose sedikit tersinggung. Namun ia hanya diam.
"Ingin menemui anakmu yang kau telantarkan? Aku rasa mereka tidak akan mema'afkanmu, Rose"
Ucap Mieske sinis dengan seulas senyum licik di wajahnya.
"Itu bukan urusanmu."
"Ya....terserahmu saja. Aku hanya kasihan nantinya melihat biayamu yang terbuang sia-sia."
Rose tak menjawab. Perkataan Mieske hanyalah kebohongan semata. Rose tau bahwa Mieske hanya tidak ingin ia ambil cuti. Mieske tidak bisa mengelola bisnis permata itu dengan baik. Selama ini, Rose lah yang mengelola bisnis hingga sukses. Mieske yang bergantung padanya.
***
"Eh.... adikku sudah bangun..."
Bella berjalan mendekati meja makan dan duduk. Wajahnya yang sangat kusut ditambah dengan rambut yang acak-acakan, membuat Bella tampak lucu.
"Nih, kakak sudah buatin makanan buat Bella."
"Bella nggak mau makan."
"Lho? emang Bella nggak lapar?"
"Bella mau nelvon sama mami."
"Tapi..."
"Ayolah kak... tadi malam kakak telah berjanji pada Bella."
"Iya Bella, tapi kan Bella belum makan pagi... Bella makan dulu ya."
"Nggak mau kak... Bella nggak mau makan. Pokoknya Bella mau bicara sama mami"
Marcel menghembuskan nafas berat. Keegoisan Bella takkan pernah bisa dilawan. Dengan terpaksa Marcel menuruti kemauan Bella.
***
Kepada para penumpang dilarang mengaktifkan handphone! Harap handphone di matikan ketika anda memasuki pesawat!
Passengers are prohibited from activating cellphones! Please turn off your cellphone when you enter the plane!
Rose menatap layar handphone nya. Sebuah wallpaper foto Bella dan Marcel dilayar handphone. Rose tersenyum. Segera saja Rose mematikan handphone dan naik kedalam pesawat.
Pesawat lepas landas.
***
Nomor yang anda tuju sedang sibuk atau berada diluar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi.
Handphone Rose tidak aktif. Telah berkali-kali Marcel mencoba menghubungi Rose. Namun tetap saja, handphone Rose tidak bisa dihubungi.
Marcel menatap Bella yang kini tengah sedih.
"Nggak apa-apa kak. Mungkin mami sibuk. Nggak ingat lagi sama Bella."
Ucap Bella sembari berdiri dan berjalan dengan lesu meninggalkan Marcel.
"Bella, tunggu. Kita bisa mencobanya sekali lagi."
Ajakan kakaknya tak di indahkan Bella. Ia menaiki tangga menuju lantai dua. Mungkin ia ingin mengurung diri di kamarnya. Marcel terdiam. Ia paham bagaimana Bella. Ia tak ingin mengganggu adiknya itu.
***
Jam 11 siang.
Handphone Marcel berbunyi ketika ia tengah fokus menuangkan adonan tepung kedalam cangkang telur. Hari ini Marcel lagi-lagi mencoba resep makanan baru.
"Duh... siapa sih hari gini nelvon. Nggak tau orang lagi sibuk."
Marcel segera meninggalkan pekerjaannya dan meraih hp dari saku celana, melihat siapa yang menelvon. Mata Marcel berbinar.
"Bella.....!!!"
***
"Bella! Bella!"
Marcel masuk kekamar Bella dan mengguncang tubuh adiknya itu. Tentu saja Bella terganggu dengan tidurnya.
"Mhhhhh..... apaan sih kak... Bella masih ngantuk...."
"Bella, lihat ini!"
Dengan mata yang masih setengah tertutup, Bella melihat layar ponsel yang ditunjukkan kakaknya. Seketika kantuknya hilang.
"Angkat kak!"
Marcel mengangkat telvon.
"Halo mi!"
Kini, suara riang itu bergema semangat dari dalam kamar Bella. Dua orang kakak beradik yang tengah riang karna dapat bicara kembali dengan mami.
"Apa mi?"
Kening Bella berkerut karna fokus mendengarkan mami yang bicara lewat telvon. Marcel hanya diam mendengarkan.
"Tapi mi, buat apa?"
Marcel hanya diam.
"Baiklah mi.
Kak, mami minta kita keluar sebentar."
Ucap Bella pada Marcel. Tentu saja Marcel heran.
"Kakak tak perlu menanyakan pada Bella. Bella juga tidak tau."
"Baiklah. Kita turuti saja kemauan mami."
Marcel dan Bella turun kelantai satu, menuju pintu depan dan membuka pintunya.
"Mami!!!"
Seorang wanita tersenyum dengan penuh keibuan. Segera saja Bella memeluk sosok yang ia panggil mami. Suasana haru menyelimuti.
"Mami... Bella rindu sama mami... mami tau itu kan? tapi kenapa mami tidak pulang untuk Bella?"
Rose menangis. Ia merasa bersalah.
"Maafkan mami nak..."
__ADS_1
Marcel yang melihat itu juga tersenyum.