Rich Ragnarok

Rich Ragnarok
episode 1: selamat datang


__ADS_3

“saya belum makan tiga hari nak, bagi sedekahnya,” kata nenek pengemis


“enak aja minta-minta, makanya kerja jangan minta. Saya jadi orang kaya karena kerja keras bukan minta-minta," kata parjo yang mukanya mirip Dono warkop. Ia lakukan sambil menggertakkan gigi emasnya dan menunjukkan kalung emasnya yang berharga.


Ibu-ibu pengemis itu terus menerus memohon. Sampai parjo kesal dan hendak memberikan pukulan. Untung saja tiba-tiba seorang pemuda keluar dan langsung menahan tanganya. Pemuda berkaca mata bernama budi yang wajahnya mirip song joong-ki.


"tahan bos, entar kalau ada yang merekam terus bos viral. Bisa-bisa nama perusahaan tercoreng dan kita diboikot." kata budi dengan nada menakut-nakuti.


"bener juga yang kau bilang, bud." kata parjo dengan wajah ketakutan


"bos masuk dulu sebentar saya yang urus nenek ini." kata budi menyuruh bosnya masuk. parjo segera berjalan ke gudang. budi menghadap ke belakang kepada ibu peminta-minta, "bu ini Rp 20.000 buat makan."


"makasih ya nak. Semoga sehat selalu." kata nenek pengemis itu sambil berjalan pergi.


Parjo memperhatikan budi sambil berjalan ke arah gudang. Ia mengernyitkan dahi dan memanggil budi agar berjalan lebih cepat. ia terlihat kecewa dan berkata, "kamu itu miskin, sok-sokan mau bantu orang miskin. Kalau begitu kamu kapan kayanya ."


"tergantung rejekinya bos, kalau bos kan rejekinya udah kaya dari lahir." kata budi sambil tersenyum.


"sudahlah kamu itu jago ngelesnya kalau begitu, balik kerja sana, jangan lupa rapikan barang-barang dalam gudang." kara parjo menyuruh budi pergi dengan isyarat tangan.


"Ok siap bos." kata budi sambil hormat ke parjo. setelahnya, ia buru-buru ke gudang.


beberapa jam kemudian, seorang wanita cantik berparas putih mulus mirip seperti han so-hee. ia mendorong keranjang bayi berjalan ke arah gudang perusahaan. budi yang berkeringat mengangkat barang-barang di gudang yang berserakan.


"abang, jam kerjanya sudah mau selesai kita pulang," seru mita sambil melambaikan tangan.


"sabar ya, sayang ini tinggal sedikit lagi." balas budi yang juga membalas dengan lambaian tangan.


"siapa tuh bang, itu pacarnya ya bang." tanya heru. heru merupakan teman kerja budi yang sama-sama bertugas di bagian gudang. Meskipun pegawai baru beberapa minggu, mereka sangat akrab.


"pacar? kamu belum kenal ya heru, itu istri saya namanya mita, karena kamu pegawai baru mungkin kamu bakal sering lihat dia datang di depan gudang menunggu saya selesai kerja. kalau pekerjaannya di rumah sudah selesai." jelas budi bangga.


Beberapa menit kemudian, alarm jam kerja telah berbunyi. Menandakan seluruh aktivitas kerja di perusahaan telah selesai. Para pekerja berbondong-bondong pulang, termasuk budi yang badannya telah dipenuhi oleh keringat.


"heru kamu mau nggak jalan-jalan ke rumah aku. Dekat kok dari sini." kata budi.


"nggak bang takut mengganggu kemesraan." kata heru sambil tertawa kecil.

__ADS_1


"kamu bisa aja." kata budi sambil tersenyum.


"hahaha nggak bang, saya harus balik cepat-cepat ibu saya sakit di rumah bang." kata heru sedikit dengan nada sedih.


"ok kalau begitu kalau ada waktu kita jalan-jalan ke rumahku ya?" tanya budi sambil merapikan meja di gudang.


"ok bang, saya permisi duluan ya bang soalnya buru-buru." kata heru sambil terburu-buru mengambil tasnya dan segera pulang.


""hati-hati, jangan sampai ada masalah karena buru-buru." seru budi melihat heru sudah pergi.


Setelah heru pergi, budi mengambil jaket dan handuk kecilnya untuk menyapu keringatnya. Lalu, berjalan ke arah mita yang sedang menunggu. Ia mencoba memasang wajah lucu untuk anaknya panji. Panji tampak tertawa melihat ayahnya.


"Bang kamu lama banget." kata mita dengan wajah sedikit kesal karena lama menunggu.


"Namanya juga kerja yang, yuk kita pulang, panji biar saya yang dorong, tumben panji nggak nangis." kata budi memperhatikan panji yang tak seperti biasanya.


mereka berdua menyusuri jalan yang biasa mereka lewati. Nampak angkutan umum berhenti di salah satu sudut trotoar. Terlihat beberapa mahasiswa turun dari angkutan umum. budi langsung menatap mereka dan terbawa dalam lamunan, hingga ia berhenti sejenak. Ia menatap buku yang dipegang salah satu.


" kenapa bang kok berhenti?" tanya mita melihat suaminya tiba-tiba berhenti dan termenung.


"saya tiba-tiba ingat kampus. Rasanya saya ingin melanjutkan kuliah lagi. Buku makroekonomi yang dipegang mahasiswa. Mirip buku pegangan waktu saya masih kuliah." kata budi sambil menatap seorang mahasiswa membawa buku dari kejauhan.


"kok tiba-tiba kamu nangis. Masa kok kalah sama panji yang dari tadi senyum. malah tidak pernah nangis." kata budi sambil mengelus pipi istrinya.


Ia mencoba mengusapnya beberapa kali. Namun mita tak berhenti menangis. Mengingat karena mita, budi harus hidup dalam kesusahan bersamanya. Iya ingat betul bagaimana suaminya yang berbicara di depan podium karena memenangkan lomba presentasi bisnis, malah sekarang menjadi pegawai gudang.


"berhenti dong nanti kita diliatin orang. apa yang sudah terjadi tak bisa dirubah lagi. Nanti kalau kita sudah banyak uang, rasanya saya ingin melanjutkan kuliah lagi." kata budi sambil membayangkan dirinya kuliah.


Impian yang benar-benar sangat sulit terwujud. Selain budi harus membiayai hidup mereka yang serba kekurangan. Ia juga harus membiayai biaya rumah sakit orang tuanya yang sakit stroke. Dalam hati, ia sangat berharap mendapatkan keberuntungan agar ia bisa melanjutkan kuliah.


"oh tuhan aku benar-benar mengharapkan keberuntungan." kata budi dalam hati.


tiba-tiba semua objek di sekitar budi dan mita tiba-tiba menjadi merah kecuali tubuh mereka. Langit tiba-tiba menjadi hitam. budi dan mita kaget melihat kejadian itu. Tiba-tiba tubuhnya menjadi seolah debu yang beterbangan ke langit.


Cahaya-cahaya berkumpul dan seolah terbang ke langit menembus atmosfer bumi sampai ke angkasa terbang ke sudut lain galaksi. Hanya sekedipan mata, budi dan mita muncul di sebuah hutan dengan malam yang sangat gelap. Sepintas, ia melihat banyak orang yang tampak kebingungan sama seperti dirinya.


"mita kamu tidak apa-apa?" kata budi dengan wajah panik.

__ADS_1


"saya tidak apa-apa bang." seru mita dengan wajah panik.


"panji bagaimana ?" kata budi tiba-tiba melihat ke arah keranjang bayi.


"kayaknya tidak apa-apa bang." kata mita sambil melihat wajah panji dalam keranjang bayi.


"tetap waspada perasaanku tidak enak karena kejadian barusan." seru budi sambil mengamati keadaan sekitar


Namun budi merasa tempat tersebut terasa asing dan aneh. Ia baru menyadari keanehannya ketika ia mengangkat kepalanya ke langit. Bulannya ada lima, budi langsung mengucek matanya dan mencoba menghirup napas panjang.


"bud kau juga disini tiba-tiba." si parjo mendekat.


"bang budi juga disini." kata heru yang muncul dari kerumunan orang.


"bos sama heru tidak apa-apa?" tanya budi khawatir.


"saya sih tidak apa-apa, tapi ini sebenarnya ada apa?" tanya parjo dengan wajah muram.


"tidak apa-apa bang." jawab heru dengan wajah tenang.


"saya juga tidak tahu bos, tetap saja waspada. perasaan saya tidak enak." kata budi sambil mengamati sekitar.


budi belum mencerna seluruh keadaan barusan yang dialaminya, muncul hal aneh. Terdengar suara orang-orang berlarian dari kejauhan. Semua orang di tempat itu segera menatap ke arah datangnnya suara dan merasa penasaran.


Namun, yang datang bukanlah manusia yang mereka kenal. Namun segerombolan makhluk cebol berkulit hijau dengan telinga lancip, itulah para goblin. Mereka dengan beringas mendekat ke arah gerombolan manusia. Di belakang mereka terlihat cahaya dari kebakaran yang membumbung tinggi. Bukan hanya terlihat ganas dan ingin menyerang manusia. Mereka juga terlihat membawa senjata pedang dan gada.


Goblin komandan, merupakan goblin yang tubuhnya terlihat lebih besar dari yang lain. Ukurannya hampir menyerupai orang dewasa. ditambah dengan mata memerah dan taringnya yang cukup besar membuat tubuhnya terlihat sangat mengerikan.


Ia seolah mengarahkan beberapa goblin lainnya. beberapa kali, ia seolah terlihat marah dan kesal. goblin yang diaturnya segera bersiap mengarahkan panahnya dan melemparkan sebuah obor. ia terlihat seolah memberikan aba-aba dengan tangan.


Klik


suara jentik jari yang menggema


kejadian aneh kembali muncul, waktu seolah berhenti membuat para goblin yang tadinya semangat menyerang menjadi tak bergerak. Seolah tubuhnya membeku. keanehan kemunculan goblin, segera tertutupi dengan kemunculan makhluk lain di ufuk langit. Muncul tiga makhluk yang tubuhnya seolah bercahaya. Para makhluk itu berdiri di atas sebuah benda mirip piring terbang.


Makhluk pertama, yang baru saja menjentikkan jari terlihat dengan sayap dan di atas kepalanya terlihat seperti jam pasir. Makhluk kedua, duduk di singgasana dengan tongkatnya yang berbentuk zig-zag. Makhluk ketiga terlihat duduk sambil menghadap meja dengan komputer dengan wajah seperti babon.

__ADS_1


"selamat datang di rich ragnarok." kata mahluk bersayap.


"oh tuhan, kenapa aku merasakan akan mendapat kesialan." kata budi dalam hati.


__ADS_2