Ringga

Ringga
Kegiatan Perkuliahan


__ADS_3

Kami semua sudah mengikuti kegiatan ospek kampus. Kebetulan aku ditunjuk sebagai perwakilan Koordinator kelas. Setelah pembagian kelas berlangsung. Kami duduk di bangku masing-masing.


            Hari itu aku mulai kenal satu sama lain. Temanku bertambah banyak sekarang, aku senang bisa berbaur bersama teman-teman kelasku. Teman-teman dikelas juga menyukaiku karena pada dasarnya aku tipe wanita yang supel dan lucu. Selalu ada saja bahan buat bercanda, atau hanya sekedar berkelakar bersama.


            Aku mempunyai teman dekat. Lilis namanya, dia teman cewek pertama yang dari awal ketemu dan ternyata sekarang dia sekelas denganku. Kegiatan perkuliahan kami berjalan lancar dan menyenangkan.


Tugas kuliah, paper, dan ujian sudah mewarnai hari-hariku. Namun selama beberapa saat aku di Surabaya aku belum banyak tahu tentang Surabaya. Sehari-hari waktuku terisi dengan kuliah. Sesekali aku juga terlibat dalam proyek dosen, hitung-hitung menambah pengalamanku.


Aku harus mengubah semua kebiasaanku sejak kuliah. Mulai mandiri, tidak bersikap seenaknya, manja, dan tidak lagi bisa pilih-pilik lauk. Aku belajar membiasakan merasa cukup dengan semua perbekalanku. Aku harus belajar mencoba menguatkan diri bahwa aku harus sanggup melalui semua ini. Bayangan masalalu kembali menguatkan semangatku! Seseorang yang dulu membuat hari-hariku indah berubah muram bersimbah air mata. Seseorang yang membuat aku mengutuk waktu, arti cinta, bahkan sebuah nama yang mengkhianati arti hubungan. Seseorang yang membuat aku bulat kuliah di Surabaya. Jadi disinilah pagi dan malamku dalam suasana yang jauh berbeda dari Bandung kota kelahiranku. Aku bangun tidur lalu ku buka jendela kamarku. Membiarkan harum tanah dan udara pagi memenuhi dada. Wangi pucuk-pucuk daun cemara, dan hamparan Bunga di taman yang beraneka warna. Titik embun pagi menyegarkan udara.


Dering memanggil dari ponsel mengejutkanku.


“Kathleen, bangunnnnn…” Suara telepon Lilis terdengar nyaring di telinggaku.


“Aku sudah bangun dari tadi, kok.” Jawabku.


“Kalau begitu ontime ya… aku tunggu nanti di perpus.”


“Oke… abis mandi aku segera berangkat. Tunggu disana ya..”


“Mandinya jangan lama-lama Kathleen… jangan kayak putri Solo.” Seru Lilis sambil tertawa.


Aku hanya tersenyum samar. Awalnya, aku merasa galau dan ragu apakah aku bisa memulai kehidupan baru jauh dari orang tua. Dan menemukan teman yang baik yang mudah menjalin persahabatan. Ternyata keraguanku sirna. Temanku Lilis dan Tante Sarah begitu hangat dan welcome terhadapku sehingga akupun nyaman dan menemukan keluarga baru.


Setelah mandi, berkeramas dan ganti pakaian. Aku segera bergegas keluar kamar membawa tasku.


“Selamat pagi, Tante!” Suaraku menyapa.


“Yuks… makan, Tante sudah menyiapkan sarapan, nih” Tante Sarah menawarkan. Dua piring roti sandwich hangat masih mengepul, menggugah selera di meja makan. Namun bayangan Lilis yang berkacak pinggang mengganggu konsentrasiku. Sobatku yang satu ini enggan menunggu lebih dari 5 menit. Meski perut lumayan penuh, demi menghalau kekecewaan Tante Sarah yang sudah menungguku. Aku sempatkan membawa roti.


“Sisa rotinya aku bawa ya..Tan.” Dengan tersenyum manja aku meminta ijin Tante Sarah. “Lilis sudah menungguku.”


“Ya udah gak papa bawa aja.” Jawab Tante sarah nyengir.

__ADS_1


“Thank you, Tan,” Aku mencoba tersenyum dengan mulut monyong kepenuhan. Dan bergegas menuju ke kampus.


Perpustakaan kampusku terletak di Lantai 2. Tampak dari jauh Lilis melambaikan tangan menyapaku.


“Gitu donk ontime. Oia gimana tugas proposalmu, sudah jadi??” Tanya Lilis. “Tumben hari ini cantik banget.” Puji Lilis


“Makasih sayangkuuuu.” Sahutku manja setelah mendengar pujian Lilis. “Tugasku belum jadi, makanya nich mau cari buku referensi.” Jawabku.


Beberapa saat berselang, aku dan Lilis sibuk mencari buku di perpus. Tak lama saat aku sedang membaca buku. Aku merasa ada seseorang yang mendekatiku.


“Hai.... sudah lama disini?” Suara seseorang teman kelasku menyapa. Namanya Ringga. Dia termasuk cowok keren di kampusku. Tinggi dan berkacamata. Penuh dengan karisma seorang cowok.


“Emmm....hai…, baru aja kok” Jawabku tersipu malu. “Hmm… mau cari buku referensi juga?” Tanyaku.


“Iya nich… mau cari beberapa, tapi udah ketemu sih.” Jawab Ringga.


Tiba-tiba dari seberang suara Lilis mengagetkanku.


“Dorr…. Hayo kalian berduaan” Suara Lilis sambil tersenyum menggoda kami.


“Aku lihat ada yang aneh nich.. Ringga dateng nyamperin kamu, padahal ada aku loh. Hmm, kayaknya si Ringga naksir kamu dech....''. ucap Lilis


"Hello…. Hellooooo Kathleen!!! aku disini!!!” Ucap Lilis membuyarkan pandanganku.


“Eh..eh…iya maaf, terlalu asyik melihat dia. Hehehe…” Jawabku nyengir.


“Tuch..kan, pasti kamu juga tersepona, eh salah maksudku terpesona sama Ringga ya?” Tanya Lilis menggodaku.


“Ih…engga juga kok, cuma seneng aja, dia itu keliatan gimanaaaa gitu. Beda pokoknya” Jawabku sambil tersenyum.


“Cie…sepertinya ada yang mulai naksir nich.” Sahut Lilis.


“Hmm… kasih tahu nggak ya… Rahasia.” Sahutku tersenyum sambil berlalu meninggalkan Lilis.

__ADS_1


“Ih..gitu ya sekarang nggak mau cerita sama aku. Kathleen tungguuu.” Seru Lilis mengejarku.


Ya hari itu untuk kedua kali Ringga datang mendekatiku. Yang pertama dia datang untuk meminta nomorku. Dan sejak saat itu, dia sering chat aku, namun seperti teman biasa, hanya ngobrol seputar kegiatan kampus. Aku tersenyum dalam hati. Ringga memang cakep. Tidak sedikit pula teman-teman sekelasku ada yang menyukainya atau terkadang berlomba-lomba supaya bisa satu kelompok dengannya. Tidak hanya berkharisma dia juga ganteng. Tapi aku tidak mau terlalu berambisi untuk mendekatinya. Biar semua mengalir apa adanya. Bayangan Erik hadir tanpa sanggup aku usir, padahal perjalanan waktu sudah lebih melewati satu tahun.


“Maafkan aku, Kathleen,” ujar Erik di gagang telepon. “Aku enggak bisa memenuhi janjiku agar kita bisa hidup bersama. Mama sudah menjodohkan aku dengan wanita lain, anak dari sahabat Mama. Aku enggak bisa menolak permintaan Mama, karena Mama juga ada riwayat jantung. Beliau juga stroke sekarang. Kalau sampai aku menolak…” terdengar ucapan Erik perlahan dengan menghela nafas panjang.


Aku memalingkan wajah. Mataku panas, hingga keluar air mata begitu derasnya. Mengingat penjelasan Erik saat itu, meminta hubungan kami berakhir. Mendengar suara teleponnya. Terdengar seperti halilintar, dan duniaku seakan jatuh. Aku begitu mencintainya namun dia mencampakkan aku, tidak ada usaha darinya agar hubungan kami bisa bertahan. Pemuda macam apa Erik itu, yang dengan mudah menyerah begitu saja? Aku tidak hanya meratap dan menanggis. Aku marah besar, merasa selama itu hanya dibohongi dengan janji-janji palsunya.


“Sekarang bukan zaman Siti Nurbaya, Erik! Kalau kamu mau, kamu bisa menolaknya.”


“Aku tidak tega menyakiti hati Mama, Kathleen. Aku adalah anak semata wayangnya. Dan Mama juga sedang sakit, aku tidak mau Mama kenapa-kenapa.” Suara Erik tepekur. Aku tahu itu adalah pilihan yang berat, walau Erik begitu menyayangiku. Namun dia tidak tega mendurhakai Mamanya.


Aku menghela nafas panjang saat mengingatnya. Permintaan maaf, penjelasan apapun itu; tidak sanggup aku menerimanya. Bertahun-tahun aku bersama sejak masih duduk di bangku SMA. Aku tidak habis mengerti, mengapa semudah itu Erik meninggalkan aku, dan begitu mudahnya dia menerima proposal untuk mengikat janji dengan wanita pilihan Mamanya. Berbulan-bulan aku menangis, menangis, dan menangis, hingga berat badanku susut.


Semakin lama semangat layu menghilang; semangat untuk kuliah, berteman dan aktivitas sehari-hari. Hiburan dari sahabat-sahabat sangat membantu menguatkanku. Tawaran kuliah dari Tante Sarah, adik Mamaku yang tinggal di Surabaya tidak aku pertimbangkan dua kali. Dan di Surabaya inilah, aku menimba ilmu jurusan Akuntansi.


“Ayo!” Suara Lilis menyentakkan lamunanku. “Nanti sore kamu ikut aku ya, nanti aku ajak main ke Taman Kota. Pasti seru. Dijamin!” Ajak Lilis.


Sore itu, semua berjalan seperti biasa. Aku jalan-jalan di Taman Kota. Tepatnya Taman Apsari. Ramai dengan pemuda-pemudi yang hanya sekedar duduk menikmati suasana. Atau hanya untuk bermain futsal di dekat taman itu. Memang taman itu sering dijadikan nongkrong, tempat yang asyik untuk menghilangkan penat.


“Eh, gimana si Ringga? cerita donk. Kayaknya dia lagi deketin kamu dech.” Ujar Lilis


“Emm…biasa aja sich. Dia sering chat aku. Tapi seputar kuliah aja.” Jawabku.


“Sering???” Tanya Lilis lagi.


“Lumayan.” Jawabku tersenyum.


“Nggak papa sich kalau dia lagi deketin kamu. Lagian kamu juga jomblo kan?”


“Ya.. nggak semudah itu juga. Aku pernah pacaran 3 tahun. Dan semua kandas begitu saja. Biar semua mengalir dulu. Aku juga tidak terlalu berambisi untuk cari cowok Lis.” Jawabku.


“Tapi… kalau seandainya si Ringga nembak kamu gimana?”

__ADS_1


“Ya… tergantung sich. Kalau dia bisa buat aku jatuh cinta lagi.” Jawabku sambil tersenyum.  


“Hmm…itu sama aja ngarep sayang.” Jelas Lilis tertawa pelan.


__ADS_2