
drrrtt drrrttt....
Bang Azraf segera menerima panggilan itu. Aku diam diam mendengarkan apa yg mereka bicarakan ditelepon. volumenya cukup bisa kudengar meski bukan loud speaker.
"Mbak Mirna yg telpon?" tanyaku pada bang Azraf setelah menutup telponnya. Bang Azraf mengangguk pelan. wajahnya berubah menjadi sedih. Padahal sebelum menerima telepon itu tawanya lepas sekali. karena kami sedang bergurau dikamar pengantin kami.
"Apa katanya bang?" tanyaku basa basi. walaupun tanpa bertanya pun aku sudah tau, karena aku mendengarnya tadi.
"Ibu Nangis terus, Sejak kepulangan dari pernikahan kita Imas pergi kerumah mamanya dan nggak pulang-pulang sampai sekarang" jawabnya lirih.
"lalu masalahnya apa bang?" sahutku
"Shafa...Abang harus segera pulang ke S*****, kasian ibu sendirian di rumah, ibu kesepian shafa"
"hah pulang? kapan?" tanyaku sedikit kaget.
"Mungkin Minggu depan, lihat jadwal kapal nanti adanya tgl berapa"
"harus secepat itu kah bang?"
"mau gimana lagi Shafa...."
"Bang ... kita baru aja ngerasain senengnya pengantin baru, kenapa harus secepat itu sih. kenapa nggak nunggu abis lebaran aja toh bentar lagi lebaran"
"Abang paham, Abang maunya juga gitu tapi ....."
"saudara kandungmu disana ada 4 orang bang yang Nemani ibu, dan ibu punya banyak cucu disana, kesepian gimana sih? lalu kenapa harus........ah sudahlah" lanjut ku sedikit kesal.
bagaimana tidak ini sudah kesekian kalinya mereka menelpon hanya menanyakan hal yg sama. ah ... aku kecewa dengan sikap keluarga suamiku. ibu seolah olah menganggap suamiku anak satu satunya. seolah-olah merasa sendirian padahal masih ada 4 anaknya yang lain. dan lagi rumah ibu bersebelahan dengan anak anaknya. setiap hari ada cucu yang menemaninya, hanya saja ketika malam ibu tidur sendiri dirumah, karena ayah sudah lama meninggal.
'kalau hanya tidur sendiri kan sementara bisa tidur dirumah mbak mirna atau sebaliknya' batinku seraya memalingkan pandanganku ke jendela. begitulah ibu keinginannya tak bisa dinego.
tak ada tanggapan dari bang Azraf. dia masih diam menunduk lesu.
'ada ada saja ibu kenapa juga sih Imas harus begini. hari hari bahagia pengantin baruku jadi semrawut karena ulahnya' batinku. Imas adalah keponakan suamiku. Sejak bapaknya meninggal, mamanya menikah lagi, dan Imas dirawat ibu mertuaku.
Ku Hela napas untuk mengusir rasa kecewaku.
'Ya Allah Apa mereka tidak memikirkan kalau kami sedang menikmati hari bahagia sebagai pengantin baru. apakah mereka tidak ingin membiarkan kami menghabiskan waktu di kampung halamanku dulu? mengenal saudara saudaraku tetanggaku, merasakan lebaran dikampungku. menikmati kebersamaan sebelum aku benar-benar meninggalkan mereka' batinku.
'kenapa mereka egois? tidakkah mereka memikirkan beratnya aku meninggalkan keluargaku? dan bagaimana aku harus bicara ke keluargaku kalau ternyata kami harus pulang ke S***** dalam waktu dekat ini?' . batinku
segera ku tepis semua pertanyaan yang berputar di kepala. pertanyaan yang membuatku marah sedih sekaligus kecewa. Ku yakinkan hati bahwa wajar saja ibu seperti itu.
'astaghfirullah kenapa aku jadi ikut ikutan egois sih?, ibu kan sudah sepuh dan dia menaruh banyak harap ke bang Azraf anaknya. satu satunya anak yang ia sekolahkan hingga S1. dan inilah kodrat perempuan setelah menikah. hidup bersama suaminya. aku harus tabah dan ikhlas, bagaimanapun kondisinya' gumamku
"ya sudah lah bang kalau memang harus pulang dalam waktu dekat ini nggak apa, aku ngerti, nanti aku coba ngomong ke keluarga disini" akhirnya aku berusaha untuk mengalah mengikuti alur keluarganya.
"maafin Abang sayang, Abang cuma ..." hanya maaf yang bang Azraf ucapkan, namun segera ku potong omongan nya tak ingin membahas lagi.
"eh tapi kan Abang udah janji, kita mau jalan-jalan ke M*****?" tanyaku berusaha mengalihkan suasana. Bang Asraf diam mencoba mengingat ingat kembali janjinya padaku.
"kapan bang? nanti keburu pulang ke S*****, sekalian kan kita pamit ke rumah Bibi Lily" kataku lagi.
"Astaghfirullah oh iya, Abang hampir lupa. Maaf sayang. kalau Sabtu aja gimana?, kita berangkat pagi. nanti juga mampir ke rumah Ust.Ahmad, nggak enak kalau kita nggak pamit ke sana". akhirnya bang Asraf tidak lupa janjinya. Aku hanya mengangguk pelan sembari tersenyum merasakan seperti ada percikan bahagia di tengah kecewaku. Alhamdulillah rencana jalan-jalan Ke M***** akan terlaksana. Kami juga akan Ke B***.
'tapi kenapa rasanya sikapmu seperti terpaksa menepati janjimu bang. ah ... sudah lah mungkin hanya perasaanku saja' gumamku berusaha untuk tidak mempermasalahkannya.
***"
Sabtu Pagi
Kami berdua berangkat ke M***** mengendarai motor matic. Kami hanya membawa 1 ransel berisi perlengkapan untuk 2 malam menginap. Tentu saja bukan untuk menginap di rumah Bibi Lily. Kami ingin menikmati bermalam di Villa. melihat indahnya gemerlap lampu kota ketika malam hari. indah sekali pemandangannya karena tempatnya berada diketinggian.
kami juga akan ke G** P*n*s dan T*m*n l*ng*t. tak lupa menikmati kuliner nasi pecel pinggir jalan. tak apa sederhana asal berkesan dan itu sudah lebih dari cukup membuat aku bahagia. toh bahagia tak diukur dengan rupiah. ditengah perjalanan kami mampir membeli oleh-oleh untuk Ust.Ahmad dan Bibi Lily. Dua Ikat tape manis kami bawa. satu untuk Ust.Ahmad dan satu lagi untuk Bibi Lily.
__ADS_1
Dirumah Ust. Ahmad kami cukup lama singgah karena kami sampai pukul 10 pagi. jadi Kami sempatkan untuk sholat dhuhur dirumahnya.
"Dalam berkeluarga jangan jadikan pertengkaran berujung cerai" Nasehat Ust. Ahmad kepada kami.
"Bisa jadi karena ulah orang syirik yang memanfaatkan orang pintar untuk melancarkan niat buruknya" tuturnya.
"apapun yg terjadi saling kenali sikap dan sifat masing-masing, kalau pertengkaran disertai sikap yang tidak biasa jangan gegabah ambil keputusan.saling komunikasi adalah kuncinya" kata Ust.Ahmad mengakhiri nasehatnya.
"Inggih Ustad" bang Azraf menjawab.
nasehat ust.Ahmad akan selalu kuingat.
'semoga aku dan bang Azraf bisa menjadi keluarga di dunia dan sesurga' doaku dalam hati.
"hush...ngelamunin apa sih" bang Azraf membuyarkan lamunanku.
tak sadar jika dia menyodorkan tangannya untuk kucium. kebiasaan yang selalu dilakukan ketika dzikir usai. ya kami tengah selesai menunaikan sholat ashar berjamaah di rumah bibi Lily.
"hehe nggak ada bang"
"ayo kita siap siap, setelah ini kita langsung pamit aja, supaya bisa langsung ......" bang Azraf hanya senyum menyenggol lenganku dengan sikunya. rupanya dia memberi kode kode.
"iya iya bang, ih udah nggak sabar banget ya" godaku. kamipun tertawa kecil takut terdengar bibi Lily.
Setelah Ashar kami lanjutkan perjalanan ke Villa. Kami tak lama di rumah Bibi Lily. supaya kami bisa segera lebih lama menikmati moment berdua.
"mau kemana Zraf kok buru-buru" tanya bibi Lily.
"Mau nginap di Villa bi, bulan madu" jawab bang azraf disambut gelak tawa dari bibi Lily. seakan- akan paham maksud tujuan kami ke Villa adalah membuatkannya cucu.
"ada ada saja kamu ini, memangnya kalau bulan madunya disini kenapa? tanya bibi sambil menyalami kami berdua yang buru-buru. bang Azraf tertawa. aku hanya senyum senyum seraya bersembunyi dibalik punggung suamiku ini. sungguh malu sekali rasanya aku mendengar percakapan mereka yang terang terangan.
"oiya bi, sekalian kami mau pamit takutnya nggak sempat kesini lagi, akhir bulan ini kami akan pulang ke S*****" bang Azraf berpamitan.
"loh kok buru buru ke S***** sih? nggak nunggu habis lebaran aja" tanya bibi Lily
"oh iya ya, ya sudah hati-hati loh ya" lanjut bibi
"inggih assalamualaikum"
"waalaikum salam".
setibanya di Villa, barang barang ku letakkan di lantai kamar begitu saja. ku lepas jilbab dan terlentang di kasur melepas penat. lelah sekali rasanya mengendarai motor. tak lama kudengar ada yang bergetar.
Drrrtt.... Drrrrt
bang Azraf lekas mencari sumber suara dan menerima panggilan itu.
'pasti keluarganya lagi dengan drama yang sama' batinku, kupalingkan wajah ketika suamiku mulai berbicara dengan mereka.
'benar kan tebakanku, itu suara mbak Mirna, Ya Allah' batinku, seraya memejamkan mata enggan menanggapi.
Setelah menutup telepon suamiku hanya diam. aku kesal dan enggan menanyainya. aku sudah tau pembicaraan mereka. karena aku mendengar dengan jelas meskipun bukan loud speaker. lagi lagi hatiku kecewa mendengar obrolan mereka. masa masa pengantin baru yang di bayangkan akan menjadi bahagia. ternyata yang ku alami justru mengecewakan. tapi aku berusaha untuk mengerti kondisi keluarga suamiku ini. membuang egoku meski rasanya susah.
"Shafa ayo kita pulang" kata suamiku beranjak duduk dipinggir kasur tempat aku merebahkan badan.
"hah?pulang? kenapa?, kita baru aja nyampe bang, Abang nggak capek apa? yang benar saja" aku kaget dan terbangun dari posisiku setelah mendengar suamiku mengajak pulang.
"Abang nggak tenang kita jalan-jalan disini sementara ibu Nangis terus di sana"
"kenapa lagi sih bang, Abang udah janji kan bawa aku jalan-jalan kesini, baru aja nyampai sekarang ngajak pulang" kataku kesal.
bang Azraf diam semakin menunduk lesu. aku melihatnya pasti sedang bingung memikirkan bagaimana harus menjelaskan kepadaku.
"Masa sih bang, keluarga Abang, nggak bisa ngerti, kita lagi seneng senengnya, bahagia bahagianya pengantin baru, lalu di telponin terus kayak gini? siapa yang nggak terganggu? seolah olah kita nggak akan pernah pulang ke sana" kataku dengan nada kesal.
__ADS_1
suamiku masih diam tak ada respon. justru semakin lesu mendengarkan aku yang tak berhenti bertanya.
"harusnya Abang ngasih pengertian, disana ada mbak Mirna, mbak Noora, Bang Amir, Bang Haidar. masak mereka nggak bisa ngatasi sih? cucu ibu juga tiap hari nemenin kan? lalu masalahnya kenapa kita terus sih yang di bujuk harus segera pulang?"
"Shafa... Abang cuma..."
"cuma apa bang?, sudah berapa kali mereka nelpon nanyain terus? mereka mikirin kita nggak sih bang? kita lagi bahagia bahagianya, tapi di ganggu terus. apa mereka juga mikir? bagaimana reaksi keluargaku nanti?" lanjutku tanpa memberi kesempatan bang Azraf bicara.
"dan lagi Abang udah janji bawa aku jalan-jalan. kenapa nggak nunggu besok aja sih kita pulangnya? kenapa harus buru buru? tergesa-gesa itu perbuatan setan bang!" kataku sambil menahan air mata yang membendung. ku luapkan semuanya pertanyaan yang berputar putar dikepala. aku sudah lelah mendengar semua pinta keluarganya ketika menelpon. 'oh Tuhan lagi lagi aku dikalahkan egoku' batinku sambil memejamkan mata dan kupalingkan wajahku dari bang Azraf.
"maafin abang sayang. Abang hanya kepikiran ibu. Abang sedih ibu Nangis terus disana gara-gara Imas nggak pulang-pulang, Imas juga susah dihubungi. Kalau bukan kita yang pulang, gimana dengan ibu? mbak Mirna dan yang lain juga punya kesibukan sendiri dengan keluarga masing masing"
setetes air mata jatuh mendengar penjelasan bang Azraf.
"bagaimana bisa kita berbulan madu, senang-senang, ketika salah satu keluarga ada yang menangis, Abang hanya kepikiran?" lanjut bang azraf mulai bersuara lirih.
aku masih diam tak menanggapi. Aku kecewa dengan keluarga suamiku. setelah menikah mereka selalu menelpon menanyakan kapan pulang? kapan pulang?
'kenapa mereka tak memikirkan perasaan keluarga besannya. Haaah entahlah' gumamku.
suasana kini hening tak ada suara dari kami. aku masih dengan tangis kecewaku. bang Azraf dengan kebimbangannya.
"ya udah besok kita jalan-jalan ya, abis ashar kita pulang?" kata bang Azraf memulai pembicaraannya. Berusaha menghiburku yang menangis. ku hapus air mata, masih dengan perasaan kecewa.
"Nggak apa bang aku ngerti kok, ayo kalau mau pulang sekarang, buat apa kita disini kalau pikiranmu di sana" kataku menepis tangan bang Azraf yang berusaha menyandarkan kepalaku di bahunya. lalu ku ambil jilbab dan ransel.
bang Azraf menahanku, tangannya mendekap.
"lepasin bang, biar Abang nggak kepikiran ibu terus, biar Abang dan ibu bahagia" lanjut ku. tak kuasa air mata kembali membanjir. suamiku memelukku sembari mengusap kepala agar aku sedikit tenang. aku menangis seperti anak kecil yang sedang kecewa karena tak jadi diajak berlibur. beginilah aku ketika sedang menangis.
"Nggak Shaf. Besok aja kita pulang setelah ashar, Abang nggak mau liat kamu nangis, kayak gini. Abang udah janji sama kamu, maafin Abang ya?" rayuan bang Azraf berusaha menghiburku.
aku meronta dan terus menangis dipelukan bang Azraf . kecewa dan marah masih memenuhi hati. tak sanggup lagi rasanya aku tahan sehingga aku memilih diam tak menghiraukan rayuannya.
"Shafa tolonglah,,, Abang ingin buat kamu bahagia, dan juga tak ingin lama lama membuat ibu menangis" kata bang Azraf menjelaskan.
"kalian berdua adalah wanita yang aku sayangi, aku nggak mau melihat kalian berdua menangis, tolonglah aku hanya ingin kalian berdua bahagia meskipun tak sebesar yang diharapkan" kini bang azraf terdengar lirih seperti menahan tangis.
akhirnya aku luluh melihatnya sedih. 'astaghfirullah kenapa aku seperti ini?kalah dengan egoku? suamiku sedang berusaha adil ditengah kebimbangannya. seharusnya aku mendukungnya untuk selalu ada disaat ibunya membutuhkan. maafkan istrimu ini bang' batinku
aku pun mengangguk pelan sambil ku hapus air mata dan mencoba tersenyum. aku berusaha menghargai niat baik suamiku.
"setelah dari sini Abang cari jadwal kapal ya, Abang nggak maksa kamu untuk ikut, nggak apa-apa kamu biar di J*** dulu. abis lebaran ja kalau mau pulang ke S*****" kata bang Asraf seakan akan menawarkan ku pilihan. mungkin dia paham pasti berat bagiku meninggalkan keluargaku.
"nggak bang, aku ikut Abang" kataku
"aku nggak mau abis nikah hidup terpisah" lanjut ku
"ya udah, terus mama sama papa gimana? mbah kung? Mba ibuk?" tanya suamiku
"ya pasti mereka kaget bang kita pulang mendadak ke S*****, tapi ya mau gimana lagi? kita jelasin pelan-pelan nanti, intinya setelah menikah aku g mau hidup terpisah" kataku meyakinkan. dan akhirnya suamiku menyetujuinya.
Memang keinginanku sendiri setelah menikah hidup bersama suami walau tak punya apa-apa sekalipun. aku tidak mau hidup terpisah seperti orangtuaku. Suami istri tapi hidupnya terpisah sejak usiaku 8 tahun sampai sekarang aku berumah tangga. bukan karena cerai tapi mama terpaksa bekerja di negeri orang demi memperjuangkan nasib ketiga anaknya. saat itu juga ada hutang yang melilit kehidupan keluarga kami. mama pulang 2 tahun sekali. kadang 4 tahun sekali dan paling lama 6 tahun sekali. tak bisa aku bayangkan kalau sampai anak anakku merasakan hal yang sama denganku.
Dan papa selalu ke luar kota menjadi supir truk barang. Lalu aku? dirawat Mbah ibuk dan Mbah kung bersama kedua kakak laki-laki ku. terkadang papa seminggu sekali pulang atau bahkan sebulan sekali. sehingga aku merasa lebih dekat dengan papa daripada mama. dari situlah aku berfikir tak ingin hidup terpisah dengan suami karena aku memikirkan nasib anak-anakku kelak. kasih sayang orang tua itu penting. sebab orangtua adalah madrasah pertama bagi anak.
aku pun tersenyum melepas pelukan suami yang sedari tadi memelukku.
"Maafin Abang, Abang ingin buatmu bahagia meski besok kita harus pulang" kata suamiku bernegosiasi. karena janjinya adalah 2 hari 2 malam.
"Abang ingin menepati janji Abang ke kamu supaya kamu juga bahagia tanpa membuat ibu Nangis lebih lama. Abang sayang kalian berdua" lanjutnya seraya kembali memelukku. aku hanya mengangguk menerima perlakuannya berusaha sabar dan ikhlas.
"iya bang maafin aku juga ya bang, aku kebawa emosi" jawabku sambil mengeratkan pelukan.
Beginilah perempuan, harus rela menjadi nomor 2 karena nomor 1 adalah ibu suaminya. Dan setelah menikah perempuan bukan lagi milik orangtuanya sedangkan laki-laki, sampai matipun tetap menjadi milik orangtuanya. karena surga laki-laki ada pada ibunya. aku harus membuat suamiku lebih mencintai dan berbakti kepada ibunya. entah mengapa ada cemburu dihati ini. tapi aku berusaha menepis karena cinta bang Azraf kepada ibunya tidaklah sama dengan cintanya ke padaku.
__ADS_1
Bersambung....