
Sudah sudah jam 9 malam, 24 jam kami berada di kapal.
'Alhamdulillah sebentar lagi nyampe'batinku
tapi tiba tiba ada pemberitahuan dari pihak kapal.
"pemberitahuan kapal Kirana III tujuan S******* - S***** akan dilanjutkan pukul 12.00 karena kondisi perairan teluk S***** sedang surut"
"oalah surut airnya. nanti jam 12 kapalnya jalan lagi" kata bang Azraf menjelaskan.
"ini sudah mau nyampe toh le?" tanya papa penasaran
"nggih pa"
"jam berapa kita nyampe pelabuhan nanti le?"
"sekitar jam 3 subuh pa"
aku dan papa hanya mengangguk paham.
***
1 jam sebelum keluar dari kapal aku sempatkan bersih bersih badan dulu. Badanku sudah bau kecut, karena 2 hari belum mandi, terakhir mandi ketika masih dirumah kemarin. usai mandi entah mengapa rasanya mual sekali perutku dan aku muntah. sudah 2 kali aku muntah Selama perjalanan. pertama ketika beristirahat di pom bensin.
flashback diperjalanan
"jangan jangan wis hamil nduk" tanya mbak husna ketika memijat leherku.
"masak sih mbak lah wong belum telat haid nya kok hamil"
"tanda tanda hamil ya macem macem nduk..."
"ueek...ueek"
"firasatku yakin kamu hamil nduk" mbak husna masih memijat sambil menepuk punggungku
__ADS_1
"doain aja mbak husna hehe, tapi kayaknya aku cuma masuk angin aja kok, la wong tadi selama diperjalanan perutku nggak enak"
"ya wis lah ini cepet diminum teh angetnya biar perutmu enakan. abis ini kita langsung balik ke mobil, udah ditungguin tuh sama mas mu" mbak husna menyodorkan segelas teh hangat.
"iya iya mbak" sambil menerima gelas teh dan meminumnya.
'ah masak beneran kata mbak husna kalau aku hamil?'gumamku ketika mengingat kembali kata kata mbak husna. 'halah mungkin hanya dugaaanku aja kan aku belom telat, nanti deh aku cek kalo telat seminggu' gumamku sambil membasuh wajah di wastafel dan segera keluar dari toilet.
****
tepat jam 3 subuh
kami sudah keluar dari kapal dan kami meminta bantuan porter untuk membawa barang barang kami.
"matur nuwun pak" kata bang Azraf sambil memberikan upah ke porter yang membawakan barang barang kami.
tak lama bang Haidar dan 6 saudara bang Azraf datang menjemput kami. aku sedikit kaget ketika mereka mengajak kami berjalan menuju kendaran kami.
'kenapa mobil pick up? serius nih dijemput pakai pick up' batinku yang melihat barang barang kami di tata di atas mobil pick up. dan rasa penasaranku terjawab ketika melihat 4 motor datang menghampiri kami.
aku memilih naik motor boncengan dengan bang Azraf, papa biar naik pick up saja lebih aman.
ditengah perjalanan kami kehujanan. hujan turun begitu deras hingga membuat kami harus berteduh.
"dingin bang"
"sabar ya, maaf mungkin mas Haidar lupa gak bawa jas hujan"
"iya gapapa kok, yang penting papa gak kehujanan bang" sahutku sembari tersenyum memandang wajah suamiku. pandanganku kemudian beralih ke mobil pick up, terdengar suara papa seperti memanggil bang Azraf. bang Azraf bergegas menghampiri papa yang memang sengaja tidak turun.
entah apa yang dibicarakan papa, namun setelah itu aku melihat bang Azraf memanggil sopir pick up dan memintanya menurunkan printer dan memindahkannya ke depan atas keinginan papa.
'ya Allah papa, masih memikirkan barang barang, padahal sudah tertutup terpal' gumamku ketika paham maksud yang diinginkan papa.
"kenapa bang" tanyaku ketika melihat bang Azraf berlari kearaku.
__ADS_1
"papa mau megang printernya, mau di pangku aja katanya takut kena hujan dibelakang" sahut bang Azraf sambil mengibas ngibaskan bajunya yang kebasahan. aku mengangguk ngangguk saja sebab bingung mau menanggapi apa, toh aku sudah tau sebenarnya.
agak lama kami berteduh sehingga kami memutuskan untuk melanjutkan saja perjalanan, karena matahari pagi sebentar lagi terbit. toh hujan sudah sedikit reda, hanya gerimis saja.
memasuki jalan perkampungan desa dimana suamiku tinggal, jalanan sangat becek akibat hujan. perkampungan ini ada tepat dipinggir sungai besar. pick up terpaksa harus berhenti di ujung gang karena jalanan becek sulit untuk masuk ke dalam. Ku lihat papa turun dari pick up dan berjalan tanpa alas kaki karena licin takut terpleset katanya.
'ya Allah kira kira apa yang ada di benak papa ketika tau anak perempuan satu satunya akan tinggal di kampung pelosok dengan kondisi kampung seperti ini?' batinku ketika melihat papa berjalan tanpa alas kaki. air mata terasa ingin jatuh namun ku tahan. 'aku nggak boleh nangis, aku nggak boleh sedih, harus kuat, aku harus tegar' gumamku dan segera ku alihkan pandangan ke mbak Mirna yang menyambut kedatangan kami. mbak Mirna dan mbak Nura keluar dari dalam rumah. menyambut dengan senyuman kemenangannya.
aku menganggapnya senyum kemenangan sebab sudah berhasil membujuk kami untuk segera pulang kemari. bujukan yang berasalnya dari ibu mertuaku. tapiii .... tunggu sebentar.
'kemana ibuk? bukankah seharusnya ikut menyambut kedatangan kami? kenapa aku tidak melihatnya' batinku
"kemana ibuk?" tanya bang Azraf
"ibuk ke kebun berangkat tadi subuh" jawab mbak Mirna
bang azraf hanya mengangguk pelan.
"mari masuk kedalam pak" mbak Nura bersuara mempersilahkan kami masuk. kami semua masuk kedalam rumah. lalu segera aku ganti pakaianku, dingin sekali rasanya.
'bukankah ini keinginannya, bukankah ini kemauannya, hampir tiap hari membujuk kami menelpon kami menyuruh segera pulang, eh bukannya menyambut tapi malah ditinggal kekebun gitu aja? yang datang kan ada besannya juga, kalau cuma aku dan bang Azraf yang datang sih g apa apa. gak bisa ya sehari libur kerja gitu karena mau ada besan datang. kenapa juga mbak Mirna mbak Nura g melarang ibuk. hfff' batinku ketika mengganti pakaian. perasaan kesal dan kecewa kepada ibu mertuaku mulai timbul lagi. kesan pertama datang sudah bad mood gara gara ibuk tidak ikut menyambut kami padahal sudah jelas jelas ini bukan tamu biasa dan kamipun sudah memberi kabar kalau papa ikut mengantar kami. 'astaghfirullah kenapa aku ini, mau ada ibu atau gak kan ada mbak Mirna sama mbak Nura yang menggantikan menyambut kami' segera kuhempas pikiran dan perasaan kesal di hati, ku percepat ganti pakaian. bergelut dengan rasa kesal gak akan bikin perut keroncongan ku jadi kenyang. sebaiknya aku bantu menyiapkan cemilan dan minuman untuk papa sebelum sarapannya matang.
"istriku kenapa hmmm?" suamiku tiba tiba datang mengejutkan aku.
"eh Abang gak apa apa kok bang, ayok keluar temenin papa" kataku dan segera meninggalkan suamiku dikamar. sepertinya bang Azraf menyadari kekesalanku tadi atau mungkin hanya perasaanku saja.
aku segera menuju dapur menghidangkan teh hangat untuk kami semua. pas sekali cuaca dingin minum teh hangat. aku mendengar seperti ada perbincangan didapur. tapi apa yang sedang mbak Nura dan mbak Mirna bicarakan didapur? aku sedikit mendengarnya, ternyata mereka bingung mau menghidangkan sarapan apa untuk kami. karena blm sempat belanja. aku juga mendengar mbak Nura memberi usul masak ayam kampung karena tinggal ambil di kandang belakang.
lagi lagi aku menghembuskan napas melihat keluarga disini, ya Allah. berulang kali aku beristighfar.
'ya Allah apakah keluarga disini memang gak peduli dengan kedatangan kami? sehingga masalah kecil saja dibingungkan, seharusnya jika mereka benar benar menunggu kedatangan kami dan besannya. perkara bahan makanan sudah mereka siapkan sejak kemarin. kami datang dari jauh masih disuruh menunggu mereka keluar dari kebingungannya? kebingungan memikirkan masalah makanan yang seharusnya sudah matang. seperti pepatah sedia payung sebelum hujan, bukan mencari payung ketika hujan' gumamku kemudian segera membawa nampan berisi minuman teh hangat keluar.
'Astaghfirullah ya Allah sabarkan hamba, ampuni hamba karena bergelut dengan ego hamba sendiri, hamba tidak tau situasi kondisi yang sebenarnya bagaimana disini, tapi sudah seenaknya menilai, yang penting kan nanti ada sarapan yang dihidangkan untuk papa, mereka beda dengan keluargaku yang selalu sedia payung sebelum hujan, aku gak boleh membandingkannya' gumamku lagi lagi menyadarkan diri.
ku letakkan nampan dan menuangkan teh untuk papa. cemilan sisa dikapal ku letakkan dalam toples. hanya itu pengganjal perut tak ada cemilan lain. sambil menunggu sarapan matang.
__ADS_1