Rintis Hidup Di Tanah Rantau

Rintis Hidup Di Tanah Rantau
BAB 2 TERKEJUT


__ADS_3

suara adzan magrib berkumandang. kami masih berada di tengah perjalanan menuju kampung ku.


"bang aku laper, kita istirahat dulu ya cari makan sekalian sholat kan?" rengekku karena sejak tadi siang belum sempat makan. terlalu asyik berwisata di T*m*n l*Ng*t hingga kami melupakan makan siang. hanya makan cemilan untuk mengganjal perut.


"ya udah kita berhenti di depan itu ya? ada warung lalapan pas diseberangnya ada masjid" katanya


"ok ...." jawabku antusias


***


"kenapa kok diem hmmm?" tanya bang Azraf tanpa melihat ke arahku. dia masih lahap menyuap nasi ke mulutnya.


"nasinya Udah abis, tapi ayamnya masih ada" rengekku memberi kode kode karena aku sangat lapar sekali. maklumlah dari siang belum makan nasi.


"cepet amat makannya hahaha istri abang masih laper toh? nasinya mau nambah?" tanyanya sambil meledek. aku mengangguk manja.


"ya udah nasinya nambah seporsi aja buat berdua, jangan banyak banyak ntar kamu tambah gendut lagi kalau kebanyakan makan hahaha" ledek bang Azraf.


"iya iya ih.... aku kan laper bang abisnya dari siang nggak makan nasi"


"kamu sih diajak makan malah entar entar, keasyikan selfie"


"hehehe"


Selesai makan dan Sholat Maghrib kami lanjutkan perjalanan pulang. butuh sekitar 1 jam untuk sampai dirumah.


"Alhamdulillah sudah sampai rumah lagi" kataku sambil menurunkan ransel dan oleh oleh.


"kamu langsung mandi dulu aja, biar Abang yang beresin"


"iya bang"


"jangan lupa sholat Isyak"


"iya iya"


"loh kok udah pulang nduk? katanya 2 hari nginepnya?" tiba tiba papaku keluar dari musholla rumah bertanya.


"a-anu pa nggak jadi 2 hari hehe. semalam aja udah cukup kok" kataku mencari alasan. Belum siap rasanya mengatakan yang sebenarnya sekarang. tanpa banyak bicara lagi aku segera ke kamar mandi untuk membersihkan badan. agar bisa segera tidur. aku lelah sekali rasanya. malam itu sedikit sepi. karena mbahkung dan mbah ibuk sudah istirahat lebih dulu.


"makasih ya bang hari ini aku bahagia" kataku sambil memeluk bang Azraf yang sedang rebahan memainkan ponselnya.


"Alhamdulillah kalau kamu bahagia Abang juga bahagia sayang. dan kamu nggak perlu berterima kasih kayak gitu. justru Abang yang minta maaf karena belum bisa jadi yang kamu harapkan" bang Azraf membalas pelukanku sambil mencium keningku. aku mengangguk sambil mengeratkan pelukannya.


"udah bobok sana biar subuhnya nggak kesiangan"


"iya bang"


****


hari kian berlalu, telpon dari keluarga suamiku selalu saja tak pernah absen. setiap 2 hari sekali selalu menelponi kami. aku sudah kebal mendengar percakapan mereka ibarat sudah mati rasa telingaku. aku sudah ikhlas dan pasrah mengikuti alurnya. hingga tibalah saatnya kini kami memutuskan untuk terus terang ke orang orang rumah tentang kepulangan kami. pertama kami akan minta ijin ke papa ku. karena papa paling bisa mengerti kami. lalu aku akan ijin ke Mbah ibukku, mas masku dan terakhir mamaku. urusan mbahkung biar Mbah ibuk saja yang menjelaskan.


"Paa..." panggilku.


"ada apa nduk"


aku menarik tangan bang azraf keluar agar duduk bersama diruang tamu dengan papa.


"a-anu pa, begini"


"kenapa toh nduk kok kayak bingung gitu ngomongnya, ngomong aja. ada apa hmmm?"


"hmmm akhir bulan ini bang Azraf mau berangkat ke S***** pa" kataku tergagap gagap.


"akhir bulan ini tah?"


aku mengangguk pelan


"pas hari apa nduk?"

__ADS_1


"hariii... anuu pa" aku kebingungan, karena aku tak tau hari apa rencana berangkat.


"kalau itu masih mau liat jadwal kapalnya dulu pa. hari Selasa depan insyaallah ada kapal" akhirnya bang Azraf berbicara.


"kok cepet e? nggak nunggu abis lebaran aja toh?"


kami jelaskan apa adanya, apa yang sebenarnya terjadi di keluarga bang Azraf kepada papa. lama papa perpikir akhirnya mengizinkan. 'huuh akhirnya 'batinku. tapi sepertinya itu hanya ijin untuk bang Azraf.


"paa.. a-anu rencananya aku mau langsung ikut juga pa, minta tolong jenengan bantu ngomong ke mama nanti". aku memberanikan diri untuk bicara. kapan lagi? tak ada waktu lagi. waktunya mepet untuk membahas perijinan ini lagi. karena kami juga akan silaturahmi ke saudara yang lain untuk berpamitan.


papa mengangguk kecil. entah apa maksudnya. mengijinkan atau masih berpikir?. akhirnya aku terdiam tak berani berkata lagi.


walaupun papa paling bisa mengerti. namun sikap wibawanya membuatku sedikit takut. takut menyinggung hatinya atau bahkan membuatnya marah. karena kalau bukan papa siapa lagi yang akan mengerti aku?. mama dan mbahkung sangat keras kepala orangnya. dan sedikit bertentangan denganku kalau ada perdebatan. Mbah ibuk? ada diperingkat 2 setelah papa. namun sikap mbah ibuk sedikit banyak menimbang. kalau begini bagaimana kalau begitu bagaimana, yang ada bukan solusi malah jadi pusing. 'yah itulah keunikan mereka,aku harus sabar menjelaskan perijinan ini, bismillah' batinku


****


Setelah panjang lebar aku merayu Mbah ibuk, memberikannya penjelasan akhirnya Mbah ibuk mengerti dan kami diijinkan.


"buk . . . jenengan yang jelasin ke mbahkung nggih? biar nggak ada salah paham"


"Ya wis nduk, nggak perlu dipikir masalah Mbahkung e, nanti tak bantu ngomong".


'Alhamdulillah'batinku


hari berikutnya kami pergi berpamitan ke rumah saudara papa dan saudara mama. mereka sedikit kaget tapi Alhamdulillah bisa memahami. beberapa dari mereka juga menangis tak kuasa menahan kesedihan karena harus berpisah denganku. tapi wajarlah karena kenangan kami sangat banyak. kalau mas masku, mereka tak ada masalah. hari ini untung saja semua mas masku berkumpul jadi sekalian kuperjelas lagi kepada mereka. hingga pada saat itu telponku berbunyi.


drrrtt drrrtttt


'mama' gumamku


"assalamualaikum ma" kataku


"waalaikum salam, piye nduk?"


"piye gimana toh ma?"


"kenapa nggak ngabari mama? kenapa mendadak nduk? kemarin waktu nganter mama ke bandara, mama pikir kalian masih lama. ini sekarang kok malah ndadak, kenapa toh nak" terdengar seperti marah menahan tangis diseberang sana.


"kok nggak nunggu abis lebaran aja toh nduk...nduk hhhh?"


akhirnya aku menjelaskan panjang lebar merayu mama hingga akhirnya suara mama sedikit mereda.


"mama baru mulai kerja di sini nak nggak bisa kasih pegangan sangu buat sampean, mama juga nggak bisa bayangin hidupmu disana nak. nggak ada satupun keluargamu disana. kamu seorang diri nak. ya anggaplah seorang diri meskipun ada suamimu, mama nggak sanggup kalau sampai ada apa apa nanti" Isak tangis kini terdengar


"insyaallah bang Azraf akan jaga istrinya kok ma. sambung doa terus. doa orangtua cepet dikabulkan Allah. nggak perlu mama bingung ngasih sangu buat aku ma. aku masih ada kok simpanan uang. dan ketika udah disana hidupku kan sudah ditanggung suami. jadi mama jangan terlalu khawatir. yang penting doain kami terus, kalau ada rejeki nanti kami kan bisa pulang jenguk keluarga disini" kataku menjelaskan ke mama.


"iya mama tau nak. tapi tetap aja mama khawatir kamu kenapa kenapa. jauh dari pengawasan mama papa"


"ma... insyaallah aku baik baik saja. intinya jangan putus doa ma, doain kami lancar rejeki biar bisa sering sering pulang kesini"


"iya nak pasti. mama cuma kaget denger kabar dari masmu. kamu nggak ngabari mama jadi mama pikir kamu pulangnya nunggu lebaran"


"maaf ma aku nggak ngabari mama soalnya udah minta tolong papa buat jelasin ke mama"


"ya udah nduk. nanti mama ngomong sama papa. tapi kamu ingat pesen mama ya nak kalau udah disana. jaga diri. kamu nggak punya siapa siapa disana jauh dari keluargamu"


"iya ma aku akan selalu ingat pesan mama"


"mana papamu mama mau bicara"


ku serahkan ponselku ke papa


entah apa yang dibicarakan sepertinya mama menyarankan agar papa ikut mengantarkan ku ke S***** sebelum benar benar dilepas sebagai seorang anak.


"nanti papa juga ikut nganter kamu nduk ke S*****" kata papa sambil meletakkan ponselku di meja ruang tamu kemudian papa menoleh kearahku


"jadi benar kamu langsung mau ikut nduk?" tanya papa


"iya pa, kan kemarin sudah bilang ke papa"

__ADS_1


"papa pikir kamu mau ikut ngantar ke pelabuhan nak bukan ke..." wajah papa berubah jadi lesu. jadi itu sebabnya kemarin papa hanya menggangguk ketika aku ijin. papa salah paham.


"sebenarnya nggak apa apa pa kalau Shafa disini dulu saya nggak masalah, abis lebaran aja kalau mau pulang" bang Azraf bersuara mencoba memberi pilihan kembali.


"ya jangan gitu le... masak suami istri hidup terpisah meskipun cuma beberapa bulan, apa Yo nggak sampe kebelet, apa lagi masih pengantin baru kayak gini, masih kuat kuate" akhirnya mbak husna, iparku membelaku. 'alhamdulillah'batinku memang sebelumnya aku sering curhat ke mbak husna tentang masalah ini. syukur sekali mbak husna ada dipihakku.


"ya nggak apa apa nduk kalo keputusan mu udah bulat mau langsung ikut bojomu, itu terserah kalian berdua, yang menjalani kalian berdua"lanjut mbak husna berbicara kepadaku


"pikirku sampean sudah ngomong sendiri ke mama nduk"kata mas Bakti, mas sulungku.


"mama tau dari mas Bakti nduk, kemarin telpon trus mas mu ya ngomong"kata mbak husna meluruskan


"nggak apa apa mbak, salahku juga nggak ngomong sendiri ke mama. soalnya aku udah titip ke papa buat jelasin ke mama tapi ya sudah lah sekarang udah tau juga kan?"


"ya wis nggak apa apa nduk Le kalau keputusan kalian sudah bulat papa ijinkan. yang penting inget pesen keluarga disini, nanti papa ikut nganter kalian sekalian nitip nitip ke besan" suara papa kini berusaha lebih tegar.


aku paham pasti papa berat melepas putri bungsunya. anak kesayangan nya. dan tak mungkin seorang ayah membiarkan putrinya pergi begitu saja. inilah bentuk kasih sayang ayah kepada anak perempuannya setelah anaknya menikah. mengantarkan kekeluarga barunya ke lingkungan barunya. ibarat kata serah terima anak kepada besannya.


"iya nduk inget pesen pesen keluarga disini, nggak selalu berkeluarga itu manis terus. pasti ya ada paitnya" kata mas Bakti


"inggih pa...mas"


sekarang ijin dari keluarga sudah kukantongi. tapi tiba -tiba ada suara Isak tangis yang mendekat dari dapur.


"nduk nduk .....huuuu huu" suara mbahkung tersedat karena tangisannya. ia sedikit melangkah cepat menghampiri ku.


"nggih Mbah"


"nduk jadi benar nak apa kata Mbah ibukmu?" kata mbahkung sambil memukul mukul punggungku


"sepuntene Mbah, jengengan jangan nangis" kataku seraya mencium tangannya.


"kok tega sampean nak, ninggalin Mbah yang sudah tua" tangisannya makin menjadi jadi.


"sepuntene Mbah" kini aku duduk bersimpuh dikakinya.


"nduk... sampean ini tak rawat mulai kecil nak, minta apa tak turuti, Ya Allah sekarang sudah besar sudah jadi istri orang. Mbah ditinggal. Mbahkung nggak bisa jauh jauh dari cucu kesayangan Mbah,,,huuuu huuu"masih menangis ku dengar.


"mamamu nggak pulang pulang nak. sekarang sampean juga mau pergi"


"mbaaaah.... aku pergi untuk berbakti ke suami Mbah. sambung doa terus semoga kami lancar rejeki biar bisa sering sering jenguk mbah disini"


akhirnya aku beranikan diri berbicara berusaha menenangkan mbahkung yang belum juga reda tangisnya.


"doakan lebaran nanti bisa pulang mbah, doa jenengan insyaallah cepat dikabulkan Allah"


"kok mendadak gini sih nduk?"


"sepuntene nggih Mbah, kasian ibu mertua sendirian disana nggak ada yang bantu kerja, kalau malam kesepian. sebagai seorang anak inilah bentuk bakti suamiku Mbah kepada ibunya, dan juga bentuk baktiku kepada suami adalah ikut kemanapun dia pergi"


Mbah masih diam menangis


"jangan menangis Mbah, doakan terus kami supaya lancar rejeki biar bisa jenguk mbah sesering mungkin"


"Mbah nggak bisa ngomong apa apa lagi nak, Mbah sedih kamu tinggal begini"


"sepuntene Mbah"


"ya sudah kalau itu keputusanmu nak, cuma doa yang bisa Mbah berikan, jaga diri disana"


"itu sudah lebih dari cukup Mbah, insyaallah"


kataku sambil memapah mbahkung duduk bersama diruang tamu.


"yang penting sambung doanya nggih Mbah, nanti kalau kangen bisa sering sering video call, jenengan jangan menangis terus toh Mbah, sepuntene" kataku melanjutkan.


"iya nduk iya"


akhirnya mbahkung mengijinkan kami. setelah panjang lebar menjelaskan. aku jadi merasa bersalah karena membuat mbahkung menangis, membuat papa sedih dan membuat mama kaget. tapi semoga saja lambat Laun semuanya akan berubah menjadi tawa dengan hadirnya cucu.

__ADS_1


'ya Allah berikankah Rahmat Mu kepada keluarga hamba, gantilah kesedihan mereka dengan kabar kebahagiaan' doaku dalam hati.


bersambung...


__ADS_2