
"gimana bang tiketnya udah booking kan ke langganannya Abang?"tanyaku ketika pakcing barang barang di kamar.
"udah Sayang, rencananya nanti malam uang tiket mau Abang transfer" kata bang Azraf yang juga sedang sibuk membantuku.
"owh ya udah kalo gitu"kataku.
"mmm Shafa...."tiba tiba suara bang Azraf sedikit membuatku penasaran.
"kenapa bang?" jawabku, bang Azraf kemudian menghentikan aktivitasnya menata baju dikoper dan menoleh ke arahku.
"kamu...beneran yakin mau ikut Abang?yakin mau hidup di kampung Abang? kalau berubah pikiran nggak apa apa kok, Abang hanya takut kamu bakal....?" tanya bang Azraf dengan suara lirih. akupun menghentikan kesibukan melipat baju dan segera memotong pembicaraan bang Azraf.
"Bang.....kalo Abang khawatir aku seperti itu, doain aku supaya bisa cepat beradaptasi. karena semua nggak ada yang instan bang, butuh proses cepat atau lambat" kataku memandang wajah bang Azraf dalam.
"coba Abang bayangin perempuan yang sedari kecil hidupnya dirawat dilingkungan keluarga dengan penuh kasih sayang sampai ia besar kemudian menikah. lalu harus pergi dan hidup di tempat yang baru keluarga baru. kesan pertama pasti sedih itu wajar, kedua ingin pulang nggak betah itu juga wajar bang kenapa karena perempuan itu tau dimana tempat yang membuatnya nyaman sejak ia dilahirkan" kataku yang sukses membuat bang Azraf tak mampu berkata kata.
"yang menjadi pertanyaan sekarang apakah Abang bisa membuatku nyaman berada dilingkungan yang baru nanti? apalagi lingkungan itu jauh dari pengawasan keluargaku, aku nggak punya siapa siapa selain kamu harapanku. kalau kamu acuh bagaimana nasibku? aku nggak tau apa yang akan terjadi kedepannya bang. aku maupun kamu nggak ada yang bisa jamin. tapi bagaimanapun aku akan terus berusaha yang terbaik menjadi istri dan ibu untuk anak anak kita kelak" kataku, akhirnya ada senyum simpul dari bibirnya.
"makasih Shafa sayang, Abang nggak akan menyia-nyiakan kamu, Abang Janji akan buat kamu bahagia dan juga ibu" kata bang Azraf antusias aku membalas dengan anggukan
"lalu apa yang mau Abang lakuin kalau ..... kalau loh bang kalau ternyata lambat Laun rasa nggak betah itu makin kuat? sedangkan aku nggak mau hidup terpisah dengan abang, itu juga wajar bang manusiawi. aku mikirin anak anak kita kelak, kalau kita hidup terpisah aku nggak mau mereka bernasib sama seperti aku, punya orang tua lengkap tapi ....... hhhaaahh ya Abang tau sendiri lah"
bang Azraf diam dan sekarang wajahnya sedih mendengar semua perkataan ku. sekilas aku lirik wajah suamiku terlihat seperti memikirkan sesuatu.
"nggak perlu Abang jawab sekarang. aku hanya perlu tindakanmu nanti, yang penting bagaimanapun aku akan berusaha yang terbaik. Abang doain aku terus ya sayang" kataku sambil mengelus pipi bang Azraf.
"insyaallah Shafa ku akan Abang lakukan yang terbaik sebagai suami"
"tapi inget loh ya, ketika sang permaisuri Abang nih udah mengambil keputusan meninggalkan keluarganya di J***, janganlah sekali kali membuatnya kecewa karena telah mengambil keputusan itu" kataku dengan nada seperti membaca puisi. dan disambut gelak tawa dari bang Azraf
"apapun akan aku lakukan untukmu permaisuri ku yang cantik"
"mmmmm gombal Abang ih" kataku sambil memicingkan mata suasana kembali hangat kembali.
barang yang kami bawa cukup banyak, ada 3 koper 4 kardus 1 ransel besar dan 1 tas jinjing ukuran sedang. jadi kami putuskan sewa mobil untuk ke pelabuhan, karena kalau harus naik bis terlalu repot naik turun bawa barang barang kami. ini juga saran dari mbahkung. yah meskipun beliau paling histeris ketika tau kabar keberangkatan kami, justru beliau memberikan saran agar diperjalan kami tak repot.
sedangkan Mbah ibuk sibuk menyiapkan bekal didapur untuk diperjalanan kami menuju pelabuhan. supaya irit ongkos katanya. 'paling paling Mbah ibuk masak ayam goreng tepung kesukaanku, tahu asin, lontong dan juga sambal bawang, baunya nggak salah nih' batinku.
membawa bekal begini menjadi kebiasaan dikeluargaku. jangankan perjalanan jauh. ke tempat wisata yang hanya butuh waktu 30 menit saja pasti menyiapkan bekal. bukan karena kami tak mampu membeli makanan di rumah makan. hanya saja menikmati bekal sederhana serasa seperti piknik di taman atau danau. apalagi dimakan ramai ramai. bahkan pernah kami bawa bekal dengan lauk ikan asin juga sambal Pete ketika ke wisata kolam renang. bang Azraf lahap sekali menyantapnya 'indahnya kebersamaan itu semoga aku dan bang Azraf bisa menikmati kebersamaan seperti itu lagi di disini'gumamku.
******
brmmmm brrrmmmmm
__ADS_1
jam 1 siang mobil yang kami sewa datang. kami hanya menyewa mobilnya saja tanpa supir. karena mas Bakti sendiri yang akan menyetir mobilnya. tiket kapal kami jam 9 malam. jadi kami berangkat setelah ashar ke pelabuhan.
barang barang kini sudah ditata didalam bagasi mobil. tinggal menunggu ashar supaya kami bisa sholat dulu sebelum berangkat.
'akhirnya aku benar benar mengambil keputusan itu'batinku ketika membaca dzikir usai sholat ashar. sedih sekali rasanya harus meninggalkan ribuan kenangan dirumah ini. meninggalkan keluarga yang sedari kecil menyayangiku. entah aku bisa betah atau nggak disana.
'Ya Allah hamba telah memutuskan untuk mengikuti langkah kemanapun suami hamba pergi, mudahkanlah hamba dalam menunaikan bakti hamba kepada suami hamba Ya Allah, hamba ikhlas jika ini yang Engkau takdirkan kepada hamba, Semoga jalan ini akan memberikan banyak pelajaran dan hikmah untuk hamba dan keluarga kecil hamba sehingga membuat hamba menjadi manusia yang lebih bersyukur. aamiin'doaku.
*****
ba'da Ashar
semua keluargaku sudah berkumpul diteras rumah, menanti keberangkatan kami. saudara dan tetangga juga berkumpul. tak lama papa memanggilku yang sedang bersiap dikamar.
"ayo nduk, biar nggak kemaleman nyampe pelabuhannya"
"sebentar pa, masih pasang jilbab" jawabku
"ayo sayang" bang Azraf meraih tanganku keluar kamar. dua langkah kemudian kakiku terhenti.
"ada apa Shaf?" tanya bang Azraf menoleh ke arahku sedikit bingung. aku hanya diam.
pandanganku kembali melihat pada bagian setiap bagian di kamarku. detail tiap detailnya yang menyimpan ribuan kenangan. kupandangi lagi kasur dan selimut yang sering aku tiduri. kupandangi dinding yang pernah aku lukis saat kuliah dulu. aku buka kembali lemariku yang berisi baju bajuku yang kini sudah tinggal beberapa saja. kulihat lagi foto wisudaku bersama kedua orangtuaku. kulihat foto kecilku bersama kedua mas masku sambil kuingat kembali memori konyol kami ketika masih bocah dulu. hingga aku senyum senyum sendiri.
melihatku yang makin sesenggukan bang Azraf menghentikan pertanyaannya. dia tak lagi bertanya kenapa ada apa. justru membalas pelukanku, mencium ubun ubunku, mengelus kepalaku lembut.
"Semoga Allah memudahkan seluruh urusanmu, menjadikanmu lebih sabar dan ikhlas. dan semoga Allah menghadiahkan surga untuk keluarga Shafa yang telah ikhlas melepas putri bungsunya demi menunaikan baktinya kepada suami" doa bang Azraf.
"Amiin Ya Rabb....hiks hiks ...." aku jawab masih dengan tangis.
"sayang .... maafkan suamimu ini sudah memisahkan kamu dengan keluargamu, aku tau ini berat buatmu sayang. tapi Abang hanya mengingatkanmu bahwa kodrat istri adalah bersama suami. Shafa.... jika seandainya dulu bukan ayahku yang meninggal, aku tak keberatan tinggal disini atau dimana pun, tapi sekarang ibu adalah ladang pahalaku Shafa, aku ingin ada disampingnya disaat hari tua hingga hari terakhir nya"
aku terdiam
" ini juga pilihan berat bagiku sayang, kalian berdua adalah wanita yang aku cintai, Abang nggak sanggup jauh dari kalian berdua terlalu lama, dengan segala kekurangan yang Abang miliki ijinkan suamimu ini membahagiakan dua wanita yang abang cintai" bang azraf mengusap kepalaku hingga aku tak lagi sesenggukan.
"Shafa... jangan menangis sayang, abang nggak sanggup liat kamu nangis, maafin Abang maafin keluarga Abang. dan kalo memang dihatimu masih ada ragu ikut Abang, berat meninggalkan keluarga, nggak apa apa Shafa abang pulang sendiri aja, kamu sama papa bisa nunggu sampai lebaran" kata bang Azraf.
"nggak bang aku nggak apa apa cuma sedih aja ninggalin kamar ini, nanti nggak ada yang nempatin" kataku melepas pelukan dan segera menghapus air mata.
"aku udah nggak apa apa bang, aku udah nggak nangis lagi, beneran" kataku berusaha tersenyum menyakinkan bang Azraf. segera aku poles dengan bedak lagi wajahku agar tidak terlihat menangis.
"ayo bang kita keluar, udah ditungguin" aku menarik tangan bang Azraf keluar.
__ADS_1
kami jadi pusat perhatian orang orang ketika berjalan menuju teras depan. langsung kami berpamitan menyalami mereka satu persatu.
"mbahibuk sepuntene Mbah, Shofiyah pamit nggih? jaga kesehatan, jangan telat maemnya Mbah ibuk doain Shofiyah nggih Mbah?" kataku sambil memeluk Mbah ibuk erat, air mata kembali membanjir tak tega melihat air mata tangis Mbah ibuk yang sudah mendahului. 'ya Allah maafkan hamba, Mbah ibuk jadi menangis' batinku
"huuuu....huuuu iya nak, yang sabar" Mbah ibuk menangis dipelukanku
"ya Allah putuku ninggal aku" kata Mbah ibuk diiringi tangis yang makin membanjir.
"sampun jenengan Mbah jangan nangis, doain Shofiyah nggih"
"iya nak iya pasti Mbah selalu doain"
"mbahkung Shofiyah pamit Mbah" kataku mencium tangan mbahkung lama, aku tak sanggup melihat wajah mbahkung yang sudah basah dengan air mata.
"baca sholawat terus nak jangan putus" kata mbahkung memberiku nasihat
"insyaallah Mbah, doain nggih mbahkung?"
tangan mbahkung erat memegang tanganku, aku kembali mencium tangannya mbahkung mengelus kepalaku seperti tak rela aku tinggalkan.
"jaga cucu kesayangan Mbah ya nak, Mbah titip sama kamu" wejangan mbahkung kepada bang Azraf.
"insyaallah Mbah, doain kami berdua nggih Mbah"jawab bang Azraf.
kami sudah masuk mobil, jendela aku buka supaya bisa melihat wajah mbahibuk dan mbahkung lagi sebelum mobil di lajukan. tapi tiba tiba ada yang berteriak memanggil namaku dari belakang mobil. suaranya disertai Isak tangis. suara yang tak asing ditelinga ku. dia mbak Nuril keponakan papa sepupuku.
"Ya Allah mbak, kok sampe lari kesini toh"
"aku takut nggak bisa ketemu kamu lagi dek, begitu aku tau kamu berangkat ba'da ashar aku lari dari rumah kesini ingin liat kamu, aku masih nggak nyangka dek kamu mau berangkat sekarang ninggalin aku" mbak Nuril memelukku erat, Isak tangis yang makin menjadi. aku tak tega melihatnya seperti itu. air mata tak bisa aku bendung lagi melihat tangis mbak Nuril diperlukanku.
"sudah toh Mbak insyaallah kita bisa bertemu lagi doain lebaran nanti aku bisa pulang ya" kataku. mbak Nuril sangat menyayangiku, seperti adik kandungnya sendiri. aku mengerti kesedihannya. sangat berat baginya berpisah denganku karena kenangan kami begitu banyak.
aku kembali masuk mobil. mobil dilajukan. dan Isak tangis mereka masih ku dengar dari dalam mobil. aku coba tersenyum melambaikan tangan memberikan tanda bahwa aku pasti baik baik saja nanti di tempat baruku. kupandangi wajah mereka satu persatu.
"Assalamualaikum" pamitku dari dalam mobil
"waalaikum salam" jawabandari keluargaku.
pandanganku masih kepada orang orang di teras depan meskipun kini mobil sudah menjauh dari pekarangan rumah sampai mobil kini berbelok arah. dan aku tak bisa lagi memandang mereka.
'Bismillah' gumamku memejamkan mata.
Bersambung....
__ADS_1