
cuaca sore ini mendung dan hawanya dingin. papa sedang duduk di teras depan bersama suamiku, sedangkan aku berada dikamar baruku melaksanakan sholat ashar.
"Assalamualaikum Warahmatullah, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh" usai salam ku pandangi sekeliling kamar suamiku yang kini sudah menjadi kamarku. setiap detailnya tak luput dari pandangan. lama aku mencermati setiap jengkalnya. hingga perasaan aneh memenuhi hati dan pikiranku. entah perasaan apa yang aku rasakan kini sesaat melihat sekeliling kamar.
'sekarang aku ada disini, benar benar ada didalam rumah suamiku, jauh dari keluargaku sendiri, menjadi pendatang, dan cerita yang sebenarnya akan dimulai' batinku.
pemandangan kamar yang sangat berbeda jauh dengan kamarku dirumah. aku lihat ranjang yang masih baru, kipas angin yang juga masih baru. sepertinya ini hadiah pernikahan dari keluarga bang Azraf.
'ya Allah baik sekali keluarga suamiku ini sampai sampai ranjangnya saja diganti yg baru, kipas anginpun mereka membelikan yang mahal, sementara kipas anginku saja dirumah seharga 60ribuan' batinku. ku alihkan pandangan ke arah barang barang masih berserakan karena baru saja aku keluarkan dari dalam koper. aku bingung bagaimana menyimpan baju bajuku ini tidak ada lemari lagi dikamar suamiku selain lemari butut dan reot. sepertinya lemari itu sudah berusia belasan tahun karena bagian belakangnya saja sudah habis dimakan rayap. tapi masih bisa dipakai kalau saja bagian belakangnya di tutup triplek atau bahkan ditutup kain untuk sementara.
'tak apalah yang penting bisa untuk menyimpan bajuku, kapan kapan aku akan membelikan yang lebih layak kalau aku sudah mendapat gaji dari mengajar'batinku. lama sekali aku memandari lemari itu sampai akhirnya pandanganku beralih ke bawah lemari tepat pada pengaduk nasi yg terbuat dari bambu. itu adalah buatan tangan mbah ibuk. ya Allah tak kuasa rasanya aku mengingat kembali momen keberangkatan kemarin. ingin rasanya aku marah namun tak bisa. air mata tiba tiba membanjir melihat pengaduk nasi buatan Mbah ibuk. ya Allah sekarang Mbah ibuk sendirian di rumah. nggak ada yang bantuin masak maupun bersih bersih karna Mbah ibuk cuma punya 1 anak perempuan yaitu mamaku. tapi mama merantau dan Mbah ibuk hanya punya 2 cucu perempuan, aku dan Rosella. Rosella masih 1 tahun dan aku yang selama ini tinggal dengan Mbah ibuk. 'Ampuni hamba ya Allah karena meninggalkan Mbah ibuk, berikan keselamatan dan kesehatan untuk Mbah ya Allah' doaku dalam hati berharap Mbah ibuk akan terus sehat. ku raih pengaduk nasi lalu memeluknya, tangisku makin pecah seolah olah ingin kembali pulang dan memeluk Mbah ibuk. tega sekali aku meninggalkan Mbah ibuk. tapi apalah daya aku bisa apa.
kudengar langkah kaki mendekatiku dan pelukan hangat kini aku rasakan.
"Shafa sayang.... kenapa kamu menangis?" suamiku sepertinya mendengar suara tangisku meskipun aku berusaha tak mengeluarkan suara tangis. 'apakah dia mendengar suara tangisku?'batinku ketika kutatap wajahnya lalu kupalingkan ke pengaduk nasi di dekapanku.
"ini buatan tangan Mbah ibuk" pandanganku masih tetap pada pengaduk nasi sambil terus menangis.
"yang kuat ya sayang, yang sabar, doain terus Mbah ibuk sehat disana" nasehat dari suamiku
"iya, aku cuma kepikiran Mbah, sekarang mbah sendirian nggak ada yang bantuin" jawabku sambil menghapus air mata.
tak ada respon dari bang Azraf. dia hanya semakin memelukku. sampai akhirnya...
"maafin Abang ya? udah ngambil kamu dari keluarga disana, udah bawa kamu kesini, maafin abang" bang Azraf bersuara lirih, aku tak menanggapinya, aku masih larut dalam kesedihanku "Shafa ... kalau nanti papa pulang, kamu nggak apa apa kok ikut papa. nanti abis lebaran Abang jemput" ucap suamiku seperti sudah memahami sebab tangisku ini.
"nggak bang, aku nggak apa2, Abang doain aku ya biar aku kuat menjalani hari hariku disini"
"aku sedih itu wajar bang, aku butuh penyesuaian" kataku sambil membelai pipinya.
"iya sayang pasti itu, maafin Abang ya?"
aku hanya mengangguk dan tersenyum kecil menanggapi nya
"Abang janji akan bahagiain kamu, Abang nggak akan ngecewain keluarga disana yang udah ngijinin Abang bawa kamu kesini" kata bang Azraf sambil kembali mengeratkan pelukannya.
"aamiin ya rabbal alamiin" jawabku
"sudah jangan berlarut larut nangisnya sayang nanti kelihatan papa jadi mikir yang nggak nggak gimana?!"
__ADS_1
"iya bang, aku udah nggak apa apa kok"
"beneran?"
"iya abaaaaang"
" masak sih?"
"beneran ih nggak percayaan banget sih"
"mmm, coba mana senyumnya Abang mau liat!" segera kuhapus air mata yang melempar senyum ke arah suamiku.
"hiiiiiii..." senyumku sambil menunjukkan barisan gigiku,
bang Azraf pun tertawa melihat tingkahku.
"gemes" bang Azraf mencubit kedua pipiku
"aduh sakit bang" kataku sambil memegang kedua pipiku setelah di cubit suamiku.
"haha maaf sayang, abisnya kamu gemesin sih"
aku merengut tak menghiraukannya.
"hmm" jawabku masih merengut
"ya udah kalo sholatnya udah selesai temenin papa sama ada di teras tuh diluar"
"iya bang"
"oiya nanti malem kita undang bang Zafran kerumahnya"
"oh ya?"
"iyaaa, kita bertiga dengan papa juga"
"undangan apa itu bang?"
"ya biasalah perkenalan keluarga" kata bang Azraf dan berjalan ke teras.
__ADS_1
"owh iya" jawabku singkat.
mukenah kulipat beserta sajadahnya lalu ku letakkan di atas meja. sebelum keluar kamar ku pastikan lagi tak ada air mata di wajahku. "ah tapi rasanya tetap aja kelihatan kalau aku habis nangis. lihat aja mataku sembab" gumamku ketika bercermin. kuambil bedak dan memolesnya diwajahku agar sedikit tertutup sembabnya.
*DITERAS
kulihat papa menikmati pemandangan yang masih pertama kali dilihatnya. senyum senyum tipis di bibirnya bisa ku lihat dari balik pintu. melihat senyumnya aku rasa aku nggak boleh sedih. ku hampiri papa yang duduk lesehan sambil berselonjor di sana.
"dingin ya pa, soalnya abis hujan seharian" kataku memulai percakapan.
"iya nduk, papa eling dulu waktu kerja sopir kirim barang ke Kalimantan ke Bali, kadang Yo lewat perkampungan kayak ini sueneng, rasane itu kayak kerja sambil ng-trip, hahaha apa lagi kalau sudah ban bocor di jalanan kampung, mau gak mau ya harus bermalam sambil betulin bannya" penjelasan papa disertai tawanya.
"hehe... berarti sering lewat ke pelosok-pelosok dulu waktu antar barang?" tanya bang Azraf
"Yo suering le..., dulu aku malah betah apa lagi sampe bermalam di kampung kampung pelosok, udaranya sejuk, rasane tentrem pisan" jawab papa
"berarti papa gak apa apa kalau aku akan tinggal disini?" tanyaku penasaran
"nduk Ono pepatah Baiti Jannati, rumahku adalah surgaku. bahasa kerene iku rumahku adalah istanaku"
aku terdiam sejenak dan kupandangi wajah papa menerka maksud dari papa.
papa kemudian tersenyum melanjutkan penjelasannya, "nduk...dimanapun sampean Karo bojomu tinggal Yo iku istanamu, istana kalian. papa seneng kalau kalian bahagia,wis iku tok" sambil tersenyum ke arahku.
aku dan bang Azraf tersenyum menanggapi penjelasan papa.
"wis...tugas papa Saiki wis rampung, anak wedok papa wis tak serahke ke keluarga barunya"
kamipun termenung, suasana yang tadinya hangat kini seolah olah sunyi.
"le... papa percoyo awakmu" kata papa memandang dalam wajah suamiku dan kemudian beralih memandangku,
"nduk... papa tau awakmu kuat" kata papa sambil tersenyum lembut.
aku menunduk merenungi kata kata papa. air mata rasanya ingin menetes tapi sekuat tenaga kutahan. 'aku harus kuat, karna papa sudah percaya kalau aku kuat' batinku .
"doakan kami ya pa"
" Yo.. Yo nduk" papa mengangguk senyum sembari menghela napas, posisi duduknya diubahnya menjadi bersandar. ku lihat tatapannya seperti sedang memikirkan sesuatu. aku tau didalam tatapannya ada aku yang ia pikirkan saat ini.
__ADS_1
kualihkan pandangan ke wajah bang Azraf, dia hanya tersenyum dan menggenggam tanganku, seolah olah memberikan aku kekuatan agar aku bisa melewati keseharianku nanti disini. aku balas senyumannya dan ku anggukan kepala memberikannya isyarat bahwa aku akan berusaha melewati hari hari disini dengan sabar dan tabah.
bersambung.....