
bab-1
Assalamualaikum ... salam kenal sebelum mulai membaca.
Tidak ada bedanya dalam hari-hari yang aku lalui. Setiap hari masuk kerja pukul delapan pagi dan akan selesai pada pukul sembilan malam. Yah, beginilah kehidupan seorang pelayan toko. Waktu yang aku miliki habis, tersita untuk menjaring calon pembeli.
Biasanya malam Minggu adalah malam istimewa bagi kalangan remaja. Tetapi tidak bagiku. Pulang kerja badan capek, penat ingin segera beristirahat. Tempat paling nyaman adalah kamarku, berteman bantal guling dan benda kesayangan. Mini compo yang aku beli dengan susah-payah menyisihkan uang gaji.
Entah mengapa, aku jadi suka mendengarkan siaran radio. Bahkan setiap malam selalu menantikannya. sebuah acara musik pelepas lelah yang aku sendiri tidak tahu dimana posisinya. Penyiar itu hanya menyebutkan nama sebuah kota. Kota Jakarta yang hanya bisa aku bayangkan dalam hayalan.
Lagu yang diputar pun sesuai permintaan pendengar yang dipesan melalui kartu pos. Dalam kartu itu seseorang bisa menuliskan pesanan lagu, ataupun mengirim salam untuk teman maupun seseorang yang spesial. Abang penyiar yang ramah dan bersuara cukup enak didengar itu begitu sabar membacakan satu demi satu kartu yang telah masuk.
__ADS_1
Kadang aku merasa aneh sendiri, hanya mendengarkan suaranya saja bisa kesengsem, membayangkan seperti apa wajahnya, seperti apa postur tubuhnya dan rela menahan lapar, hanya karena tidak ingin ketinggalan acara yang dibawakan selama kurang lebih sembilan puluh menit itu.
"Selamat malam, selamat bergabung kembali bersama saya Gery, yang selalu siap menemani istirahat malam anda dimana pun anda berada, untuk mengawali perjumpaan kita malam ini, akan saya persembahkan sebuah lagu dari seorang penyanyi legendaris kesayangan kita bersama. Inilah dia Broery Marantika dengan judul lagu Rindu Terlarang ...." begitulah dialog yang diucapkan sebagai awal pembuka siaran.
Selama lagu itu diputar dan mengalun syahdu di dalam kamar, aku pun terlena masuk kedalam suasana. Membayangkan rinduku padanya yang terhalang jarak dan penuh misteri. Memikirkan betapa sakitnya, membayangkan cintaku yang datang terlambat untuknya, sementara dia sudah memiliki seorang kekasih. Bayangan seperti itu terus mengganggu alam pikiran.
Sebegitu terpesonanya aku dengan si pemilik suara itu, sehingga perasaanku selalu aneh, setiap hari selalu tidak ingin terlewatkan dan memasuki jam siaran seorang Gery menjadi waktu yang sangat aku tunggu.
Setelah setiap malam mendengarkan cara berkirim kartu atensi dan mencatat alamat lengkap, pagi itu aku memborong sepuluh lembar kartu pos berikut perangkonya. Semuanya aku tulis dengan ungkapan yang sama. Berharap salah satunya akan bernasib mujur bisa sampai ke tangan yang aku tuju, Gery.
"Pak, kartu ini akan sampai ke alamat yang dituju butuh waktu berapa lama?" tanyaku pada petugas pos.
__ADS_1
Pegawai itu membaca alamat yang aku tulis. Ia mengerutkan kening kemudian menjawab. "Sekitar tiga hari, dipantau saja siaran radionya, jangan sampai ketinggalan."
Bapak itu tersenyum simpul seperti sedang mentertawakan tingkahku. Meski harus menahan malu, aku tetap membalas senyumnya sebelum berpamitan.
Setelah mengirimkan lembaran kartu itu, aku semakin tidak sabar untuk mendengar dibacakan oleh Abang penyiar yang diam-diam sudah merajai hati. Setiap malam aku melakukan aktifitas yang sama, menunggu dan menunggu.
Tiga hari sudah berlalu, tapi belum ada terdengar namaku disebutkan. Aku masih optimis, mungkin belum sampai, mungkin masih dalam antrian dan masih banyak lagi kemungkinan yang lain. Seminggu, sepuluh hari dan kini hampir dua puluh hari aku tidak melewatkan siaran itu dari awal sampai acara berakhir. Tetapi namaku tidak juga disebutkan dalam kartu ucapan. Apa iya sebanyak itu, sehingga kartu yang aku kirimkan belum juga ditemukan? ucapku dalam hati.
Aku mulai putus asa. Berbagai prasangka kini merusak pikiran. Jangan-jangan tukang pos itu sengaja membatalkan pengiriman, karena tahu kata-kata yang tertulis itu terkesan konyol baginya, atau memang pilih-pilih, penyiar itu akan membacakan kartu ucapan yang sekiranya dia sukai saja.
Sepertinya lagu rindu terlarang itu memang cocok untukku, merasa tidak pantas merindukan seorang Gery yang aku sendiri belum pernah tahu seperti apa orangnya.
__ADS_1