Romansa 90-an

Romansa 90-an
Inikah Cinta?


__ADS_3

Bab 3


Menyaksikan betapa hebohnya para gadis desa di depan sana sungguh membuatku merasa tersisih. Mereka begitu histeris mengerubungi keempat pria dari kota itu. Ada yang minta tanda tangan, ada yang mengajak berfoto, bahkan beberapa diantaranya ada yang tidak punya rasa malu lagi. Merangkul dan memeluk seolah pria itu adalah kekasihnya. Aku, hah! Hanya berdiri terpaku di samping sepeda.


"Ayu! Ke depan sana lho, ikutan yang rame-rame itu," tegur Agus, teman mas Teguh yang akan memandu pendakian kali ini.


"Nggak ah Mas, aku di sini aja," sahutku. Aku menyerah begitu saja.


Apa yang akan aku lakukan jika mendekati kerumunan itu. Tak ada suatu barang pun di tangan sebagai tanda sambutan. Di depan sana seseorang yang memiliki rambut gondrong sebatas leher tampak sibuk membubuhkan coretan pena ke atas kertas.


Seharusnya aku juga membawa buku diary, mungkin benda itu bisa menjadi alasan untuk mendekat ke sana. Sayang, aku melupakannya begitu saja. Siapa sangka situasinya akan serumit itu.


Mas Agus tampak sibuk mempersiapkan barang bawaan. Sesekali terlihat sedang berbincang dengan salah satu dari kelompok itu.


Lama berdiri membuat kakiku terasa pegal. Aku memilih duduk di atas boncengan sepeda. Ada desir kecewa dalam hati. Rasa bahagia yang hinggap kemarin sirna entah kemana. Ternyata aku tidak sendiri. Begitu banyak gadis lain yang mengidolakan orang kota itu. Lagi pula, di antara mereka itu, entah yang mana sosok penyiar yang telah mencuri hatiku.


Benar kan? Ini hanyalah perasaan sepihak. Untuk apa aku mempertaruhkan perasaan pada orang yang entah. Mengapa aku harus merana sedangkan penyebabnya saja entah siapa.


Benar kata mas Teguh, aku itu hanya terbawa perasaan saat mendengarkan suaranya. Aku salah satu gadis bodoh yang jatuh hati pada sosok hayalan.


"Ayu! Kesini sebentar!" suara teriakan mas Agus membuat lamunanku buyar.


Lelaki yang memiliki postur tak seberapa tinggi itu melambaikan tangan, memberi isyarat agar aku mendekat. Entah mengapa, tulang kakiku mendadak gemetar dan lemas. Degup jantung pun mendadak tidak beraturan. Jangan-jangan ini akibat rasa lapar. Aku lupa mengisi perut saat berangkat tadi. Ya Tuhan, pingsannya nanti dulu, biarkan aku melangkah ke depan sana barang sebentar.

__ADS_1


Seumur hidup baru kali ini aku merasakan sensasi aneh. Kombinasi antara senang, malu, dan entah apa lagi. Dengan tekad yang mulai surut, aku menunduk sambil mengayunkan langkah.


"Sini, lama banget sih jalannya, kayak orang seminggu nggak ketemu makan aja," gerutu mas Agus seraya menarik tanganku. Lelaki pemilik bola mata hitam itu berdecak kesal.


"Ada apa to, Mas?" tanyaku gugup. Rasanya wajahku memanas.


"Heleh, pura-pura nanya, padahal seneng, kan?" sahutnya mengejekku. Aku semakin tertunduk malu. Tak berani lagi menengadah untuk melihat sekeliling. Hingga terdengar seseorang di depanku berdehem.


"Halo," orang itu menyapaku dengan suara lembut. Seketika detak jantungku semakin kencang.


"H halo juga," sahutku nyaris tak terdengar. Entah nyelip di mana pita suaraku.


"Liat orangnya, Yu! Nunduk aja terus," protes mas Agus. Lelaki itu mengangkat kepalaku menggunakan kedua tangannya hingga wajahku benar-benar menengadah. Huh, rasanya aku ingin menghilang saja dari hadapan mereka. Terdengar suara tawa dari mulut orang yang ada di depanku.


"Malu-malu kucing, Mas. Di rumah dia heboh kalau ngomongin penyiar idolanya," sahut mas Agus membuatku semakin ingin kabur. Meski begitu, mata ini sempat mencuri pandang. Mendaratkan sekilas tatapanku pada paras pemilik rambut gondrong. Pemilik rahang yang kokoh serta hidung yang mancung. Bagai ada kilatan yang menyambar tatkala pandang mata kami bertemu. Aku kalah dan kembali menunduk.


"Begitu, ya?" tanya orang itu.


"Buruan kenalan dulu, Yu! Jangan sampai menyesal terus nangis guling-guling nanti," celetuk mas Agus.


"Apaan sih Mas? Malu tau!" sahutku.


Kami berada di antara kerumunan banyak orang. Tentu saja aku sangat merasa malu.

__ADS_1


"Terserah, tapi awas besok-besok kalo ribut, beraninya dibelakang doang." Sahabat mas Teguh itu lantas mengangkat ranselnya. Pertanda dia bersama team akan segera memulai pendakian. Lelaki berambut gondrong itu tersenyum sambil melirik padaku. Duh Gusti, apa aku boleh memeluknya? Sadar Ayu sadaaaaar! Ingat tata krama yang harus kamu jaga, ucapku dalam hati.


"Sampai jumpa lain kali, ya," ucapnya padaku. Detik itu, tatapan mata kami kembali saling beradu singkat. Dan aku, jangankan mengucapkan sepatah kata, yang ada aku hanya bisa memandangi punggungnya yang tertutup ransel besar.


Aku terus memandangi kepergian mereka hingga tak terlihat lagi. Para gadis yang tadi pun sudah membubarkan diri. Tinggal aku yang masih termenung di bawah pohon mahoni bersama sepeda mini kesayangan.


Matahari semakin terik seolah ingin mengusirku dari tepian jalan. Cahaya terang yang semakin menyengat pori-pori membuatku menggerutu dalam hati. Iya, aku pulang! Masih ditemani si sepeda mini, yang begitu sabar membawaku kembali ke rumah.


"Bu, aku pulang," ucapku saat tiba di halaman.


"Lah! Pulang ya pulang sih, kenapa muka ditekuk begitu?" tegur Mas Teguh. Aku bahkan tidak menyadari keberadaannya di samping rumah.


"Tau ah!" jawabku ketus.


"Hem ... dibilangin ngeyel sih, ya begitu jadinya," ucap Mas teguh mengejekku.


"Ono opo, to? Ada apa kalian pada ribut?" sergah ibu yang baru pulang dari kebun belakang rumah. Tanpa memberi jawaban, aku memilih membantunya membawa kayu bakar ke dapur.


Dari ruang dapur, aku bisa mendengar dengan jelas Mas Teguh menertawakan kelakuanku. Dia menceritakan pada ibu bagaimana kondisiku saat pulang tadi.


"Sudah, sudah, jangan diejek terus, kasihan nanti makin patah hati," cegah ibu.


Nyatanya aku memang patah hati. Umpama kuncup yang gagal mekar, layu sebelum berkembang. Sudah seperti judul sebuah lagu saja. Jatuh cinta pada siapa, patah hati juga karena siapa. Dasar nasib.

__ADS_1


__ADS_2