
Bab-4
Hampa rasa hatiku. Dalam beberapa malam tidak bisa mendengarkan suara sang pujaan hati. Program MPL memang tetap ada, tetapi penyiarnya digantikan oleh orang lain. Tentu saja suasananya menjadi sangat berbeda. Hambar dan pilihan lagunya juga kurang enak didengar.
Aku berbaring menatap langit-langit kamar. Teringat pada seorang yang belum sempat menyebutkan namanya. Si pemilik senyum manis dan rambut gondrong. Ah ... siapa dia. Mengapa pula aku mesti memikirkan dia, sedangkan pria pujaan itu adalah orang lain yang belum jelas. Bodohnya aku, mengapa kemarin tidak menanyakan siapa namanya.
"Ngelamunin apa sih, Nduk?" tanya ibu. Entah sejak kapan wanita bertutur lembut itu duduk di pinggir tempat tidurku. Tentu saja aku keki setengah mati.
"Ibu, kok aku nggak dengar Ibu masuk?" tanyaku. Ibu tersenyum lalu menghela napas.
"Jatuh cinta itu, kadang membuat orang jadi linglung dan sedikit tuli," ujarnya sambil menggoyang-goyangkan kaki. Mendengarnya membuat telinga serta wajahku memanas karena malu. Meski begitu, kami akhirnya tertawa bersama.
"Ih Ibu, siapa juga yang lagi jatuh cinta." Sekuat tenaga aku menyangkal dan menghilangkan rasa salah tingkah. Berpura-pura cuek dan menyibukkan diri dengan memainkan tali ikatan sarung guling. Saat aku melirik kepadanya, ibu justru tersenyum lebar.
"Dulu, waktu pertama ibu bertemu sama bapak kamu juga persis kayak kamu gitu, malu-malu, terbayang wajahnya, bahkan suaranya itu terngiang-ngiang terus di telinga," ujarnya sambil terkekeh.
Bidadari surgaku itu entah sedang menggodaku, atau memang sedang mengenang masa lalu, entahlah. Yang jelas aku terpergok memang sedang mengalami hal yang dia sebutkan. Aku sedang merasakan hati yang simpang-siur. Sepertinya sosok pemuda itu berhasil merasuk ke dalam hati.
"Bu," aku menggeser kepala dan meletakkan di atas pangkuan ibu. Tangan yang telah berhiaskan sedikit kerutan itu membelai rambutku perlahan. Sehingga menghadirkan rasa yang teramat yaman.
__ADS_1
"Anak ibu udah gadis, mungkin nggak lama lagi bakal punya menantu." netra sayu itu menerawang jauh.
"Nggak Bu, aku masih kecil, aku nanti-nanti aja cari jodoh kalau Mas Teguh udah punya anak," celetukku hanya ingin membuatnya tersenyum. Sungguh, aku paling tidak suka jika melihat wajah ibu murung. Aku rela menukar apapun yang aku miliki, asalkan ibu jangan bersedih.
"Hus! Yang namanya jodoh itu siapa yang tau, masmu aja masih santai, belum ada tanda mau nikahi anak gadis orang," sergahnya.
"Ya berarti dia juga belum siap, Bu, apa lagi aku, kan?" sahutku.
Ngobrol kesana-kemari ternyata siaran radio pun telah berakhir. Terdengar kabar dari seorang pembaca berita, bahwa cuaca diperkirakan buruk di wilayah Jawa tengah. Penyiar itu mengatakan akan terjadi hujan badai pada malam hari. Peringatan bahaya petir dan juga tanah longsor pun disampaikan. Bahkan bagi pendaki gunung pun dihimbau agar jangan melakukan pendakian dalam beberapa hari ke depan hingga waktu dinyatakan aman.
Duh Gusti, bagaimana ini, kelompok pendaki itu belum turun, bagaimana jika terjadi apa-apa pada mereka. Jika aku memiliki kemampuan berteleportasi, ingin sekali detik ini langsung cling terbang menemui mereka. Wahai keajaiban, bantulah mereka, selamatkan semuanya dari marabahaya.
Badan lesu kepala pusing, karena berita itu semalaman tidur tak tenang. Pagi hari malas bangun, tetapi harus masuk kerja. Tak enak hati sama bos, jika terlalu sering minta izin. Hidup ini ternyata begitu konyol. Pacar bukan, kenalan juga belum, tapi sudah menghawatirkan dirinya sampai susah tidur.
"Yu! Ayu tunggu!" teriakan itu rasanya tidak asing di telinga. Benarkah dia? Kata dalam hatiku. Namun, debaran di dada telah lebih dulu bergemuruh. Bukan karena suara si pemanggil, tetapi ini pasti ada dua kemungkinan.
Ya Tuhan, berilah kabar baik kepadaku, sungguh aku tak sanggup jika ada hal buruk terjadi. Detak jantungku semakin sulit dikendalikan, tatkala mata ini melihat sosok yang turut berdiri di samping Mas Agus. Syukurlah ... mereka sudah kembali, ucapku dalam hati.
"Mas Agus! Syukurlah kalian udah turun," ucapku saat sudah berhadapan dengan pemuda bertubuh ceking itu.
__ADS_1
"Iya, tadi pagi kita semua sampai di posko, katanya mau ada badai, tapi cuaca kelihatan biasa aja," sahutnya sembari memperhatikan keadaan di langit.
Tak kuhiraukan jawaban Agus, aku justru sibuk menata hati. Sulit sekali membuatnya tenang. Seperti maling yang ketahuan dan tak tahu harus lari kemana. Saat berhadapan dengan seorang yang belum saling mengenal itu.
"Yee, malah bengong, nih kenalin, dari kemarin susah amat cuma mau kenalan doang juga," rutuk Mas Agus.
Aku kembali saling berhadapan dengan si lelaki berambut gondrong. Kali ini aku merasakan tatapan matanya sangat menusuk hingga mengaduk-aduk rongga dada. Membuat aliran darah seakan terhenti. Sekujur badan mendadak lesu, lidah pun kembali kelu. Tulang, kamu yang kuat menyangga tubuhku ya, please, jangan membuatku tersungkur dan jatuh ke dalam pelukan lelaki itu.
"Yu! Buset dah! Ini Salamin!" celetuk Mas Agus sembari menarik tanganku.seketika kesadaranku kembali.
"I iya, h hai," ucapku gugup sambil menjabat tangannya. Seperti tersengat ribuan voltase listrik saat jemari kami saling berjabat. Entah sensasi konyol macam apa itu.
"Hai juga, kenalin, namaku Wawan," ucapnya tanpa kendala. Kumis tipis itu begitu mempesona.
"Aku ayu, Kak," jawabku.
"Kamu memang ayu," ucapnya lagi. Aku hanya bisa menunduk, memperhatikan telapak kaki takut melayang karena merasa tersanjung.
Ketika otakku telah bekerja secara normal, aku benar-benar menyadari. Bahwa lelaki itu bukanlah Gery si penyiar. Lantas, bagaimana ini. Mengapa aku menjadi plin-plan begini, pada siapa cintaku berlabuh yang sesungguhnya. Gery, atau Wawan?
__ADS_1
"Kak, jadi yang benar yang mana? Kak Gery itu yang mana orangnya? tanyaku.
Keringat rasanya telah membasahi badan saking groginya. Namun, aku harus mengerahkan keberanian untuk memecahkan misteri itu. Wawan hanya tersenyum menanggapi.