
Bab-5
Wawan hanya tersenyum simpul menanggapi pertanyaanku. Ini menyebalkan. Apakah sesulit itu untuk mengenal sosok seorang penyiar radio. Sombong sekali, ucapku dalam hati.
"Ayu, kamu nggak perlu terlalu penasaran sama orang itu, dan satu lagi, jangan mudah menaruh hati terhadap orang yang hanya kamu kenal lewat suara. Oke, gadis ayu," tutur Wawan padaku. Hal itu membuatku tertunduk malu.
Sebegitu lugunya diri ini, yang dikatakan Wawan itu semuanya benar. Aku gadis kampung yang sedang terpesona oleh suara. Padahal sekalipun belum pernah melihat wajahnya. Lagi pula, Gery itu orang kota. Mana mungkin mau berkenalan sama gadis desa sepertiku. Ya sudahlah ....
"Hei, kenapa malah melamun?" tegur Wawan. Lantas pria itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tas ranselnya.
"Ini kamu yang kirim, kan? Nama pengirimnya Ayu Wulandari, itu ... nama lengkap kamu, bukan?" tanya Wawan. Tatapan matanya itu semakin membuatku dah dig dug tak karuan.
Melihat selembar kartu pos itu membuatku terbakar rasa malu yang teramat sangat. Aku merebut kertas itu dari tangan Wawan.
"Hei! Kenapa diambil? Itu punyaku," sergah Wawan.
"Ini punyaku, Kak. Kenapa bisa ada di tangan Kakak? Udah lama aku nungguin kartu ucapan ini dibacakan, tapi ternyata aku kecewa, ini artinya kartuku sampai di meja penyiar, kan?" jawabku. Wawan hanya tersenyum manis.
"Itu aku temukan di atas meja studio, karena kenal nama alamatnya, maka aku simpan aja, nggak tau kenapa, hatiku penasaran sama pengirimnya," ungkap Wawan memberi penjelasan.
"Ternyata penyiar itu pilih-pilih, kalau orang kampung yang kirim kartu ucapan nggak akan pernah dibacakan. Apa serendah itu orang kampung ini, sampai ...,"
"Hei! Stop. Jangan salah paham dulu, Yu," sergahnya cepat. Padahal aku belum selesai mengeluarkan semua uneg-uneg. Masih terlalu banyak yang ingin aku luapkan dari dalam dada.
__ADS_1
"Ya kan ...!"
Tit tiiiiiiiiiit!
Baru juga akan memberikan bantahan, suara klakson Jeep berwarna army membuatku terkejut. Ya, kendaraan yang menurutku terkesan sangar itu berhenti tepat di samping kami. Kalimat yang akan kuucapkan terputus begitu saja hanya bibir yang masih menganga. Wawan menatapku sayu.
"Woy! Buruan!" teriak salah seorang dari dalam mobil tersebut. Wawan berdecak kesal. Lantas, dia kembali menatapku sendu.
"Yu, dengarkan kataku. Aku lega karena akhirnya bisa menemui kamu. Aku harap, kita bisa bertemu lagi di lain waktu dan bicara panjang lebar. Simpan kartu itu, aku juga menyimpan sisanya yang masih ada. Oke, aku pasti kesini buat menemui kamu," ujarnya seraya pergi.
Wawan terus memandangku sambil berjalan mendekati mobilnya. Begitu pula aku. Entah mengapa, ada rasa yang terbawa olehnya. Sejuta kata yang terpenggal aku telan kembali meski terasa pahit.
Klakson kembali berbunyi diiringi deru mesin yang siap meluncur membawa Wawan pergi. Lambaian tangan itu aku balas dengan suasana hati yang entah. Beberapa menit lamanya, aku masih tertegun bersama selembar kartu pos dan sepeda mini. Hingga lupa ada Mas Agus yang ternyata masih berdiri di belakangku.
"Udah hampir gelap, Yu. Sebaiknya kita pulang," ucap Mas Agus. Aku mengangguk lesu.
"Nggak usah, Mas. Lagian, aku kan bawa sepeda. Kalau boncengan nggak bakal kuat," jawabku. Mas Agus memandangi wajahku seolah sedang menelisik sesuatu.
"Apa kamu suka sama orang itu?" tanya dia. Aku hanya bisa menunduk dan membisu.
"Ingat, Yu. Dia itu orang kota," ucap Mas Agus lagi. Tatapan matanya mengintimidasi seolah memberi peringatan tegas.
"Aku cuma kecewa, kenapa kartu ini nggak dibacakan, padahal sampai ke alamatnya." pungkasku. Ya, itu saja kata yang tepat untuk berdalih. Toh juga hati ini tidak jelas bagaimana rasa yang sesungguhnya. Tak boleh grasa-grusu menyikapi keadaan ini.
__ADS_1
Mas Agus adalah sahabat dekat kakakku. Sejak kecil kami tumbuh dalam lingkungan yang sama. Hanya selisih usia yang membedakan diantara kami. Aku sembilan tahun lebih muda dari mereka. Bagiku, Mas Agus dan Mas Teguh itu adalah saudara laki-lakiku. Tidak aneh jika dia memberikan perhatian, karena itu hal yang wajar perlakuan seorang kakak terhadap adiknya.
"Ya udah sih, nggak usah terlalu dipikirin, pulang sana," pungkasnya.
Aku segera menaiki sepedaku dan meluncur menuju rumah. Sepanjang jalan hanya bisa merenungi nasib. Begini amat rasanya jadi penggemar gaib. Ya memang aneh sih, menyukai seseorang hanya karena mendengar suara. Gimana kalau ternyata kakak penyiar itu sudah bapak-bapak. Ah tapi yang datang itu semuanya tampak masih muda.
Hari-hari aku lalui dengan rasa kegalauan. Sekuat kemampuan mencoba mengalihkan perasaan, agar tidak tenggelam dalam suasana hampa. Bagaimana bisa aku melupakan. Sedangkan setiap hari masih setia mendengarkan siaran radio. Malam menjelang tidur adalah waktu yang syahdu untuk beristirahat sambil mendengarkan alunan lagu serta suara canda tawa kakak penyiar.
Sebuah lagu dari grup band asal kota bogor mengalun indah sebagai pembuka acara malam itu. Nama grupnya adalah Base Jam. Vidio klipnya yang sering tayang di televisi juga sangat aku sukai.
Mungkin aku ... bukan pujangga, yang pandai merangkai kata. Ku'tak selalu kirimkan bunga ungkapkan isi hatiku, hooo ....
Ku'ingin kau tau, isi di hatiku, ku'tak akan lelah jaga hati ini, hingga dunia tak bermentari
Satu yang ku'pinta yakini diriku, hati ini milikmu, semua yang kulakukan untukmu lebih dari sebuah kata cinta padamu
Kurang lebihnya seperti itulah lirik lagu tersebut. Bagi yang sedang dilanda cinta memang sangat menyentuh perasaan. Hati berbunga-bunga dibuatnya.
"Selamat malam, selamat berjumpa kembali bersama saya Gery, yang malam ini ditemani seorang rekan baik hati. Semoga lagu yang kami putarkan tadi dapat menghibur kalian semua." Begitulah suara kakak penyiar itu memulai siarannya.
Mata yang sudah mulai mengantuk seketika dibuat segar. Jantung berdetak tak karuan. Hati dan pikiran terus menebak-nebak. Apakah Wawan itu adalah Gery? Bukankah dia bilang kartu itu dia dapatkan di atas meja siaran, ah ini membingungkan. Mengapa lelaki itu suka mempermainkan perasaan perempuan seperti ini.
Waktu terus bergulir hingga acara musik hiburan malam itu selesai dibawakan. Akhirnya hatiku kembali lesu karena harus berpisah dan menunggu besok malam di waktu yang sama.
__ADS_1
"Selamat beristirahat buat para sahabat pendengar setia MPL di manapun kalian berada, dan teruntuk seseorang yang jauh di sana, semoga malam ini mendengarkan suaraku, satu kata buatmu, jaga diri dan kesehatan." Begitulah kata penutup yang disampaikan.
Bagi aku yang sedang memikirkan dia, tentu saja menganggap kalimat yang terakhir itu untukku. Meski dalam hati juga sadar, bisa saja kalimat itu ditujukan untuk seseorang yang spesial di hatinya. Tentu bukanlah aku. Pada akhirnya, aku harus meredam sendiri peperangan dalam hati ini. Ya, anggap saja pesan indah itu untuk aku, agar tidur malam ini damai dalam mimpi.