
Bab-2
Aku putus asa. Setiap malam mengikuti siaran MPL, tapi tidak satupun kartuku sampai ke meja penyiar. Meski begitu, aku masih setia mendengarkan suara pujaan hati hingga acara yang dibawakan selesai.
Suatu malam, Gery mengumumkan bahwa dua hari lagi dia akan berkunjung ke daerahku. Ternyata dia seorang yang hobi mendaki gunung. Rasa ngantuk yang sudah membuatku malas bergerak mendadak hilang. Entah mengapa, semangatku kembali pulih.
Entah ini bagian dari skenario dari Tuhan, atau hanya sebuah keberuntungan saja. Ada empat gerbang pendakian untuk menuju puncak Merbabu, tapi Bang Gery mengatakan dalam siaran radio malam itu, dia akan memulai pendakian dari gerbang Selo. Itu berdekatan dengan tempat tinggal'ku. Oh senangnya ....
Selama dua hari dalam penantian, rasanya aku bagai orang gila. Lupa makan, malas mandi, setiap hari waktuku habis hanya untuk menghayal. Membayangkan wajahnya, memikirkan hal apa yang akan aku lakukan untuk menyambut saat dia datang nanti.
Begitu pusingnya aku memikirkan, kira-kira benda apa yang cocok sebagai kado atau semacam souvenir yang akan aku berikan padanya. Semua benda mendadak terkesan jelek, hingga aku tidak berhasil mendapatkan apapun yang bisa aku jadikan hadiah. Tiba-tiba terlintas di benakku, mungkin menuliskan puisi cinta, atau kata-kata yang mengarah pada ungkapan perasaan, tapi aku pertimbangkan lagi, betapa tidak tahu malunya aku.
Aku ini hanya gadis desa, berpendidikan rendah, tidak punya apa-apa dan wajah juga tidak ada cantik-cantiknya. Mana mungkin seorang penyiar terkenal seperti Bang Gery akan tertarik denganku. Pasti dia sudah memiliki kekasih sesama orang hebat di tengah kota Jakarta sana.
"Heh! Anak perawan kok sore-sore begini malah bengong, ntar kesambet baru tau rasa!" tegur Mas Teguh.
Dia adalah pemandu wisata sekaligus kakakku satu-satunya. Usianya baru 21tahun, tapi sudah menjalani profesinya selama dua tahun belakangan ini. Semenjak ayah tiada, Mas Teguh yang mengambil alih tugas ayah. Bekerja keras agar bisa mencukupi kebutuhan hidup kami bertiga.
Ayah memberikan nama padaku Ayu Wulandari, dan kakakku Teguh Laksono. Ibuku yang cantik, pandai memasak bertutur lembut tidak pernah marah, ia bernama Sri Sumiarsih. Sementara mendiang ayah bernama Widodo.
"Mas, besok mau ada pendaki dari Jakarta, ya?" tanyaku pada Mas Teguh.
__ADS_1
"Iya, kok kamu bisa tau?" sahutnya.
"Taulah, aku kan dengar dari radio,"
Keseharian Mas Teguh berkebun sayuran. Sebab, tidak setiap hari ada wisatawan yang datang ke desa ini. Ada jalur pendakian lain, dan di desa ini ada beberapa rekan Mas Teguh yang berprofesi sebagai pemandu. Mereka selalu kompak bergilir. Karena itulah, Mas Teguh tidak bertumpu dengan satu bidang pekerjaan saja.
"Besok giliran Joko yang jadi pemandu, bukan aku," ujarnya.
Aku malah asik membayangkan bagaimana paras wajah sang pujaan hati.
"Ayu! Eling kamu! Senyam-senyum kaya orang stres, atau jangan-jangan kamu lagi kesambet," gerutu Mas Teguh.
"Hiiih! Aku ini masih waras, tau!" sahutku.
"Aku mau siap-siap buat menyambut pujaan hati besok," ucapku seraya berlari menuju kamar.
"Bocah edan," makinya. Aku tidak menghiraukan lagi apapun yang Mas Teguh katakan. Biar saja, dia tidak tahu rasanya orang yang lagi jatuh cinta.
Tiba di dalam kamar, tidak ada yang bisa aku lakukan. Aku memilih tidur cepat. Tidak ingin terlambat, besok pagi harus standby di dekat gerbang sana.
*****
__ADS_1
Sebelum subuh aku sudah bangun. Mandi, walau dinginnya air dan udara pagi menusuk sampai ke tulang rasanya.
"Gelap-gelap sudah mandi, memangnya mau pergi kemana to, Nduk?" tanya ibu dari dalam kamarnya. Mungkin dia terbangun karena jeritan saat aku menyiramkan air di badan.
Mau bagaimana lagi, airnya benar-benar dingin, kalau saja bukan acara penting, aku ogah harus berurusan dengan air pada pagi buta seperti ini.
"Mau ketemu idola, Bu," sahutku sembari gemetar menahan hawa dingin.
"Idola itu siapa? Anak mana?" tanya ibu.
"Ada deh, Bu, orangnya ganteng," sahutku.
Kamar kami berdekatan dan hanya terhalang dinding berbahan triplek. Sambil memakai baju bisa menjawab pertanyaan ibu. Mas Teguh kebiasaan tidur di depan tivi. Beralaskan kasur busa kesayangannya.
"Idola-idola Mbah-nya, kenal juga nggak, sok punya idola," timpal Mas Teguh. Ternyata dia juga sudah bangun. Perasaan pas aku lewat tadi masih bersembunyi di dalam selimut.
"Ih! Kenal ya, lihat aja ntar, pasti aku bisa mengenali dirinya," sergahku.
"Pret!" ejek Mas Teguh.
Temaram cahaya di sebelah timur sudah mulai terlihat. Itu artinya sebentar lagi matahari akan segera terbit. Aku segera mengeluarkan sepeda kesayangan dari dalam gudang samping rumah, yang akan aku kendarai menuju gerbang cinta.
__ADS_1
Sejak kemarin aku sudah minta izin cuti kerja, demi ingin menemui pujaan hati.
Sepanjang perjalanan aku bersenandung, menyanyikan lagu bernada bahagia. Tiba di gerbang pendakian, sungguh di luar dugaan, begitu banyak para gadis muda berkumpul, mereka begitu heboh, ada yang membawa kado, rangkaian bunga dan ada juga yang membawa rantang empat susun. Ya Tuhan ... Aku hanya membawa harapan dan hati yang penuh cinta, apa mungkin bisa mendapatkan perhatiannya?