
Di sibaknya beberapa pakaian yang tergantung rapi di lemari. "Sungguh gila aku melihatnya". Dia pindah melihat ke lemari di sebelahnya "aishhh... kenapa semua pakaian ini adalah hasil desain ku sendiri!... wanita ini begitu gila!" Tanpa sadar Min An memaki dirinya sendiri. Tiba-tiba kepalanya terasa pusing.
Dia melihat Kang In yang duduk di tepi ranjang "Apakah kamu menyukai itu?"
Dan Cha Min An yang wajahnya berseri-seri "ya aku sangat menyukainya. Bahkan bila semua pakaian ku adalah hasil karya kak Kim Min An aku tidak keberatan"
"Baiklah lain kali jika Kim Min An mengeluarkan desain baju baru aku akan membelinya untuk mu" membelai kepala Cha Min An.
Cha Min An memeluk Kang In "are you sure brother?"
"Yes" tersenyum
"Thank you so much"
Min An tersadar. Apakah barusan itu memori milik tubuh asli?.. Aishhh jika benar, ternyata begitu sukanya dia sama aku. Dan rasanya sungguh aneh karena aku menempati tubuh orang yang sangat menyukai ku. Sayang banyak deh sama pemilik tubuh ini sebelumnya. Gumamnya.
Tiba-tiba handphone nya berdering. Ada panggilan masuk. Dilihatnya nama yang muncul di layar, Brother. Lalu diangkatnya.
"Min An.. apakah kamu sudah bisa bekerja besok pagi?" .
Mendengar suara tersebut Min An langsung respect, ini Kang In. Gumamnya. "Ya" jawabnya singkat.
"Ok jangan lupa untuk istirahat! Ku tunggu besok kamu di lokasi! Tempatnya di pusat kota H"
"Oh ok. Sampai nanti" Min An mengakhiri panggilan.
"Sungguh gadis tidak berperasaan! Dari dulu tidak berubah!" Kang In menendang-nendang selimutnya karena kesal.
Keesokan harinya Min An berangkat kerja. Dengan riang dia mengendarai mobilnya menuju ke pusat kota H. Sembari mulutnya ngedumel
"Kenapa aku bisa mengetahui semua tata letak rumah Cha Min An ya?.. apakah ini karena memori tetap dari pemilik tubuh ini? Ah, entahlah"
Sesampainya, Min An langsung menghampiri Kang In yang sudah duduk manis di bangku taman.
"Hai" duduk disebelah Kang In
__ADS_1
"A...adik kecil ku sudah datang"
mencubit hidung Min An.
Min An tersenyum. Setelah melalui kehidupan lama ku yang begitu melelahkan akhirnya aku bisa tersenyum lega sekarang. Dan saat berada di dekatnya entah kenapa aku merasa begitu nyaman. Bisiknya dalam hati.
Saat mereka tengah asik bercanda tiba-tiba Min An mendengar pembicaraan dua orang wanita yang melewati mereka.
"Menurut kabar yang beredar adik Kang In itu sangat mengidolakan Kim Min An"
"Padahal menurut berita yang beredar, demi menjatuhkan karir kakaknya, ia memfitnah kakaknya"
"Iya. Bisa-bisanya dia bilang kakaknya itu selingkuh dengan ayahnya sendiri. Tidak masuk akal bukan tuduhannya"
"Untung saja sekarang wanita buruk perangainya itu sudah mati"
"Iya.. kasihan banget adik Kang In itu sudah salah mengidolakan orang"
"Iya" mengangguk.
Mendengar percakapan tersebut Min An mengepalkan kedua tangannya. Saat kedua wanita itu menjauh Min An langsung berdiri.
"Aku mau ke kamar kecil sebentar. Nanti setengah jam lagi kan jadwal buat ngerias kamu" berusaha melepaskan tangan Kang In.
Namun pria itu semakin mempererat genggamannya. "Aku tidak ingin jauh dari mu.." karena Kang In tahu jika wanita kesayangannya itu tengah membohonginya.
Setelah mengamati Kang In yang berakting imut, dari atas kepala hingga ujung kaki, akhirnya Min An memilih untuk duduk kembali. Toh aku bisa tanya ke dia perihal kehidupan ku sebelumnya. Batinnya.
"Apakah rumor yang beredar itu benar?"
"Rumor tentang apa?"
"Kim Min An"
"Aku juga tidak tahu. Tapi ku rasa wanita itu tidak seburuk itu"
__ADS_1
"Maksudmu?"
"Kami dulu teman sepermainan. Dia tomboy dan agak badas. Namun dia adalah seorang yang jujur. Apakah kamu lupa? Jika bukan karena koneksi ku bagaimana kamu bisa bertemu dengan dia, bahkan memiliki semua koleksi miliknya"
Mendengar penjelasan Kang In, sontak Min An tertawa lebar. Ternyata seperti itu aku di matanya. Namun benar, jika bukan karena Kang In, pemilik tubuh ini tidak akan pernah bisa bertemu dengan ku sebelumnya.
"Kenapa kamu tertawa?"
"Tidak... hanya aneh saja kamu mengatai wanita se anggun dia tomboy dan Badas"
"Itu karena dia seorang desainer ternama. Namun di luar lingkup kerja dia adalah preman"
"Bagaimana bisa kamu mengatainya seperti itu" menonjok bahu Kang In.
"Apakah kamu tahu?"
"Why?"
"Dulu dia sering menghajar ku waktu kecil"
"Serius?" Min An tertawa dalam hati.
"Iya. Apakah kamu tahu kenapa dia memukul ku?"
"Tidak" dalam hati, iya aku tahu.
"Karena di suruh kakak ku. Jika ia berhasil memukul, maka kakak ku akan memberinya uang"
Min An tertawa sejadi-jadinya. Ia masih ingat betul momen itu. Dan ternyata Kang In juga masih mengingatnya. Saat itu usia mereka masih sepuluh tahun.
"Kenapa kamu tertawa?"
"Itu konyol bukan?"
"???" Kang In merasa ada yang aneh dengan min An.
__ADS_1
"Seorang Kim Min An memukul mu hanya karena uang. Sungguh kamu tidak lebih berharga dari uang!" Lagi-lagi Min An terkekeh.
"Hey... sekarang aku lebih berharga dari uang! Apakah kamu tahu itu?" Kang In menarik bahu Min An dan mendekatkan mulutnya ke wajah Min An.