
Malam pun tiba, dengan angin yang tak henti-hentinya menari kesan kemari menghembus di setiap ruangan villa sehingga akan menerpa siapa saja yang berada di darah pegunungan itu. Sedangkan di luar hujan tak henti-hentinya turun dari atas langit dengan derasnya semakin lama semakin lebat di sertai dengan petir yang mengkilat. Tapi hal itu tidak berpengaruh untuk keluarga kecil seorang Dinar yang kini sedang duduk santai di ruang TV sambil menghangatkan satu sama lain. Niatnya mala mini Dinar ingin mengajak istrnya untuk ke suatu tempat tapi terurungkan dengan hujan yang begitu lebat sehingga rencana untuk pergi tidak jadi sampai malam pun tiba hujan belum ada tanda-tanda untuk berhenti membuat seorang Dinar menghela nafasnya kasar. Tapi untungnya seorang Syaidha begitu pengertian karena tidak mau membebani sang suami karena keinginannya, Syaidha terus saja memeluk tubuh suaminya itu menyenderkan kepalanya di dada bidang suaminya dan di balas hangat oleh Dinar dengan memeluknya erat sehingga bisa menyalurkan kehangatan untu istrinya, tak lupa juga Dinar sesekali mencium kening dan kedua pipi Syaidha dengan jahilnya membuat sang istri tersenyum karena lucu dengan tingkahnya suaminya itu.
Jangan lupakan makanan yang ada di meja yang sungguh menggugah selera, ada soto ayam, mie ayam beserta makanan panas, pedas dan manis. Hal itu sungguh bisa menemani santainya mereka berdua yang sambil melihat tetesan air hujan yang jatuh dari jendela. Makan ebrdua dengan asyiknya tanpa ada orang yan menggangu atau pun melihatnya karena semuanya mungkin sedang tertidur pulas. Ingat, jika hujan deras di malam hari setelah perut kenyang pasti langkah selanjutnya adalah menghangatkan diri kasur yaitu tidur cantik layaknya seperti pasangan penjaga villa ini yan sudah tidur saling menghangatkan satu sama lain.
Apa kabar dengan Mumtaz? Mungkin sekarang bisa di katakan ‘terasingkan’ atau mungkin ‘terabaikan’ karena kini Uminya lebih banyak menghabiskan waktunya bersama tuan di dalam hatinya itu yaitu Ayah baru untuk Mumtaz. Untung saja ada bi Laras yang selalu menjaga Mumtaz 24 jam, sampai tidur, mandi dan makan pun bi Laraslah yang mengurusnya. Kini posisi Mumtaz terduakan oleh Ayah barunya, karena maklum gimana keadaan mereka saat ini. Yaitu seorang pengantin baru layaknya anak SMA yang baru saja jatuh cinta untuk pertama kalinya.
“Besok pagi kita akan pergi ke suatu tempat yang pasti bakal buat kamu seneng,” ujar Dinar saat mereka asyik menatap rintikan air hujan lewat jendela, membuka pembicaraan yang tadinya hanya ada keheningan di antara mereka berdua.
“Benarkah itu? Kamu mau bawa aku ke suatu tempat yang bakal aku senang, percaya diri sekali ini tuanku yang tersayang,” balas Syaidha dengan langsung membalikkan badannya yang masih nyaman di dalam pelukan sang suami kini Syaidha melepaskannya untuk bisa melihat keseriusan dari wajah dan mata suaminya itu.
“Kok terdengar seperti meledek yah? Apakah istriku ini sedang meragukan ucapan suaminya? Atau sedang mengujinya?”
Dinar menangkupkan kedua telapak tangannya ke pipi Syaidha sambil bertanya dengan sedikit bercanda. Ketika itu Syaidha langsung membalas ucapan suaminya dengan candaan pula, padahal jika di dengar kata itu bukan seperti candaan melainkan sebuah pertanyaan tapi bagi mereka berdua itu adalah candaan untuk bisa menghilangkan kecanggungan di antara mereka berdua, dan ingat satu lagi bahwa begitulah mereka bisa mengekspresikan perasaannya dengan melontarkan pertanyaan yang buat mereka senyum-senyum sendiri.
“Benar sekali suamiku, aku sedang menguji ucapanmu tuanku tersayang. Bisakah anda membuktikannya, supaya aku tidak meledek dan meragukan tuanku lagi.”
“Ouwhh, menantang sekali. Akan tuanmu ini buktikan supaya kepercayaan akan tumbuh di hatimu nyonya Dinar Salim Rusdiantara.”
“Baiklah, aku tunggu pembuktiannya. Jangan mengecewakanku intinya harus bisa lebih special dari yang biasanya.”
“Oke, aku terima tantanganmu Miss Syaidha Syahilla Hisyam. Aku yakin aku bisa dan itu akan membuatmu kagum dan jatuh cinta padaku.” Tangan kekar itu masih setia menangkup pipi putih Syaidha, setelah mengatakan hal itu tiba-tiba Dinar mengedipkan sebelah matanya dan itu langsung membuat Syaidha membalasnya dnegan cubitan ringan di punggung tangan suaminya itu.
“Aaww, isshh sakit tahu! kok kamu jahat sih sama aku?” rajuk Dinar seperti anak kecil sambil mengusap punggung tangan kanannya, tak lupa juga dengan raut wajah yang melas seperti kesakitan padahal kan cubitannya tidak kencang tapi begitulah seorang Dinar yang alaynya minta ampun, yaitu minta perhatian lebih dari pujaan hatinya.
Padahal jika harus mengingat ke masa lalunya seorang Dinar, dia tidak pernah sedikit pun bercanda seperti itu apalagi berkata alay, berbicara pun irit so cool dan dingin seperti es balok. Tapi lihatlah sekarang, dia berubah 90 persen menjadi pria lembut yang romantis.
“Aduh, maaf. Aku tidak bermaksud buat cubit kamu, apa aku terlalu kencang yah nyubitnya?” tanya Syaidha dengan nada bersalah, raut wajahnya pun terlihat merasa bersalah.
__ADS_1
“Apa masih sakit? Sini aku tiupin,” tawar Syaidha yang langsung meniup-niup punggung tangan Dinar. Syaidha tidak tahu bahwa Dinar itu hanya sandiwara untuk menjahili istrinya.
Dinar menatap lekat setiap inci wajah anggunnya istrinya itu, benar-benar cantik! Matanya tak lepas dari setiap penglihatannya, sampai dia tersenyum saat melihat raut wajah khawatirnya Syaidha, wanita ini sangat menggemaskan jika terlihat bersalah seperti itu mungkin Syaidha tak bisa melihat orang lain kesakitan.
“Kau ini lucu, padahal aku hanya becanda tanganku tidak terlalu sakit kok.”
“Isshh, kenapa berbohong?” bukannya menjawab tapi Dinar malah berkicau sendiri saat melihat wajah anggunnya istrinya itu.
“Cantik.”
“Lucu.”
“Dan aku suka semua yang ada pada dirimu.”
Hal itu membuat Syaidha merasa aneh dengan kicauan suaminya itu, bukankah itu tidak nyambung dengan pertanyaannya tadi, tapi satu hal yang harus di cacat oleh semuanya. Syaidha saat ini sedang tersipu malu antara bahagia dan ingin mencubit gemas pipi suaminya itu. Apakah itu tidak berlebihan bukan? Tapi harus berkata apa saat orang yang kita cintai mengatakan sesuatu yang membuat kita tersenyum bahagia?
“Aku angkat telpon dulu,” izin Dinar pada pujaan hatinya itu, padahalkan gak harus izin segala, toh itu hal biasa untuk seorang CEO dan mungkin itu urusan kantor.
Syaidha perlahan memberanikan diri untuk memperhatikan wajah suaminya itu tapi tidak dengan urusan apa yang di bicarakan. Merasa ada yang aneh pada raut wajah suaminya itu, entah apa yang membuatnya merasa kesal dan mendesah kesal yang terakhir aku dengar bahwa tempat yang suamiku pesan sudah siap untuk di pakai mala mini, tapi berhubung malam ini hujan akhirnya Dinar memutuskan untuk menghabiskan waktu berdua hanya di rumah saja sambil melihat rintikan air yang turun sambil di damping makanan yang hangat-hangat.
Setelah merasa kenyang dan lelah karena perjalanan yang jauh, akhirnya Dinar dan Syaidha memutuskan untuk istirahat karena mengingat sudah malam. Dua insan yang baru saja menjadi pengantin baru, dimana cinta yang masih menggelora sambil di riringi kebahagaian karena cinta yang bisa menyatukan mereka berdua, menandakan bahwa sebuah hubungan yang di landasi dengan cinta dan ketulusan satu sama lain begitu terasa indah untuk di lalui.
“Ada apa?” tanya Syaidha penasaran.
“Bulan madu kita kayaknya di undur dulu, mungkin satu atau dua hari. Tadi orang kepercayaanku bilang ada meeting yang tidak bisa di tunda dan di wakilkan, di tambah lagi harus meninjau beberapa pasar yang baru di bangun untuk di realisasikan,” jawab Dinar menjelaskan, terlihat murung saat mengatakan itu semua karena harus meninggalkan istrinya untuk beberapa hari.
“Aku tidak apa-apa Tuanku, jika itu penting maka lebih baik di dahulukan. Aku juga tidak bisa egois karena aku tahu resiko untuk menjadi seorang Nyonya Dinar yang super sibuk, lagian ‘kan bisa hari hari lain, aku tidak memaksa dan tidak akan marah kok,” jelas Syaidha memberikan pengertian kepada suaminya, mungkin suaminya itu takut Syaidha kecewa karena seharusnya mereka menghabskan waktu berdua tapi Dinar sekrang jarus di hadapkan dengan beberapa urusan kantor.
__ADS_1
“Kamu benar-benar istri yang pengertian, aku beruntung banget dapet seorang istri yang bijak dan pengertian kayak kamu. Terima kasih banyak, sayangku.” Dinar langsung menarik Syaidha dalam pelukannya, menandakan bahwa saat ini Dinar sangat bahagia karena memiliki istri yang baik. Sambil memberikan kecupan lama yang begitu hangat sampai menjalar ke seluruh tubuhnya, lalu Syaidha langsung membalas pelukan hangat itu dengan setitik air mata di sudut matanya, terharu dan bahagia.
Lama dalam posisi itu, posisi yang sangat romantis. Tiba-tiba sebuah pertanyaan membuat tubuh Syaidha menegang, berkelut dengan hati dan fikirannya.
“Apakah aku boleh meminta hakku malam ini? jika itu tidak membuatmu keberatan.” Masih dalam posisi Dinar memeluk Syaidha yang kini tubuhnya bergetar setelah mendengar pertanyaan dari suaminya itu. Syaidha terdiam membisu tidak mengeluarkan sedikit kata pun yang ada hanya gemetar dari tubuhnya yang menandakan mungkin Syaidha belum siap.
Setelah merasakan sesuatu, sesaat Dinar paham dengan apa yang di ucapkannya itu. Lalu Dinar meralat perkataannya itu supaya tidak ada kecanggungan di anatara mereka berdua.
“Ma-maaf. Jika kau belum siap, aku tidak akan memaksa. Karena aku tidak mau membuatmu terpaksa untuk melakukannya,” ucap dinar dengan menyesal.
Tidak ada pergerakan dari Syaidha, kata pun tidak ada. Syaidha masih sibuk dengan fkirannya begitu juga dengan batinnya. Memikirkan apa yang barusan ia dengar, tangannya kaku dan berkeringat, beberapa kali Syaidha meremas ujung jilbabnya itu dan juga sambil memejaman matanya.
“Jangan terlalu di fikirkan, aku hanya tidak mau membuatmu terluka. Anggap saja omonganku tadi angin lalu,” ujar Dinar menenangkan supaya Syaidha tidak kaku lagi padanya .
“Ayo, kita tidur! Ini sudah malam, lagian besok aku harus keluar kota pagi-pagi sekali,” ajak Dinar melerai pelukannya lalu menarik tangan Syaidha supaya bisa mengikutinya .
Dalam perjalanan Syaidha termenung memekirkan ucapan suaminya tadi. Dinar akan kelaur kota pagi-pagi sekali untuk bebrapa hari ke depan? Apakah aku salah seperti ini, membiarkan suamiku tersiksa karena aku yang belum siap karena rasa takutku yang belum hilang? Tapi aku tidak boleh egois, aku harus bisa melaksakan kewajibanku sebagai seorang istri yang baik untuknya.
Setelah kami melaksanakan sholat isya berjamaah, dengan mantap tiba-tiba Syaidha membuka pembicaraan yang belum tadi ia jawab.
“A-aku si-siap un-untuk me- melakukan ke-kewajibanku sebagai seorang istri,” ucap Syaidha terbata-bata, masih kaku dan canggung. Syaidha meremas mukenanya kuat-kuat.
“Benarkah itu?”
“I-iya, aku siap.”
Dan akhirnya malam ini adalah malam penyatuan cinta mereka, saksi bisu untuk hubungan mereka saat ini. Cinta yang menggebu dan menggelora kini telah menyatu layaknya warna, ketika warna tersebut menyatu menjadi satu maka terciptalah sebuah pelangi yang indah di angkasa, membentang antara langit dan awan sehingga dapat menghiasi bumi dengan kecerahannya. Tapi tidak hanya sesaat, seperti pelangi yang datang dengan tiba-tiba lalu pergi begitu saja sambil meninggalkan bekas dan kekecewaan pada penglihatannya. Cinta Dinar dan Syaidha murni layaknya susu, manis layaknya madu dan indah layaknya sunset dan harum
__ADS_1
layaknya bunga.