
Kini mereka berdua sudah ada di dalam kamar yang sudah di hias layaknya kamar pengantin baru. Tuan Dinar maupun Umi Syaidha duduk dalam kecanggungan, satu sama lainnya hanya menunduk tanpa suara. Dan dalam kesunyian mereka angakat bicara tapi belum selesai mereka berkata dan tanpa sengaja mereka berucap berbarengan yang membuat kecanggungan pada keduanya.
“Aku mau ….” Blusss, hal itu membuat mereka terdiam sejenak lalu berkata lagi.
“kamu duluan!” titah Dinar pada Syaidha.
“Enggak, kamu duluan!” balas Syaidha. Dan akhirnya mereka saling melempar kata untuk memberikan akses untuk berbicara duluan.
“Baiklah nyonya Salim, kalau begitu aku dulu yang mulai berbicara.” Akhirnya Dinar pun mengalah demi sang istri yang kekeh menyuruhnya berbicara duluan. Tapi Dinar tidak mau membuat istrinya itu gugup dengan keadaan, lebih baik mengalah dari pada keras kepala dan nanti pada akhirnya diem-dieman.
“Aku mau mandi duluan dan habis itu kita makan malam. Sedari siang kamu belum makan apapun iya kan?”
“Dan setelah itu aku mau menjemput Mumtaz dan pengasuhnya,” tambahnya lagi sebelum beranjak pergi ke kamar mandi.
Syaidha hanya mengangguk tak berani menatap mata elang yang kini sudah sah menjadi suaminya itu. Karena hal ini entah kenapa berbeda dari pertama saat Syaidha menikah dengan suaminya dulu. Ingatkah pada status Umi yang sudah pernah menikah? Tapi entah kenapa malam ini rasanya berbeda dari yang dulu mala mini seperti baru yang pertama kalinya bagi Umi, rasa canggung di tambah malu sukses membuat Umi hanya bisa diam tanpa mengeluarkan suara kalau tidak perlu-perlu amat. Mengekori sang suami kemana pun ia melangkah saat acara tadi, hanya bisa tersenyum dan mengganguk di tambah hatinya yang selalu berdebar-debar gak karuan saat di tatap manis oleh Dinar.
Sesaat Dinar menghentikan langkahnya dan langsung berbalik arah menuju dimana Syaidha berdiri, dengan cepat Dinar mencium bibir Syaidha yang sukses membuat Syaidha kaget gak ketulungan. Pasalnya, Syaidha masih belum sadar dari firkirannya yang bergelut dengan hatinya tapi tersadarkan oleh ciuman kilas sang suami, Syaidha langsung membulatkan matanya dan seketika seluruh badannya menjadi dingin dan kaku.
“Hei! Sayang,” ucap Dinar didepan wajah Syaidha sambil melambaikan tangannya, kata sayang yang begitu terdengar merdu di telinga Syaidha karena ini adalah yang pertama kalinya di panggil dengan sebutan ‘sayang’ dari beberapa tahun yang lalu saat sedang bersama mantan suaminya.
Seketika Syaidha pun tersadar dari angan indahnya lalu tersenyum malu saat di tatap penasaran oleh Dinar.
“Sayang, kamu kenapa?” bukannya menjawab tapi Syaidha refleks memegang bibirnya yang tadi di cium oleh suaminya itu.
“Oh soal itu, aku minta maaf. Entah kenapa aku pengen sekali mengecup bibirmu itu, sebenarnya dari saat pertama aku sah menjadi suamimu di masjid itu tapi aku urungkan dan aku tahan karena aku tahu itu tidak mungkin bisa di lakukan di depan semua orang sebelum kita sah, apalagi di masjid,” tutur Dinar menjelaskan perlakuannya yang suskes membuat Syaidha malu.
“I-iya, tidak apa-apa aku hanya kaget saja,” balas Syaidha kaku.
“Ya sudah kalau gitu nyonya Salim, tuanmu ini mempersilahkan anda untuk memakai kamar mandinya, soalnya ini sudah larut malam pakailah air hangat saat mandi biar tidak sakit dan nyonya satu lagi jangan kemana-mana tetap di kamar!” dan lagi, entah kenapa otak Syaidha terlalu lemot untuk mencerna semua ucapan-ucapan tuannya itu, dan ingat satu lagi kata terakhir yang buat Syaidha sendiri menggelengkan kepalanya entah apa yang akan tuannya itu lakukan.
“Kenapa diam saja, apa mau aku mandikan?” tanyanya itu membuat Syaidha terpekik sampai mulutnya membentuk huruf O sempurna yang yakin membuat Dinar akan menciumnya lagi.
Saat Dinar muali mendekati Syaidha, dengan cepat Syaidha berlari menjauhi sang suami tanpa kata. Dan sesampainya di depan pintu kamar mandi Syaidha berhenti dan membalikkan setengah badannya.
“Aku mencintaimu, tuan Dinar yang menyebalkan,” tutur Syaidha dengan senyuman manisnya, kata itu sudah membuat Dinar berbunga-bunga sehingga bertaburan dimana-mana saking bahagianya. Lalu dengan cepat Syaidha masuk kedalam dan menutup pintunya, di dalam dirinya masih setia menyender ke pintu sambil memegang jantungnya yang berdetak begitu kencangnya.
__ADS_1
Dan kalian tahu gimana ekspresi seorang Dinar Salim Rusdiantara saat sang pujaan hati halalnya menyatakan cinta kepadanya? Bukankah yang menyatakan cinta seharusnya laki-laki duluan yang mengucapkannya? Tapi ini berbalik malah sepertinya Dinarlah yang menjadi seorang wanita di sana, mematung dengan senyuman yang berseri-seri setelah mendengar ucapan dari Syaidha. Ingin rasanya aku memeluk dan menciumnya saat ini, dia begitu lucu sehingga sayang jika harus di sia-siakan. Itulah pemikiran yang kini mengisi di otaknya berfantasi memikirkan keromantisan cinta mereka.
Tak butuh waktu lama Syaidha pun langsung keluar setelah menyiapkan air hangat untuk suaminya itu, dengan penampilan seperti biasa tidak seperti perempuan pengnati baru yang biasanya langsung memakai baju pendek atau yang lainnya Syaidha tidur dengan memakai baju berlengan panjang beserta hijabnya, setelah itu Syaidha niatnya ingin meminta izin untuk menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.
Saat Syaidha keluar dari kamar mandi dan menuju walk in closet untuk menggantung gaun pengantinnya setelah itu berjalan menuju tasnya yang berisi make up dan kecantikan, meskipun ini barang bukan Syaidha yang beli karena jujur saja Syaidha jarang me-make up wajahnya tapi mengingat Syaidha sudah menikah dan alat kecantikan semua ini telah di belikan oleh suaminya jadi, terpaksa Syaidha harus bisa membiasakan diri untuk merias dirinya di depan sang suami supaya bisa menyenangkannya dan kalau suami senang kita otomatis akan mendapatkan pahala.
Apa kalian tahu dimana Dinar sekarang? Yah, Dinar sekrang duduk di sofa dengan tenangnya sambil melihat kekasih hahalnya itu di mulai dari Syaidha keluar dari kamar mandi sampai yang terakhir berjalan pelan menuju dirinya, apa ekspresi wajah Dinar sekarang? Bahagia? Pasti, senang? Iya, bisa dikatakan begitu karena ia yang paling beruntung untuk bisa meminang seorang janda yang cantik jelita. Senyumnya tak pernah hilang dan satu lagi yang harus di cacat hati Dinar kini berdetak kencang setiap kali melihat senyum dari sang istri yang kini sedang tersenyum di hadapannyanya itu.
“Maaf, itu aku mau minta izin untuk kebawah menyiapkan makan malam untuk kita,” izin Syaidha sambil menunduk.
“Jangan menunduk terus saat di depanku itu tidak baik karena sekarang aku bukan lagi tuanmu melainkan sudah menjadi suamimu,” titahnya.
Syaidha perlahan mengangkat kepalanya dengan perlahan lalu netra mereka berdua bertemu, dekat jarak mereka saat ini sangat dekat saat Dinar yang mengangkat dagu Syaidha supaya bisa menatapnya dengan dekat. Lalu dibalas dengan senyuman manis Syaidha yang yakin sudah membuat Dinar ikut tersenyum juga menyeimbangi manisnya istrinya itu.
“Lalu, apakah tuan mengizinkannya?” mendengar itu Dinar medelik. Hah, Syaidha menyebutnya dengan kata tuan lagi, ini menyebalkan bagi Dinar. Apa-apaan coba? Apa tidak adakah sebutan kata yang lebih romantis lagi selain kata tuan?
“Apakah tidak ada kata yang lebih romantis lagi selain tuan, sayangku?” tanya Dinar dengan lembut sambil menangkup pipi Syaidha.
“Tidak ada! Emangnya kenapa?”
“Hah! Aku ingin sebutan yang romantis kaya sebutan khusus gitu,” balas Dinar kesal.
“Kau mau sebutan khusus apa?” tanyanya, lalu Syaidha menarik nafasnya.
“Bukankah sebutan Tuan dan Nyonya adalah kata yang langka bukan? Aneh, tapi asal kamu tahu kamu itu tetap tuan aku, tuannya Syaidha Syahilla Hisyam dan tuannya di hatinya,” papar Syaidha yang sukses membuat Dinar tersenyum lebar saat mendengar penjelasan dari istrinya itu.
“Bukankah itu lebih romantis? Karena berbeda dari sebutan yang lainnya,” timpalnya lagi. Yah, Dinar akui itu lebih bagus karena sebutan yang berbeda, sejak kapan seorang Syaidha bisa berkata romanstis seperti itu?
“Kau terbaik Nyonyaku, aku makin tambah cinta karena kata romantismu,” tutur Dinar, dengan cepat Dinar langsung memeluk tubuh mungil istrinya itu.
“Ish Tuan, aku mau ke dapur jangan lama-lama peluknya nanti keburu malam terus gak jadi deh makan malamnya terus kalau nanti sakit gimana?” ujar Syaidha, bukannya membalas pelukannya tapi ini malah berusaha untuk keluar dari dekapan hangat suaminya itu.
“Tetap seperti ini saja, aku ingin berlama-lama memelukmu menyalurkan kehangatan cintaku untukmu dan merasakan harum tubuhmu.” Dinar semakin memperat pelukannya dan akhirnya Syaidha pun membalas pelukan hangat suaminya.
“Oh yah, soal makan malam nanti bi Sari yang akan menngantarkannya ke sini tadi aku sudah menyuruhnya untuk menyiapkan makan malam. Jadi Nyonyanya tuan Dinar gak boleh kemana-mana, tetap stay disini nunggin makanan datang dan satu lagi tungguin aku selesai mandi.”
__ADS_1
“Baiklah, Tuan yang ganteng. Nyonyamu ini akan patuh dengan perintahnya.”
“Yaudah, gih sana mandi dulu keburu airnya dingin dan keburu makannanya datang,” titah Syaidha sambil berusaha meelpas pelukannya.
“Kiss dulu.”
“Hah, gak mau!”
“Yaudah kalau Nyonya tidak mau, biar Tuan saja.”
Dan cup, satu kecupan hangat mendarat di pipi kanan Syaidha. Lalu dengan santainya Dinar berjalan meninggalkan Syaidha yang sedang menahan malu dan gak bisa berkata apa-apa.
Tak menunggu lama, saat Dinar sudah selesai mandi dan sudah rapih lalu menyusul istrinya yang anteng duduk di sofa sambil baca buku yang entah dari mana Syaidha dapatkan. Akhirnya makanan pun datang juga, makanan ringan yang etrsaji membuat Syaidha bertanya-tanya.
“Jangan menatapnya seperti itu, aku sengaja pesan salad dan sandwich untuk menu makan malam kita.”
“Kenapa?” tanya Syaidha.
“Karena tidak baik kalau makan-makanan yang terlalu berat seperti nasi dan lauk pauknya mengingat ini sudah larut malam.” Mengingat larut malam, Syaidha langsung ingat soal Mumtaz anaknya, dimana dia sekarang apakah sudah makan dan apakah sekarang Mumtaz sudah tidur nyenyak? Seperti tahu tentang apa yang sedang Syaidha fikirkan, lalu Dinar angkat bicara untuk member tahu bahwa anak mereka baik-baik saja.
“Tenang saja, Mumtaz dan pengasuhnya aman di rumah kakakku. Jadi jangan khawatir seperti itu, percayalah mereka aku titipkan kepada kakakku dan sekarang mungkin mereka sudah tidur.”
“Ayo kita makan, nanti keburu malam,” ajak Dinar dengan lembut.
Mendengar hal itu hati Syiadha sedikit tenang, setidaknya tahu kabar anaknya. Lihatlah! Pasangan pengantin baru ini terlihat begitu romantis, membuat iri kaum jomblo saat melihatnya. Karena mereka saling menyuapkan makanan, gak hanya itu saja mereka jugabercanda ria sambil tatap-tatapan.
Setelah selesai menghabiskan makan malamnya, akhirnya mereka beruda memutuskan untuk langsung tidur karena ini sudah jam setengah dua pagi, tak hanya itu beberapa jam kebelakang mereka berdiri menyambut tamu yang banyak membuat kaki mereka kini terasa pegal dan satu lagi rasa kantuk yang tidak bisa di tahan.
Sebelum tidur, Dinar mencium kening Syaidha lama, lalu akhirnya mengatakan kata yang paling romatis bagi Syiadha dalam hidupnya.
“Miss Syaidha, aku mencintaimu melebihi diriku sendiri. Biarkan aku yang mengisi semua tentangmu, tentang harimu, senyummu, hatimu danjuga fikiranmu. Karena aku akan memberikan kebahagiaan untukmu selama sisa hidupku, menjadi pasangan yang bahagia selamanya.”
Setelah kata itu terucapkan, Dinar langsung ikut tidur di samping sang istri sambil memeluknya.
“Aku juga mencintaimu Sir, lebih dari segalanya dan aku juga sangat bahagia karena lengkaplah sudah hidupku dengan adanya tuan yang ganteng ini.”
__ADS_1
Mendegar penuturan dari Syaidha yang membuat Dinar tidak bisa berkata apa- apa, hanya bisa tersenyum lalu mengecup tangan Syaidha.
“Ayo kita tidur.” Dinar menarik selimut dan menyelimuti Syaidha dan dirirnya, akhirnya mereka terlelap dengan seiringnya waktu setelah saling tatap menatap, melempar kata-kata dan senyuman sampai mereka tidur berdua saling berpelukan.