
Malam pun tiba, tepat pukul 08.35 wib, dimana rencana tuan Dinar untuk menikahi Umi akan di laksanakan sesuai dengan harapan dan impian sepasang insan yang kini sedang di landa bahagia plus gugup. Yah, tuan Dinar saat ini sedang gugup dan gelisah, takut-takut semuanya tidak berjalan lancar. Setelah melaksanakan sholat maghrib, seharusnya Umi langsung berganti pakaiannya dengan baju pengantin yang sudah di siapkan oleh calonnya itu tapi Umi masih setia duduk di atas sajadah sambil memegang tasbih dengan bibirnya berucap menyebut asma Allah. Tak henti-hentinya Umi menyebut rasa syukur untuk mewakili perasaannya saat ini, bahagia dan terharu dengan apa yang akan sebentar lagi terjadi. Tak terasa air mata Umi mengalir tanpa ada kesakitan yang Umi rasakan di hatinya melainkan hati yang berbunga-bunga saat mengingat sebentar lagi statusnya bukan janda lagi melainkan akan menyandang sebagai seorang istri dari pria tampan yang di kagumi oleh banyak wanita, siapa lagi kalau bukan si tampan tuan Dinar Salim Rusdiantara.
Acara yang sederhana pun sebenetar lagi akan di mulai, tidak banyak orang yang tuan Dinar undang hanya dari pihak keluarganya yang hadir, keluarga besarnya, kerabat tetangga maupun teman-teman dari pengusaha dan yang lainnya. Malam itu begitu bersejarah bagi mereka, dimana malam ini akan menyatukan cinta mereka dalam mahligai pernikahan, menjadikan saksi sejarah cinta mereka dan awal dari kehidupan baru bagi mereka. Hanya sekejap, semunya akan berubah menjadi kebahagiaan yang hanya mereka saja yang tahu, betapa bahagianya mereka saat ini.
Semenjak pulang dari rumah sang Bunda sampai detik ini, tuan Dinar belum melihat calon istrinya itu yang saat ini sudah membuat hatinya sangat merindukannya, rindu dengan senyum manisnya dan suara lembutnya. Rasa tidak sabar kini sudah membuat tuan Dinar ingin segera mempercepat akadnya supaya dengan bebas bisa berada di samping sang pujaan hatinya itu.
“Akhh, rasanya aku tidak sabar untuk melihat betapa cantiknya Syaidha di make up dengan gaun yang sudah aku pilihkan untuknya. Pasti cantik bak bidadari yang ada di surga,” fikirnya sambil membayangkan sosok wanita yang kini sudah menguasai seluruh hatinya.
Di sisi lain, Umi Syaidha sedang di rias oleh seorang desainer handal, mereka berdua adlah teman dari Dinar yang kini menyempatkan kehadirannya di sela-sela kesibukannya, maklum orang sibuk banyak yang memakai jasa mereka. Sungguh menakjubkan! Mereka berdua langsung menganga setelah selesai meng-make up Umi yang terlihat begitu anggun dan cantik. Mereka tak henti-hentinya memuji Umi yang jarang bermake up dan sekalinya bermake up tringg … merubah wajah polos Umi menjadi wanita cantik yang bersinar.
Saat perjalan menuju masjid istiqlal, Umi tidak semobil dengan tuan Dinar. Tuan Dinar lebih awal berangkat di temani oleh teman-temannya yang sudah mengurus semuanya. Setelah semuanya berkumpul, barulah penghulu dan tuan Dinar bersiap-siap gladi bersih supaya pas acaranya tidak ada yang kelupaan.
Semua orang sedang duduk menunggu calon pengantin untuk akad nikahnya, setelah tuan Dinar keluar dari kamarnya dan langsung berjalan menghampiri sang penghulu. Duduk dengan rasa gugup yang menyelimutinya, peluh yang sudah membasahi wajah gantengnya, dengan gemetar perlahan tuan Dinar mulai menjabat tangan penghulu setelah pertanyaan kesiapannya dan di jawab lantang oleh tuan Dinar tanda bahwa ia sudah mantap dan siap untuk memulai ijab qabulnya.
Di seberang sana di balik tirai, Umi sedang duduk dengan hati sama cemasnya seperti tuan Dinar harap-harap kalau Dinar tidak lancar untuk melafadzkan ijab qabulnya. Tak luput dari doa yang Umi ucapkan supaya acara akadnya lancar, keringat dingin yang ada di telapak tangannya sudah berkali-kali Umi hapus dengan tisu dan memilin samping gaunnya untuk menghilangkan rasa cemasnya.
__ADS_1
“Bismillah … aku pasti bisa!” monolog Dinar saat mendengarkan dengan seksama kata yang di ucapkan oleh sang penghulu.
“Saya nikahkan dan saya kawinkan anda dengan ananda Syaidha Syahilla Hisyam bin Widiarto Ramadhan dengan maskawin satu set perhiasan berlian beserta satu unit rumah dan seperangkat alat sholat di bayar tunai,” tutur sang penghulu.
Dengan memantapkan niatnya dan menghilangkan nerfesnya, dengan satu tarikan nafas Dimar langsung menjawab ijab qabul itu dengan lancar.
“Saya terima nikah dan kawinnya ananda Syaidha Syahilla Hisyam bin Widiarto Ramadhan dengan maskawin satu set perhiasan berlian beserta satu unit rumah dan seperangkat alat sholat di bayar tunai!”
“Dimana para saksi? Sah?” Tanya sang penghulu kepada saksi dan semua orang yang ada di situ.
“Alhamdulillahirabbila’lamin ….” Dinar dengan lega langsung mengucapkan syukurnya, sama hal dengan yang lainnya setelah itu pak penghulu membacakan doa dan sedikit menasehati Dinar tentang kewajibannya sebagai seorang pemimpin dan suami serta tentang rumah tangga.
Setelah ijab qabulnya selesai, tirai di buka menampakkan seorang wanita cantik yang kini sedang menunduk antara bahagia dan malu. Lalu ada aba-aba untuk Umi duduk di depan yang kini sudah sah menjadi suaminya, duduk di atas sajadah yang sudah di siapkan untuk pasangan pengantin yang kini sedang berhadapan untuk saling menukar cicinnya. Dengan sekejap, kini status Umi bukanlah seorang janda bearanak satu melainkan seorang istri dari pengusaha kaya, yaitu Dinar Salim Rusdinatara.
Lihatlah! Tuan Dinar tidak sedikitpun memalingkan matanya dari wajah ayu yang kini sudah sah menjadi istri halalnya itu, dengan segurat senyum tanda bahwa hatinya kini sedang berbahagia karena sudah menikahi seorang perempuan yang cantik dan sholeha. Rasa malu terlihat jelas di wajah Umi saat tatapan mata elang tuan Dinar yang tak pernah lepas darinya, apalagi saat saling menukar cincin, salim tanda takjim dan satu lagi saat tuan Dinar hendak mencuim kening Umi. Ughh … rasanya deg-degan sampai jantung pun rasanya ingin copot saking cepatnya jantungnya berdegup. Setelah itu Umi maupun tuan Dinar menghadap ke sang Bunda untuk meminta doanya begitu juga dengan Kakek, Nenek dan ke tiga kakaknya.
__ADS_1
Setelah acaranya selesai, mereka semua memutuskan untuk beranjak dari masjid Istiqlal menuju acara jamuan di rumah baru yang kini sedang berhagia, siapa lagi kalau bukan tuan Dinar yang gantengnnya kaya Lee Min Ho.
Acara yang sederhana tapi sangat bermakna, yang penting sakral dan sah. Itulah yang ada dalam fikiran Umi, padahal Dinar ingin sekali pernikahnnya di gelar dengan acara mewah beserta pesta yang megah yang dapat di hadiri semua orang terutama media. Tapi apalah daya, jika keinginan sang pujaan hati seperti itu tidak mungkin ‘kan Dinar hanya memutuskan sepihak, tentu tidak karerna baginya Syaidha adalah segalanya bagi dirinya. Apapun keputusannya dan keinginanya pasti Dinar akan selalu menurut dan akan memenuhinya.
Malam ini, di tempat yang suci ini. Saksi cinta mereka berdua, yang akan menjadi kenangan dalam hidup mereka. Kini dua insan yang sedang dilanda kebahagiaan telah mengukir sejarah baru dalam hidup mereka masing-masing, sehingga membuat para remaja mengingkan hal yang sama, memimpikan bisa seperti pasangan yang kini sedang berbahagia. menikah tanpa pacaran dan acaranya di tempat suci dan sederhana. Kata mereka jarang ada pasangan seperti tuan Dinar dan Umi Syaidha yang sangat menginspirasi menjadi contoh untuk semua remaja yang akan mengalami yang sama pada saatnya nanti.
Rumah yang sudah menjadi mahar itu kini sudah di rias seindah mungkin tanpa pengetahuan Umi Syaidha. Rumah itu kini sudah banyak orang dari berbagai pihak, teman sekampus, teman kerja dan karyawannya. Banyak hiasan bunga dan makanan sudah tertata rapih, ada lampu warna warni yangsedang berkelap kelip. Ada karpet merah untuk menyambut mereka dari halaman sampai rumah dan masih banyak yang akan memanjakan mata setiap orang yang melihatnya.
Kalian tahu acara seperti apa yang di siapkan oleh seorang Dinar Salim Rusdiantara? Pasti kalian akan bertanya-tanya seperti apa syukuran yang katanya kecil tapi berbeda dengan kenyataannya. Layaknya seperti cerita dalam novel, tadinya hanya ingin yang sederhana tapi nyatanya bisa berubah tanpa sebuah persiapan. Tiba-tiba dengan sekejap yang sederhana itu di sulap menjadi meriah seperti petasan yang hanya sebatang tidak panjang dan tidak lebar tapi setelah di pertemukan dengan api apa yang terjadi? Begitu indah bukan gemercik apa yang ada di angkasa memberikan waarna dan kebahagaian untuk orang yang melihatnya. Seperti itulah yang kini Dinar lakukan, menyulapnya dengan hanya sekejap sehingga membuat siapa saja heran, kagum dan bertanya-tanya.
Begitu spesial kah seorang Syaidha dimata Dinar Salim Rusdiantara? Sehingga ia menyiapkan semuanya hanya dengan sekejap? Begitu sangat beruntung pasangan ini, bisa saling melengkapi dan terlihat begitu sangat mencintai dengan kediamannya. Benar-benar cocok! Yang satu tampan dan yang satunya lagi cantik, mereka begitu amat serasi. Begitulah penuturan dari semua para tamu undangan yang penasaran akan hubungan tentang mereka, yang kagum dengan pasangan yang baru halal ini.
Mereka para tamu undangan bersantai sambil makan dan berbincang-bincang, maklum sahabat dan kebarat yang saling kangen-kangenan. Ada yang ikut serta mengobrol dan berfoto ria dengan pengantin, ada yang hiburan dengan alat music yang telah di sediakan. Ada yang berdiri di tepi kolam sambil menatap lampu dan hiasan yang mengambang di kolam. Ada yang mekan-makan dan ada yang duduk-duduk saja di taman. Indah bukan? Acara pernikahnnya di rumah megah yang telah di hias secantik mungkin, orang lain biasanya di gedung ataupun di tempat-tempat mewah yang lainnya tapi tidak dengan ide dari Dinar yang ingin memberikan sensai baru untuk pernikahnnya. Sungguh luar biasa, semua tamu bisa enjoy dengan acaranya tanpa ada kata bête di dalamnya.
Malam semakin larut dan acara pun semakin usai. Semua orang satu persatu meninggalkan tempat itu sampai menyisakan beberapa bodyguard, satpam, supir, dan pembantu. Dan tak lupa yang kini sedang berbahagia, siapa lagi kalau bukan pasangan yang bikin penasaran tapi baper dengan tingkah kaku mereka.
__ADS_1