
Sejurus cahaya pagi menelusup masuk lewat celah gorden kamar pengantin baru yang kini masih terlelap dalam tidurnya, bertanda bahwa pagi sudah menyambut mereka untuk segera membuka matanya dan mulai beraktivitas seperti biasanya, maklum saja mereka semalam tidur jam tiga pagi jadi sekarang mereka bangun kesiangan. Untung hari ini Dinar sudah menyerahkan urusan kantor pada sahabatnya itu karena kalau tidak pasti sekarang harus sudah bersiap-siap di pagi hari untuk berangkat ke kantor.
Dengan perlahan Syaidha mulai membuka matanya yang padahal masih ngantuk, tapi saat merasakan ada tangan yang melingkar di perutnya membuat Syaidha langsung menatap wajah tampan suaminya. Terlihat begitu damai saat Dinar tidur pulas seperti itu sehingga membuat senyuman manis Syaidha terbit bersamaan dengan matanya yang masih setia menatap sang suami yang kini tidur pulas di sampingnya.
“Kau terlihat sangat tampan suamiku saat sedang tidur seperti ini,” kicau Syiadha, hampir saja melupakan subuhnya yang sebentar lagi berganti menjadi pagi yang cerah.
“Tuanku yang tampan, ayo bangun. Nanti kita kesiangan sholat subuhnya,” tutur Syaidha dengan lembut tapi belum ada sedikitpun pergerakan dari suaminya itu.
Belum nyerah dengan semua usaha yang Syaidha lakukan supaya suaminya itu bisa bangun dengan kesal dan ragu Syaidha menggigit bibir suaminya itu, tak lama Dinar pun terbangun setelah merasa ada yang sakit di bibirnya. Sesaat tatapan mereka bertemu dengan posisi Syaidha yang masih berada di atas tubuh suaminya itu.
“Heum, pagi yang indah seindah matanya ini,” rancau Dinar dengan tersenyum.
“Pagi honey, mimpi apa yah aku semalam? Mendapatkan seorang bidadari mencuimku dan kini ada di atasku?” rancaunya lagi sambil tersenyum.
“Padahal bukan di cium melainkan di gigit tapi entah kenapa Dinar mengatakannya begiitu,” gumam Syaidha.
Saat hendak bangun dari posisi yang membuat Syaidha tak enak hati dan malu, akhirnya Syiadha memutuskan untuk bangun mengingat pagi sentar lagi akan muncul.
“Sstt, jagan banngun! Aku suka dengan posisi ini, please sebentar saja aku hanya ingin mendangi lebih lama lagi wajah istriku yang cantik ini.” Larangnya dengan mengeratkan tangannya di perut Syaidha menahannya agar tidak bangun dan akhirnya tidak aa jarak di anatara mereka bedua.
“Tapi kita harus sholat, nanti keburu pagi.” Dinar masih enggan untuk melepaskan Syaidha yang masih berada di atasnya.
“Please, jangan seperti ini. Aku janji jika kita ada waktu luang terserah tuanku saja kalau ingin menghabiskan waktu untuk kita berdua tapi tidak sekarang,” pinta Syaidha dengan melas.
“Baiklah, ayo kita sholat bersama.” Dengan tersenyum lega,Syaidha dan Dinar bangun berjalan beriringan menuju kamar mandi.
__ADS_1
Setelah melaksanakan sholat berjamaah, Syaidha memutuskan untuk mandi setelah selesai mandi Syaidha langsung ke dapur untuk membantu IRT menyiaplan makanan tapi saat di dapur Syiadha malah di larang untuk mendekati semua peralatan dapur yang membuat dirnya bertanya-tanya.
“Kenapa Syaidha gak boleh bantu kalian menyiapkan sarapan, padahalkan Syaidha juga pengen bantu kalian,” ucapnya sedih, Syaidha kesal dengan para IRT yang melarang dirinya untuk membantu mereka.
“Karena tuan Dinar menuruh kami untu tidak mengizinkan nyonya mendekati peralatan dapur, jadi kami hanya bisa menjalankan perintah saja nyonya,” jawab dari salah satu pembantu yan tak lain adalah bi Sari pembantu lamanya yang sudah Syaidha anggap sebagai kakaknya sendiri.
“Tapi aku ingin ….”
“Sudahlah nyonya, lebih baik nyonya menurut saja dari pada nanti kami yang kena hukumannya,” celetuk dari salah satu pembantu muda yan terlihat iri pada Syaidha. Sehingga membuat Syaidha kaget dengan ucapan salah satu IRT-nya.
“Hah! Hukuman?” kaget Syaidha.
“Iya nyonya, sebaiknya nyonya temani saja tuan Dinar soal masak dan rumah kan ada kami yang menghandlenya,” tutur bi Sari pelan.
Gak mau ambil pusing, dengan jalan santai Syaidha meninggalkan dapur dengan rasa kecewa dan bertanya-tanya, kenapa coba dirinya harus di larang untuk melakukan semua pekerjaan perempuan?
“Tuanku yang tampan, kenapa kau melarang aku untuk membantu mereka menyiapkan makanan, apa lasannya?” tanya Syaidha dengan kesal.
“Karena tuanmu yang tampan ini tidak mau nyonya cantiknya lelah ataupun cape, lagian apakah nyonya Syaidha tidak merindukan anaknya?” hampir saja lupa, penuturan suaminya itu langsung membuatnya ingat bahwa anaknya tidak ada di rumah bersamanya, jujur saja Syaidha juga merindukan suara anaknya itu.
Dengan cengengesan Syaidha bertanya, “Tuanku yang tampan, sekarang dimana Mumtaz aku ingin bertemu dengannya.”
Bukannya menjawab, dengan cepat Dinar menyuruh Syaidha untuk siap-siap.
“Bersiap-siaplah, packing semua barang dan bajumu. Hari ini kita akan pergi untuk honeymoon.”
__ADS_1
“Tapi Mumtaz …?”
“Tentunya bersama Mumtaz dan pengasuhnya,” jawabnya, yang langsung mendapatkan pelukan hangat dari Syaidha.
“Terima kasih.” Hanya kata itu yang kelau dari bibir Syaidha. Setelah itu Syiadha bergegas untuk packing baju dirinya dan suaminya.
Tak butuh waktu lama untuk packing karena bi Sari juga ikut membantu Syaidha karena perintah tuannya itu. Kini mereka berdua bersiap-siap masuk ke dalam mobil, tujuan utamanya kini adalahmencari tempat untu mereka bersua sarapan setelah itu menjemput Mumtaz dan pengasuhnya di rumah kakaknya dan yang terakhir mereka langsung pergi ke bandara untuk cek in.
Rasanya ini seperti mimpi bagi Syaidha, karena bisa merasakan kebahagiaan yang dulu di impi-impikannya kini sudah menjadi kenyataan bukan lagi angan dan kahayalan. Suatu impian semua wanita untuk bisa bahagia dengan pasangannya, menghabiskan waktu bersama di tempat yang indah. Kalian tahu tempat apa yang akan mereka kunjungin untuk honeymoon dan tempat impian Syaidha sejak dulu? Villa. Yah, sebuah villa yang berada di pegunungan lengkap dengan keindahan alam dan kebunnya. Kenapa Syaidha memimpikan sebuah villa? Bukan hotel mewah ataupun tempat yang kini ramai di kunjungi oleh pasangan-pasangan remaja jaman sekarang, misalnya Bali, Paris atau yang lainnya. Begitu mengherankan padahal sang suami orang kaya yang bisa mengajaknya jalan-jalan ke luar negeri tapi tidak dengan Syaidha yang hanya ingin kesederhanaan pada kisah cintanya.
Setelah sampai di tujuan, sebuah villa yang amat besar dengan interior yang mewah pasti sudah menjadi peminat yang banyak di kunjungi, mengingat tempatnya yang berada di dataran tinggi selain itu ada ikan hias dan tanaman bunga yang di buat untuk menghiasi villa ini. Berjalan tidak jauh dari villa ada sebuah danau yang sengaja ayahnya Dinar buat untuk menjadi tempat wisata para penyewa villanya supaya nyaman dan terhibur. Setelah ayahnya tuan Dinar meninggal, tempat itu kini di berikan kepada Dinar karena separuh dari villa itu ada uangnya untuk beberapa hiasan di sana, seperti danau, ikan hias, bunga dan air mancur. Yang kini akan menjadi milik Syaidha juga dan anak-anaknya nanti.
“Kamu suka dengan villanya?” Tanya Dinar saat mereka memasuki perkarangan.
“Aku suka, ini indah layaknya surga,” jawab Syaidha dengan mata binarnya yang tak sedikitpun memalingkan matanya ke siapapun selain keindahan sekekliling villa, mungkin bisa di katakana terhipnotis sampai tak menghiraukan panggilan anaknya.
“Syukur kalau begitu, aku juga ikut bahagia. Aku sudah yakin sih pasti kamu akan suka, secara aku buat villa ini untukku dan istriku nanti untuk menghabiskan masa tuaku bersamanya.”
“Ini adalah salah satu dari hadiahku untukmu, Syaidha istriku. Yang lainnya nanti menyusul setelah kita membuatkan adik untuk Mumtaz.”
Syaidha langsung memukul lengan suaminya itu, untung saja gak ada orang kalau iya mungkin wajahnya akan merah padam menahan malu, memang semalam seharusnya mereka melakukan kewajiban sebagai pengantin baru tepatnya pasangan suami istri tapi dengan penuh pengertian Dinar tidak ingin melakukannya dengan buru-buru, Dinar ingin menghabiskan waktunya terlebih dahulu sampai menunggu kesiapan dari Syaidha dan juga semlaam Dinar yakin kalau Syaidha pasti kelelahan karena setengah malam mereka berdiri menyambut para tamu undangan yang begitu banyaknya.
“Akan aku siapkan kejutan yang selanjutnya tidak bisa terlupakan selama hidupnya yang akan melekat pada hatinya,” fikir Dinar sambil berfikir tentang surprise apa yang akan di berikannya untuk sang istri tercinta.
Hingga sore hari mereka duduk santai di halaman sambil menunggu azan maghrib, jika di lihat mereka seperti pasangan yang lagi kasmaran dan juga seperti keluarga yang bahagia.
__ADS_1
“Ternyata enak yah pacaran setelah menikah, mau ngapain- ngapain juga boleh gak haram malah nambah pahala,” ucap Dinar sambil merangkul istrinya yang sedang menggendong Mumtaz, Syaidha hanya bisa tersenyum sambil menatap sang suami.
Inilah keluarga kecil yang Umi Syaidha impikan, ada sang suami yang sangat mencintainya dan juga sang buah hati sebagai pelengkap kebahagiaan mereka, sambil duduk santai bermain dengan sang anak di taman.