Ruang Dosen

Ruang Dosen
12. Lembur


__ADS_3

Namun luna terpeleset karena menginjak kakinya sendiri.


Hal itu membuat Luna tidak bisa menjaga keseimbangannya, oleng serta terjatuh dan hampir membentur lantai yang begitu keras.


Karena takut akan merasakan sakit, Luna memilih untuk memejamkan matanya serta menghitung mundur dalam hatinya sendiri.


5


4


3


2


1


Luna bersiap dengan rasa sakit yang akan di rasakan oleh seluruh tubuhnya yang akan menghantam lantai.


'Tuhan tolong selamatkan aku.' Pinta Luna dalam hati.


Namun, setelah beberapa detik berlalu. Luna tidak merasakan sakit apa-apa seperti yang ada dalam bayangannya.


Dengan berlahan Luna membuka kedua kelopak matanya, untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Sehingga dia tidak merasakan sakit seperti yang ada dalam bayangannya.


Ketika Luna sudah membuka matanya dengan sempurna dia melihat sang dosen muda nan tampan (Fariz) itu tepat sedang berada di bawah tubuhnya. Fariz menjadi penghalang antara Luna dan juga Lantai rumahnya yang begitu keras.


Melihat wajah rupawan itu tepat ada di depan matanya, Luna mengerjapkan matanya berkali-kali untuk meyakinkan dirinya sendiri.


Luna juga menetralkan detak jantungnya yang sudah tidak bisa ia kontrol lagi. Luna merasa jantungnya berdetak dengan begitu cepat.


Mungkin jantungnya berdetak begitu keras karena malu, atau mungkin karena begitu senang, bisa berada begitu dekat dengan pujaan hatinya.


"Luna!" Fariz menyadarkan Luna dari lamunannya sendiri.


"Hah, Kenapa?" Luna yang masih belum bisa mencerna dengan apa yang terjadi kepadanya, malah bertanya kepada Fariz seperti tidak tahu apa-apa.


"Lu..na kamu berat SE-KA-LI!" Ucap Fariz dengan penekanan di setiap suku kata ucapan 'sekali' yang ia ucapkan.


Fariz mulai kesal dengan Luna yang sepertinya tidak ada niat sedikit pun menjauh darinya, atau beranjak dari atas tubuhnya.


Fariz sebenarnya tidak merasa keberatan sedikit pun Luna berada di atas tubuhnya. Namun hal ini, dapat membuat jantungnya yang berdetak tidak karuan akan bisa di dengar oleh Luna acara jelas dengan jarak sedekat ini.


"Maksudnya pak Faris apa?" Tanya Luna seperti orang bodoh.


" Luna mau sampai kapan kamu di atas tubuh saya?" Tanya Fariz yang tidak bisa berdiri karena Luna.


"Ma...maaf, Pak!" Luna Meminta maaf setelah menyadari bahwa dirinya berada tepat di atas tubuh Fariz.


"Saya tahu kamu suka sekali berada di atas tubuh saya, tapi kamu itu berat!" Ucap Fariz penuh percaya diri sambil mengejek Luna.


Luna lalu mencoba berdiri dengan terburu-buru ketika sadar sedang berada di atas tubuh Fariz. Namun, karena tindakannnya yang tidak berhati-hati, Luna malah kembali terjatuh tepat di atas tubuh Fariz.

__ADS_1


Dengan posisi seperti itu dapat membuat siapapun yang melihatmu akan merasa curiga dengan apa yang mereka berdua lakukan.


"Kalian berdua sedang apa?" Tanya Laras syok melihat pemandangan yang ada di depannya.


Laras yang sudah berdiri tepat di depan pintu rumah Luna dengan membawa kantung berisi makanan untuk mereka, merasa kaget dan juga canggung sendiri.


Luna dan Fariz yang kaget, melihat ke arah Laras secara bersamaan, tanpa merubah posisi mereka berdua.


Karena merasa canggung dengan adegan yang ada di depannya, Laras memilih berbalik, lalu keluar dari rumah Luna.


"Kalau udah selesai bilang ya!, aku nggak lihat apa-apa kok!" Teriak Laras sambil duduk di kursi yang ada di depan rumah Luna.


Luna yang sadar dengan posisinya yang berada tepat diatas Fariz. Dan hal itu membuat Laras salah faham dan berfikir yang tidak-tidak dengan cepat Luna berdiri dengan canggung dan keluar dari rumahnya, untuk mencari Laras.


Luna duduk bersama Laras di kursi yang berada di depan rumahnya. Luna mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi antara ia dan juga dosen muda yang berada dalm rumahnya itu.


"Ras, tadi i..tu... tidak seperti apa yang kamu bayangkan!" Luna ingin mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Namun, dia sendiri bingung harus menjelaskan dari mana.


"Emang aku bayangin apa?" Tanya Laras.


"Nggak tau!" Jawab Luna dengan cepat.


"Tadi i..tu?" Goda Laras pada Luna sambil menarik turunkan alisnya.


Laras tahu sebenarnya apa yang terjadi. Namun, Laras hanya ingin menggoda Luna saja.


"Ta..tadi i...tu, kami tidak sengaja bisa se..perti itu!" Ucap Luna terbaru-bata.


"Itu yang aku ada di atas pak Fariz!" Jelas Luna


" O" Laras mengangguk- anggukkan kepala saja. "Sengaja juga nggak pa-pa kok, Lun.Kaliankan, sama-sama jomblo. Tapi kalau kalian berdua ada niat buat begitu lagi lain kali, jangan nyuruh aku kesini bawain makanan!" Ucap Laras sambil menyerahkan kantung makanan yang ia bawa kepada Luna.


"Tadi itu kami beneran nggak sengaja!" Tegas Luna.


"iya...iya kalian nggak sengaja!" Laras mengalah.


"Tadi itu aku nggak sengaja jatuh, terus di tolongin sama pak Fariz!" Cerita Luna dengan sungguh-sungguh.


Kedua pipi Luna bersemu merah seperti kepiting rebus mengingat kejadian barusan. Luna tidak pernah sedekat itu dengan laki-laki manapun. Hal itu membuat Luna sangat gugup dan juga malu.


"Yakin?" Goda Laras sambil mencolek dagu Luna.


"Yakin" Ucap Luna tegas dan tanpa jeda.


" Jadi itu dosen ngapain ada di rumah kamu lagi malam ini?" Tanya Laras yang tidak tahu ada kepentingan apa Fariz berada di rumah Luna.


"Bantuin aku ngerjain PPT buat sidang skripsi besok pagi!" Jelas Luna.


"Maksudnya gimana?" Tanya Laras bingung.


"Aku dapat jadwal tadi jam 5, besok pagi sidang skripsi!" Ulang Luna.

__ADS_1


"Kok bisa?" Tanya Laras lagi, dengan panik.


"Ya bisa!" Ucap Luna santai.


"Ya ceritain ke aku kenapa bisa, kamu ujian besok pagi?" Tuntut Laras.


"Ceritanya panjang,Ras!" Ucap Luan malas.


Luna malas harus menceritakan secara detail tentang pertemunan dirinya dengan keluarga Fariz tadi siang. Yang bukannya menemukan solusi untuk masalahnya, malah membuat masalah yang ada semakin bertambah rumit dan juga kacau.


"Aku punya waktu yang banyak buat dengerin kamu cerita kok, Lun!" Ucap Laras antusias.


Laras membedakan posisi duduknya menghadap ke arah Luna. Laras bersiap untuk mendengarkan cerita lengkap dari Luna


"Masalahnya adalah," Luna menghela nafas cukup panjang.


"Masalahnya adalah apa?" Tanya Laras dengan kesal.


"Masalahnya sekarang aku harus menyelesaikan persiapan untuk sidang besok, LARAS!" Ucap Luna dengan menekan nama 'Laras'.


Luna lalu berlari masuk ke rumah dengan membawa kantung makanan yang telah Laras berikan.


"Dasar temen nggak ada akhlaq..." Omel Laras dan menyusul Luna ke dalam.


Fariz yang melihat itu hanya tersenyum.


"Dia harus lembur malam ini untuk belajar, dan juga membuat PPT presentasi skripsinya besok pagi." Jelas Fariz, sambil menghampiri Laras.


"Saya tahu semua ini pasti ulah kamu?" Ucap Laras.


*****


bersambung


Baca karya aku yang lain juga yok ada




JODOH: Cinta Pertama (31 bab)




Brondong Meresahkan (12 bab)



__ADS_1


__ADS_2