Ruang Dosen

Ruang Dosen
Hasil


__ADS_3

"Kamu!" Luna yang mendengar panggilan Fariz yang di sengaja melotot sambil menunjuk Fariz geram.


"Kamu yang panggil saya sayang duluan tadi pagi, jadi itu salah kamu!" Elak Fariz. "Dan kalau kamu tidak mau ikut saya nanti malam, saya pastikan kamu tidak akan saya luluskan pada sidang nanti!" Kata Fariz mengancam.


"Memang kami siapa berani-berani mengancam seperti itu?" Tanrnag Luna.


"Saya dosen penguji anda nanti!" Jawab Fariz santai.


***


Luna keluar dari ruang sidang dengan lemas, karena dia merasa sangat tertekan dengan semua pertanyaan yang di ajukan oleh dosen penguji skripsinya yang begitu tahu semua isi dan juga kekurangan dari hasil menelitiannya.


Bagaimana dosen pengujinya itu tidak tahu hasil dari penelitian yang iya presentasikan itu, ketika sang penguji adalah orang yang telah membantunya membuat ringkasan materi untuk di presentasikannya tadi. Fariz, si dosen muda yang sudah membantunya mengerjakan ringkasan materi itulah sang penguji skripsinya tadi.


"Kenapa Lun?" Tanya Laras yang melihat Luna baru keluar dari ruang sidang dengan muka lesu.


"Di bantai aku Laras, sama dosen menyebalkan itu!" Adu Luna sambil menatap Laras sedih.


"Maksudnya gimana?" Tanya Laras yang memang tadi sempat pergi sebentar untuk menyelesaikan administrasi nya agar bisa mendapat jadwal ujian skripsi menyusul sahabatnya. Jadi Laras tidak tahu menahu bahwa Fariz lah yang menjadi dosen penguji Luna.


"Kamu tahukan kalau tadi malam yang bantu aku ngerjain persiapan presentasi itu si dosen sok ganteng itu?" Tanya Luna mendramatisir.


Laras berfikir sejenak siapa yang di maksud oleh sang sahabat di depannya ini. " Iya" Setelah tahu siapa orang yang di maksud oleh Luna, Laras pun menganggukkan kepala tanda bahwa ia faham.


"Dan kamu tahu siapa dosen penguji ku?" Tanya Luna sarkas.


"Nggaklah, kan aku tadi nggak lihat siapa dosen yang masuk ke ruangan ujian kamu!" Ucap Laras sambil menggeleng.


"Ini mau aku kasih tahu, jangan di potong!" Ucap Luna emosi, karena ucapannya di potong oleh Laras.


"Oke...oke ...jadi siapa dosen penguji kamu tadi?" Tanya Laras mengalah.


"Pak Fariz yang terhormat!" Ucap Luna sambil menahan tangis.


"Jadi, kamu di bantai gimana?" Tanya Laras yang penasaran.


"Karena dia tahu semua yang kurang di dalam penelitian yang sudah aku lakukan, jadi aku di cecar semua pertanyaan yang sudah pasti jawabannya akan sangat bisa membuat penelitian itu gagal." Jelas Luna lesu dan terduduk di tangga.


"Percaya sama aku kamu pasti lulus!" Ucap Laras memberikan semangat.


"Kalau nggak gimana?" Tanya Luna sambil menunduk.


"Kalain nggak jadi nikah!" Jawab Laras cuek sambil mengambil minuman di ranselnya.


"Kalau pun aku lulus aku juga nggak mau nikah sama dia!" Ucap Luna cepat.


"Kita lihat aja nanti" Tantang Laras.


"Taruhan?" Tanya Luna optimis tidak akan mungkin ia menikah dengan dosen ganteng satu itu.


"Oke!" Ucap Laras mengulurkan tangan ke hadapan Luna.


Uluran tangan Laras di sambut oleh Luna.


"Deal" Ucap Laras.


"Deal" Ucap Luna mengikuti.

__ADS_1


"Kalau kamu nikah sama itu dosen kamu harus kasih aku keponakan minimal 3!" Ucap Laras.


Setelah itu mereka tertawa sambil menggoyang-goyangkan tangannya.


Luna mendapat notifikasi pesan masuk dari aplikasi di ponselnya, dan tertera nama Fariz disana.


***


Sedang di dalam ruang sidang skripsi Luna tadi 3 orang dosen sedang berdiskusi bagaimana hasil dari ujian yang di lakukan oleh sang mahasiswi yang begitu berprstasi di kampus ini, yang di cecar pertanyaan yang begitu sulit oleh dosen muda dengan begitu sadis.


Hal yang di lakukan oleh Fariz seakan mematahkan semua rumor yang terjadi akhir-akhir ini bahwa Luna, sang mahasiswi cerdas itu telah berbuat curang dalam membuat tugas akhir dengan cara mendekati si dosen muda yang tampan dan juga cerdas ini.


"Jadi bagaimana penilaian bapak dan ibu sekalian dari hasil ujian mahasiswi bimbingan saya ini?" Tanya Pak Alfin selaku dosen pembimbing skripsi Luna.


"Kalau dari saya oke saja pak, mungkin hanya ada catatan kecil dari segi pengambilan ke simpulan di akhir saja. Karena mahasiswi bimbingan bapak memang cerdas. "Ucap dosen penguji pertama yang memang terkenal mudah dalam memberi penilaian kepada mahasiswa/mahasiswi di kampus tersebut.


"Pak Fariz bagaimana?" Tanya Pak Alfin meminta pendapat.


"Saya ikut saja bagaimana keputus bapak dan ibu saja. Saya disini juga hanya sebagai penguji pengganti, karena permintaan kepala Yayasan kan?" Ucap Fariz sambil menutup map yang ada di depannya.


Pak Alfin yang mendengar itu sedikit tercengang karena Fariz begitu mudahnya membiarkan Luna lulus, padahal tadi ia adalah orang yang seperti sangat berharap bahwa gadis itu tidak akan pernah lulus dengan pertanyaan yang sangat rumit.


"Kepala Yayasan itu ayah anda tuan!" Ucap ibu dosen penguji satunya.


"Sayangnya yang anda katakan itu benar!" Ucap Fariz sambil mengambil botol air mineral yang ada didepannya.


"Jadi bisa kita beritahukan kepada mahasiswa di depan sana bahawa dia lulus?" Tanya Pak Alfin sambil menunjuk pintu depan tempat terakhir kali Luna keluar.


Fariz melihat jam di tangannya dan mengeluarkan Ponselnya sejenak.


"Tunggu sekitar 5 menit lagi?" Ucap Fariz dengan nada sedikit bertanya.


^^^Bagaimana tawaran saya tadi?^^^


Fariz mengirimkan pesan singkat kepada Luna untuk mendapatkan jawaban dari ajakannya bertemu kedua orang tuanya tadi.


Apa anda bisa menjamin saya lulus?


^^^Bisa^^^


^^^Asal kamu mau pergi bertemu ayah dan bunda nanti malam ^^^


Anda yakin itu setimpal?


Hanya dengan sebuah makan malam?


Anda langsung melulusakan saya?


^^^Saya rasa sangat setimpal ^^^


^^^Kalau kamu oke pergi makan malam.^^^


^^^saya akan langsung bilang kamu LULUS sekarang^^^


Tidak ada opsi lain?


^^^Tidak.^^^

__ADS_1


Oke.


^^^Oke apa?^^^


Saya akan pergi dengan anda


^^^Kemana?^^^


Makan makam?


bersama kedua orang tua anda.


^^^Pilihan yang bagus cantik.^^^


^^^Kamu akan di panggil dalam hitungan 10^^^


^^^Dimulai dari sekarang ^^^


Fariz menutup Ponselnya dan tersenyum sendiri, buat kedua orang rekannya sedikit aneh dengan tingkahnya.


"Ehm" Fariz menormalkan tenggorokannya dengan berdehem sebentar.


"Bisa kita panggil mahasiswi yang ujian tadi?' Tanya Fariz untuk mengalihkan perhatian kedua rekan kerjanya. "Sudah 5 menit dari janji kita tadi" Ucap Fariz sambil melihat jam tangannya.


"O...iya!" Jawab Pak Alfin sambil berdiri memanggil mahasiswinya.


Pak Alfin keluar dari ruangan sidang, dan memanggil Luna yang seperti sedang berhitung sambil memejamkan kedua matanya, tepat didepan pintu ruangan yang ia buka.


"Luna!" Panggil Pak Alfin.


"Iya pak?" Tanya Luna cemas sambil membuka mata tepat setelah mengucapkan angka 10 di dalam hati.


***


bersambung


Baca karya aku yang lain juga yok ada




JODOH: Cinta Pertama (60 bab)




Brondong Meresahkan (15 bab)




Antonim (2 bab)


__ADS_1



__ADS_2