
"Ah sudah lah, yang penting sekarang siap-siap untuk berangkat ke kampus ja. Semangat ujian skripsi dan di bantai, Luna!" Ucap Luna menyemangati dirinya sendiri.
Luna beranjak dari tempat duduknya setelah membereskan semua barang yang nanti akan ia bawa ke ruang ujian.
Walaupun di dalam hati Luna masih bertanya-tanya apakah benar bahwa dosen muda yang memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi itu telah membantunya.
***
Luna berangkat ke kampus sendiri dengan menaiki ojek online, tanpa menunggu Fariz yang sudah berjanji akan menjemput dirinya subuh tadi ketika sang dosen muda itu hendak pergi dari rumahnya.
Luna tidak ingin gosip tentang dirinya dan juga sang dosen muda yang sedang banyak di perebutkan banyak mahasiswi di kamlusnya itu akan semakin panas dan menimbulkan masalah untuk dirinya.
Luna memilih untuk pergi pagi-pagi dan mampir untuk membeli sarapan di depan kampus langganannya.
Luna juga sudah meminta Laras untuk datang pagi ini ke kampus untuk membantunya menyiapkan sidang skripsi mendadaknya nanti.
Karena sidang skripsinya yang mendadak Luna belum mendapatkan siapa dosen yang akan menjadi dosen pengujinya nanti. Luna hanya bisa berharap bahwa nantinya dosen pengujinya bukan dosen yang killer ataupun teliti dengan kesalahan-kesalahan kecil yang mungkin Luna lakukan di dalam penelitian itu.
"Lun!" Tepukan di pundak Luna, membuat ia menoleh dan mendapati sang sahabat (Laras) sudah duduk di sampingnya.
"Heh, cepet banget sampai?" Tanya Luna yang sudah biasa dengan Laras yang sering telat.
"Kan hari ini spesial!" Jawab Laras.
"Apa yang spesial, Kamu pesen nasi goreng pake telur dua?" Tanya Luna sambil mengangkat tanganmu menunjukan dua jarinya.
"Eh...malah ngelawak nggak jelas ni bocah sableng.!" Omel Laras sambil memanggil pemilik warung makan tersebut. "Pak!"
"Iya neng?" Jawab
"Nasi satu ya pak, kayak biasa!" Teriak Laras pada penjual makanan yang memang hampir setiap hari ia dan Luna datangi ini.
"Siap neng!" Jawab si penjual dengan sikap hormat tanpa melihat ke arah Laras.
"Jadi udah siap semuanya ni, Lun?" Tanya Laras sambil melihat tas ransel besar yang di bawa Luna.
"Kayaknya sih, udah aman!" Jawab Luna sambil menepuk pelan tas ransel yang ada di atas kursi sebelahnya.
"Itu dosen si pembuat onar kemana?" Tanya Laras yang sedari tadi tidak melihat sang dosen muda yang beberapa hari ini selalu mengikuti kemana pun sang sahabatnya ini kemana pun.
"Di rumahnya mungkin?" Jawab Luna dengan nada tanya.
"Kok mungkin?" Laras mengernyitkan dahinya bingung dengan jawaban Luna. "Dia nggak bantuin kamu sampai selesai?" Lanjut Laras.
__ADS_1
"Bantuin kok sampai pagi malahan!" Jawab Luna santai sambil menyuap makanan miliknya.
"Terus emang si calon suami kamu nggak ngomong ke kamu mau kemana?" Tanya Laras.
"Kok calon suami sih?" Luna tidak terima kalau Fariz di sebut sebagai calon suaminya.
"Ya kan emang gitu kan?" Tanya Laras jahil.
"Nggak usah mulai Ras!" Ingat Luna yang sedikit takut jika nanti ada yang mendengar pembicaraan mereka.
"Emang kenapa?" Tanya Laras cuek.
"Ya kalau fans fanatik itu dosen datang bisa berabe hidup aku, Laras!" Bisik Luna pelan.
"Salah kamu sendiri cari masalah dengan milih sarapan di tempat ini!" Ucap Laras misterius.
"Maksud kamu apa?" Tanya Luna bingung.
"Gi...!"
Belum sempat Laras menjawab pertanyaan Luna, ada 4 orang wanita mudah sekitar usia 19-an datang menghampiri mereka.
"O..jadi ini yang udah goda dosen kesayangan kita?" Ucap salah satu dari mereka yang paling cantik dan juga modis (si cantik).
Laras dan Luna yang mendengar ada orang yang berdiri di samping meja tempat mereka berdua sedang menikmati sarapan paginya melihat ke samping sebentar, dan kembali menyuap makanannya.
"Nggk mungkin, sialnya dari info yang aku dapat mereka itu mahasiswi berpestasi, jadi nggak mungkin mereka punya kebutuhan khusus!" Bisik salah seorang dari mereka yang memakai kaca mata (si kaca mata).
"Maaf mbak, kalau mau sarapan bisa cari tepat duduk yang masih kosong ja, kami masih lama!" Ucap Luna santai sambil menunjukkan meja kosong di depannya.
"Loe kira kita kesini mau makan?" Tanya si cantik dengan nada lebih tinggi satu oktaf dari sebelumnya.
"La terus kalian mau ngapain kesini kalau nggak makan?" Kini giliran Laras yang mulai menjahili ke-4 orang di depannya ini.
"Emang kita nggak mau makan kesini?" Tanya perempuan paling berisi di antara ke-4 orang ini (si Gendut).
Si cantik meletakkan jari telunjuknya di depan mulut ke hadapan si gendut, agar dia tidak lagi berisik dan bertanya tentang makanan.
Luna dan Laras faham betul mereka ber-4 adalah fans fanatik si dosen muda ganteng dan pembuat onar di hidup Luna yang awalnya begitu tenang.
"O..kalian mau cari kerja kesini?" Tanya Luna sambil tersenyum puas.
"Kalian!" Teriak si cantik marah dan menunjuk muka Luna dengan jari telunjuknya yang sangat cantik dengan warna yang begitu indah.
__ADS_1
"Wah mau kerja disini jangan perawatan dulu mbak, nanti rusak!' Ingat Laras sambil memegang tangan wanita yang sudah menunjuk dirinya dan juga sang sahabat.
Si cantik menarik tangannya dengan muka jijik ke arah Laras dan juga Luna. Setelahnya mengeluarkan disinfektan dari tas yang ia bawa san menyemprotkan ke tanganmu yang sudah di pegang oleh Laras.
"Jadi kalian kesini mau apa?" Tanya Luna yang sudah kehabisan stok kesabaran akhir-akhir ini.
Luna mengelap mulutnya pelan dengan tisu yang di sediakan tempat makan itu dengan begitu pelan dan tenang, meskipun dia sedang berusaha sekuat tenaga menahan amarahnya.
Luna melirik ke arah ke-4 mahasiswi centil yang sedang mencoba menggertaknya itu.
"Kamu jangan coba-coba ngerayu suami idamanku!" Ucap si cantik percaya diri.
"Siapa?" Tanya Luna dengan melihat mereka dari sudut matanya dengan tatapan sinis, sambil berdiri dari tempat duduknya.
Luna sengaja mendorong kisi yang tadi di duduki olehnya dengan sedikit keras sehingga menimbulkan bunyi yang cukup nyaring.
"Pak Fariz!" Jawab si kaca mata dengan cepat sambil mundur satu langkah dari tempatnya berdiri semula.
Luna tersenyum sinis dengan mengangkat sebelah sudut bibirnya dan menatap orang yang tadi menjawab pertanyaannya.
"Jadi hubungan kalian apa?" Tanya Luna kepada mereka ber-4.
"Ka...m..! Si gemuk berbicara terbata-bata hendak menjawab pertanyaan Luna akhirnya memilih diam dan ketakutan.
Seorang tersenyum melihat hal yang sedang terjadi dari arah luar tempat makan tersebut.
***
bersambung
Baca karya aku yang lain juga yok ada
JODOH: Cinta Pertama (60 bab)
Brondong Meresahkan (15 bab)
__ADS_1