
"O...iya!" Jawab Pak Alfin sambil berdiri memanggil mahasiswinya.
Pak Alfin keluar dari ruangan sidang, dan memanggil Luna yang seperti sedang berhitung sambil memejamkan kedua matanya, tepat didepan pintu ruangan yang ia buka.
"Luna!" Panggil Pak Alfin.
"Iya pak?" Tanya Luna cemas sambil membuka mata tepat setelah mengucapkan angka 10 di dalam hati.
***
Luna memasuki ruangan dengan perasaan cemas yang menyelimuti hatinya. Ia ingin sekali mendengar hasil bahwa ia dinyatakan lulus dalam ujian akhir hari ini, namun di sisi lain dia berharap untuk tidak lagi bertemu dengan kedua orang tua Fariz yang memintanya datang ke rumah mereka untuk makan malam.
"Duduk dulu mbak!" Ucap dosen perempuan paruh baya yang menjadi dosen pengujinya tadi.
Luna menatap ke arah Fariz yang masih duduk dengan santai tanpa melihat ke arah Luna sedikitpun. Ia asyik dengan lembaran kertas penilaian dan juga fotocopian skripsi milik Luna.
Luna duduk di kursi kosong tepat di sebrang tempat Fariz duduk.
"Berikan alasan kenapa kami harus meluluskan kamu?" Tanya Fariz cepat setelah Luna baru saja duduk di kursinya.
Luna yang agak bingung dan tidak begitu mengerti dengan ucapan Fariz meminta Fariz untuk mengulang pertanyaannya.
"Maaf pak bisa di ulangi pertanyaannya?" Tanya Luna sesopan mungkin.
"Kenapa kami harus meluluskan anda?" Ulang Fariz sambil menatap Luna dengan serius.
"Ehm..." Luna berdehem sejenak untuk menentralkan suaranya. "Saya sudah mengikuti perkuliahan dengan baik selama 8 semester ini dengan baik, kalaupun di dalam penelitian saya masih ada ke kurangan dan ada beberapa pertanyaan yang tidak bisa saya jelaskan dengan terperinci, tapi saya yakin kesalahan yang saya buat itu masih bisa di perbaiki." Ucap Luna lancar.
"Dan dari kesalahan yang saya lakukan dalam penulusan dan juga penjelansan di akhir dapat membuktikan bahwa saya memang mengerjakan tugas akhir ini sendiri, tanpa bantuan dari pihak manapun, maka dari itu masih terdapat banyak ke kurangan yang harus saya sempurnakan lagi." Jawab Luna lugas.
Fariz yang mendengar jawaban Luna tersenyum, lalu melirik kepada pak Alfin sebagai dosen pembimbing Luna.
"Baik kalau begitu Luna selamat sekarang di belakang namamu sudah ada tambahan gelar sarjana ekonomi!" Ucap Pak Alfin sambil mengulurkan tangan kepada Luna.
Luna mengerjakan matanya memandang tangan pak Alfin yang ada di depannya.
Luna menerima uluran tangan dosen pembimbing dengan perasaan bingung.
"Maksudnya bagaimana pak?" Tanya Luna.
"Kamu lulus Luna." Sahut deson penguji wanita paruh baya yang ada di sebelah kiri Luna sambil mengulurkan tangan kepada Luna.
"Beneran bu?" Tanya Luna tidak percaya.
"Selamat ya!" Jawab dosen paruh baya itu sambil tersenyum kepada Luna.
"Saya beneran lulus?" Tanya Luna lagi sambil melihat ketiga dosen yang berada di ruangan yang sama dengannya saat ini.
Pak Alfin mengangguk kan kepalanya tanda mengiyakan pertanyaan Luna, sedang Fariz hanya memasang tampang datar tanpa ekspresinya kepada wanita yang di cintainya itu.
"Iya mbak kamu lulus!" Ucap dosen wanita satu-satunya di situ, memberi penjelasan kepada Luna.
__ADS_1
"Terimakasih bu!" Ucap Luna senang sambil menunduk kepada dosen di depannya itu.
"Te..." Luna hendak menjabat tangan Fariz dan mengucapkan terima kasih kepada dosen muda itu, namun sudah di potong dengan cepat oleh sang dosen.
"Jangan senang dulu, kamu masih harus melakukan revisi di beberapa bagian dari skripsi yang kamu presentasi tadi!" Ingat Fariz sambil menerima ukuran tangan Luna.
"Baik pak, akan langsung saya kerjakan nanti MA-LAM!" Ucap Luna menekan kata 'malam' yang ia ucapkan tepat di hadapan Fariz.
"Terima kasih." Ucap Luna sebelum keluar dari ruang sidang tersebut dengan senyum memenuhi wajahnya.
***
Luna keluar dengan wajah di buat selesu mungkin sambil menunduk begitu dalam, untuk memberi kejutan kepada Laras.
"Luna bagaimana?" Tanya Laras menyambut kedatangan Luna yang baru saja menerima pengumuman hasil ujiannya.
Melihat muka Luna yang tertunduk Laras dengan cepat memeluk Luna dan juga menepuk pundaknya sambil membisikkan kata-kata penenang.
"Sabar Lun... Kamu lulus kan?" Tanya Laras.
" Menurut kamu?" Tanya Luna dengan mata berkaca-kaca.
"Nggak tahu..." Ucap Laras sambil menggelengka kepalanya ke kanan dan ke kiri.
"Ha...ha...ha...ha.." Luna tertawa melihat ekspresi yang di tunjukan Laras di wajahnya.
"Kok ketawa?" Tanya Laras dengan bingung.
"Lah terus aku harus sedih, Ras?" Tanya Luna.
"Kamu nangis aja nggak pa-pa kok, dari pada kamu ketawa kayak orang gila!" Ucap Laras prihatin.
"Doanya ini temen satu jelek amat!" Ucap Luna melepas pelukan Laras. "Aku lulus begok!" Ucap Luna sambil mencubit Laras pelan.
"Serius?" Tanya Laras senang.
"Serius lah!" Ucap Luna bangga.
"Wah....selamat!" Ucap Laras. "Tunggu bentar aku ambil hadiah buat kamu dulu!" Laras mengambil selempang dang juga bunga dari dalam paper back yang ia bawa sejak tadi pagi.
"makasih!" Ucap Luna terharu mendapat hadiah dari sahabatnya ini.
"Kita foto dulu, sebelum rombongan temen-temen yang lain pada datang san aku tersingkirkan!" Ucap Laras sambil mengeluarkan ponselnya.
"Siapa?" Tanya Luna tidak tahu siapa yang di maksud oleh sang sahabat.
"Temen sekelas kita, temen organisasi kamu, temen lomba dan temen-temen kau yang lain." Jelas Laras.
"Sepertinya mereka nggak akan datang...he...he..he.." Ucap Luna sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Nggak mungkin mereka semua nggak datang Luna" Ucap Laras yang tahu bahwa teman -temannya pasti akan menyempatkan diri datang untuk momen bersejarah sang sahabat ini.
__ADS_1
" Aku nggak ngasih tahu siapapun kecuali kamu kalau hari ini aku ujian akhir." Jelas Luna sambil tersenyum kaku.
"Kamu serius?" Tanya Laras.
"Kamu kan tahu kalau aku dapat jadwal dadakan, jadi lupa ngasih tahu siapapun." Jelas Luna.
"Ya udah aku upload foto kita berdua, biar semua orang pada tahu!" Ucap Laras sambil masih sibuk dengan ponselnya.
"Ayo pulang!" Ajak Luna sambil berjalan menggandeng tangan Laras.
"Kamu nggak mau traktir makan aku dulu gitu buat ucapan syukur karena kamu sudah lulus ujian.?" Tanya Laras berharap.
"Aku mau traktir kamu makan, tapi ada syaratnya." Ucap Luna.
"Apa?"
"Kamu kan temenku yang paling baik dan suka banget menolong aku di waktu aku susah dan terhepit." Ucap luna memuji Laras.
"Ini kalau udah muji setinggi langit pasti ujungnya nyusahin.
"Kok kamu tahu?"
"Apa?"
"Bantu aku kabur dari makan malam dengan keluarga pak Fariz!" Pinta Luna memelas.
"Apa?"
***
bersambung
Baca karya aku yang lain juga yok ada
JODOH: Cinta Pertama (61 bab)
Brondong Meresahkan (16 bab)
Antonim (3 bab)
__ADS_1