Ruang Dosen

Ruang Dosen
9. sidang 2


__ADS_3

"Jadi kamu serius mau nikah sama dia?" Tanya Ayah setelah Fariz baru saja menutup pintu ruang kerja.


Faris dengan santai berjalan menuju meja kerja Ayah sambil mengambil buku yang terletak di rak yang dekat pintu masuk ruang tersebut.


"Menurut Ayah kalau Fariz menikah dengan dia, bagaimana?" Tanya Fariz balik.


Faris membuka buka yang di pegangnya asal, lalu duduk dengan santai di kursi depan meja kerja Ayah.


"Dia mahasiswa berprestasi penerima beasiswa di kampus itu?" Tanya Ayah balik.


Ayah sengaja memancing Fariz untuk bercerita detail sebenarnya tentang Luna. Gadis yang dibawa anaknya kerumah.


"Iya!" Ucap Fariz


"Jadi sejak kapan kalian punya hubungan?" Tanya Ayah lagi.


Fariz menutup buku yang di pegang meletakkan di atas meja, lalu menghela nafas panjang menatap sang Ayah.


"Ayah mau aku cerita lengkap tentang dia?" Fariz sudah tidak lagi bisa menghindar dari semua yang akan Ayah tanyakan.


"Tentu saja!" Jawab Ayah tegas. " Dan plus kamu juga harus jujur!" Tambah Ayah.


Ayah sambil mengacungkan jari telunjuknya kearah Fariz, agar Fariz benar-benar tidak menutupi apapun tentang Luna padanya.


"Oke!" Ucap Fariz pasrah.


Fariz terdiam lama. Fariz berfikir harus bercerita dari mana. Dia bingung.


"Jadi kamu mau cerita atau tidak?"


"Jadi dia gadis yang dulu aku ceritakan ke ayah..." Cerita Fariz terjeda ketika Ayah mengingat anaknya pernah cerita tentang gadis pujaan hatinya.


"Waktu kamu jadi orang gila nggak mau balik kuliah lagi?" Tanya Ayah sambil tersenyum mengejek kelakuan Fariz yang kekanak-kanakan.


Fariz menganguk, lalu tersenyum kikuk. Fariz menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal.


"Hubungan kalian sudah sejauh mana?" Tanya Ayah lagi.


"Ayah dengerin cerita aku dulu boleh?" Tanya Fariz sarkas.


"Siap!" Ayah memberi sikap hormat kepada Fariz.


" Aku baru bertemu dia lagi dengan dia sekitar 3 bulan lalu. Dan baru mulai bicara 1 bulan lalu dengan alasan yang sangat aku buat-buat." Jelas Fariz


"Dan?"


" Dan aku nggak tahu itu foto gimana cerita bisa jadi aneh gitu, padahal aku cuma bantuin dia yang kena pecaham gelas di pantry kantor dosen!" Jelas Fariz.


"Kalau masalahnya simpel seperti itu kenapa kamu bawa dia kesini?" Tanya Ayah.


Ayah tahu anak lelaki satu-satunya ini menyukai gadis yang ia bawa.


"Aku nggak tahu harus gimana?" Tanya Fariz balik.

__ADS_1


"Kenapa nggak kamu bilang ja kalau kamu suka sama dia?" Usul Ayah.


"Kita nggak sedeket itu, Yah!" Ucap Fariz.


Fariz tidak bisa menerima usulan sang Ayah yang terlalu mudah untuk di ucapkan, tapi akan sangat sulit di jalankan.


"Terus kok sampai bisa berdua gitu sama cewek, kalau kamu nggak deket, sampai kamu kenalin ke Bunda lagi?" Tantang Ayah.


Ayah tahu anak laki-lakinya ini tidak pernah sedekat itu dengan perempuan manapun. Bukan karena anaknya ini tidak laku atau tidak ada wanita yang mendekat, tapi memang Fariz yang terlalu menjaga jarak dengan perempuan.


Ayah sangat bahagia ketika Fariz dulu bercerita padanya, bahwa ia suka dengan seorang gadis yang dia temui secara tidak sengaja dijalan. Tapi Fariz sendiri tidak tahu siapa gadis itu. Dia hanya ingat wajah gadis itu tanpa tahu apapun tentang gadis yang dia suka.


Dan hal itu membuat Fariz semakin tertutup dengan gadis manapun yang mendekatinya. Membuat sang Bunda sangat khawatir dengan orientasi seksual sang anak.


"Lagi berusaha untuk dekat!" Ucap Fariz malas.


"Kamu pasti punya rencanakan, sampai bawa gadis pujaan hati mu itu kesini?" Tanya Ayah penasaran.


"Aku mau ngajak dia nikah dengan bantuan Ayah!" Ucap Fariz cepat.


"Maksud kamu apa?" Ayah menaik-turunkan alisnya menggoda sang anak.


" Ayah pasti tahu yang Fariz maksud tanpa harus Fariz jelaskan panjang lebar maksud Fariz kan?" Tanya Fariz sarkas.


Fariz berdiri dari tempat duduknya. Mengambil buku yang dia bawa tadi dan meletakkan di tempat semula. Lalu Fariz membuka pintu.


Sebelum pintu benar-benar terbuka Fariz berbalik menghadap Ayah dan berkata.


"Jadi Ayah bisa bantukan atau tidak?"


Fariz lalu hendak keluar dari ruang itu, sebelum di cegah oleh Ayah.


***


Di dapur


Luna sedang membantu Bunda membuat kue kesukaan Fariz. Namun, Luna tidak terlalu fokus dengan kegiatan masak kali ini.


Luna masih bertanya-tanya tentang pemilik kampus yang adalah ayah dari Fariz. Lalu kenapa Fariz tidak menggunakan kekuasan itu saja untuk membantu mereka keluar dari masalah yang sedang mereka hadapi ini pikir Luna.


"Bunda sampai kemaren masih ngira anak laki-laki semata wayang Bunda itu nggak suka perempuan!" Ucap Bunda sambil memasukkan kue kedalam oven.


"Maksud Bunda, Pa.. Fariz ?" Tanya Luna syok.


Luna sekarang mengerti kenapa Fariz tidak meminta bantuan Ayah untuk menyelesaikan masalah mereka berdua. Dan malah membawa Luna kesini adalh sebagai tameng.


"Fariz itu susah banget deket sama cewek, paling temennya cowok semua!" Jelas Bunda.


Bunda lalu duduk di kursi di samping Luna. Luna masih sibuk mencetak adonan kue dengan cetakan bermacam- macam bentuk yang lucu.


"Padahal di kampus banyak banget mahasiswi yang deketin pak... Fariz maksudnya!" Luna masih saja susah untuk menyebut nama dosen muda itu hanya dengan namanya saja.


" Kamu kebiasaan ya manggil pacar kamu itu pak?" Tanya Bunda sambil tersenyum. " Gemes Bunda dengernya!"

__ADS_1


"Iya, Bunda!" Luna hanya bisa tersenyum kaku menanggapinya.


Luna masih sibuk menata kue di loyang agar tidak terlalu terlihat kalau dia sedang gugup.


"Fariz itu banyak banget yang deketin, tapi nggak ada satu perempuan pun yang dia terima. Ya minimal di jadikan temen!" Jelas Bunda.


"Iya, Bun?" Tanya Luna menanggapi sebisa agar tidak terlalu canggung.


"Kamu ini cewek pertama yang dia ajak kerumah, dan langsung dikenalin ke Bunda!" Ucap Bunda antusias.


Luna hanya menanggapinya dengan senyum. Dia sudah tidak tahu lagi harus berkata apa.


"Akhirnya Bunda nggak perlu khawatir lagi kalau dia itu belok, atau nggak suka cewek!" Jelas Bunda senang sambil mengenggam tangan Luna.


Luna yang merasa bersalah telah membatu Fariz berbohong akhirnya mencari alasan, untuk mengangkat kue dalam oven.


"Bunda, Luna angkat kue dulu ya!"


Luna melepas genggaman tangan Bunda, agar dia tidak terlalu merasa bersalah.


"Wah wangi banget kue buatan Bunda!" Ucap Fariz.


Fari yang baru saja berjalan masuk ke dapur mencium aroma kue yang sering Bunda buat.


"Hari ini bukan Bunda yang buat kue!" Ucap Bunda.


"Terus siapa, Bun?" Tanya Fariz.


"Itu calon istri kamu yang baut!" Jelas Bunda sambil menuju ke arah Luna.


Luna yang kaget dengan ucapan bunda tidak sengaja menyenggol loyang yang panas.


"Aduh...!" Teriak Luna.


***


bersambung


Baca karya aku yang lain juga yok ada




JODOH: Cinta Pertama (27 bab)




Brondong Meresahkan (9 bab)


__ADS_1



__ADS_2