
By : Widyawati Agustin
Rumah Bersejarah Di Tengah Hutan
-
-
-
Dua pengendara bermotor terus menancap pedal gas di kerumunan pepohonan, lebatnya hutan membuat sang surya tidak bisa menerobos dedaunan. Hingga suasana kala itu seperti sudah hampir petang walau waktu masih menunjukkan pukul 15:45 Waktu Indonesia Barat.
Hingga pandangan dua orang tersebut sudah melihat sebuah bangunan yang terlihat tua yang berdiri kokoh di atas tanah, maka dari itulah mereka langsung mengurangi laju kecepatan motor.
Ckret!
Ckret!
Dengan kompak dua orang itu menghentikan motor mereka masing-masing tatkala sudah berada dekat sekali dengan bangunan tersebut.
Satu di antaranya nampak menatap bangunan yang nampak menyeramkan dengan gusar, bahkan mulutnya terus ber-istighfar untuk menghilangkan perasaan tidak enak yang kini tengah hinggap di hatinya.
Namun berbeda dengan pria di sampingnya yang menatap dengan kagum bahkan otaknya berkelana jauh memikirkan hari-harinya nanti ketika tinggal di bangunan tersebut.
Namanya Usep Wardoyo, pria kelahiran Jawa yang sangat mencintai sejarah. Maka itulah Usep memilih untuk tinggal di bangunan yang sudah berdiri sejak masa penjajahan Belanda. Jika di hitung usia bangunan tersebut sudah berabad-abad lamanya.
Sementara pria berpakaian batik yang bernama Kacep Trisnoharjo merupakan seorang Rt di desa Gonosari, pria yang usianya sudah kepala empat itu terpaksa mengijinkan Usep untuk tinggal di tempat peninggalan Belanda tersebut.
_Flashback On_
Di ruang tamu yang hanya berdinding triplek itu terdapat Usep yang mencoba untuk membujuk Kacep.
"Ayolah Pak, tolong ijinkan saya untuk tinggal di tempat bersejarah itu. Lagi pula daripada kosong tidak terawat lebih baik saya meninggali rumah itu." bujuk rayu Usep yang terus ia lakukan sejak sedari tadi.
__ADS_1
"Sep, apa ndak ada tempat lain toh yang kamu minati selain tempat ngeri itu? lagian rumah itu bekas Belanda yang udah di tinggalin sejak dahulu kala. Memangnya kamu ndak takut Sep?" tanya Kacep.
Usep menggeleng. "Usep udah yakin seratus persen Pak,"
Kacep nampak menghela nafas merasa gedeg sendiri dengan orang yang keras kepala seperti Usep Wardoyo. "Coba kamu pikir pake logika toh yo, rumah itu tuh posisinya di tengah hutan! apa kamu mau jadi tarzan dadakan? Endak kan?" omel Kacep mulai merasa kesal.
"Disana kamu sendirian Sep, ndak ada tetangga bahkan listrik pun ndak ada. Bahkan sinyal disana susah, kamu memang bisa hidup tanpa internet Sep? aku kok ragu yo? kamu kan anak muda hehe. Intinya disana nelangsa Sep, " lanjutnya dengan di selingi kekehan kecil, namun wajahnya kembali datar saat mendengar perkataan Usep yang gak bisa nurut.
"Kalau masalah itu sih gampang Pak, Usep kan anak muda yang InsyaAllah pinter jadi bisa teratasi. Nanti Usep juga bakal merenovasi sedikit biar keliatan hidup lagi. "
"Otakmu itu yang harus di renovasi Sep biar hidup lagi, bukan malah rumah itu yang pastinya tetep sama." bantah Kacep tambah sewot, ia tahu kalau Usep sangat cinta sama yang namanya sejarah bahkan pria yang usianya hampir kepala tiga itu sudah banyak negara yang ia jumpai untuk mendalami kecintaanya. Tapi gak gini juga kan? banyak rumah bagus tapi milih rumah ngeri yang tempatnya di tengah hutan.
"Usep minta ijin tinggal di rumah bersejarah aja kok, gak minta yang belibet." bujuknya lagi yang membuat Kacep mendesis.
"Sekarepmu," ujar Kacep dengan jutek, biarlah mulutnya itu menjawab tanpa ijin dari pikiran logikanya. Daripada nanti capek sendiri ngeladenin orang keras kepala, mending di turuti saja sampai nanti ngerasa nyesel sendiri.
Usep yang mendengarnya langsung berbinar, dan dengan gerakan gesit langsung mencium tangan Kacep beberapa kali sangking senangnya. Sedangkan Kacep yang merasa sikap anak muda di depan yang terlalu berlebihan langsung menarik tanganya dan mengendusnya, siapa tahu ada bau-bau gak enak. "Bau jigong, "
Usep yang mendengar gumaman Kacep hanya bisa nyengir saja. "Matusnuwun Pak, udah ijinin Usep." ucapnya yang di balas deheman dari Kacep.
_Flashback Of_
"Bapak kok disitu aja, gak mungkin kan mau jadi patung hiasan? " celetuk Usep yang berhasil membuyarkan lamunan Kacep.
"Cangkemu iku senenge ngawur," ucap Kacep yang di balas sebuah kekehan dari Usep yang merasa lucu sendiri jadinya.
"Cuman bercanda aja kok Pak, lagian daritadi Usep perhatiin cuman diem aja? emang Bapak gak mau masuk ke dalam."
Awalnya Kacep biasa-biasa saja mendengar perkataan Usep, namun ketika kata terakhir terucap. Langsung membuat Kacep merinding. "Ndak mau, lagian cuman orang yang ndak waras aja yang mau masuk ke rumah ini. Kalo aku yang Alhamdulillah masih waras gak mau masuk, mending pulang aja mau leha-leha."
Usep tersenyum, lagi-lagi merasa lucu sendiri. Aneh memang, masa ada orang yang masuk rumah aja gak mau. Kayak masuk ke rumah siapa saja.
"Tuh kan emang bener apa kataku, kalo kamu itu udah gak waras." ucap Kacep yang melihat senyum Usep.
__ADS_1
"Enggak apa-apa Pak, cuman ngerasa lucu aja." saut Usep, namun Kacep yang tidak mau berlama-lama lagi disana. Akhirnya dengan langkah cepat naik ke atas motornya.
"Aku pamit pulang ya Sep, daripada ketularan ndak waras."
"Beneran Pak enggak mau masuk dulu?" Usep kembali menawarkan.
"Maturnuwun udah nawarin, tapi aku ndak mau. yaudah aku pamit aja tapi kamu beneran mau tinggal disini? " jawab Kacep sekalian bertanya untukmemastikan, siapa orang yang ia anggap gak waras bakal berubah pikiran.
"Usep gak berubah pikiran kok, tapi kalo Bapak mau pulang sekarang hati-hati ya."
"Nggih, Assalamu'alaikum." salam Kacep lalu setelahnya melesat meninggalkan Usep sendirian disana.
"Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh," jawab Usep tersenyum manis.
Kepalanya kembali menoleh ke arah rumah yang di matanya sangatlah menarik, namun tidak untuk orang lain.
Usep merentangkan kedua tanganya seraya berteriak menunjukkan bagaimana rasa senangnya.
"I'M COMING RUMAH BERSEJARAH,"
Burung-burung yang semula hinggap di ranting pohon langsung berterbangan ketika mendengar suara cempreng pendatang baru.
Usep sendiri sebenarnya mengetahui tentang rumah bersejarah di depanya lewat mimpi, namun mimpi itu sangat nyata hingga membuat Usep penasaran. Apa rumah yang masuk ke dunia alam bawah sadarnya itu ada di dunia nyata, hingga Usep langsung mencari tahu di internet dan rupanya benar-benar ada.
Dengan meminta doa restu dari Abah dan Umi, Usep akhirnya di ijinkan setelah melakukan rayu merayu.
Hingga kini dirinya ada di depan sebuah rumah peninggalan Belanda yang berada di tengah hutan.
Mungkin bagi orang lain Usep termasuk orang gak waras yang mempunyai tekad yang sungguh kuat, tapi bagi Usep sendiri adalah suatu kebanggaan.
Sejak kecil dirinya mempunyai cita-cita tinggal di rumah penuh sejarah, dan berharap bisa merasakan hidup di masa lampau.
Sampai akhirnya BOM!
__ADS_1
Impianya menjadi nyata.