Rumah Prasejarah Di Tengah Hutan

Rumah Prasejarah Di Tengah Hutan
Episode 3 | Kuburan


__ADS_3

17:55


Usep baru saja selesai membereskan rumah barunya, Ya. Walau tidak terlalu bersih dan masih terlihat kotor, tapi tak apalah. Yang terpenting sekarang dirinya menunaikan tiga raka'at terlebih dahulu.


Di letakanya jaket kulit miliknya yang sudah kotor penuh debu bahkan aromanya sudah tidak enak.


Setelah itu Usep mengambil pakaian ganti dan perlengkapan untuk ia mandi, rasanya tidak nyaman beraktivitas dengan tubuh yang lengket.


"Kamar mandinya masih bisa di pakai apa enggak ya? tapi itu mustahil juga kalau di pikir-pikir." gumamnya ketika mengingat bangunan yang tengah ia tempati usianya sudah berabad-abad lamanya.


"Tapi kemarin pas baca informasi di internet kalo gak salah ada sumur di belakang rumah, " lanjutnya mengingat-ingat, tapi dirinya juga tidak tahu pastinya sih.


Tak ingin banyak berpikir lagi, Usep Wardoyo langsung berjalan menuju belakang rumah.


Dinding tanpa cat dan hanya semen yang melapisinya sudah terlihat terkelupas, kayu-kayu penyangga juga nampak sudah di keroyok rayap hingga sebagian sudah hancur. Namun beruntungnya rumah tua peninggalan Belanda itu masih bisa berdiri walau kapanpun pasti bisa roboh.


Ck…Ck…Ck…


Suara cicak yang tengah merayap di plafon renta maupun di tembok nampak berbunyi menemani di setiap langkah seorang Usep yang sangat berani.


Kreet!


Sebuah pintu kayu yang sudah reot nampak terbuka sedikit dengan sendirinya, jika orang lain yang melihat hal tersebut pasti akan berpikir hal-hal negatif. Namun tidak dengan Usep yang berfikir positif jika pintu reot itu hanya terkena angin saja, mengingat pintu tersebut sangat ringan untuk di buka tutup.


Tangan Usep langsung mendorong pintu reot agar terbuka lebih lebar, mungkin itu pintu menuju halaman belakang.


Wuusss!


Angin berhembus kencang, hingga membuat ember berwarna hijau tua terjatuh ke dalam sumur. Benar dugaan Usep.


Tap…Tap…Tap…


Kaki jenjangnya mengayun mendekati sumur yang nampak usang, disana juga terdapat katrol untuk di gunakan mengambil air.


"Hachiu! "


Usep menggosok hidungnya, banyaknya debu membuat dirinya tersiksa.


Jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganya sudah menunjukkan jam enam lewat lima menit, takut kehabisan waktu. Usep langsung meletakan apa yang ia bawa di bibir sumur.


Lalu tanganya meraih tali dan menariknya, dari arah bawah sumur. Nampak ember berwarna hijau tua yang tadi terjatuh karena terkena angin nampak naik dengan sebuah air yang mengisinya.


Trak…Trak…Trak…

__ADS_1


Tak!


Setelah ember telah ada di hadapannya, Usep langsung meletakan di bibir sumur. Namun wajahnya nampak masam ketika melihat air yang sangat keruh dan bau tidak enak, 'kan gak bisa buat mandi ataupun wudhu.


"Lebih baik aku tayamum saja," gumam Usep, lalu matanya melirik ke segala arah untuk mencari tempat yang sekiranya bersih.


Setelah melihat tembok yang terlihat layak untuk ber-tayamum, Usep langsung mendekat dan melakukan gerakan-gerakan tayamum.


Setelah selesai, Usep kembali lagi ke arah sumur dan mengambil apa yang telah ia bawa.


"Kalau di kota jam segini masih belum terlalu petang, tapi di sini seperti tengah malam." ucapnya lalu merogoh saku celana trening yang ia kenakan untuk mengambil benda persegi miliknya.


Setelah itu ia aktifkan senter untuk menerangi, dan langsung melangkah kembali masuk ke dalam rumah.


Benar saja, di dalam rumah tanpa ada penerangan sedikitpun itu nampak sangat gelap. Tapi beruntung Usep membawa ponsel, walau kenyataannya tidak bisa begitu terang.


Kreet!


Suara decitan pintu kamar membuat suasana semakin mencekam, tapi itu tidak di rasakan oleh Usep.


Pria yang usianya hampir kepala tiga dengan segera masuk ke dalam kamar karena ingin segera menunaikan kewajibannya.


Sebelum itu, Usep terlebih dahulu mengganti pakaiannya yang lebih bersih. Lalu mulai menggelar sajadah dan tak lama Usep berdiri menghadap kiblat.


Di tempat lain, nampak ada segerombolan anak muda tengah bercengkrama.


"Gue denger rumah kosong yang ada di hutan udah ada penghuninya," ucap Irwan.


"Namanya juga rumah kosong Wan, pasti ada penghuninya. Hih ngeri deh, soalnya nih ye di film-film horor yang Gua liat namanya setan pasti serem." saut Sidan yang masih belum mendengar tentang kabar terbaru di desa Gonosari.


"Heh Sidan, bukan itu loh maksudnya Irwan." celetuk Rizak.


"Loh, terus apa dong? " tanya Sidan gak ngerti.


Mendengar itu, Irwan dan Rizak nampak geleng-geleng kepala. Mereka tahu kalo teman mereka memang tipikal orang yang kurang apdet, kalau udah tahu paling beberapa minggu kemudian atau bahkan bulan.


"Tadi sore kata Bu Rt udah ada yang nempatin rumah ngeri itu, kalo gak salah sih namanya Usep," jelas Irwan memberi tahu, memang benar tadi usai Kacep mengantar Usep. Bu Rt yang merupakan isteri Kacep yang bernama Sidah yang mempunyai mulut besar langsung membeberkan berita yang mampu membuat warga desa Gonosari gempar, apalagi rumah itu sudah kosong selama berabad-abad lamanya setelah pemilik asli rumah tersebut meninggal dunia. Namun kini? ada orang yang berani menempatinya.


Sidan mendengar itu langsung melongo. "Duh orang itu kok berani banget ya? Gua aja ogah."


Irwan manggut-manggut, sementara Rizak yang dari tadi hanya menyimak langsung berhenti.


"Ada apa Zak? kok berenti, " tanya Irwan heran.

__ADS_1


"Wan, Dan. Itu bukanya motor Pak Rt ya? kok ada di situ." ucap Rizak yang langsung membuat dua temanya menoleh ke arah yang di maksud.


"Ngapain Pak Rt naroh motor di kuburan? " celetuk Irwan dengan mimik wajah sama seperti Rizak dan Zidan, heran.


Tak ingin berlama-lama lagi, Rizak langsung menarik kedua lengan temanya untuk mendekat ke arah motor milik Kacep.


"AllahuAkbar!"


Pekik mereka bertiga merasa kaget, saat melihat Kacep yang terlentang di tanah dengan motor bebek miliknya yang menimpa tepat di atas tubuh kurus seorang Kacep.


Rizak yang mempunyai rasa kemanusiaan yang tinggi, langsung mengangkat motor dari tubuh Kacep dengan di bantu dua temanya.


Setelah itu Rizak meng-standarkan motor Kacep, lalu kembali lagi ke tempat dimana Kacep yang sudah di dudukan oleh Sidan dengan kepalanya yang bersandar di pundaknya.


Rizak menempelkan jarinya di hidung pesek Kacep, setelah beberapa detik kemudian Rizak lantas bernafas lega saat mengetahui bahwa Kacep hanya pingsan saja.


"Gimana Zak?" tanya Irwan.


"Alhamdulillah, cuman pingsan aja Wan. Oh ya kamu bawa minyak angin gak?" tanya Rizak yang di sambut anggukan kepala dari Irwan, anak muda satu ini memang selalu membawa minyak angin. Maka dari itulah Rizak langsung bertanya.


Setelah Irwan memberikan minyak angin berukuran kecil miliknya, Rizak langsung membuka tutupnya dan mengarahkan ke hidung Kacep.


Di gelapnya kawasan kuburan, mata Rizak nampak melihat mata Kacep yang mengerjap dengan di iringi suara lenguhan saat merasakan sakit di sekujur tubuhnya.


Mata Kacep nampak melihat ke arah tiga pemuda di depanya, untuk memastikan bahwa di depanya itu benar-benar manusia bukan setan yang menjelma.


"Kalian manusia kan?" tanya Kacep memastikan, Rizak nampak tersenyum. Pemuda yang cukup peka dengan hal gaib itu paham dengan maksud dari pertanyaan Kacep, sementara Irwan dan Sidan nampak keheranan.


"Tenang Pak, kami bukan dedemit kok." ucap Rizak.


Kacep mendengarnya langsung bernafas lega. "Syukurlah,"


Setelah sedikit tenang, Kacep melihat ke sekelilingnya dan mengernyit saat melihat banyak makam di sekitarnya.


'Loh, bukanya tadi aku masih di hutan? kenapa malah jadi kuburan."


"Kalau Bapak sudah lebih baik, mari saya antarkan pulang. Gak baik juga lama-lama disini, " ungkap Rizak menyadarkan.


Kacep nampak menganggukkan kepalanya. "Yaudah, aku mau pulang sekarang saja. Lagian ndak enak rasanya disini, "


Rizak mengangguk, lalu Kacep di bantu berdiri oleh Irwan dan Sidan. Sekalian juga memapah pria malang itu untuk mendekati motornya.


"Zak, Bapak mau minta tolong buat sekalian bawa motornya. Aku rasanya ndak kuat," pinta Kacep.

__ADS_1


Akhirnya Kacep malam itu pulang dengan di bonceng Rizak, sementara dua temanya lanjut berjalan kaki.


__ADS_2