Rumah Prasejarah Di Tengah Hutan

Rumah Prasejarah Di Tengah Hutan
Episode 4 | Dingin


__ADS_3

Setelah selesai sholat isya, Usep nampak berjalan dengan membawa lilin yang telah menyala guna menerangi di setiap langkahnya.


Kreet!


Di bukanya lebar-lebar pintu utama, setelah itu Usep melangkah menuju kursi goyang dengan satu meja bundar di sampingnya.


Grek!


Di dudukinya kursi goyang setelah meletakan lilin di atas meja bundar yang nampak sudah sangat renta.


Angin malam bertiupan, membuat suasana terasa dingin. Bahkan baju koko dan sarung yang melekat di tubuh Usep tidak juga membuat hangat, sehingga membuatnya memeluk tubuhnya sendiri.


"MasyaAllah, di sini dingin banget. Beda banget sama di kota," gumam Usep.


Ting!


Terdengar sebuah suara notifikasi dari ponsel milik Usep, hingga membuat tangan pemuda berusia tiga puluh tahun tersebut merogoh saku bajunya.


"Umi," usai membaca nama pengirim pesan, seketika senyum Usep mengembang sempurna. Lalu tanpa aba-aba lagi, jari telunjuknya langsung menyentuh pesan tersebut.


^^^(Assalamu'alaikum, Usep sudah sampai di desa Gonosari?)^^^


^^^(14:00)^^^


Setelah membaca pesan yang telah Uminya kirim beberapa jam yang lalu, Usep seketika menggerakan jarinya untuk menulis sesuatu.


(Wa'alaikumussalam, Maaf Umi. Usep baru balas, Alhamdulillah Usep udah sampe)


(20:00) √


Satu pesan yang baru mendapatkan centang satu, sepertinya sinyal sudah kembali pergi setelah tadi datang sejenak.


Namun karena suasana yang sepi, akhirnya Usep memutuskan untuk menyalakan sebuah lagu sholawat di ponselnya.


Hingga akhirnya sebuah lagu yang menenangkan hati sudah terdengar di kedua gendang telinga, membuat tubuh Usep dengan reflek bersender di kursi goyang.


Wuus!


Wuus!


Angin bertiup kencang, membuat dedaunan jatuh ke tanah. Bahkan suasana yang memang sudah dingin malah semakin dingin, membuat bibir Usep memucat.

__ADS_1


Hingga akhirnya, api yang bertengger di atas lilin padam.


Gelap, sungguh gelap. Membuat Usep cepat-cepat meraih ponselnya untuk menyalakan lampu.


Namun, belum juga jari miliknya menyentuh logo lampu. Sebuah lagu sholawat yang tadinya terdengar, justru sekarang malah menjadi lagu Belanda dengan suara menyayat hati.


Ik ben hier en altijd hier ♪♫♬


Sebuah satu lirik yang Usep sendiri tahu artinya 'Aku di sini dan selalu di sini' membuat kedua alisnya saling bertautan.


Neast jou ♪♫♬


{Di samping kamu)


Kijkt naar jou ♪♫♬


(Sedang menatap kamu)


"Astagfirullah, lagu apa ini?" gumam Usep yang langsung mematikan lagu Belanda tersebut.


Dengan gerakan tergesa-gesa, Usep langsung menyalakan senter lalu mengambil lilin padam tadi dan membawanya.


Kreeet!


Tak…Tak…Tak…


Dengan langkah yang cepat, Usep menuju ke kamarnya. Namun kedua kakinya yang semula berjalan cepat, sekarang justru mematung dengan kepala yang menoleh setelah mendengar suara pintu terbuka.


Kreet!


Deg!


"Astagfirullahaladzim!" pekik Usep saat matanya tanpa sengaja melihat sebuah wajah yang tengah menatapnya penuh senyum dari celah pintu kamar sebelah yang barusan terbuka setengah.


Dengan segera tanpa ingin berlama-lama lagi di sana, Usep membuka pintu kamar yang sempat sedikit macet namun akhirnya bisa ia buka.


Brak!


Setelah masuk ke dalam kamar, Usep langsung membanting pintu dengan sangat keras.


Kali ini, jantungnya benar-benar berdetak sangat kencang.

__ADS_1


"Mahluk apa tadi? aku gak pernah lihat sebelumnya." gumam Usep setelah sedikit tenang.


Greek…Greek…


Kepala yang sedari tadi menunduk, seketika Usep tegakan. Menatap jendela kayu yang belum juga ia tutup.


"Semakin tua daya ingatku juga semakin melemah," ucap Usep seraya melangkah mendekat ke arah jendela kayu yang tengah bergerak-gerak akibat terkena angin.


Greek…Greek…


Daun jendela yang bergerak, semakin mempersulit Usep untuk meraihnya. Hingga mau tidak mau dirinya harus mencondongkan tubuhnya.


Kedua tangan yang terulur, akhirnya berhasil menggapai daun jendela. Membuat Usep dengan cepat menutupnya.


Tapi, karena jendela kayu yang memang sedikit macet. Membuat susah di tutup, hingga kondisi di luar rumah yang masih bisa terlihat oleh Usep. Tanpa sengaja menunjukkan sebuah siluet seorang perempuan tengah berjalan terseok-seok di tengah gelapnya malam.


'Mahluk apa lagi itu? ' batin Usep yang langsung menunduk dengan di susul daun jendela yang seketika berhasil tertutup rapat.


Bersamanya jendela tertutup, perempuan yang semula berjalan terseok-seok langsung menolehkan kepalanya dengan sebuah senyuman aneh.


"Lafaard, "


- -


- -


- -


Hola!


Ngampurane nggih, aku udah lama gak update.


Soalnya aku lagi liburan jadi waktu buat nulis di pake buat seneng-seneng.


Jadi yah begitu deh.


Pokoknya aku mintak maaf aja banyak-banyak.


Eng… apa lagi yah? kayaknya udah cukup deh.


Yaudah sampe sini aja yah.

__ADS_1


Sampai jumpa lagi.


__ADS_2