Rumah Prasejarah Di Tengah Hutan

Rumah Prasejarah Di Tengah Hutan
Episode 2 : Lemas


__ADS_3

Setelah puas Usep memotret sekitarnya dan berfoto, akhirnya kini Usep melangkah mendekati motor Matic miliknya untuk mengambil dua kotak kardus yang berisikan banyak persediaan makanan.


Dengan langkah pelan karena rupanya tidak ringan tapi sungguh berat, sampai ketika dirinya sudah sampai tepat di depan pintu yang terbuat dari kayu jati. Barulah Usep menurunkan dua kardus tersebut seraya melenggokan badanya kesana-kemari hingga tubuhnya menghasilkan suara.


Krek…Krek…


Membuat Usep menghentikan aksinya, dan lebih memilih untuk mengangkat tanganya hendak menggapai knop pintu.


"Hachiu! Hachiu! "


Usep seketika bersin, ketika terdapat debu yang berterbangan. Ternyata banyak sekali debu yang menghinggapi.


"Duh, harus kerja keras ini." gumam Usep, namun walau begitu bukanlah hal yang masalah karena rumah yang sudah di tinggali dengan waktu yang cukup lama pasti sangat kotor.


Kreet!


Ingin cepat-cepat masuk, Usep langsung saja mendorong pintu dengan tangan satunya yang menutup hidung agar debu tidak lagi masuk ke dalam hidung peseknya.


Ketika pintu terbuka lebar, langsung memperlihatkan isi rumah yang nampak berantakan. Bahkan sang surya tidak mampu menerangi karena posisi rumah yang menghadap berlawanan dari arah matahari.


Usep memandang isi rumah dengan lesu, ia pastinya akan menjadi sangat sibuk karena memberesi semua ini.


Tak ingin berlama-lama, Usep langsung saja mengambil dua kardus tadi. Lalu melangkah mendekat ke arah pintu, sebenarnya Usep tidak tau seluk beluk rumah tua ini. Namun coba saja buka semua pintu sampai mendapatkan sebuah kamar yang sekiranya cocok untuknya.


Kreeet!


Usep membuka salah satu pintu, ketika pintu terbuka sempurna. Usep langsung tersenyum senang walau hatinya sedikit kesal.

__ADS_1


Sebuah kasur dengan kelambu dan disana juga ada lemari kayu yang terdapat kaca tertempel disana yang retak, nampak langit-langit kamar yang banyak sekali sarang laba-laba yang harus di bersihkan.


Usep menghela nafas, nampaknya ia akan bekerja sangat keras hari ini. Dirinya pikir tidak akan seberantak realita namun rupanya itu semua hanya haluan belaka.


"Kamu pasti bisa Sep! " gumamnya menyemangati dirinya sendiri, setelah merasa semangat. Usep langsung meletakkan dua kardus tersebut lalu mulai melangkah lebih dalam lagi.


Di bukanya jendela kayu yang sedikit macet, hingga akhirnya kamar tersebut nampak sedikit terang.


Setelah itu, Usep membersihkan yang ia bisa. Karena dirinya tidak punya sapu akhirnya ia menggunakan jaketnya saja, setidaknya akan lebih baik.


...┅┅┅┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅┅┅┅...


Sementara itu, Kacep yang masih menjalankan motor bebek miliknya terus mengoceh sendiri untuk menghilangkan rasa takut yang terus menghinggapi.


"Si Usep emang orang paling ndak waras, dia bisa-bisanya sudi tinggal di rumah ngeri itu. Ya aku tahu sih kalau dia itu pernah mondok enam tahun jadi gak heran dia orangnya berani, cuman yak. Pikir sendiri lah?" Kacep terus membicarakan Usep dengan dirinya sendiri.


Sayup-sayup Kacep mendengar suara lirih dari seorang perempuan, hingga akhirnya Kacep memutuskan untuk menghentikan motornya untuk sejenak.


Di liriknya ke segala arah, walau hatinya sebenarnya gundah gulana karena tak yakin kalau perempuan itu manusia. Bisa saja 'Kan? kalau suara yang ia dengar tadi sebenarnya suara setan.


'Duh, kayaknya penghuni sini ndak suka aku ghibahin Usep.' batin Kacep merasa merinding sendiri, apalagi ketika otak gak berperasaanya malah membayangkan seorang wanita berdaster putih dengan rambut tak di sisir selama sebulan dengan tubuhnya yang melayang sembari cekikikan horor.


Tak ingin berlama-lama lagi, Kacep langsung saja kembali menaiki motornya untuk cepat-cepat sampai rumah walau rasanya ia sudah berjam-jam menjalankan motornya namun tak kunjung sampai di jalan raya.


Dengan jantung dag-dig-dug Kacep langsung menghidupkan mesin, seraya memikirkan apa yang akan ia bicarakan.


Brem!

__ADS_1


Beruntung, motornya tidak mati mesin seperti film-film yang sering ia tonton di televisi rumahnya.


"Aku heran deh sama Bu Erni, beliau itu wong sugih tapi kok pelit ya pas di suruh iuran? kayak kemarin itu loh. Aku sampe pusing, wong duit palingan cuman lima ribu aja buat bangun Masjid alasanya banyak bener udah itu galak juga. Pantesan Pak Supri perutnya kayak hamil masal, wong isterinya kayak gitu kok. Udah pasti perutnya kenyang," cerocos Kacep mengganti orang yang ia bicarakan, tak apalah jika apa yang keluar dari mulutnya sama saja namanya meng-ghibah yang penting gak sepi.


Namun sampai bensinya hampir habis, matanya belum juga melihat jalan raya. Duh ada apa ini? hatinya mulai tak enak, takut ada sesuatu yang buruk.


"Duh, jangan sampai aku di puterin sama penghuni sini." gumam Kacep yang merasa merinding.


Namun belum juga rasa takutnya mereda, Kacep sudah merasakan jika jok belakangnya seperti ada yang menduduki.


"Kalau di film horor, pasti di belakang aku ada bentuk serem." gumam Kacep semakin ngeri, bahkan matanya mencoba untuk tidak menoleh ke kaca spion.


Wuuss!


Lehernya panas dan geli, seperti ada nafas yang menghantam tengkuknya. Bau anyir juga ikut mengimbangi.


"Ya Allah Gusti, lindungi hamba dari mereka." ucap Kacep dengan keringat sebesar biji jagung yang mengucur terus-menerus, namun kini malah tengkuknya merasakan sebuah kuku panjang yang menyentuh.


"Allahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum, laa ta'khudzuhuu sinatuw walaa naum. " Kacep mulai membaca Ayat Kursi dengan nada gemetar, apalagi ketika gendang telinganya mendengar suara cekikikan seorang perempuan.


Hihihihi!


Membuat Kacep dengan spontan menoleh ke sumber suara, dan betapa kagetnya ia saat melihat seorang perempuan mengenakan baju merah dan rambut yang tidak teratur tengah terbang sembari tertawa cekikikan.


Hihihihi!


Mahluk gaib yang sering di sebut-sebut kuntilanak merah oleh masyarakat sekitar kembali tertawa cekikikan.

__ADS_1


Kacep yang melihatnya langsung terkulai lemas, dan akhirnya terjatuh ke tanah tidak sadarkan diri.


__ADS_2