
Pagi hari akhirnya tiba, terlihat Usep tengah meregangkan seluruh otot-ototnya yang terasa kaku. Apalagi semalam dirinya tidur di atas kasur yang keras bagaikan batu kokoh.
Tapi beruntunglah malam nanti mungkin dirinya bisa tidur dengan nyaman, karena barang-barangnya akan segera di antar menggunakan mobil. Seharusnya sekarang sedang menuju lokasi.
Setelah merasa lebih baik, Usep langsung berjalan menuju kursi goyang yang berada di teras untuk sekedar duduk santai menikmati suasana damai berada di tengah hutan.
Kreet…kreet…
Kursi itu bergerak saat Usep menjatuhkan tubuhnya.
"Huuh! " terdengar helaan nafas dari Usep, setelah itu di liriknya jam tangan hitam yang melingkari pergelangan tangannya. Disana nampak tiga jarum menunjuk ke arah angka sembilan lewat lima belas menit.
"Seharusnya sebentar lagi sampai," gumam Usep menunggu kedatangan mobil yang membawa barang-barangnya sekaligus orang-orang yang nantinya akan memperbaiki apa yang perlu di perbaiki.
Plak!
Di tepuknya pelan pergelangan tanganya yang tadi sempat ada nyamuk menghinggap hendak menyedot darah segar milik Usep.
"Kalau mandi pasti seger, " celetuk Usep yang merasakan jika tubuhnya sungguh lengket.
__ADS_1
Namun apalah daya, air yang ada di rumah prasejarah yang tengah ia tempati tidak bisa di pakai. Tetapi mungkin ia bisa menumpang mandi di rumah milik Kacep, namun Usep juga takut ketika dirinya pergi justru apa yang ia tunggu datang.
Drrtt…Drrt…
Hingga akhirnya sebuah suara dering ponsel mampu membuyarkan pikiran Usep barusan, lalu di rogohnya saku celana yang ia kenakan guna mengambil ponsel berlapis silikon.
Setelah ponsel sudah berada di genggamanya, Usep terlebih dahulu membaca nama si penelfon. "Galih?" tanpa menunggu lama lagi, Usep langsung mengangkat telepon dari Galih yang merupakan seorang sopir pengantar barang-barangnya nanti.
[Assalamu'alaikum]
[Wa'alaikumussalam, ada apa Galih? ]
Hening tiada suara sedikitpun.
"Halo!" ucap Usep mengernyit namun tidak ada yang menyahuti, karena bingung. Usep langsung melihat layar ponselnya.
Masih menyala, tapi tak ada suara.
"Hem, mungkin sinyalnya ilang." gumamnya berfikir positif.
__ADS_1
Hingga akhirnya suasana kembali senyap, sementara Usep melirik ke segala arah sampai kedua netranya menatap motor matic miliknya.
"Mungkin aku ke rumah Pak Kacep aja sebentar," ucapnya lalu masuk ke dalam rumah menuju kamarnya untuk mengambil perlengkapan mandi, ia berniat untuk bersih-bersih di rumah Kacep.
Setelah siap, barulah Usep melangkah keluar menuju motor miliknya usai menutup pintu rapat-rapat.
Brem!
Ketika mesin menyala dan siap untuk di gunakan, barulah Usep melajukan motor dengan kecepatan sedang yang dapat di lihat pada jarum yang berada di Speedometer.
...┅┅┅┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅┅┅┅...
"Gimana?" tanya Emir kepada Galih, sementara yang di tanya menghendikan bahu. "Tadi aku udah ngejelasin semuanya, tapi gak ada jawaban sama sekali."
Wajah Emir seketika menjadi cemas. "Gimana kalau Bang Usep marah?" ucap Emir yang membuat Galih berfikir kembali.
Tapi, ketika mengingat Usep itu orang yang seperti apa. Galih dengan segera mengalihkan fikiran negatif tadi sempat hinggap di otaknya.
"Huh, sudahlah! lebih baik ayo kita berangkat. Lagian ban mobilnya sudah di ganti kan? " ujar Galih tak ingin berdiam lebih lama lagi.
__ADS_1
Sementara Emir dan lima orang yang sejak tadi hanya diam seketika menganggukan kepala, setelah itu langsung naik ke mobil yang sudah di penuhi oleh barang-barang.