Rumah Tanpa Jendela

Rumah Tanpa Jendela
Wa Ode


__ADS_3

Berteman dengan gadis itu memang asyik, dia selalu ada ketika aku butuh, dia selalu mensupport ku, apalagi di kala pandemi tengah merajalela seperti sekarang ini, Wa Ode tetap teman dan keluarga di garda terdepanku. Termasuk urusan finansial, dia seolah kartu atm bagiku yang mahasiswi beruang pas pasan hhahha. Dari perkenalan tak terduga kami, aku yang seorang kasir sebuah minimarket, tentunya hanya kerja paruh waktu sehabis pulang kuliah saja.


" Selamat siang kakak sudah belanjanya, mari saya hitung dulu, ada kartu member mungkin?, "pertanyaan standard kasir waktu itu kulontarkan pada Wa Ode.


" udah langsung aja mbak diitung, gag punya bnyak waktu saya"


Busyet dahh pembeli seperti ini yang selalu membuat tegangan tinggi para kasir toko. Dengan stok sabar yang melimpah ruah aku akan bertahan menghadapi musibah ini batinku.


" totalnya 169 Ribu kak", dia menyodorkan kartu debit padaku.


"pinnya kakak silahkan",


"maaf kak, kartu lainya coba, ini decline", kataku lagi padanya.


"maaf ini juga tidak bisa kak, kartu lain mungkin",


Sampai 4x dia menyodorkan berbagai kartu, tapi nahas baginya semua kartu bukan dewi fortuna buat dia saat ini.


"duh susah amat sih, ya udah ini saya cuma punya cash 100 rb, iti kurang kurangin aja deh belanjanya biar pas, itu juga uang terakhir saya", jawabnya smbil melotot ke arah ku.

__ADS_1


Hello, batinku nih orang marah marah mulu daritadi, sudah ujung ujungnya belinya gag semua juga. Hemmm emang dia pikir inibtoko engkongnya apa ya?


"ini kakak belanjanya, terimaksih sudah datang, silahkan datang kembali, "jawabku untuk formalitas sop karyawan.


Jam sepuluh malam tepat, seluruh karyawan shiff siang pulang termasuk aku. Kira kira setengah jam setelah pembeli rempong iti belanja. Aku sampai di parkiran motor karyawan, ponselku berdering beberapa kali, batinku ahh nanti saja setelah sampai di kos saja aku buka lagian aku bukan tipe orang suka bermain ponsel ketika mau berkendara. Tapi ini sudah yang kesekian kalinya ponsel ini berdering, benar saja aku buka ponselku, nama wa ode yang memanggil, ada apa ya tidak biasanya dia begitu pasti terjadi sesuatu, belum sempat aku menerima panggilan telponya sudah keburu dia matikan, langsung saja aku telpon balik.


"hallo ada apa? ", aku langsung panik


" ahh kamu kelamaan, dari mana saja sih g bisa angkar tkpon bukanya ini sudah jam pulang kerja ya?aku pulang dulu ya, pintu kos ada di bawah keset teras, bapakq sakit, barusan aku dijemput om ku, maafin aku mendadak ya, aku minta doanya supaya bapaku segera sembuh, "cerita wa ode panjang lebar padaku.


Aku shyok mendengarnya, dia yang selalu cerita, hari ini terdengar memilukan tapi setidaknya aku juga bisa merasakan bagaimana rasanya jika keluarga kita ada yang sakit apalagi ayahnya." iya, hati hati di jalan ya, sampai ketemu lgi, aku doakan semoga lekas sembuh, sampaikan salamku juga pada keluargamu".


"siap bos, "jawabku singkat


Ponsel sudah dimatikanya, aku jadi teringat ayahku sendiri. Tapi bagian mana yang harus aku ingat? Bahkan aku sendiri selalu takut mengingatnya. Aku jadi teringat ibu, aku merasa bersalah telah meninggalkanya dengan ayah saja, apakah aku ini durhaka? Ya alloh ampunilah dosa orang tuaku dan hamba. Tak terasa aku sudah berada di motor ku, berjalan ke parkiran hari ini begitu cepatnya, aku pulang dengan beribu perasaan, seperti begitu sakit menusuk palung hati. Ibu, tunggu aku. Ingin sekali mengunjungi ibu tapi apa daya aku belum bisa pulang, ayah tidak mungkin mengizinkan aku pulang setelah apa yang telah terjadi. Pertengkaran itu merengganggkan hubungan kami. Aku rindu sifat ayahku ketika aku masih kanak kanak, begitu lembut penyayang dan sabar, tapi semua itu telah sirna tepatnya setelah ayah mengenal wanita ****** itu, Febby namanya, seorang wanita muda yang tidak bermoral menurutku, mungkin semua orang juga akan sependapat denganku. Jelas jelas ayahku sudah berkeluarga, tetapi dia selalu menggoda ayahku hingga iman ayahku goyah olehnya, dia merusak karakter baik ayahku, tiap hari jadi pembuat onar, suka minum minuman keras, berjudi, ke diskotik, karaoke yang tidak jelas, semua yang berhubungan dengan dunia dan kesenangan malam, sudah dijelajahi oleh ayahku, karena Febby, semua uang hasil kerja ayahku diberikan pada wanita licik itu, ibuku tak pernah menjadi daftar sebagai penerima gaji atas kerjanya selama ini. Saat itu yang bisa aku lakukan hanya diam saja itupun karena ibuku yang meminta, ibuku adalah sosok istri solikhah yang selalu menuruti apapun kata suami termasuk saat ibu tahu bahwa Febby sudah menjadi istri siri ayahku dan dia harus satu atap juga dengan kami. Itulah awal masalah yang membuatku tidak bisa menahan diri lagi untuk menegur ayahku, namun usahaku hanya sia sia saja, ayah selalu memihak Febby dan tak pernah mendengarkan kami.


"Midah, Midah, cepet sini, beliin sabun sama odol buat Febby, mau mandi habis sqbunnya", teriak ayahku di pagi buta, tepatnya masih jam 05.00.


"Aku masih punya sabun mas, pake saja buat Febby, nanti aku beli", jawab ibuku.

__ADS_1


"iya mana",, sambil merebut sabun dari tangan ibuku.


" Mas, mana sabunya, aku dah risih nih mau keramas", suara gatel wanita itu.


Ingin aku menamparnya, tapi masih aku jaga tangan ini.


"heh, Isti ngapain kamu disitu", bentaknya padaku.


"Liatin loe", jawabku sudah tak bisa lagi kubendung amarahku, dulu aku masih diam karena aku madih sekolah, masih tak berdaya, tapi sekarang setidaknya aku sudah bekerja kalau terjadi apa apa aku sudah bisa menghidupi aku dan ibuku.


Tiba tiba dia datang menjambakku, aku tak hanya diam, kutampar berkali kali pipinya. Usia kami tidak terpaut jauh, hanya lebih tua 2 tahun dariku. Jadi Febby itu pantasnya jadi anak ayahku bukan menjadi istri sirinya.


"Isti,!!! Pergi kamu, pergi, aku tak sudi melihatmu lagi, berani beraninya kamu memukul istri ayah!!! Jadi anak durhaka hah?? ", bentak ayahku sambil mengepalkan tangannya.


" ampun mas, ampuni Isti dia tidak tahu apa apa, maafkan dia mas", bela ibuku.


"sudah bu, sudah saatnya ibu melawan semua ini, semua ini salah, dan kau Febby, pelakor, dasar!! Harusnya kamu yang pergi dari kehidupan kami.


Plakkkkkk... Plakkkkk, tamparan ayah begitu menusuk hatiku, bukan karena kerasnya tamparan itu, tapi kenapa dia tidak mempedulikan kami. Ayah aku harus pergi. Pergi meninggalkan kepedihan yang entah sampai kapan akan terobati, pedih meninggalkan semua kenangan terindah yang pernah kulalui bersama sama, ibu, aku, dan ayah.

__ADS_1


__ADS_2