
Desember 1991,
Aku memang belum lahir tentunya, tetapi jiwaku seolah melihat semuanya lewat diary merah itu. Buku tulisan tangan ibuku.
Seperti biasanya ibuku berlatih karate bersama teman temanya juga simpe (guru karatenya), yang kebetulan guru karate itu adalah pacar ibuku sendiri, jadi setelah latihan ibu dan pacarnya itu menghabiskan waktu berdua entah untuk cuci mata di pecinan, makan bakso, atau hanya sekedar nongkrong di pinggir jalan.
"Ke pecinan aja yuk sambil nyari sepatu, aku mau beli sepatu soalnya, "kata Mas Adi yang tak lain pacar ibuku itu.
" yuk, boleh, tunggu dulu aku ganti baju dulu", jawab ibuku singkat.
Akhirnya mereka menuju pecinan yang bisa ditempuh sekitar 45 menit menggunakan angkot maklum jaman dahulu masih banyak yang menggunakan transportasi umum dibanding kendaraan pribadi, kalau jaman sekarang mah jarang.
Mereka bersenang senang menghabiskan waktu seharian itu. Sampai akhirnya ada telpon dari nenekku (ibunya jbuku)
Yang intinya ibu harus pulang saat itu juga ada yang ingin dibicarakan. Tanpa berpikir panjang, ibuku minta diabtae pulang pacarnya.
"Mas, ibu telpon suruh pulang sekarang ada yang penting katanya",
"Ya udah, pulang yuk aku anter"
Setelah sampai rumah dan pacar ibuku itu pulang, nenekku memulai pembicaraan.
"Ti, besok jangan main lagi sama si Suryo ya? ".
" Heem, kamu ndak boleh main sama temen cowok lainya juga, kamu udah dilamar orang, besok keluarganya mau kesini, tadi dia sendiri yang kesini bilang mau nglamar kamu, "kata bude Anna panjang lebar.
" dilamar?? Sopo mbak? Aku kok gak tahu kok bisa bisanya yang memutuskan ibu sama embak, kan yang msu menjalani aku mbak".
__ADS_1
"wes to yang manut aja, dulu pesene almarhum bapakmu, nek ada yang ngelamar anak kita pertama kali harus diterima, pamali soalnya, ", sambung nenekku.
" Namane Wanto, satu kerjaan sama kamu tapi beda bagian, katanya sudah lama ngeliat kamu, dia suka langsung datang kesini, dia masih keponakanya bude Rubiah tetangga kita itu", cerocos bude lagi.
"Wanto? Yang mana mbak aku belum kenal", penuh rasa shyok dan sedih bukan main ibuku.
" Besok juga tahu, besok kamu dandan yang cantik, dia mah dateng sama keluarganya", jawab nenek.
Percakapan sore itu berhenti sampau disitu, ibu masuk ke kamarnya penuh dengan rasa amarah, gelisah dan terkejut tentunya. Lalu mas Suryo bagaimana? Pikir ibuku, mereka sudah berpacaran kurang lebih setahun ini.
Esoknya, ibu pagi lagi sekali menuju pabrik tempat kerjanya, dia sengaja menunggu di pos satpam sambil tanya pak satpam mana orang yang namanya Wanto itu.
"Pak Edo, aku mau nebeng duduk sini dulu ya, sama mau tanya pak yang namanya Wanto yang mana ya pak",
"Aduh mbak Isti Wanto yang mana, kan yang namanya Wanto ada 3,nah nah itu tu yang baru masuk gerbang itu namanya Wanto udah 30 tahun kerja disini, sampai sekarang jadi embah embah, ibarat kata dia sesepuh pekerja pabrik sini".
"ohh,, ehhmmm apa itu? Wanto yang lagi markir motor tuh, anaknya Bu Ningrum baru lulus SMK kemarin terus dimasukin sini sama ibunya.
"bukan ah, masak anak kecil", jawabku pelan.
"emange kenapa to mbak Isti, aneh aneh aja kok an", pak Edo sambil penasaran.
"lha apa itu mbak yang lagi jalan tu, pake kemeja biru, yang ada kumisnya itu lho".
Apa dia ya? Tapi aku gak kenal dia, ya mungkin pernah beberapa kali ketemu di tempat kerja tapi belum pernah bertegur sapa, soalnya menurut kabar yang beredar, dia orang yang congkak, apalagi dia masih saudara salah satu orang kantor di pabrik ini. Dari tampangnya saja kelihatan kalau dia orang yang kasar dan keras kepala. Tapi apa boleh buat semua sudah terjadi.
Pulang kerja aku langsung pulang, ingin segera merebahkan badan di kasur. Seluruh badan terasa sakit hari ini. Tanpa sengaja aku berpapasan dengan Wanto itu.
__ADS_1
"hai Is, semoga kamu senang ya, aku anter pulang gimana? ", katanya menawari ibu.
" makasih gak usah", jawabku ketus.
Di luar gerbang pabrik nampak CB tua warna merah yang selalu menemaniku ketika aku dan Suryo pergi. Suryo?? Aduh bagaimana aku memulai pembicaraan dengan dia? Aku sungguh takut melukai hatinya, tapi aku harus bisa, entahlah aku bjngung. Aku mendekatinya, dan Wanto pun sudah tak nampak lagi batang hidungnya, sudah pulang barangkali.
"Is, aku pengen ketemu ibumu, mau mengutarakan isi hatiku kalau aku mau serius sama kamu. "
Bagai disambar petir siang hari, di lain sisi aku begitu bahagia tapi aku pun sedih, mana bisa dia diterima sedangkan lamaran Wanto kemarin sudah diterima.
Dia langsung menarikku tanpa memberiku waktu untuk menjelaskan semuanya.
Dia mengjakku pulang kerumah, di tengah perjalanan aku memberitahu dia bahwa aku sudah dilamar orang,"mas,maafin aku, aku bingung bagaimana buat ngomongnya ke kamu.".
"mau bilang apa sih?".
"mas, aku sudah dilamar orang",kataku dengan menyembunyikan linangan air mata.
"iya aku kan yang ngelamar sayang", katanya tak percaya.
"bukan kamu mas, orang lain yang melamarku, dan ibu sama mbak Anna sudah menerima lamaran itu. "
Dia menghentikan motornya mendadak, aku maklum jika dia begitu padaku, dia pasti lebih terkejut dibanding aku.
" selamat ya Isti, terimakasih atas luka ini, aku tidak menyalahkanmu, tapi entah kenapa dadaku sesak mendengar kata katamu tadi itu, entah siapa yang harus kusalahkan, tetapi aku juga salah tidak langsung melamarmu, karena aku masih takut untuk berumah tangga, tapi bukan berarti aku tidak berkomitmen, aku trauma dengan orang ruaku sendiri yang bercerai saat aku masih balita, dan itu begitu menyakitkan," cerita Suryo padaku tanpa jeda.
"maafkan aku mas, hanya kata itu yang bisa aku suguhkan, "
__ADS_1
Sampai dirumah, mbak Anna tidak menyambut Suryo dengan ramah. Suryo menanyakan soal kebenaran berita yang sudah aku bagikan padanya. Suryo pamit pulang dengan hati yang hancur tentunya. Maafkan aku mas Suryo, semua begitu menyakitkan. Aku terluka, dan Suryo pun terluka. Tanpa berkata apapun padaku dia menuju motor kesanganya itu. Suryo marah besar. Ketika kulihat dari teras, Suryo meludah ke arahku dari atas motornya. Kebersamaan kami selama ini hanyalah sebuah kenangan saja, kenangan yang lebih baik seharusnya tidak pernah ada, karena hanya menyakitkan. Aku memilih keluargaku, bukan berarti aku tidak mencintai Suryo, sangat amat mencintainya, tapi ibuku segalanya buatku, aku tidak bisa menolaknya termasuk soal kehidupan pribadiku, aku menurut walaupun hatiku berontak. Suryo maafkan semua kesalahanku. Suryo memang dewasa tetapi aku melihat duka yang mendalam dari sorot matanya, bukan hanya duka tapi sebuah kekecewaan juga.