Rumah Tanpa Jendela

Rumah Tanpa Jendela
Kelahiran kedua


__ADS_3

Aku sampai di kosan sekitar pukul 01.00 dini hari. Udara pagi menerobos pori pori begitu membuat begidik. Sekian lamanya aku penuh lamunan dari tempat kerja tadi, tubuh jadi begitu gerah. Kuputuskan untuk masak air untuk mandi, dan sedikit ngopi malam dulu, lagian besok pagi jatah off. Hal yang paling kutunggu setelah menunggu seminggguan bekerja keras.


Kulangkahkan kaki ke dapur, menyalakan kompor tentunya. Ehmm aku suka keheningan menjelang subuh seperti ini, rasanya benar benar sakral. Baru beberapa menit aku berada disini lampu mendadak padam, kuintip jendelqa mungil d dekat dapur, ternyata di luar sana juga mati semua, ohh bukan anjlok listriknya. Untung handphone masih kupegang, jadi bisa kunyalakan senternya. Upsss ada yang membuatku tiba tiba berjingkat, ada udara yang begitu luar biasa dinginya melewati tumit dan leherku. Kenapa dia harus kurasakan ditengah kondisi gelap macam ini, aku begitu benci kegelapan,membuatku sesak napas, selain itu didalam kegelapan aku benci melihat semua itu, yang awalnya akupun kaget dan takut.


Benar saja, aku melihat sosok yang tengah menatapku dari sudut dapur, karena kondisi gelap dan sedikit pencahayaan dari hp, kusorotkan lampu ke arah sosok itu, tapi tidak ada siapa siapa, ketika cahaya hp mengarah ke arah lain, sosok itu seolah masih ada. Keadaan semacam ini sebenarnya sudah lama aku alami sedari kelas 1 SMA, namun tetap saja ketika makhluk makhluk semacam ini menampakkan wujudnya rasa terkejut itu yang begitu besar dibanding rasa takut, malah bisa dikatakan aku tidak takut dengan hal hal macam iru, hanya terkejut dan kaget, karena mereka suka datang tiba tiba. Untung saja lampu hidup kembali, jadi situasi tak mengenakan itu segera hilang. Aku teringat kejadian awal mulanya aku bisa melihat mereka.


" Mau masuk juga ya? Sekalian aja sama aku ya, temenku udah pada ganti baju soalnya", kataku sambil membukakan pintu ruang ganti sekolah. Yang aku ajak biacara hanya mengangguk saja. Masih jelas dalam ingatanku, dia gadis yang tidak terlalu gemuk dan tidak terlalu kurus juga tingginya sedang, kulitnya kuning langsat, di kepalanya dia memakai bandana bentuk zigzag warna hijau, dia sambil membawa baju ganti seragam pramuka di tangannya. Rambutnya sebahu, agak kecoklatan, bentuk rambutnya model segi kalau di desaku namanya, rambut depanya agak pendek kemudian semakin ke belakang semakin panjang.


"o iya kamu kelas apa? ", tanyaku lagi sambil mengunci pintu setelah dia masuk. Posisiku berada tepat di depan pintu, maksudku biar cepet keluar selesai ganti soalnya aku suruh Fitri nunggu di depan toilet. Sedangkan gadis itu berada di sebelah kananku dengan jarak hampir sepuluh langkahan dari diriku berdiri, posisinya membelakangiku.

__ADS_1


"sepuluh F", jawabnya singkat.


"kalau aku sepuluh C", sembari merasakan dingin yang begitu sangat, dan betapa kagetnya aku, ada suara tertawa yang melengking dari dalam ruangan ini, spontan aku melihat ke arah gadis itu, dia diam saja tidak bergeming, bahkan saat aku mulai merasa ketakutan, dia tak menampakn wajahnya terus membelakangiku, dan tawanya semakin melengking.


"Fitri, Fit buka, tolongin aku, "aku teriak teriak berharap Fitri mendengar teriakanku dan membukakan pintu, tapi rasanya hanya sia sia saja. Aku tengok gadia itu sekali lagi, hilang dia tidak ada lagi, sedangkan pintu masih terkunci, kalau dia manusia bagaimana dia bisa menghilang begitu saja? Itukah makhluk lain dari dunia lain itu? Banyak pertanyaanku saat itu, akhirnya pintu terbuka, Fitri ternyata tadi lagi buang air kecil di toilet.


Karena aku yang berbeda ini terkadang Wa Ode juga merasa takut padaku, katanya suatu ketika, "isti, kamu kayak bukan dirimu sendiri terkadang aku takur deket deket kamu, kamu aneh", dan aku hanya tersenyum membalasnya, aku tidak pernah mengatakan apapun pada Wa Ode, jika aku bisa melihat hal hal yang diluar nalar. Aku tidak ingin membebaninya, soalnya sahabatku yang satu ini salah satu manusia penakut,ke kamar mandi saja harus diantar. Satu satunya yang tahu jika aku berbeda adalah ayahku, kata ayah suatu ketika ini adalah kelebihan turun temurun dari nenek buyutku. Hah? Terkadang aku ingin normal seperti manusia lainya. Namun semakin aku ingin menepisnya, maka semakin banyak hal yang memperkuat kelebihan ini.


Saat aku buka hp, ternyata ada pesan dari ibu,

__ADS_1


*isti gimana kabarmu? Ibu kangen, o iya Febby habis melahirkan kemarin, anaknya cewek, liat bayinya, ibu jadi teringat kamu dulu*


Itulah ibuku, selalu berpura pura kuat meskipun hatinya rapuh, jam segini ibu pasti belum bisa tidur. Ya alloh kuatkan ibu, permudahlah segala urusanyaa. Tapi kenapa bisa bapak menyia nyikan wanita semulia ibu? Bukankah selama ini ibu sudah terlalu murah hati,?. Mungkin akan ada ganjaran atas segala perbuatan, hanya kita harus bersabar, dan tidak putus asa dalam segala hal.


Lalu kenapa ada manusia sekejam Febby dan ayah? Bukankah Febby seorang wanita, bagaiman jika dia berada di posisi ibuku? Padahal Febby adalah dari keluarga berada, dibanding keluargaku, Febby termasuk oeang kaya, tapi memang dia salah pergaulan. Dia bisa mendapatkan laki laki bujang yang masih muda dan juga kaya. Hidup memang aneh, dulu aku hidup penuh kedamaian dan kini tiba tiba keadaan berbalik.


Dadaku sesak memikirkan semua itu, ingin aku membawa ibu disini, tapi aku belum bisa,ayah belum bisa melepas ibu, ibu dimanfaatkan sebagai babu ayah. Sekarang? Febby lahiran? Pasti ibu juga yang jadi babby sitternya. Membayangkan saja aku tidak kuat, kapan ayah akan berubah? Seandainya kakek nenek masih ada pasti tidak akan separah ini.


Semua kelahiran pasti sudah ada jalanya, semua kelahiran pasti ada tujuanya. Kelahiran kedua, seandainya ada untuku, aku tetap ingin menjadi anak dari ibuku. Kelahiran kedua seandainya ada, aku ingin menjadi manusia normal tanpa ada cipratan mistis, untukku yang sejatinya manusia yang logis dan realistis. Tapi dengan adanya sisi lain yang aku lihat ini, setidaknya menghibur laraku, terkadang mereka juga berbicara seperti layaknya seorang sahabat. Hanya saja mereka dari dunia lain yang tak sama dengan manusia. Toh apa bedanya hanya beda dunia, sedangkan aku dan ayahku yang berdunia sama, tapi kami tak bersama.

__ADS_1


__ADS_2