Rumah Tanpa Jendela

Rumah Tanpa Jendela
Mata Batin


__ADS_3

Setelah bekerja sebagai kasir, aku mendapat sedikit ketenangan. Sebelum akhirnya aku mendapatkan kabar soal kelahiran anak Febby itu. Hmmmm ingin aku terbang dan membawa ibu kesini.


O iya beberapa hari yang lalu sebelum ibu sms aku soal kelahiran itu ada surat dari ibu yang kuterima dari pak pos, aneh rasanya, hari gini ibuku masih berkirim surat, ahh biarlah mungkin ada hal yang benar benar penting sehingga hanya bisa dia utarakan lewat surat. Kuambil surat di laci meja kamarku, kubuka amlpopnya.


Untuk anakku isti tersayang,


...Disini ibu sudah berusaha nak, bahkan terlalu sering ibu berusaha, setiap hari ibu menelan luka yang tiada obatnya, setiap hari hanya harapan supaya kau lekas pulang lah yang selalu menguatkanku. Tapi ibu sudah tiada daya. Lelaki yang selama ini ibu hormati, ibu junjung tinggi sudah menaburkan banyak garam di luka ini, lelaki matahari ibu sudah berubah menjadi mendung hitam yang tak berkesudahan. Doa selalu aku panjatkan, namun mungkin alloh sedang tidak ingin ibu membuka lembaran bahagia, karena ibu sudah terlalu pahit isti. Maafkan ibu nak jika ibu sudah tiada lagi bermukim disini lagi....


Salam hangat dariku,


Ibumu


Apa maksud ibu dengan semua ini? Sudah terlanjur sakit, ya aku paham dengan itu semua.


Entah setelah membaca surat ibu rasanya mata ini mengantuk berat. Langsung aku menuju kamar, tanpa menunggu lama aku begitu pulas tertidur.


Hingga aku masuk ke dalam dunia mimpi, aku melihat begitu jelas, ibuku masuk ke sungai itu, terjun bebas, dan tidak kembali lagi, aku melihatnya dari atas, segera aku berlari ingin meraih tanganya menariknya ke atas tapi sudah terlambat.

__ADS_1


Ahhhhh, aku kaget, aku terbangun, ternyata hanya mimpi, tapi seolah begitu nyatanya, aku berharap agar ibuku tidak gelap mata.tidak lama setelah ibu telpon berdering.


"halo, siapa ya? ", kataku


" mbk, maaf ini apa benar keluarga dari ibu sriatun? Ini beliau kecelakaan mbak di daerah stasiun tugu, trimakasih", kata seseorang yang tidak aq kenal itu.


Aku hanya termangu, mana mungkin apa benar, ibuku kecelakaan? Tanpa aku sadari aku sudah melamun sesaat. Di waktu ini, aku seperti tersentak, aku melihat ibuku tersenyum ke arahku tanpa berkata apapun. Kukedipkan mata, dan wusss hilang sosok ibu dari mataku,. Aku berlari cepat keluar kos, kekendarai motor kesayanganku menuju stasiun tugu.


Sepuluh meter dari tempat yang banyak dikerumuni orang itu, dadaku sesak, nafasku tidak bisa kukendalikan, terdengar tak beraturan dan tersenggol senggol, antara berjharap ini hanyalah mimpi dan berusaha menguatkan diri jika memang benar ini nyata adanya. Lima meter dari sosoj yang terbujur kaku terlihat dari ujung kakinya yang sudah tertutup oleh daun pisang itu. Benar benar ingin melompat jauh dari tempat ini. Dan ketika aku berada di titik 0 ini, aku yakin ini adalah ibuku sosok yang sedang aku cari. Kenapa ibu begitu cepat meninggalkan semua ini.


"sudahlah", seseorang menepukk pundakku.


" temanmu", jawabnya


Pikirku mungkin agak ngigau orang ini. Tepat jam 12 malam jenazah ibu dibawa ke rumah sakit terdekat guna penyelidikan lebih lanjut dan aku pun mengikuti semua strukturalnya. Karena benar benar kecapekan, dirumah sakit aku tertidur pulas.


"hmmmm.... Hmmmm... Hmm", suaranya mendayu dayu walau hanya sebatas gumaman saja

__ADS_1


Suara itu terus beruapaya memasuki gendang telingaku, bagus memang, melengking sedikit menakutkan, dan penuh misteri membuat setiap orang yang mendengarnya ikut tersayat. Lama lama kok aku kenal betul suara itu, bukankah itu ibu?.


"buk, "aku memanggil sembari menghampirinya


Orang yang aku panggil hanya diam saja tanpa menoleh sedetik pun. Aku rasa itu benar benar ibu, tapi kenapa dia tidak berhenti dari langkahnya atau setidaknya menoleh ke arahku saja. Tanpa berpikir panjang, aku ikuti saja dia sampai ke suatu tempat yang sepi, penuh pepohonan dan ada sumur yang nampak sumur puluhan tahun sudah berada disana. Di lubuk hatiku aku seolah juga sadar kalau aku sedang berada di rumah sakit, tapi aku juga sadar bahwa diriku juga berada disini mwmbuntuti sosok ibuku itu. Entalah antara sadar dan batas mimpi yang baru pertama ini aku alami. Tapi ibuku sudah tidak nampak dimana mana ditempat asing ini bagiku. Ketika aku sudah lelah mencari, ketika langkahku hendak kuarahkan ke jalan pulang yang sebenarnya aku pu juga tidak tahu dimana jalan pulang itu. Ibu sudah berada disampingku, itu benar benar mengagetkanku. Ibu nampak cantik memakai gamis dan kerudung putih itu, namun dia agak muram.


"isti, maafkan ibu, ibu terasa sakit disini, tapi kamu jangan pusingkan ibu, jaga diri kamu baik baik ya, ibu tidak bisa jaga kamu lagi, ibu yakin kamu anak yang tangguh. "jelasnya panjang lebar sambil menggenggam tanganku.


" ibu", jawabku penuh haru dan hanya penuh dengan deraian air mata saja.


Aku bingung kenapa ibu berkata seperti itu. Aku masih ingin banyak bercerita dengan ibu, aku masih ingin pelesir dengan ibu, aku masih ingin membahagiakan ibu. Tapi ibu sudah tidak ada lagi dihadapanku, padahal tadi masih memegang tangan ini, seolah lenyap begitu saja. Tapi di tanganku ada semacam benda yang diletakkan ibu untukku, semacam kayu putih kecil dibungkus kain putih. Entahlah berarti apa.


"mbak, keluarga dari pasien barusan ya? ", tanya seorang perawat sambil menggoyangkan badanku agak keras, barangkali sudah berkali kali perawat itu mau membangunkanku tapi aku belum juga bangun. Sungguh kaget aku, terbangun dari mimpi yang seolah begitu sangat nyata, ohhh pegal semua badan ini, aku hanya tidur di kursi ruang tunggu pasie di depan igd yang sangat keras, jadi pastinya badan serasa dipukuli.


"iya mbak saya anaknya, silahkan anda ke ruang perawat yang didepan itu ya untuk melengkapi data2, "kata perawat iti sambil mengacungkan jari telunjuknya ke arah ruangan yang dimaksud.


Aku berdiri dri posisiku tiduran, ada benda kecil yang jatuh dari pangkuanku, sungguh kaget diriku,

__ADS_1


" bukankah itu benda yang tadi aku lihat dalam mimpi? Apa maksud dari semua ini? Ini benda apa? Kenapa ditujukan padaku? ", gumamku sendiri dalam hati


Apakah ada semacam pesan yang belum tersampaikan dari ibu untukku? Ah mana mungkin begitu, bukankah orang yang sudah meninggal iti sudah berbeda alam dengan kita, dimensinya pun berbeda. Lalu aku harus tanya pada siapa soal ini? Ayah?? Tidak mungkin dia tahu soal semacam ini, dia bahkan tidak pernah mengurusi ibu. Aneh sekali barang yang aku lihat dalam mimpi bisa menjadi barang nyata di dunia nyata ini. Ehmmmmmm aku belum bisa menafsirkan apa apa. Langsung kumasukan saja ke dalam dompetku, mngkn setelah semua ini selesai aku akan mengurusi benda ini dan apa maknanya, untuk sekarang yang terpenting bagaimana cara menyelesaikan pemakaman ibu tanpa ada halangan.


__ADS_2