Rumah Tanpa Jendela

Rumah Tanpa Jendela
Dua sloki


__ADS_3

Ayah dan ibuku begitu menikmati hidup baru mereka setelah menikah walaupun awalnya ibu berat melakukan itu tetapi demi kewajiban seorang istri, dia mampu melampauinya sampai detik dimana dia benar benar mencintai ayahku. Sampai aku lahir dan menambah kebahagiaan keluarga kecil mereka.


Ketika umurku 12 tahun, kejadian pahit itu nampak.


"Bu, maaf aku kena PHK, tidak hanya aku saja tapi semua karyawan soalnya pabrik gulung tikar", ucap ayah ke ibuku.


..."iya tidak apa apa yah, sabar, mungkin bukan rejeki, nanti cari kerja yang lain aja ya?, "...


" iya"


Semua percakapan manis itu lenyap begitu saja, karena pada kenyataanya, hidup itu butuh uang, lama lama ayahku merasa bosan, lelah karena semua usaha yang dirintis setelah kasus PHK itu hancur semuanya. Ayah sering pulang larut malam bahkan sampai pagi dini hari. Bau alkohol selalu membekas di bajunya. Ibu sudah mulai menegur ayah, namun ayah selalu berkilah dan mulai kelihatan kasarnya, ibu selalu dibentak bentak, ditamparnya. Badan ibu banyak bekas lebam. Pernah suatu ketika, aku bilang ibu untuk lapor polisi, namun ibu tidak mau. Aku hanya merasa tidak berdaya kala itu, aku merasa takut untuk menegur ayahku sendiri. Namun aku kasian pada ibu.


"bu, bukanya ibu itu sudah pernah ikut karate go ju kai? Berarti ibu bisa bela diri kan? Kenapa ibu tidak melawan ketika ayah main tangan? ", kataku.


" berbeda isti, kalau ibu ini istri ayahmu, istri tidak boleh melawan apapun alasanya terhadap suami, melawan suami berarti durhaka pada suami dan akan dapat murka alloh nak, sudah biarlah, nanti bapakmu juga akan sadar".


Ahh selalu itu yang dijawab setiap kali aku menanyakan soal itu. Sampai aku bosan mendengarnya.


Malam itu ayah pulang diantar seorang gadis muda dari jendela kamar aku intip mereka. Aku lihat jam menunjukan pukul 3 dini hari. Sebentar sebentar rasanya aku pernah melihatnya tapi dimana ya, entahlah. Kututup lagi tirai penutup jendelaku, agar tidak ketahuan kalau aku sedang mengintip.

__ADS_1


Esoknya aku mulai rutinitas seperti biasanya, sehabis subuh tadi aku sudah mandi dan bersiap untuk sekolah. Selesai sarapan, aku langsung mengeluarkan motor matic ku,sepanjang perjalanan aku mencoba mengingat muka yang tadi mengantar ayah, siapa ya? Seperti familiar dengan orang itu tapi siapa ya?. Deg tiba tiba aku teringat sesuatu, bukankah itu Febby? Anak kelas IPS? iya aku ingat sekali itu dia, aku mempercepat laju motorku, ingin rasanya segera sampai ke sekolah.


Sampai di parkiran sekolah, seperti kebetulan saja, motor Febby terparkir tepat di sebelahku. Dia masih terlihat berjalan sampai di gerbang pntu parkir, aku berlari mengejarnya.


"Feb, tunggu dulu, "sambil berlari kecil untuk mengejarnya.


" iya, kenapa? ", tanya dia


Dengan sedikit cemas, aku mencoba menanyakannya juga soal kejadian semalam." kemarin kok kamu bisa nganter ayahku pulang? ".


Dia menjawab pertanyaanku, namun terlihat raut mukanya yang merah padam, dia mempercepat langkahnya.


Pertanyaan itu akhirnya tanpa jawaban untuk pagi ini, mungkin lain waktu bisa terjawab segalanya. Banyak hal yang berkecamuk di kepalaku. Tentang mengapa, kenapa, bagaimana bisa dia bersama ayahku malam itu.


Di jam istirahat aku sengaja tidak ke kantin, aq hendak menghampiri Febby saja aku masih penasaran.


"Febb, aku mau denger jawaban kamu soal pertanyaanku tadi pagi".


Dia terlihat menghela nafas, dan memberikan jawaban yang tidak pernah aku bayangkan selama ini.

__ADS_1


"aku pacar ayahmu, kami sudah menjalani hubungan ini setahun. Tanpa ada yang tahu, termasuk kamu, dan akhirnya semalam aku nganter pulang soalnya dia mabuk berat", jawab Febby tanpa merasa bersalah, dan seolah dia bangga bisa merebut hati seseorang telah beristri.


"apa? Kamu? Gak mungkin".


" kamu tidak percaya? Terserah kamu aja yang penting aku udah kasih tahu", lanjut dia.


"kenapa harus ayahku? Kenapa tidak laki laki lajang saja, lagian kamu itu cantik muda dan tajir kenapa malah mau sama bapak bapak? ", kataku dengan penuh amarah dan shyok.


" sini, agak kesini nanti ndak ada yang tahu".


Aku mendekat padanya, aku masih butuh jawaban dia dengan detil.


"sebelum kenal ayahmu, aku sudah punya kekasih, dia menghamiliku, tapi dia kabur tidak mau tanggung jawab, hidupku sudah hancur waktu itu, aku melakukan aborsi, aku mampir diskotik, aku mabok, hingga aku ketemu bapakmu di diskotik, dia yang nolongin aku, dia perhatian, dia baik, penuh cinta dan kehangatan, selama ini aku tidak pernah merasakan kasih sayang semacam itu, apalagi di keluargaku yang semuanya super sibuk, lalu salahku dimana kalau kami sama saling mencintai? Ya walau aku tahu dia sudah punya keluarga, tapi aku cinta ayahmu Isti, selama ini ayahmu yang menemaniku minum, sampai yang awalnya hanya satu sloki sekarang aku berani dua sloki ",jawabnya panjang lebar.


Aku meninggalkan dia tanpa berkata apapun, percuma aku harus banyak kata di depan orang yang sudah tidak bisa membedakan antara salah dan benar antara malu dan tidak. Aku hanya meminta pada Alloh semoga ibu kuat ketika mendengar semua kebenaranya. Ayahku sudah berkhianat. Pelajaran jam terakhir ini tidak ada yang masuk di kepalaku, yang aku pikirkan sudah sejauh apa mereka berhubungan? Aku jadi risih sendiri, tapi memang semua sudah terjadi, ataukah ibuku sebenarnya sudah tahu tapi diam saja?, Febby memang sudah terkenal liarnya, dia anak broken home, papa mamanya bercerai, disini, dia hanya tinggal dengan ART nya. Kebebasan yang benar benar bebas tanpa ada aturan adalah yamg dia kerjakan, disisi lain aku sangat prihatin dan kasian pada febby, di sekolah pun dia hanya berteman dengan sedikit orang, selain karena mereka takuy pada febby namun juga karena Febby bukanlah tipe anak yang mudah bergaul dengan semua orang.


Hatiku hancur sehancur hancurnya, antara marah benci berkecamuk dalam jiwa. Tapi aku masih saja bertanya tanya kenapa Febby mau dengan ayahku??, bukankah dia kaya raya, ya walaupun aku tahu orang tuanya sudah bercerai, atau dia ingin mencari kesenangan lainya? Tapi kenapa harus dengan ayahku. Memikirkanya saja aku sudah mual apalagi ketika aku tahu apa yang mereka lakukan di belakang ibuku.


Dan, ayahku kenapa tega teganya dia berkhianat sedangkan ibuku selalu menjadi wanita dan seorang istri yang baik dan setia. Lalu apa kurangnya? Bahkan ibuku juga cantik menurutku tidak ada kurangnya. Kecantikan ibu juga tidak kalah dengan wanita wanita cantik di luar sana.

__ADS_1


Tiba tiba kepalaku sakit bukan main seperti dipukul dengan sangat kerasnya. Pandanganku pun kian memudar dan akhirnya gelap tanpa bisa memandang apapun lagi, hanya ibu yang masih selalu terngiang, suara sedihnya, isak tangisnya masih menggema di telingaku. Dannnn..aku semakin gelap... Dan.... .. Brukkk aku pingsan.


__ADS_2