Saat Senja Bersamamu

Saat Senja Bersamamu
Hari Pertama


__ADS_3

Pagi hari ini burung berkicau ria karena memang cuaca yang bagus. Cahaya matahari masuk kedalam kamar melalui jendela kaca yang sudah dibuka. Angin pagi juga berhembus masuk sampai horden ikut berhembus ria.


Tapi di pagi yang bagus ini ada seorang anak perempuan masih belum terbangun. Padahal hari ini adalah hari pertamanya masuk sekolah setelah libur musim dingin yang baru usai.


Merasa tidak sabar dengan anaknya yang sedari tadi belum bangun. Bu Mina masuk ke dalam kamar anaknya. Dilihatnya anak perempuannya itu masih tertidur dengan wajah ditutupi oleh selimut.


"Hitomi! Mau jam berapa kau bangun??!" Ucap bu Mina menarik selimut yang menutupi wajahnya.


"Ma Hitomi masih ngantuk." Ucap Hitomi mencoba menarik selimutnya.


"Hari ini hari pertama kau masuk setelah libur. Cepat bangun. Udah terlambat nih kamu."


"Jam berapa sekarang ma?" Tanyanya yang langsung bangkit dari tidurnya.


"Jam 7. Makanya kalau dibanguni sekali langsung bangun. Dasar." Ucap mamanya lalu pergi meninggalkannya dalam kepanikan.


"Mama kok nggak bilang dari tadi sih. Beneran terlambat aku ini." Ucapnya lalu bergegas ke kamar mandi dan mengambil seragamnya.


Sekitar 10 menit kemudian dia turun dari kamarnya yang berada dilantai 2. Ada mamanya papanya berada dirung makan. Dan kedua adik laki-lakinya yang sudah pergi karena memang sudah waktunya. Dia saja yang terlambat.


"Pagi ma, pa." Sapa Hitomi.


"Pagi. Apa tidak terlambat bangun jam segini? Ini hari pertama kamu masuk loh." Ucap papanya yang sedang membaca koran.


"Tadi malam Hitomi lama tidur jadi kesiangan deh." Ucap Hitomi sambil mengambil roti yang sudah di oleh oleh mamanya.


"Udah tau kesiangan masih lama-lama makannya?" Ucap bu Mina memberikan segelas susu.


"Iya. Inikan mau berangkat." Ucap Hitomi meminum susu yang diberikan mamanya.


"Hitomi pergi dulu ya. Dah ma, pa." Ucapnya lalu berlari keluar rumah.


Dia menuju garasi dan mengambil sepedanya. Dia menaiki sepeda berwarna pink muda. Dia pun melajukan sepedanya begitu keluar dari garasi.


Jarak sekolah barunya tidak terlalu jauh dari rumah. Jadi dia memutuskan untuk menaiki sepeda dari pada bus yang penuh sesak saat pagi.


Saat diperjalanan dia tidak sengaja menabrak seorang anak laki-laki yang bertubuh tinggi dan bermata sipit. Bukan hanya laki-laki itu saja yang terjatuh tapi Hitomi juga.


"Aduhh... Sakit sekali." Keluh Hitomi. Sekarang lutut dan telapak tangannya terluka.


Laki-laki yang ditabraknya tadi berdiri lalu membersihkan baju dan tasnya yang kotor.


"Maafkan aku. Aku tidak sengaja. Aku terlambat jadi terburu-buru. Sekali lagi maafkan aku." Ucap Hitomi bangkit dan mengangkat sepedanya yang ikut terjatuh.


Laki-laki itu hanya diam dan menatap Hitomi lalu pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Hey. Aku sudah minta maaf. Itu tidak sopan tau." Teriak Hitomi karena dia sudah menjauh.


Merasa diabaikan Hitomi lalu menaiki sepedanya dan mengayuhnya karena memang dia juga sudah terlambat. Dilewatinya laki-laki tadi dilihatnya wajahnya yang tidak menolehnya sedikit pun.


Sudah mengayuh cukup jauh akhirnya Hitomi sampai disekolah. Saat itu gerbangnya hampir saja ditutup. Untungnya satpam itu sangat baik jadi membiarkan Hitomi masuk begitu saja.


Dia pun berlari menuju kelasnya. Dengan nafas yang tersengal akhirnya dia masuk kekelasnya sebelum gurunya masuk.


Hitomi bukanlah siswi yang pintar berprestasi. Dia juga bukan siswi yang terkenal akan kecantikannya. Wajahnya sungguh biasa saja. Dia juga tidak memiliki banyak teman. Temannya hanya satu. Itu pun kalau dia terkena masalah atau dibully temannya itu tidak membantu. Bukan tidak mau. Lebih tepatnya tidak bisa.


Mau menangis pun percuma. Karena dia bersekolah di sana selama tiga tahun. Berarti dia bertemu dengan pembully itu setiap hari. Kalau dia menangis berarti dia menangis setiap dibully. Itu akan merugikan kesehatan tubuh dan mentalnya.


"Hey Hitomi. Tumben kamu terlambat." Ucap Miyuki. Sekarang Miyuki duduk disamping Hitomi.


"Kamu yakin mau duduk disini?" Tanya Hitomi.


"Tidak. Aku duduk di depan mu." Ucapnya menunjuk meja didepan Hitomi.


"Oh ya. Apa terjadi sesuatu tadi? Kenapa kau sudah terluka begini pagi-pagi?" Ucapnya lagi melihat luka di tangan dan lutut Hitomi.


"Tidak. Hanya kecelakaan saja. Tadi tidak sengaja terjatuh." Ucap Hitomi yang membersihkan lukanya pakai tisu basah.


Lalu guru mereka pun datang. Guru itu bernama bu Asuka. Ibu itu selaku wali kelas mereka. Miyuki yang duduk disamping Hitomi pindah ketempat duduk sebenarnya. Ibu itu membawa seorang siswa laki-laki. Sepertinya dia siswa pindahan.

__ADS_1


"Selamat pagi semua?" Ucapnya dengan semangat.


"Pagi bu." Para siswa pun menyahut.


"Hari ini hari pertama kita masuk setelah liburan musim dingin. Kebetulan ibu membawa teman baru kalian. Dia pindahan dari Seoul, Korea Selatan. Ibu harap kalian akrab dengannya." Ucap ibu itu pada seluruh siswa disitu.


"Yah silahkan perkenalkan dirimu." Ucap ibu itu pada siswa laki-laki yang tidak asing bagi Hitomi.


"Perkenalkan nama saya Nam Dohyun. Kalian bisa panggil Dohyun." Ucapnya tanpa tersenyum.


Para siswa dan siswi langsung beraksi. Mereka merasa takjub dan kagum melihat laki-laki bertubuh tinggi itu. Untuk ukuran tinggi badannya dia bisa dikira anak kuliahan kalau memakai baju biasa.


"Hitomi. Kalau kalian bersebelahan bakal lucu kali ya." Ucap Miyuki berbisik. Hitomi hanya tersenyum menanggapi temannya itu.


"Dohyun kamu duduk disana. Di sebelah Hitomi." Ucap bu Asuka menunjuk meja kosong disebelah Hitomi.


Dohyun pun berjalan menuju meja kosong itu. Dia melihat Hitomi sedikit terkejut. Tapi dia langsung mengubah ekspresinya menjadi datar lagi. Dia duduk disebelah Hitomi tanpa menyapanya. Hitomi hanya diam tidak berani menatapnya.


Diakan yang tadi aku tabrak. Ternyata dia siswa pindahan. Pantas saja aku baru melihatnya. Ucap Hitomi dalam hati.


"Karena ini hari pertama jadi kalian bisa bebas dijam pelajaran ibu. Kalian belajar sendiri ya." Ucap ibu itu lalu keluar kelas.


Saat ibu itu keluar kelas semuanya pada ricuh. Ada yang senang karena tidak belajar. Ada yang sibuk histeris karena melihat Dohyun. Yah pokoknya begitulah.


Lalu ada sekelompok perempuan yang menghampiri meja Hitomi. Hitomi dan Dohyun menoleh ke arah mereka. Hitomi yang tahu siapa mereka langsung menundukkan kepalanya. Sedangkan Dohyun menatap Hitomi yang sepertinya ketakutan.


"Hitomi. Ayo ikut kami sebentar." Ucap perempuan itu. Sepertinya dia ketua geng itu lalu pergi keluar. Hitomi pun mengikuti sekelompok perempuan itu.


☆☆☆☆


"Hey Dohyun. Kau kenapa pindah?" Tanya Daichi, salah satu siswa laki-laki dikelas itu pada Dohyun yang sibuk memainkan ponselnya.


Dohyun hanya diam saja tidak memperdulikan ucapan anak itu.


"Tapi yang tadi itu siapa sih?" Tanya Dohyun yang penasaran karena Hitomi belum kembali sejak tadi.


"Siapa? Ohh yang membawa Hitomi tadi? Dia itu anak salah satu pejabat disekolah ini." Ucap anak itu lalu duduk di kursi Hitomi.


Anak laki-laki itu pun pergi meninggalkan Dohyun sendirian. Tak lama kemudian guru pelajaran matematika masuk. Kebetulan guru itu lumayan galak.


"Yah buka kembali buku matematika kalian. Yang kita pelajari halaman 56 sambungan kemarin itu sebelum kita libur." Ucap bapak Hiroshi.


Kemudian bapak itu melihat ada beberapa kursi yang kosong. Termasuk kursi Hitomi.


"Teman kalian yang lain kemana?" Tanya bapak itu.


"Tidak tahu pak. Tadi mereka keluar tapi belum kembali pak." Ucap ketua kelas.


"Kemana mereka. Hitomi juga ikutan mereka lagi. Ya sudah. Kita mulai saja tanpa mereka." Ucap bapak itu melihat bukunya.


Mereka mulai belajar tanpa Hitomi dan yang lainnya seperti bapak itu bilang.


☆☆☆☆


Hitomi mengikuti mereka menuju atap sekolah. Begitu sampai perempuan yang tadi bicara langsung mencengkram rahang Hitomi dan menatapnya.


"Hey. Udah lama kita tidak bersenang-senang." Ucap Choi Yena lalu melepaskan cengkramannya lalu menghempaskan Hitomi sampai terjatuh. Anak perempuan itu begitu kuat. Dia juga berasal dari Korea.


Tubuh Hitomi yang kecil tak bisa menahan dorongan perempuan itu jadi mudah terjatuh. Hitomi pun merasa kesakitan karena lukanya yang tadi pun belum sembuh malah sekarang bertambah di kedua kakinya. Perempuan itu mendekati Hitomi dan menunduk.


"Kau. Jangan coba-coba sok akrab dengan cowok tadi. Coba saja kalau kau merayunya. Kau akan mendapatkan pelajaran lebih dariku." Ucapnya lagi. Teman-temannya tertawa melihat Hitomi yang ketakutan.


"Lihatlah dia ketakutan." Ucap salah satu temannya.


Hitomi melihat sekeliling. Dia juga kedinginan. Karena musim semi jadi udara masih terasa dingin.


"Sudahlah. Kasihani dia. Baru juga hari pertama masuk."


"Karena hari pertama itulah kita harus kasih dia pelajaran." ucap Yena dengan suara khasnya itu.

__ADS_1


"Kau dengarkan? Jawab dong kalau ditanya."


"I-iya." Ucap Hitomi terbata.


"Kalau sudah mengerti kau pergi belikan kami rokok." Ucapnya. Dia sekarang berjalan mendekati temannya yang duduk di pipa besar.


"Uangnya?" Ucap Hitomi sedikit pelan.


"Pakai uang mu lah. Pergi cepat sana." Ucapnya lalu duduk di pipa besar itu.


Hitomi segera bangkit dan berjalan dengan terseret karena luka di kedua kakinya. Sebenarnya dia takut karena ini sudah jam pelajaran matematika. Pelajaran yang paling dia tidak mengerti.


Setelah membeli rokok dia segera bergegas kembali ke atap. Dia mendekati sekelompok perempuan itu dengan rasa takut.


"Ini sudah aku beli." Ucapnya dengan suara pelan.


"Gitu dong. Kau boleh pergi sekarang." Setelah mengucapkan itu dia menghidupkan rokok yang dibeli Hitomi tadi.


Hitomi menuruti perkataannya. Dia bergegas menuju kelas. Dia takut kalau dia tertinggal pelajaran. Walaupun dia tidak mengerti pelajaran itu paling tidak dia harus mengikuti kelas itu pikirnya.


Saat di depan pintu dia mencoba mengambil nafas dalam dan merapikan seragamnya. Dia mengetuk pintu itu lalu terdengar sahutan dari dalam. Dia pun masuk. Semua mata melihatnya.


"Kemana saja kamu Hitomi?" Tanya pak Hiroshi.


"Saya.... saya tadi ke perpustakaan pak." Ucapnya ragu.


"Hmm.. kamu bisa duduk kalau kamu menjawab pertanyaan ini." Ucap bapak itu menunjuk papan tulis yang sudah tertulis soal pelajaran mereka.


Hitomi melihat soal tersebut. Lalu dia melihat bapak itu memberikan kapur padanya. Bagaimana dia bisa menyelesaikan itu. Dia bukan anak pintar yang tidak belajar pun bisa mengerjakannya.


Dengan ragu-ragu dia mendekati papan tulis. Dia terdiam melihat soal yang belum pernah dilihatnya. Merasa Hitomi terdiam bapak itu buka suara.


"Apalagi? Cepat kerjakan." Ucapnya.


Hitomi melihat bapak itu. Kemudian dia melihat soal itu kembali. Hening terasa didalam kelas itu. Lalu tiba-tiba ada seseorang yang bersuara.


"Biar saya saja pak." Ucapnya.


Hitomi dan seluruh kelas melihat asal suara itu. Dia berdiri dari duduknya.


"Tapi yang bapak suruh Hitomi."


"Dia lama sekali menjawabnya pak. Jadi biar saya saja." Ucapnya lalu berjalan mendekati Hitomi.


"Ya sudah. Coba kamu selesaikan."


Dohyun pun mengambil kapur yang ada ditangan Hitomi. Hitomi menyingkir agar Dohyun bisa mengerjakan soal itu.


Dohyun melirik sebentar ke arah Hitomi sebelum mengerjakan soal itu.


Dohyun mengerjakan soal tersebut dengan waktu yang terbilang cepat. Dan jawabannya jangan diragukan lagi. Bapak itu yang melihatnya langsung tersenyum melihat jawaban Dohyun.


"Bagus. Kamu memilih jawaban yang sederhana dan mudah dimengerti. Kamu boleh duduk." Ucap bapak itu pada Dohyun. Dohyun pun duduk.


"Kamu Hitomi. Karena kamu tidak bisa menjawab pertanyaan itu bapak beri tugas sebagai hukuman kamu." Ucap bapak itu.


"Kamu harus mengerjakan soal yang semester lalu sudah kita kerjakan. Dan kamu harus mengklipingnya. Bapak kasih waktu seminggu." Ucap bapak itu membuat Hitomi terkejut.


Bagaimana dia bisa mengerjakan itu semua dalam seminggu.


"Kamu boleh duduk." Hitomi pun duduk di kursinya.


Tak terasa bel istirahat pun berbunyi. Bapak itu segera mengakhiri kelas dan semuanya keluar dengan semangat kecuali Hitomi dan Dohyun.


Hitomi meletakkan kepalanya diatas meja. Dia tidak bisa makan siang karena uang sakunya sudah habis karena membeli rokok tadi.


Dohyun menyusun bukunya dan memasukkan kedalam tasnya. Dia melihat Hitomi tak bersuara dan tidak keluar untuk makan siang.


Karena Dohyun memang orangnya tidak peduli dia hanya keluar tanpa bicara sedikit pun.

__ADS_1


☆☆☆☆


__ADS_2