
Hitomi terbangun karena perutnya berbunyi. Dia menghela nafas. Kenapa masa sekolahnya bisa seperti ini. Dia selalu berpikir seperti itu.
Mau mengadu juga mustahil. Pasti kedua orang tuanya terkena imbasnya. Sebentar lagi bel masuk berbunyi. Tapi dia belum makan apapun. Dia juga merasa pusing.
Lalu ada seseorang masuk ke kelas. Hitomi mendengar suara langkah itu langsung meletakkan kepalanya lagi keatas meja.
Dohyun yang melihat itu menghentikan langkahnya. Saat itu belum ada yang masuk kedalam kelas. Dia melanjutkan langkahnya dan duduk dikursinya.
Hanya keheningan yang berada disana. Baik Hitomi maupun Dohyun tidak ada yang bicara. Sebenarnya Hitomi ingin sekali bicara. Tapi karena diancam dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Tak lama suara bel berbunyi dan semua masuk ke kelas. Tidak ada yang menyadari kalau mereka berduaan sebentar. Kalau ada yang menyadari mungkin Hitomi akan habis. Miyuki yang baru masuk langsung menghampiri Hitomi.
"Dari tadi aku tidak melihatmu dikantin. Apa kau sudah makan?" Tanyanya.
Hitomi bangun dan melihat temannya itu. Dia terlihat pucat.
"Hey. Wajah mu pucat sekali. Kenapa tidak makan?" Ucapnya yang melihat wajah Hitomi.
Dohyun yang disebelahnya melirik sedikit ke arah Hitomi. Ada rasa bersalah sedikit didiri Dohyun. Padahal dia tadi tau kalau Hitomi belum keluar.
"Aku tidak papa. Kau duduk saja. Nanti dia datang." Ucap Hitomi membuat Miyuki melihat sosok dia yang dibilang Hitomi.
"Kamu yakin? Ya sudah. Kalau memang tidak kuat tidak usah dipaksa ya." Ucapnya lalu kembali ketempat duduknya.
Hitomi kembali tertidur. Dia sebenarnya tidak kuat menahan sakit kepalanya sekarang. Tapi masih ada satu pelajaran lagi. Tidak mungkin dia pulang. Dia juga sadar diri. Tidak pintar pun dia harus rajin hadir.
Datanglah guru pelajaran bahasa. Ibu ini terlihat lembut. Ya memang orangnya lembut dan baik.
"Apa kabar anak-anak?" Ucapnya dengan riang.
"Baik." Jawab seluruh siswa kecuali Hitomi dan Dohyun.
Hitomi masih tertidur. Tidak ada yang membangunkannya. Bahkan Dohyun teman semejanya.
Ibu itu melihat Hitomi tertidur langsung mendatanginya. Dibangunkannya Hitomi. Semua mata menuju kearahnya.
"Hitomi. Bangun. Kita mau mulai pelajaran." Ucap ibu itu lembut.
Hitomi pun bangun. Dia terkejut karena ibu itu susah masuk.
"Maaf bu. Saya ketiduran." Ucapnya.
"Tidak masalah. Kamu baik-baik sajakan?"
"Iya bu."
"Tapi kamu terlihat pucat. Kalau memang sakit lebih baik kamu di uks saja."
"Tidak bu. Saya masih bisa kok mengikuti pelajaran." Ucapnya.
"Baiklah. Oke kita mulai ya. Kita akan belajar mengenai pribahasa........."
Hitomi mengeluarkan buku bahasanya. Dan membuka halaman yang akan mereka pelajari. Dan semua itu masih diperhatikan Dohyun. Hitomi berkali-kali memegang kepalanya selama pelajaran berlangsung. Itu membuat Dohyun menjadi tidak konsentrasi.
"Dohyun. Coba kamu berikan salah satu contoh pribahasa yang pernah kamu dengar." Ucap ibu itu.
Dohyun terlihat diam. Karena fokusnya masih pada Hitomi. Melihat itu ibu guru itu lalu bertanya pada Hitomi.
"Hitomi. Kamu biasa nya paling semangat dipelajaran ibu. Ayo sebutkan salah satu contohnya."
Hitomi tersenyum dan berdiri. Untuk berdiri saja dia terlihat kesusahan. Tapi dia berusaha menutupinya.
Saat dia ingin berbicara kepalanya terasa berputar. Dia merasa seperti akan terjatuh. Dan benar saja dia terjatuh dan pingsan. Semua panik termasuk Dohyun. Dohyun langsung berdiri dan mendekati Hitomi yang sudah tergeletak dilantai.
"Dohyun. Kamu bantu ibu bawa Hitomi ke uks ya." Ucap ibu itu.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama Dohyun langsung menggendong Hitomi. Tangan kirinya mengangkat leher dan bahu Hitomi. Sementara tangan kanannya mengangkat bahaw lutut Hitomi.
Dia membawanya sedikit berlari. Dilihatnya kedua lutut Hitomi terluka. Ibu itu juga ikut berlari bersama Dohyun menuju uks. Semua siswa yang berada di kelas itu pada ribut membicarakan Hitomi yang pingsan.
☆☆☆☆
Hitomi perlahan membuka mata. Dilihatnya Dohyun berada disebelahnya sudah dengan tasnya dan juga tas Hitomi. Berati sudah waktunya pulang sekolah. Dia bangkit dan mendudukkan dirinya.
"Kenapa kau disini?" Tanya Hitomi ketus.
"Menunggu mu bangun. Tadi ibu itu menyuruhku mengantar mu pulang." Ucapnya dingin.
"Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri. Lagian aku tadi bawa sepeda kesini. Kau tau kan."
"Iya aku tau kok. Tapi aku juga bisa naik sepeda." Ucapnya.
Lalu Hitomi menatapnya tidak percaya. Lebih baik dia tidak berdekatan dengan Dohyun kalau tidak mau terjadi masalah
"Sudahlah. Kau pulang saja. Kau kan juga tidak peduli sama urusan orang." Ucap Hitomi mengambil tasnya lalu keluar ruangan itu.
Dohyun hanya diam dan mengikuti Hitomi dari jauh. Hitomi yang berjalan merasa ada yang aneh. Dilihatnya kedua lututnya sudah diobati. Lalu dia berjalan kembali menuju parkiran.
Dohyun masih mengikuti Hitomi. Hitomi tidak menaiki sepedanya karena kakinya masih terasa sakit.
Dohyun pun mempercepat langkahnya mendekati Hitomi. Dia memegang sepeda Hitomi lalu menatap Hitomi dengan tatapan tidak percaya.
"Sungguh keras kepala." Ucapnya. Lalu dia menaiki sepeda itu.
"Kan sudah kubilang kalau aku bisa pulang sendiri."
"Naiklah cepat. Aku juga ingin pulang cepat."
Hitomi pun naik sepeda itu. Dia memegang tas Dohyun. Dohyun mulai mengayuh sepedanya.
"Rumahmu dimana?" Tanya Dohyun yang masih mengayuh sepeda.
"Aku baru pindah. Jadi aku tidak tau jalan sekitar sini."
Hitomi terdiam. Dohyun pun terdiam.
"Ini terus saja. Nanti kalau ketemu persimpangan belok kiri." Ucap Hitomi.
Dalam perjalanan mereka memilih diam. Begitu sampai rumah Hitomi dia menyuruh Dohyun berhenti. Kebetulan saat itu mama dan papa Hitomi sedang berada diteras.
"Itu rumahku. Berhenti didepan." Ucapnya. Dohyun pun menurut.
Dohyun turun dari sepeda itu. Hitomi langsung mengambil alih sepedanya. Mereka berdiri saling diam. Ada kecanggungan disana.
"Makasih." Ucap Hitomi lalu berjalan memasuki perkarangan rumahnya.
Dohyun melihat Hitomi berjalan perlahan. Dia bermaksud menunggu Hitomi masuk kedalam rumah baru dia pergi dari sana.
Mama dan papanya yang melihat anaknya pulang sore dan bersama seorang laki-laki langsung ingin tahu apakah anaknya sudah berpacaran.
"Nak. Itu temen kamu tidak disuruh singgah dulu." Ucap mamanya.
"Mama ini apaan sih. Anaknya bukan ditanya darimana bisa pulang sore begini." Ucap papanya.
"Dia itu siswa pindahan tadi. Hari ini hari pertamanya masuk ma. Dan dia bukan temen aku." Ucapnya lalu masuk kedalam rumah.
"Eh. Ada apa anak itu." Ucap mamanya. Mamanya tersenyum pada Dohyun dan Dohyun membalasnya kemudian pergi dari sana.
Papa Hitomi hanya geleng kepala melihat isrinya yang kegirangan tidak jelas. Dan dia pun masuk mengikuti anaknya.
☆☆☆☆
__ADS_1
"Aku pulang." Ucap Dohyun.
Sebelum mamanya menyahut dia langsung bergegas masuk kamarnya. Mamanya yang sudah terbiasa dengan perlakuan anaknya itu memilih membiarkan Dohyun.
Lalu tiba-tiba Dohyun keluar dari kamarnya dan menghampiri mamanya.
"Berapa lama kita disini?" Tanyanya.
Sontak membuat mamanya terkejut. Sudah beberapa kali pindah tapi anaknya tidak pernah menanyakan apapun. Mamanya yang memegang majalah langsung meletakkannya.
"Kenapa kamu tiba-tiba penasaran?" Tanya mamanya.
Ekspresi Dohyun pun berubah. Dia menggaruk kepalanya lalu kembali masuk kedalam kamarnya.
Dia pun tidak tahu kenapa dia berharap kalau mereka tidak akan pindah lagi. Dia masuk ke kamar mandi mencoba menenangkan pikirannya.
Mamanya yang terkejut langsung menelpon suaminya yang belum pulang. Dia sedikit senang karena anaknya mulai peduli. Setidaknya sedikit.
Sebenarnya Dohyun bukan anak yang pendiam dan tidak banyak bicara. Dulu dia periang sekali. Banyak makan, suka bermain, suka banyak orang. Begitulah. Tapi ntah sejak kapan dia berubah menjadi seperti itu.
Setelah mendapat telpon dari istrinya dia bergegas pulang. Sampailah dirumah dia disambut oleh istrinya yang sudah menunggunya.
"Ada masalah apa lagi?" Tanyanya sambil memberikan tas kerjanya.
"Sebenarnya bukan masalah pa. Hanya saja tadi Dohyun tiba-tiba bertanya berapa lama kita disini. Bukankah itu sebuah kemajuan?"
"Papa kira ada terjadi sesuatu. Mama ini bikin takut saja."
Sementara Dohyun sekarang merebahkan tubuhnya dikasur. Biasanya dia tidak terlalu perduli bila ada penindasan seperti itu. Tapi dia merasa aneh bila tidak perduli dengan perempuan yang bernama Hitomi itu.
Dia bangkit dan berjalan menuju jendela. Matahari mulai terbenam menampakkan warna kuning orange yang membuat orang yang melihatnya merasa kagum.
Tak terasa hari mulai gelap. Dia pun menutup jendela kamarnya dan menghidupkan lampu. Setelah menghidupkan lampu ada yang mengetuk pintunya.
"Nak. Sudah waktunya makan malam." Ucap mamanya dari luar.
Dia berjalan keluar mengikuti mamanya menuju ruang makan. Sudah ada papanya dan makanan yang tersedia menunggunya.
Dia duduk di hadapan kedua orang tuanya. Dia memulai makan tanpa berbicara. Papanya melihat Dohyun dengan intens tapi tidak ada respon dari anaknya itu. Lalu mamanya buka suara untuk mengisi keheningan ini.
"Tadi bagaimana sekolahnya?" Tanya mamanya menatap Dohyun.
"Hmm seperti sekolah biasa." Ucapnya tanpa menatap mamanya karena sibuk makan.
Papa dan mamanya saling pandang. Perasaan tadi sore mamanya melihat ada sedikit perubahan dari anaknya. Tapi apa ini?
Dahi papanya berkerut melihat istrinya. Dia merasa istrinya berbohong. Lalu papa Dohyun ikutan buka suara. Ingin mengetahui lebih.
"Apa kamu tidak punya teman? Ah bukan. Maksud papa bagaimana teman semeja mu? Apakah dia baik?" Pertanyaan papanya membuat Dohyun seketika berhenti. Semua itu masih dalam pengawasan keduanya.
"Hanya seorang perempuan yang membosankan." Ucap Dohyun menatap papanya kemudian melanjutkan makannya.
Kini mamanya mengerti apa yang membuat Dohyun menunjukkan perubahan. Tanpa menunggu lagi mamanya ingin menanyai lebih lagi. Dia ingin lebih tau tentang perempuan membosankan itu.
"Haha... benarkah? Apakah dia cantik?" Tanya mamanya. Seketika papa Dohyun langsung menoleh pada istrinya. Dia berpikir pertanyaan itu terlalu cepat dilontarkan.
Dohyun berhenti mengunyah dan menatap kedua orang tuanya. Dia meletakkan sendoknya lalu berdiri.
"Aku sudah selesai makan. Terima kasih makanannya." Ucapnya lalu pergi meninggalkan tempat itu.
"Untuk apa mama menanyakan itu? Itu terlalu cepat." Ucap papanya yang melanjutkan makannya.
"Yah namanya mama penasaran. Perempuan seperti apa itu. Memangnya pertanyaan apa yang lebih bagus dari itu?"
"Kan bisa yang lain. Mama ini merusak suasana saja."
__ADS_1
Saat sepasang suami istri itu makan. Anak mereka kembali kekamarnya. Kenapa dia menceritakan hal yang tidak penting pikirnya. Dia memutuskan untuk belajar agar dia melupakannya.
☆☆☆☆