
Cerita ini hanya fiktif. Adegan berlokasi di Jepang, Tokyo. Selamat membaca.
Terima kasih❤
•••••••••☆☆☆☆••••••••
"Hey. Bangun. Sedang apa kau disini?" ucap Dohyon memegang kedua bahu Hitomi.
Hitomi mengerjabkan matanya. Dia menggosok matanya dan menatap ke arah Dohyon.
"Kenapa kau bisa terkunci di dalam?" ucap Dohyon membantu Hitomi berdiri.
Hitomi hanya diam saja dan masih menatap Dohyon.
"Kau bisu ya?!" ucap Dohyon sedikit keras.
Hitomi sedikit terkejut mendengarnya dan matanya mulai berkaca-kaca. Lalu jatuhlah air matanya. Hitomi menangis sejadi-jadinya.
Dohyon menatap Hitomi. Dia juga terkejut karena Hitomi menangis. Apa dia sudah keterlaluan telah membentak perempuan itu.
"Hey, maaf kalau aku terlalu kasar." ucap Dohyon.
"Ini semua gara-gara kau! Hiks hikss..." ucapnya memukul-mukul Dohyon pelan sambil menangis.
Dohyon berpikir. Kenapa semua ini jadi salah dirinya. Padahal mereka belum berkomunikasi dengan benar.
"Terserah kau mau bilang apa. Kita pulang dulu. Hari udah sore." ucap Dohyon.
"Tas aku?" ucap Hitomi yang sudah berhenti menangis.
"Ini."
"Ayo." ucap Dohyon berjalan duluan.
Hitomi pun menyusul langkah Dohyon. Mereka menuruni anak tangga dan keluar dari lapangan menuju parkiran. Hitomi mengambil sepedanya tapi Dohyon tetap berjalan.
Hitomi merasa bersalah telah menyalahkan Dohyon. Padahal Dohyon tidak tau apa-apa. Dia juga telah membantu dirinya keluar dari gudang itu. Dia mengejar Dohyon dengan sepedanya itu dan berhenti tepat di samping Dohyon. Dohyon menghentikan langkahnya dan menatap Hitomi.
"Naik biar aku antar." ucap Hitomi.
"Kau bercanda?"
"Tidak. Kenapa kau pikir aku bercanda? Aku hanya ingin berterima kasih padamu. Aku sudah berbaik hati menawarkan tumpangan malah kau anggap bercanda." ucap Hitomi panjang lebar.
"Kau yakin mau memboncengku dengan kaki pendekmu itu?" tanya Dohyon menatap kaki Hitomi.
"Kalau tidak mau juga tidak masalah untukku. Tapi jangan mengejek fisik orang lain." ucap Hitomi hendak mengayuh sepedanya tapi di tahan Dohyon.
"Turun".
"Eh? Ini sepedaku. Untuk apa aku turun?"
"Udah turun aja." ucap Dohyon memaksa Hitomi turun dari sepedanya.
__ADS_1
"Apaan sih?" ucap Hitomi setelah turun dari sepedanya.
Dohyon malah menaiki sepedanya dan menatap Hitomi.
"Ayo naik." ucap Dohyon.
Hitomi pun duduk di atas sepeda itu. Tepatnya di bangku boncengan sepeda miliknya. Setelah memastikan Hitomi duduk Dohyon mengayuh sepeda yang mereka naiki itu. Mereka pulang saat matahari memerah ingin tenggelam dan berganti malam.
Hitomi memandangi langit yang sudah berubah menjadi orange kemerahan. Hitomi memang suka waktu senja seperti ini. Seakan pemandangan sekarang melupakan kejadian yang tadi menimpanya.
Dohyon menghentikan sepedanya tepat di depan rumah Hitomi. Mereka pun turun dari sepeda. Hitomi mengambil alih sepeda miliknya.
"Makasih." ucap Hitomi.
"Seharusnya aku yang bilang begitu." ucapan Dohyon membuat Hitomi bingung.
"Rumahku di sana." ucap Dohyon menunjuk rumahnya yang tak jauh dari rumah Hitomi. Hitomi mengikuti arah jari Dohyon.
"Makasih tumpangannya." ucap Dohyon kemudian melangkahkan kakinya tanpa mendengar balasan Hitomi.
Tapi baru melangkah beberapa langkah mama Hitomi berteriak memanggil. Mereka berdua menoleh kearah suara itu.
"Hitomi!! Suruh teman mu itu masuk." begitulah mamanya berteriak.
Mereka saling pandang dan diam sebentar. Akhirnya Hitomi buka suara.
"Masuklah." ucap Hitomi kemudian melangkah masuk kedalam halaman rumahnya. Dohyon diam sebentar kemudian mengikuti Hitomi.
☆☆☆☆
Tadi saat bu Mina ingin membuang sampah malah melihat Dohyon dan Hitomi berdiri di depan pagar rumahnya. Pagar mereka cukup rendah. Makanya begitu bu Mina melihat Dohyon melangkah buru-buru bu Mina memanggilnya.
"Saya pindahan dari Seoul tante." ucap Dohyon canggung. Cuma dia sendiri di sana yang orang asing. Papa dan ke dua adik Hitomi menatap Dohyon lekat.
"Oh Korea ya. Kenapa pindah?" tanya papa Hitomi sinis. Dohyon menatap papa Hitomi dengan gugup. Dia pun susah menelan air liurnya.
"Biasa aja dong pa tanya nya." ucap Hitomi. Hitomi langsung duduk di sebelah Dohyon. Untung meja makan mereka muat untuk duduk enam orang.
"Hmm saya pindah sekeluarga kesini om. Alasannya ya karena papa dipindahkan dinas ke sini." ucap Dohyon sedikit tenang karena Hitomi sudah datang. Sungguh baru kali ini dia makan di meja makan orang yang baru dikenal.
"Owh..." papa Hitomi hanya ber 'oh' ria.
"Ya sudah ayo makan." ucap mama Hitomi mencairkan suasana.
Baru memasukkan sesuap sup ke dalam mulut adik hitomi yang paling kecil kelas tiga SD bertanya.
"Kakak pacar kakakku ya?" pertanyaan Hanami membuat Dohyon tersedak.
"Uhukk! Uhukk!" Dohyon panik mencari air. Hitomi langsung menyodorkan segelas air padanya.
"Hanami!" Ucap bu Mina melotot pada anaknya itu.
"Kau baik-baik sajakan?" tanya bu Mina melihat mata Dohyon sedikit basah.
__ADS_1
"Ehem. Iya tante. Saya baik-baik saja." ucap Dohyon menatap Bu Mina.
"Jawab dong kalau ditanya kak." ucap Hanami yang masih penasaran mendapatkan tatapan bingung dari Dohyon.
Dohyon bingung harus jawab apa. Dia menatap Hitomi sebentar lalu menjawab dengan sopan.
"Bukan. Kakak hanya teman sebangkunya." ucap Dohyon dengan tenang.
"Kirain..." ucap Hanami kemudian melanjutkan makan.
Kalau Hitomi? Jangan tanya. Dia hanya fokus makan tidak memperdulikan keberadaan Dohyon.
Dohyon melanjutkan makannya ragu. Soalnya papa Hitomi masih lekat menatapnya. Sebenarnya dia agak risih dipandang seperti itu saat sedang makan.
"Hitomu tidak penasaran?" tanya Katashi, papa Hitomi pada adik laki-lakinya.
Hitomu hanya menatap Dohyon sebentar lalu melanjutkan makan. Sepertinya dia hampir mirip dengan Dohyon. Banyak diamnya.
Selesai makan Dohyon pamit pulang karena sudah malam. Takut kedua orang tua nya mencemaskannya.
"Kalau begitu saya pamit dulu om, tante. Terima kasih makanannya." ucap Dohyon sopan sambil membungkuk hormat.
"Sering-sering main kesini ya nak Dohyon. Hitomi tidak pernah membawa teman ke rumah." ucapan bu Mina dibalas dengan anggukan.
"Rumah kamu dimana? Biar saya antar." tanya Katashi. Papa Hitomi.
"Rumah saya dekat sini kok om." ucap Dohyon. Dia tida mau memberitahu dimana rumahnya takut di samperin dan bertemu kedua orang tuanya.
"Antarkan sampai depan sana." suruh bu Mina. Mau tidak mau Hitomi mengantarnya sampai depan pagar.
"Aduh pa. Anaknya baik ya. Tinggi lagi. Kira-kira mau tidak ya sama Hitomi." ucap Bu Mina membuat suaminya itu menoleh ke arahnya.
"Masih sekolah ma. Belum boleh pacaran." ucap Katashi lalu masuk ke dalam rumah.
"Apa sih. Sirik aja." ucap Bu Mina kembali memperhatikan Dohyon dan anaknya.
'
'
'
"Sekali lagi makasih. Makasih juga makanannya." ucap Dohyon.
"Tadi kan udah bilang sama mama papa ku" ucap Hitomi. Kemudian mereka terdiam.
"Maafkan adik ku ya." ucap Hitomi.
"Tidak masalah. Ya sudah aku pulang dulu ya." ucap Dohyon kemudian melangkahkan kakinya.
Hitomi masih berdiri disana. Menatap punggung Dohyon yang semakin lama semakin menjauh darinya. Setelah Dohyon benar benar menghilang dari pandangannya dia berjalan masuk ke dalam rumahnya.
☆☆☆☆
__ADS_1